Tag: nuklir

  • Imbas Pembuangan Limbah Nuklir: Penjualan Hasil Laut di Korea Selatan dan Jepang Anjlok

    Imbas Pembuangan Limbah Nuklir: Penjualan Hasil Laut di Korea Selatan dan Jepang Anjlok

    7cloud.asia – Nelayan Korea Selatan (Korsel) mengaku penjualan produk akuatik (hasil laut) menurun tajam setelah Jepang membuang air limbah yang terkontaminasi nuklir ke laut.

    Seperti diketahui, Jepang saat ini menerapkan kebijakan pembuangan limbah Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) ke laut yang sudah mulai dilakukan sejak 24 Agustus 2023 lalu.

    Lebih dari satu juta metrik ton air radioaktif yang telah diolah dari PLTN dialirkan ke laut Pasifik. Pembuangan air limbah terkontaminasi nuklir ini disebut akan memakan waktu puluhan tahun untuk diselesaikan.

    Baca: Polusi udara terpusat di enam negara termasuk Indonesia

    Air tersebut disuling setelah terkontaminasi akibat kontak dengan batang bahan bakar di reaktor pembangkit nuklir, yang hancur akibat gempa bumi dan tsunami tahun 2011.

    Gempa mengakibatkan inti pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima meleleh dan menghasilkan air limbah yang tercemar zat radioaktif dalam jumlah besar dari pendinginan bahan bakar nuklir.

    “Nelayan saat ini benar-benar berada di ambang kematian. Mereka berada di ambang kebangkrutan. Ada banyak nelayan yang berada dalam situasi seperti ini,” kata nelayan sekaligus direktur eksekutif Federasi Nelayan Nasional Kim Young-chul di Korea Selatan, kepada Xinhua pada Selasa (5/9/2023) seperti dilansir Antaranews.com

    Baca: Ilmuwan AS gunakan tanaman dan jamur untuk bersihkan polusi tanah

    Kim mengatakan konsumsi produk perikanan turun tajam sebelum dan setelah Jepang membuang air limbah radioaktif dari pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima Daiichi yang lumpuh ke Samudera Pasifik sejak 24 Agustus.

    “Nelayan sangat menderita bahkan sebelum pembuangan limbah radioaktif. Konsumsi (produk akuatik) menyusut tajam karena masyarakat mengatakan mereka tidak akan mengonsumsi (produk akuatik) sebanyak yang mereka bisa setelah pembuangan air limbah radioaktif,” kata Kim.

    Menurut survei Gallup Korea terhadap 1.602 orang dewasa selama dua hari hingga 10 Juli, 82,4 persen responden mengatakan konsumsi produk perikanan akan berkurang pascapembuangan air limbah nuklir tersebut.

    Baca: Bakteri pemakan metana membantu menahan laju pemanasan global

    Pembelian panik (panic buying) terhadap ikan kering muncul di pasar konsumsi karena dapat disimpan selama bertahun-tahun, sementara harga ikan mentah turun setengahnya karena melemahnya permintaan, jelas Kim.

    “Pedagang grosir (produk akuatik) mengatakan kepada (nelayan) untuk berhenti menangkap ikan karena mereka tidak bisa menjualnya, dan kalaupun (nelayan) pergi melaut, mereka harus mengurangi hasil tangkapannya,” imbuhnya.

    Selain Korea, Jepang juga melaporkan sejumlah negara seperti China, Hongkong dan Makau juga menhentikan permintaan impor hasil laut dari Jepang menyusul pembuangan air limbah nuklir ini.

    Baca: Emisi gas ruang kaca mencapai rekor tertinggi

     

  • Menelaah Proyek Listrik Tenaga Nuklir Indonesia: Belajar dari Eropa

    Menelaah Proyek Listrik Tenaga Nuklir Indonesia: Belajar dari Eropa

    7cloud.asia – Pemerintah Indonesia resmi memasukkan energi nuklir ke dalam Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) 2024, yang merupakan dokumen kebijakan jangka panjang sektor kelistrikan.

    Dalam rencana ini, pemerintah menargetkan listrik dari energi nuklir mencapai hampir 8 persen dari total kapasitas pembangkit listrik nasional pada 2060.

    Nuklir rencananya akan menjadi pemasok listrik dasar (baseload) untuk memastikan kesetabilan di tengah upaya transisi energi dan pencapaian target nol emisi.

    Sebagai negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, Indonesia membutuhkan pasokan energi yang stabil dan terjangkau untuk mendukung pertumbuhan industri. Tapi pertanyaannya: apakah energi nuklir adalah pilihan yang tepat?

    Belajar dari krisis energi di Eropa dan Jepang. Tragedi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Chernobyl 1986 dan Fukushima 2011 menunjukkan dampak fatal dari kegagalan teknis, bencana alam, atau kesalahan manusia dalam mengelola reaktor nuklir.

    Selain risiko keamanan yang tinggi, kritikus juga sering menyoroti modal awal jumbo untuk membangun reaktor nuklir yang mencapai 10 miliar dolar atau Rp163,9 triliun per gigawatt (GW), dengan masa pembangunan sekitar 8-10 tahun.

    Namun, krisis energi di Eropa akibat perang Ukraina membuka mata banyak negara soal pentingnya pasokan energi yang stabil. Untuk itu, setiap negara harus berpikir ulang dalam menyusun strategi untuk beralih ke energi yang lebih bersih.

    Baca: Kelompok penyintas bom atom Jepang raih Nobel Perdamaian 2024

    Prancis, misalnya, memutuskan tetap mempertahankan reaktor nuklirnya, yang kini menyuplai hampir 70 persen dari total listrik negara.

    Sementara Jerman kukuh memilih menghapus energi nuklir sepenuhnya pada tahun 2023 dan beralih pada energi terbarukan variabel (VRE) seperti tenaga angin dan surya. Sayangnya, produksi listrik dari dua energi ini kurang stabil lantaran bergantung pada kondisi cuaca.

    Selama periode “Dunkelflaute”—saat intensitas matahari dan angin sangat rendah—produksi listrik di Jerman turun drastis. Untuk mengatasi kekurangan pasokan, Jerman akhirnya bergantung pada impor listrik dari negara tetangga seperti Prancis dan Swedia, yang mayoritas menggunakan tenaga nuklir.

    Ketergantungan ini menyebabkan harga listrik di Jerman melonjak drastis, hingga mencapai EUR936/MWh atau Rp16,6 juta per MWh selama dunkelflaute pada Desember tahun lalu. Angka ini tertinggi dalam 18 tahun terakhir.

    Harga listrik di Eropa selama periode dunkelflaute tahun 2024.
    Dari Jerman, banyak negara Eropa akhirnya belajar bahwa transisi ke energi terbarukan harus mempertimbangkan keseimbangan antara energi baseload dan VRE.

    Baca: Fasilitas Senjata Nuklir Manhattan Project diubah jadi pembangkit listrik tenaga surya

    Menurut sejumlah studi, komposisi bauran energi idealnya 60–70 persen energi baseload dan 30–40 persen VRE.

    Dalam pidatonya di pertemuan G20 di Brasil tahun lalu, Presiden Prabowo Subianto menyebut Indonesia berkomitmen mencapai target nol emisi pada 2050 dengan memensiunkan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dan menggantinya dengan energi baru dan terbarukan (EBT).

    Indonesia memiliki potensi EBT yang besar mencapai 3.686 GW, tetapi 93,6 persen di antaranya adalah energi variabel seperti tenaga angin dan surya.

    Untuk sumber listrik baseload, Indonesia memiliki panas bumi (geotermal), hidro (air), dan bioenergi dengan potensi kapasitas terpasang masing-masing sebesar 24 GW, 95 GW, dan 57 GW.

    Namun, tidak semua pembangkit baseload dapat beroperasi penuh sepanjang waktu. Pembangkit listrik geotermal misalnya hanya bisa menghasilkan listrik maksimum 74,3 persen dari kapasitasnya, sedangkan air 41,5 persen, dan bioenergi 67,1 persen.

    Faktor kapasitas untuk berbagai macam pembangkit tenaga listrik.
    Pemanfaatan ketiga sumber energi ini juga masih sangat rendah, baru mencapai sekitar 7 persen dari total potensinya.

    Seandainya seluruh potensi energi terbarukan dimanfaatkan secara maksimal pada 2050, total energi yang dihasilkan hanya sekitar 837 terawatt jam (TWh). Angka ini masih jauh di bawah proyeksi kebutuhan listrik pada tahun tersebut, yang mencapai 2.000 TWh.

    Energi surya dan angin mungkin bisa menjadi sumber energi sepanjang waktu apabila didukung oleh teknologi penyimpanan energi skala besar.

    Namun, harga baterai penyimpanan yang berskala besar amat mahal dan memiliki risiko keamanan, seperti insiden terbakarnya fasilitas penyimpanan baterai lithium terbesar di dunia, Moss Landing di AS pada Januari lalu.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Agus Hasan (Professor, Norwegian University of Science and Technology)

  • Untung Rugi Pengembangan Energi Nuklir bagi Indonesia

    Untung Rugi Pengembangan Energi Nuklir bagi Indonesia

    7cloud.asia – Pemerintah Indonesia resmi memasukkan energi nuklir ke dalam Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) 2024, yang merupakan dokumen kebijakan jangka panjang sektor kelistrikan.

    Dalam pidatonya di pertemuan G20 di Brasil tahun lalu, Presiden Prabowo Subianto menyebut Indonesia berkomitmen mencapai target nol emisi pada 2050 dengan memensiunkan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dan menggantinya dengan energi baru dan terbarukan (EBT).

    Kelayakan ekonomis energi nuklir
    Secara ekonomi, energi nuklir memiliki biaya awal yang tinggi, tapi bersaing dengan energi terbarukan.

    Perbandingan kelayakan ekonomi nuklir dan energi terbarukan bisa diukur dengan metode levelized full system cost of electricity (LFSCOE).

    Berbeda dengan metode konvensional levelized cost of electricity (LCOE) yang hanya menghitung biaya rata-rata produksi listrik dari suatu pembangkit listrik selama masa operasi, LFSCOE menghitung seluruh biaya tambahan yang diperlukan untuk menjaga keseimbangan sistem listrik.

    Baca: Fasilitas Senjata Nuklir Manhattan Project diubah jadi pembangkit listrik tenaga surya

    Hal ini termasuk penyimpanan energi, infrastruktur grid tambahan, serta cadangan daya yang diperlukan untuk menyokong energi terbarukan variabel seperti surya dan angin.

    Jika memakai hitungan ini, biaya produksi listrik tenaga nuklir di Jerman adalah 106 dolar/MWh atau Rp1,7 juta/MWh.

    Angka ini jauh lebih murah dari tenaga surya yang mencapai 1.548 dolar/MWh atau setara Rp25,3 juta/MWh dan tenaga angin 504 dolar/MWh atau Rp8,2 juta/MWh.

    Indonesia sedang menghadapi dilema energi yang tidak sederhana: beralih ke energi bersih sambil menjaga kestabilan pasokan.

    Energi nuklir, meski berisiko tinggi, menawarkan kapasitas dan kestabilan yang tinggi. Opsi energi ini dipertimbangkan berbagai negara, seperti Prancis dan Swedia.

    Baca: Lapangan Kerja yang tercipta dari pengembangan energi terbarukan

    Lantas apa alternatif terbaik bagi Indonesia?
    Pemerintah berencana membangun reaktor nuklir di Pulau Kelasa, Provinsi Bangka Belitung dengan menggandeng perusahaan AS, ThorCon.

    Ketimbang langsung membangun pembangkit nuklir skala besar yang risikonya tinggi, Indonesia mungkin bisa mempertimbangkan pendekatan bertahap dengan mengembangkan Small Modular Reactors (SMR) yang lebih fleksibel dan lebih aman.

    Indonesia juga perlu menimbang cadangan mineral nuklir yang terbatas, dengan 90.000 ton uranium dan 150.000 ton thorium yang hanya cukup untuk beberapa tahun, sehingga diperlukan kemitraan strategis dengan negara-negara kaya sumber daya seperti Kazakhstan, Kanada, Australia, dan Namibia.

    Selain itu, standar keamanan super ketat mutlak diperlukan. Transisi energi tidak bisa ditawar. Namun setiap opsi memiliki tantangan. Jika nuklir menjadi salah satu pilihan, maka semua untung ruginya harus ditimbang dengan sangat cermat.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Agus Hasan (Professor, Norwegian University of Science and Technology)