Tag: nusantara

  • Agenda Agustus: Jangan Lupa Tengok Festival Kuliner Kampoeng Tempo Doeloe

    Agenda Agustus: Jangan Lupa Tengok Festival Kuliner Kampoeng Tempo Doeloe

    7cloud.asia – Kabar gembira buat kamu para pencinta kuliner Nusantara. Festival kuliner bertajuk Kampoeng Tempo Doeloe di La Piazza Summarecon Mall Kelapa Gading, Jakarta, mulai Kamis (3/8/2023) kemarin. 

    Festival kuliner Kampung Tempo Doeloe yang merupakan bagian dari Jakarta Fashion and Food Festival (JF3) ke-18 ini akan berlangsung selama sebulan penuh hingga 3 September 2023 mendatang.

    Lewat festival kuliner Kampoeng Tempo Doeloe ini, warga Jabodetabek bisa mengenal, menikmati, mencintai dan mendukung kuliner tradisional seklaigus mendukung pemberdayaan UMKM, khususnya di industri kuliner Indonesia.

    Baca: Ini yang bisa kita dapatkan saat jalan-jalan ke Monas

    Tahun ini, festival kuliner Kampoeng Tempo Doeloe menghadirkan lebih dari 600 menu makanan Nusantara. 

    Makanan ini disajikan oleh 100 gerai terpilih dari berbagai daerah di Nusantara, mulai dari Jawa, Bali, Sumatera, Kalimantan, hingga Sulawesi.

    “Festival kuliner Kampoeng Tempo Doeloe diselenggarakan sebagai upaya pemberdayaan UMKM lokal sekaligus mengajak masyarakat untuk mengenal budaya Nusantara,” terang Chairman JF3 Soegianto Nagaria, sebagaimana dikutip Antaranews.

    Festival kuliner Kampoeng Tempo Doeloe menarik untuk didatangi lantaran menghadirkan suasana khas pasar malam tempo dulu, seperti aktivitas kelas memasak, permainan lempar cincin dan sebagainya.

    Baca: Jalan-jalan ke desa adat sambil belajar bagaimana hidup menyatu dengan lingkungan

    Setidaknya ada 10 wahana permainan dengan kisaran harga Rp25.000 – Rp30.000.

    Tapi, ingat ya setiap transaksi pembayaran di “Kampoeng Tempo Doeloe” hanya menerima pembayaran digital melalui dompet digital maupun transfer antarbank.

    Di lokasi Festival kuliner Kampoeng Tempo Doeloe ini juga digelar pameran “Wonderful Culinary Expo” yang  menghadirkan ragam kopi khas Nusantara.

    Baca: Seperti ini wisata ramah lingkungan itu seharusnya

    Tidak hanya kopi, di sana pengunjung juga dapat melihat ragam cokelat, keju, maupun makanan lainnya untuk dibeli secara langsung.

    Melengkapi kemeriahan festival kuliner Kampoeng Tempo Doeloe juga menghadirkan penampilan spesial untuk menghibur pengunjung, seperti penampilan musik tradisional dan musik dari group band lokal. 

    Khusus tanggal 12 Agustus 2023, festival kuliner “Kampoeng Tempo Doeloe” akan mengundang penyanyi Adera dan pada 18 Agustus 2023 grup band Nidji akan tampil di sana.

    Baca: Kenali beragam bakau di Kebun Raya Mangrove Surabaya

     

     

  • Mayoritas Hunian di IKN adalah Hunian Vertikal

    Mayoritas Hunian di IKN adalah Hunian Vertikal

    7cloud.asia – Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) menyebutkan komposisi hunian di Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara akan terbagi menjadi 85 persen berbentuk hunia vertikal dan 15 persen hunian tapak.

    Deputi Bidang Sarana dan Prasarana OIKN Silvia Halim mengatakan hunian vertikal di IKN Nusantara terbangun pada area-area yang berdekatan dengan pusat kegiatan.

    “Artinya, semakin dekat suatu area dengan pusat kegiatan, maka hunian yang dibangun semakin padat (sehingga dibangun hunian vertikal),” katanya.

    Dengan demikian, jarak tempuh masyarakat ke pusat kegiatan dapat diakomodasi dengan transportasi publik, berjalan kaki, atau bersepeda.

    Baca Juga: Diajak Jokowi Lihat Progres Pembangunan IKN, Begini Komentar Artis

    Pembangunan hunian vertikal di IKN ini selaras dengan konsep Kota 10 Menit atau 10 Minutes City.

    Silvia menambahkan, IKN menerapkan konsep transformasi bermukim, di antaranya dengan perubahan paradigma dalam berhuni di lahan yang lebih efektif dan efisien.

    Beberapa cara yanga dilakukan yakni tinggal di hunian vertikal, sehingga akan tercipta hunian dan kepadatan yang ideal.

    Kemudian, tinggal di kawasan kompak (compact), sehingga semua kebutuhan dapat terlayani dan dapat diakses dengan cepat dan mudah dijangkau.

    Baca Juga: Supermodel Berdarah Palestina, Gigi Hadid Kutuk Perang Hamas-Israel

    Serta, menerapkan bangunan hijau (green building) dan teknologi cerdas dalam kehidupan (smart living) untuk meningkatkan kenyamanan penghuni sekaligus menerapkan prinsip-prinsip keberlanjutan (sustainability).

    Berdasarkan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2022 tentang Ibu Kota Negara, konsep hunian eksisting yang umumnya berupa bangunan tunggal tidak sejalan dengan arah pengembangan wilayah IKN untuk menjadi “Kota 10 Menit”.

    Oleh karena itu, kebutuhan hunian dan fasilitasnya dimodifikasi melalui penggabungan berbagai layanan dalam satu bangunan dengan memperhatikan standar kenyamanan yang berlaku.

    Serta menyediakan hunian dalam bentuk rumah susun atau apartemen, dengan tetap memperhatikan standar minimal bagi tiap kebutuhan, seperti jabatan dan jumlah anggota rumah tangga.

    Baca Juga: Tantangan Menerapkan Infrastruktur Ramah Lingkungan dalam Perencanaan Kota

    Saat ini, telah dibangun rumah jabatan menteri di IKN sebanyak 36 unit rumah berbentuk tapak, yang 32 unit di antaranya telah selesai.

    Juga dibangun hunian ASN dan aparatur pertahanan dan keamanan dengan konsep hunian vertikal yang keseluruhannya ditargetkan selesai pada 2024,

    Hal ini seiring dengan pemindahan ASN ke IKN yang direncanakan sebanyak 16.990 ASN.

     

  • Ekonomi Nusantara: Cara Walhi Berdayakan Masyarakat Lokal dengan Pertanian Berkelanjutan

    Ekonomi Nusantara: Cara Walhi Berdayakan Masyarakat Lokal dengan Pertanian Berkelanjutan

    7cloud.asia – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) bekerja sama dengan Ford Foundation berdayakan masyarakat lokal di 28 provinsi Indonesia lewat model ekonomi restoratif.

    Model yang disebut ekonomi Nusantara ini mengedepankan kedaulatan masyarakat lokal dalam mengelola lingkungan atau sumber daya alam.

    “Skema ekonomi Nusantara mendukung praktik-praktik ekonomi lokal yang berkelanjutan dan menyatukan nilai-nilai ekologi, sosial, serta ekonomi secara seimbang,” kata Direktur Eksekutif Nasional Walhi Zenzi Suhadi dalam temu media di Jakarta, Senin (29/4/2024).

    Ia menjelaskan, ekonomi Nusantara menumbuhkan ekosistem baru yang di dalamnya mencakup jaringan ekonomi komoditas yang dihasilkan oleh komunitas dari wilayahnya, dengan tujuan untuk memulihkan hak-hak rakyat, ekosistem, dan ekonomi.

     

    Baca: Pemerintah-akan-gandeng-China-untuk-garap-sawah-di-Kalteng-pakar-ingatkan-pengalaman-serupa-yang-gagal

    Menurut Zenzi, pemerintah kini sudah mulai memulihkan lingkungan, dengan akses masyarakat lewat tata kelola lahan yang terus diperbarui.

    “Tata kelola sudah dikembalikan ke masyarakat, sehingga perlahan hutannya sudah pulih. Jadi bisa kita lihat, ketika masyarakat diberi kesempatan untuk mengelola lahan, maka ekonomi, lingkungan, dan sosial mereka pulih,” katanya.

    Ia menekankan, saat ini pekerjaan rumah pemerintah yakni memperbaiki sistem hilirisasi petani, sehingga mereka dapat memahami pasar dengan baik.

    Untuk selanjutnya menjual produk-produk hasil ekonomi Nusantara yang mengedepankan konservasi lingkungan.

    Baca: Food-estate-gagal-karena-abaikan-4-pilar-ini

    Kalau pasar petani diurus, ujarnya, mereka bisa ekspor secara langsung, dan pengelolaannya itu baik, jika dihitung, untuk masuk kreiteria sejahtera petani hanya butuh lahan seluas 1 haktare.

    “Petani yang sebelumnya untuk masuk ke kriteria sejahtera butuh lahan seluas 3ha,
    jika dapat pasar secara langsung, dan bisa mengelola produksi mereka dengan baik, dengan kualitas ekspor, untuk pendapatan setara 3ha, mereka cukup mengelola 1ha,” katanya.

    Walhi telah meneliti lima lanskap ekologis yakni gambut, hutan dataran tinggi, perbukitan hutan dataran rendah, dan pesisir yang dilakukan di sejumlah daerah.

    Dalam laporannya, Walhi menyebut menunjukkan bahwa praktik ekonomi Nusantara di Sumatera Selatan, Bengkulu, Bali, Jawa Timur, dan Kalimantan Timur,  tetap eksis dan menopang kehidupan rakyat.

    Baca: Soal-kenaikan-harga-beras-pengamat-sebut-ada-kebijakan-yang-tak-adil-untuk-petani

    “Di tingkat tapak, praktik ekonomi Nusantara hanya mungkin dilakukan dengan baik jika ada pengakuan dan perlindungan wilayah kelola rakyat.

    Hingga saat ini, Walhi mendampingi 1,3 juta lahan yang dikelola oleh komunitas masyarakat lokal.

    Dari pendampingan tersebut, Walhi berhasil mengidentifikasi 77 jenis sumber pangan dan komoditas potensial sebagai sumber kesejahteraan komunitas, basis pembangunan ekonomi nasional, dan pangan global,” katanya.

    Sementara itu, Perwakilan dari Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Bayang Bungo Sumatera Barat, Sri Hartati menceritakan praktik ekonomi Nusantara dalam menghasilkan produk turunan hasil tanaman hutan, yakni sirup pala.

    Baca: Food-estate-ada-sejak-era-Soeharto-mengapa-gagal-dan-apa-dampaknya-bagi-lingkungan

    Produk tersebut menjadi unggulan pemerintah Nagari Kapujan dan berhasil menjuarai Kompetisi Produk UMKM tingkat Kabupaten Pesisir Selatan.

    “Sebelumnya, kulit palanya dibuang, tidak tahu kalau itu bisa diolah. Sekarang, sirup palanya sudah kami olah, dan itu sudah dipakai untuk welcome drink di hotel-hotel, memberdayakan ibu-ibu petani yang kini semuanya bisa bekerja,” kata Sri.

    Program ekonomi Nusantara yang digagas oleh Walhi tersebut sejalan dengan salah satu misi yang dibawa dalam World Water Forum 2024, yakni ketahanan pangan dan energi.

  • Festival Bulan Bahasa: Upaya Komnas Perempuan Merawat Keragaman Budaya Perempuan Nusantara

    Festival Bulan Bahasa: Upaya Komnas Perempuan Merawat Keragaman Budaya Perempuan Nusantara

    7cloud.asia – Jelang peringatan Hari Sumpah Pemuda pada Oktober mendatang, Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan atau Komnas Perempuan menginisiasi kampanye bhinneka melalui Festival Bulan Bahasa.

    Festival Bulan Bahasa ini menghadirkan empat ibu pelestari budaya yang mewakili ratusan keragaman dan kekayaan bahasa ibu Nusantara yang menjadi bagian keragaman budaya perempuan di Nusantara.

    Dalam sambutannya, Wakil Ketua Komnas Perempuan Olivia Salampessy mengatakan, Festival Bulan Bahasa ini sebagai upaya untuk merawat ingatan kolektif bangsa atas pengetahuan masyarakat pada tradisi dalam menjaga kebhinekaan.

    “Termasuk membangun narasi untuk pendidikan publik dengan menggali, mengenali identitas kekayaan dan keragaman budaya bangsa,” katanya di Jakarta, Jumat (26/7/2024)

    Olivia menambahkan, perempuan punya peran penting dalam merawat bahasa Ibu Nusantara baik dalam seni tradisi dan ritual budaya, transformasi nilai-nilai luhur dalam laku sehari-hari.

    Baca: Kemendikbud identifikasi 718 bahasa daerah di Indonesia

    Indonesia, lanjutnya, merupakan salah satu negara yang memiliki ragam bahasa paling banyak di dunia yang lahir dari embrio keragaman dengan lebih dari 300 etnis.

    Berdasarkan data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek), ada 718 bahasa lokal dan dialek, menjadi identitas yang dicerminkan 270 juta jiwa penduduk.

    “Kampanye ini menjadi salah satu strategi untuk mengajak publik, terutama generasi muda sehingga dapat menjadi penerus rantai budaya luhur yang ramah terhadap perempuan yang akan digulirkan di seluruh Nusantara,” imbuh Olivia.

    Pada kesempatan ini, Komnas Perempuan menampilkan para perempuan pelestari budaya yang merupakan srikandi di komunitasnya dalam merawat berbagai tradisi budaya, melalui ragam bahasa nusantara yang dikenal melalui sastra, mantra, tembang, gurindam, mocopat, syair-yair dan pantun serta ragam bahasa lainnya.

    Ragam bahasa ibu nusantara ini menjadi bukti bahwa bahasa Ibu Nusantara merupakan warisan kebudayaan yang memosisikan perempuan sebagai orang-orang terpilih.

    Baca: Mengapa milenial tinggalkan bahasa daerah?

    Salah satu syair yang dinyanyikan perempuan Simeleu di Aceh misalnya, merupakan bentuk dan pengetahuan lokal masyarakat setempat bagaimana alam memberikan tanda-tandanya jika akan ada bencana Tsunami.

    Dari daerah timur, ada masyarakat adat Gerena Kauh yang memiliki syair suci dalam ritual tarian untuk menolak wabah dan bahaya bencana alam, serta harapan syukuran untuk panen hasil bumi yang melimpah, dengan syairnya hanya dilantunkan perempuan, yang dikenal sebagai Gending Sahyang Dedari.

    Komnas Perempuan memandang penting untuk memberikan narasi kepada publik, bagaimana perempuan memainkan peran penting dalam merawat kebhinnekaan melalui tradisi-tradisi yang bersumber dari nilai-nilai luhur melalui bahasa ibu Nusantara.

    Bahasa ibu merupakan bahasa budaya, pengetahuan, dan rasa yang memiliki landasan filosofis dan bahkan profan. Bahasa ibu Nusantara merupakan akar peradaban Nusantara.

    “Sayangnya pengetahuan tentang ini di Indonesia sangat terbatas. Merawat karakter kebangsaan, merayakan keberagaman menjadi gerakan yang amat penting,” ujar Olivia.

    Baca: Separuh dari bahasa lokal dunia terancam punah

    Dengan merawat bahasa ibu Nusantara, Komnas Perempuan berupaya menghapuskan bentuk-bentuk penyeragaman, stigma, bias dan diskriminatif terhadap perempuan.

    Kampanye bahasa Ibu Nusantara digagas oleh Komnas Perempuan sebagai salah satu bentuk kampanye bhinneka atau keberagaman yang diselenggarakan komnas perempuan sejak tahun 2012.

    Sebelumnya Komnas Perempuan telah menyelenggarakan Festival Penutup Kepala Nusantara yang menggali kekayaan pandangan, filosofi dan budaya penutup kepala nusantara yang digunakan perempuan.

    Komnas Perempuan juga menggagas festival Sesaji Nusantara di tahun 2023, dimana kekayaan ritual doa, dan sesaji juga menjadi bagian penting yang diperankan perempuan, dalam merawat hubungan secara sosial maupun dengan alam semesta, serta dengan Sang Pencipta.

  • Hari Kebaya Nasional 2025: Kebaya Jadi Simbol Perlawanan Perempuan

    Hari Kebaya Nasional 2025: Kebaya Jadi Simbol Perlawanan Perempuan

    7cloud.asia – Semarak Hari Kebaya Nasional 2025 yang jatuh pada Kamis, 24 Juli 2025 dirayakan di Museum Mandiri, Jakarta, Jakarta Barat.

    Gelaran bertajuk “Kebaya: Merajut Kebhinekaan” ini menjadi panggung perayaan busana tradisional hingga edukasi pelestarian budaya, khususnya kebaya dan pemberdayaan perempuan Indonesia.

    “Kebaya adalah jati diri perempuan Indonesia. Kami ingin mengajak masyarakat terutama generasi muda untuk kembali mengenal, mencintai, dan membanggakan kebaya,” kata Rihaya Syukur, salah satu pengurus Komunitas Perempuan Berkebaya dalam sambutannya.

    Rihaya mengatakan kebaya bukan hanya busana, tapi juga simbol keteguhan, keanggunan, dan keberanian perempuan dari masa ke masa.

    Baca: Mengenal beragam kebaya Nusantara

    Dalam sejarah, ujarnya, kebaya bukan hanya soal pakaian. Tetapi juga tentang peradaban dan juga perlawanan kepada penjajah.

    Di masa lalu Ki Hajar Dewantara meminta murid perempuannya untuk mengenakan kebaya guna menunjukkan bahwa mereka adalah orang Indonesia.

    “Jadi kebaya menyimpan sejarah dan filosofi yang kaya,” ujar dia.

    Peringatan Hari Kebaya Nasional kali ini diisi kegiatan mencakup parade kebaya Nusantara dan juga diskusi tentang filosofi dan perjalanan kebaya hingga ditetapkan menjadi warisan budaya takbenda UNESCO

    Gelaran ini tidak hanya dihadiri dari lintas komunitas di Indonesia, namun juga dari perwakilan sejumlah negara di antaranya Malaysia, Timor Leste, Kazakhstan, Thailand.

    Baca: Komunitas Perempuan Berkebaya kenalkan beragam kebaya dan wastra Nusantara

    Penggagas Komunitas Perempuan Berkebaya (KPB) Lia Nathalia menambahkan bahwa terkadang masih ada yang salah paham tentang kebaya.

    “Kebaya adalah blus bagian atas kita. Jadi, sebenarnya ini kita kupas dipadupadankan dengan berbagai macam wastra yang variatif dari Indonesia, tentu saja, kita memiliki kain tenun, batik, dan lainnya,” kata Lia Nathalia.

    Lia juga menambahkan diadakannya pagelaran ini di bangunan sejarah Museum Mandiri, guna mendorong masyarakat untuk lebih dekat dengan museum sebagai tempat belajar sejarah.

    “Komunitas kami juga berupaya untuk mengedukasi sebanyak mungkin orang agar datang dan mengunjungi museum, agar mengetahui sejarah bangsa ini. Karena hal ini masih cukup jarang dilakukan,” tambah dia.

    Pemerintah Indonesia telah menetapkan 24 Juli sebagai Hari Kebaya Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2023 tentang Hari Kebaya Nasional.