7cloud.asia – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) bekerja sama dengan Ford Foundation berdayakan masyarakat lokal di 28 provinsi Indonesia lewat model ekonomi restoratif.
Model yang disebut ekonomi Nusantara ini mengedepankan kedaulatan masyarakat lokal dalam mengelola lingkungan atau sumber daya alam.
“Skema ekonomi Nusantara mendukung praktik-praktik ekonomi lokal yang berkelanjutan dan menyatukan nilai-nilai ekologi, sosial, serta ekonomi secara seimbang,” kata Direktur Eksekutif Nasional Walhi Zenzi Suhadi dalam temu media di Jakarta, Senin (29/4/2024).
Ia menjelaskan, ekonomi Nusantara menumbuhkan ekosistem baru yang di dalamnya mencakup jaringan ekonomi komoditas yang dihasilkan oleh komunitas dari wilayahnya, dengan tujuan untuk memulihkan hak-hak rakyat, ekosistem, dan ekonomi.
Menurut Zenzi, pemerintah kini sudah mulai memulihkan lingkungan, dengan akses masyarakat lewat tata kelola lahan yang terus diperbarui.
“Tata kelola sudah dikembalikan ke masyarakat, sehingga perlahan hutannya sudah pulih. Jadi bisa kita lihat, ketika masyarakat diberi kesempatan untuk mengelola lahan, maka ekonomi, lingkungan, dan sosial mereka pulih,” katanya.
Ia menekankan, saat ini pekerjaan rumah pemerintah yakni memperbaiki sistem hilirisasi petani, sehingga mereka dapat memahami pasar dengan baik.
Untuk selanjutnya menjual produk-produk hasil ekonomi Nusantara yang mengedepankan konservasi lingkungan.
Baca: Food-estate-gagal-karena-abaikan-4-pilar-ini
Kalau pasar petani diurus, ujarnya, mereka bisa ekspor secara langsung, dan pengelolaannya itu baik, jika dihitung, untuk masuk kreiteria sejahtera petani hanya butuh lahan seluas 1 haktare.
“Petani yang sebelumnya untuk masuk ke kriteria sejahtera butuh lahan seluas 3ha,
jika dapat pasar secara langsung, dan bisa mengelola produksi mereka dengan baik, dengan kualitas ekspor, untuk pendapatan setara 3ha, mereka cukup mengelola 1ha,” katanya.
Walhi telah meneliti lima lanskap ekologis yakni gambut, hutan dataran tinggi, perbukitan hutan dataran rendah, dan pesisir yang dilakukan di sejumlah daerah.
Dalam laporannya, Walhi menyebut menunjukkan bahwa praktik ekonomi Nusantara di Sumatera Selatan, Bengkulu, Bali, Jawa Timur, dan Kalimantan Timur, tetap eksis dan menopang kehidupan rakyat.
Baca: Soal-kenaikan-harga-beras-pengamat-sebut-ada-kebijakan-yang-tak-adil-untuk-petani
“Di tingkat tapak, praktik ekonomi Nusantara hanya mungkin dilakukan dengan baik jika ada pengakuan dan perlindungan wilayah kelola rakyat.
Hingga saat ini, Walhi mendampingi 1,3 juta lahan yang dikelola oleh komunitas masyarakat lokal.
Dari pendampingan tersebut, Walhi berhasil mengidentifikasi 77 jenis sumber pangan dan komoditas potensial sebagai sumber kesejahteraan komunitas, basis pembangunan ekonomi nasional, dan pangan global,” katanya.
Sementara itu, Perwakilan dari Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Bayang Bungo Sumatera Barat, Sri Hartati menceritakan praktik ekonomi Nusantara dalam menghasilkan produk turunan hasil tanaman hutan, yakni sirup pala.
Baca: Food-estate-ada-sejak-era-Soeharto-mengapa-gagal-dan-apa-dampaknya-bagi-lingkungan
Produk tersebut menjadi unggulan pemerintah Nagari Kapujan dan berhasil menjuarai Kompetisi Produk UMKM tingkat Kabupaten Pesisir Selatan.
“Sebelumnya, kulit palanya dibuang, tidak tahu kalau itu bisa diolah. Sekarang, sirup palanya sudah kami olah, dan itu sudah dipakai untuk welcome drink di hotel-hotel, memberdayakan ibu-ibu petani yang kini semuanya bisa bekerja,” kata Sri.
Program ekonomi Nusantara yang digagas oleh Walhi tersebut sejalan dengan salah satu misi yang dibawa dalam World Water Forum 2024, yakni ketahanan pangan dan energi.

Leave a Reply