Tag: otak

  • Ganjar: Pernyataan Otak Lambat Itu Sangat Sadis

    Ganjar: Pernyataan Otak Lambat Itu Sangat Sadis

    7cloud.asia – Pernyataan calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto yang menginginkan internet gratis memiliki otak lambat itu merupakan pernyataan yang sadis.

    Hal ini dikatakan calon presiden nomor urut 03, Ganjar Pranowo dalam debat kelima Pemilu 2024 di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta pada Minggu (04/02/2024) malam.

    “Jika kita berbicara bahwa orang yang pilih internet gratis, maaf, otaknya lambat, saya kira statement itu sangat sadis,” kata Ganjar.

    Penjelasan Ganjar ini menyinggung sindiran Prabowo yang membandingkan antara orang yang mengutamakan internet gratis ketimbang makan gratis.

    Saat itu, Prabowo tengah berkampanye di Pontianak, Kalimantan Barat, 20 Januari 2024.

    Baca: Ganjar sangat familiar dengan tema debat kelima

    “Orang yang bilang rakyat enggak minta makan itu anaknya saya kira otaknya agak … agak lamban,” kata Prabowo kala itu.

    Dalam debat tersebut, Ganjar menjelaskan ada sekitar 12.000 desa yang masih belum mendapatkan koneksi internet.

    Padahal Indonesia ingin mendigitalisasi sejumlah fasilitas, di antaranya di bidang pendidikan dan kesehatan.

    Karena itu, Ganjar bersama calon wakil presiden RI, Mahfud Md memasukkan program internet gratis dalam visi dan misinya.

    Menanggapi ucapan Ganjar, Prabowo membantah. “Mungkin tidak lengkap yang Bapak dengar ucapan saya. Yang saya katakan adalah mana yang lebih penting, internet gratis atau makan gratis untuk orang miskin?” ujar Prabowo.

    Menurutnya maksud internet gratis tidak penting jika dibandingkan dengan makan gratis adalah program strategis untuk mengatasi banyak masalah.

    Baca: Sebelum debat, Mahfud berpelukan dengan Prabowo

    “Saya enggak bermaksud internet gratis itu tidak penting. Kalau dibandingkan dengan makan gratis, menurut saya, itu strategic untuk mengatasi banyak masalah,” kata mantan menantu Presiden RI kedua, Soeharto.

    Namun penjelasan Prabowo tersebut dianggap terlambat oleh Ganjar sebab publik sudah berada di internet dan menjadi jejak digital.

    “Inilah hebatnya kalau coverage internetnya bagus. Jejak digital tidak akan pernah hilang. Maka, statement Bapak yang hari ini mencoba mengklarifikasi rasa-rasanya di publik sudah lewat karena pernyataan Bapak sangat clear dan membandingkan itu,” ujarnya.

    Debat kelima yang diikuti tiga capres malam ini menjadi rangkaian penutup acara debat yang digelar oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI.

    Baca: Ganjar dan Mahfud kompak kenakan kemeja Mapala

    Tema debat kelima adalah kesejahteraan sosial, kebudayaan, pendidikan, teknologi informasi, kesehatan, ketenagakerjaan, sumber daya manusia, dan inklusi.

    Lima sesi debat yang diikuti secara bergantian oleh capres dan cawapres merupakan forum resmi yang digelar oleh KPU untuk tiga pasangan calon berkampanye dan adu gagasan.

    Debat-debat sebelumnya berlangsung pada tanggal 12 Desember 2023, 22 Desember 2023, 7 Januari 2024, dan 21 Januari 2024.

    KPU juga telah menetapkan masa kampanye mulai 28 November 2023 hingga 10 Februari 2024, masa tenang pada tanggal 11—13 Februari, dan hari-H pemungutan suara pada tanggal 14 Februari 2024.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Empat Manfaat Puasa untuk Kinerja Otak

    7cloud.asia – Banyak orang sudah tahu manfaat puasa bagi kesehatan fisik. Tapi, apakah kamu sudah tahu jika puasa juga menyimpan manfaat bagi kesehatan otak.

    Tidak makan dan minum dari pagi sampai petang saat berpuasa memang akan memengaruhi proses metabolisme tubuh untuk menghasilkan energi.

    Padahal, supaya bisa bekerja dengan optimal, otak dan seluruh jaringan di tubuh butuh energi yang cukup.

    Walaupun tidak mendapatkan asupan energi dalam rentang waktu tertentu, tubuh punya mekanisme khusus dalam proses penyaluran energi.

    Salah satunya, energi banyak dialirkan ke otak saat puasa. Inilah salah satu alasan kenapa puasa punya manfaat untuk otak.

    Berikut ini adalah beberapa manfaat puasa untuk otak, seperti dikutip dari alodokter.com:

    1. Menjernihkan pikiran
    Saat tidak berpuasa, beberapa orang mungkin cenderung mengonsumsi segala jenis makanan, termasuk makanan yang tidak sehat seperti makanan cepat saji.

    Nah, kebiasaan mengonsumsi jenis makanan yang minim nutrisi akan membuat kebutuhan nutrisi harian tubuh menjadi tidak terpenuhi. Lambat laun, hal ini juga bisa memengaruhi sel-sel otak dan mengurangi kecerdasan.

    Ketika kamu berpuasa dengan benar serta mengonsumsi makanan sehat saat sahur dan berbuka, hal ini tidak akan memperparah efek dari konsumsi makanan minim nutrisi sebelumnya. Sebaliknya, hal ini justru akan membantu otak untuk bekerja lebih optimal.

    Baca: Jalan kaki setiap pagi bagus untuk kekuatan otot dan otak

    2. Memperbaiki sel otak
    Segala yang baik untuk tubuh akan baik juga untuk kesehatan otak. Begitu pula dengan puasa saat bulan Ramadan.

    Beberapa penelitian menyatakan bahwa puasa akan mengaktifkan proses autofagi yang membantu membuang sel-sel yang rusak dan membentuk sel-sel yang baru.

    Hal inilah yang membuat puasa bermanfaat untuk memperbaiki sel-sel otak, bahkan dikatakan bisa melindungi sel otak dari penyakit neurodegeneratif, seperti penyakit Alzheimer.

    3. Mengurangi kerusakan sel otak
    Pola hidup yang tidak sehat ditambah paparan radikal bebas, bisa menyebabkan peradangan hingga kerusakan jaringan tubuh, tak terkecuali sel dan jaringan otak.

    Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa puasa bisa membantu mengurangi tingkat peradangan dan membantu menyehatkan tubuh.

    Puasa dipercaya mampu menurunkan kadar protein C-reaktif, yang merupakan penanda terjadinya peradangan dalam tubuh. Itulah yang membuat puasa juga diyakini memiliki manfaat dalam mengurangi kerusakan sel-sel otak.

    4. Meningkatkan fungsi otak
    Seperti yang telah dibahas sebelumnya, puasa bisa memberikan perlindungan pada otak dari beragam kerusakan dan menjaga kesehatannya. Dengan otak yang sehat, otak pun bisa berfungsi secara maksimal.

    Selain itu, puasa juga diketahui meningkatkan hormon otak, yaitu BDNF (brain derived neutrophic factor). Namun, masih diperlukan penelitian lebih lanjut pada manusia untuk membuktikan kebenaran hal ini.

    Selain bermanfaat untuk kesehatan secara menyeluruh, manfaat puasa untuk otak juga sangat banyak. Agar mendapatkan manfaat-manfaat di atas, kamu perlu menerapkan pola hidup sehat saat berpuasa.

    Selain itu, kamu juga dianjurkan untuk mengonsumsi beragam makanan sehat untuk otak saat sahur atau berbuka, seperti ikan, sayuran berdaun hijau, telur, kacang-kacangan, serta buah jeruk dan blueberry.

    Jika kamu masih memiliki pertanyaan seputar manfaat puasa untuk otak atau memiliki kondisi medis tertentu, tetapi ingin menjalankan ibadah ini dan merasakan manfaatnya, jangan ragu konsultasi ke dokter, ya.

    Baca: Kontaminasi mikroplastik berdampak serius pada fungsi kognitif otak

  • Riset: Terlalu Sering Gunakan Ganja Menurunkan Daya Ingat dan Kemampuan Belajar

    Riset: Terlalu Sering Gunakan Ganja Menurunkan Daya Ingat dan Kemampuan Belajar

    7cloud.asia – Beberapa dekade terakhir, semakin banyak bukti ilmiah soal manfaat ganja medis untuk terapi pengobatan.

    Senyawa cannabidiol (CBD) dalam ganja bisa dimanfaatkan untuk mengobati kejang akibat epilepsi (gangguan pola listrik di otak), anoreksia (gangguan makan karena takut kelebihan berat badan), mual-muntah, hingga kecemasan.

    Sejumlah negara pun melegalkan penggunaan ganja medis. Beberapa di antaranya (seperti Belanda dan beberapa negara bagian di Amerika Serikat/AS) bahkan mengizinkan penggunaan ganja untuk konsumsi harian.

    Namun bak pedang bermata dua, pelegalan ganja medis ternyata meningkatkan kasus penyalahgunaan yang menimbulkan efek samping, seperti sindrom hiperemesis (mual-muntah berlebihan) hingga penyakit kardiovaskular.

    Selain itu, dampak negatif penyalahgunaan tanaman ganja sering dikaitkan dengan penurunan fungsi otak.

    Beberapa penelitian dalam kurun 2016-2018, dengan jumlah peserta terbatas menduga bahwa efek samping sementara ganja (dalam 72 jam) bisa mengganggu kemampuan mengingat pengalaman tertentu, berkonsentrasi, maupun belajar.

    Sebuah studi tahun 2025 berskala lebih besar mengonfirmasi efek negatif ganja terhadap kinerja otak tersebut.

    Studi ini mengungkapkan terlalu sering menggunakan ganja bisa menurunkan kemampuan memori otak jangka pendek yang berhubungan dengan proses belajar, konsentrasi, penalaran, dan berbahasa.

    Baca: Konsumsi ganja bisa memicu masalah kesehatan mental

    Seperti apa temuannya?
    Penelitian ini melibatkan 1.003 partisipan berusia 22-37 tahun di Missouri, AS. Mereka dikelompokkan menjadi tiga kategori berdasarkan riwayat penggunaan ganja semasa hidup.

    Pengguna berat memakai ganja lebih dari seribu kali, sementara pengguna sedang memakai ganja 10 – 999 kali. Adapun pemakai ganja kurang dari 10 kali dianggap nonpengguna. Sebagian peserta sudah lama menggunakan ganja, tapi ada juga pengguna baru.

    Partisipan kemudian diminta mengerjakan tujuh tes kognitif untuk menguji kemampuan otak terkait memori kerja, motivasi dan penghargaan, emosi, berbahasa, kemampuan motorik, kemampuan berelasi, serta kemampuan menafsirkan sekaligus merespons psikologis orang lain.

    Peneliti kemudian mengamati respons saraf otak peserta menggunakan magnetic resonance imaging (MRI), sebuah alat pemindai dengan medan magnet dan gelombang radio untuk menghasilkan gambar detail struktur otak.

    Hasilnya, efek samping pemakaian ganja yang paling terlihat jelas (baik pada pengguna baru maupun lama), adalah mengurangi kemampuan memori kerja.

    Ini merupakan bagian sistem otak yang membantu kita mengingat dan mengolah informasi sementara ketika melakukan tugas-tugas kompleks, seperti berbahasa, menalar, belajar, dan memecahkan masalah.

    Contoh penggunaan memori kerja dalam keseharian di antaranya mengingat nomor telepon yang baru diucapkan atau menyelesaikan soal matematika. Penurunan memori kerja paling signifikan dialami oleh pengguna berat.

    Para peneliti menduga penggunaan ganja berlebihan bisa mengurangi aktivitas otak di area tertentu (seperti korteks prefrontal dorsolateral, korteks prefrontal dorsomedial, dan insula anterior).

    Baca: Pro kontra penggunaan ganja medis

    Ketiga area otak tersebut terlibat dalam fungsi kognitif penting terkait memori kerja, seperti pengambilan keputusan, daya ingat, konsentrasi, dan emosi.

    Sayangnya, penelitian ini tidak mengkaji lebih jauh jenis senyawa ganja yang mengganggu memori kerja.

    Sebelumnya, sejumlah ahli meyakini bahwa senyawa lain dalam tanaman ganja bernama delta 9-tetrahydrocannabinol (THC) bisa mengikat reseptor kannabinoid (penyeimbang alami yang bantu otak tetap stabil saat hadapi tekanan).

    Akibatnya, kita bisa merasakan euforia, berhalusinasi, mengalami ketergantungan, serta gangguan memori jangka pendek terkait konsentrasi dan belajar.

    Diperlukan penelitian lanjutan
    Temuan berskala besar pertama mengenai dampak ganja terhadap fungsi otak ini sangat penting. Namun, diperlukan studi lanjutan dalam skala lebih besar dan panjang guna mengetahui hal-hal yang belum terjawab.

    Misalnya, bagaimana cara ganja memengaruhi memori kerja, senyawa apa yang berperan, berapa lama efek sampingnya berlangsung, serta adakah perbedaan efek di antara kelompok berbeda latar sosial dan usia.

    Dengan mengkaji manfaat maupun efek samping ganja terhadap kesehatan, kita bisa mempertimbangkan kembali kebijakan kesehatan masyarakat terkait penggunaan ganja di masa depan.

    Dengan demikian ganja medis bisa dimanfaatkan secara tepat guna untuk kesehatan, alih-alih merugikan.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Sharon Susanto (Lecturer in Pharmacy, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)

  • Penelitian Mengungkap Lima Tahap Perkembangan Otak

    Penelitian Mengungkap Lima Tahap Perkembangan Otak

    7cloud.asia – Penelitian yang dilakukan tim dari Universitas Cambridge mengungkap, otak melalui lima fase berbeda dalam kehidupan. Adapun titik balik penting terjadi pada usia 9, 32, 66, dan 83 tahun.

    Penelitian ini dilakukan terhadap sekitar 4.000 orang berusia anak-anak hingga usia 90 tahun. Peneliti memindai otak mereka untuk mengungkap hubungan antarsel otak mereka.

    Salah satu hasil penelitian menemukan bahwa bahwa otak berada dalam fase remaja hingga awal usia 30-an.

    Mereka mengatakan hasil ini dapat membantu kita memahami mengapa risiko gangguan kesehatan mental dan demensia bervariasi sepanjang hidup.

    Otak terus berubah guna merespons pengetahuan dan pengalaman baru. Namun, penelitian menunjukkan bahwa ini bukanlah pola yang mulus dari lahir hingga mati.

    Terdapat lima tahap perkembangan otak, menurut penelitian tersebut.
    Anak-anak – dari lahir hingga usia sembilan tahun
    Remaja – dari usia sembilan tahun hingga 32 tahun
    Dewasa – dari usia 32 tahun hingga 66 tahun
    Penuaan awal – dari usia 66 tahun hingga 83 tahun
    Penuaan akhir – usia 83 tahun ke atas

    “Otak mengalami restrukturisasi sepanjang rentang hidup. Koneksi selalu menguat dan melemah, dan polanya tidak konstan – ada fluktuasi dan fase restrukturisasi otak,” ujar penulis utama penelitian ini, Alexa Mousley, dilansir BBC.

    Beberapa orang akan mencapai tonggak ini lebih awal atau lebih lambat daripada yang lain. Namun, para peneliti mengatakan betapa mencoloknya perbedaan usia ini dalam data.

    Lima tahap perkembangan otak

    Fase anak-anak
    Ini merupakan periode pertama adalah ketika otak membesar dengan cepat, tetapi juga menipiskan kelebihan koneksi antarsel otak (alias sinapsis) yang terbentuk pada awal kehidupan.

    Otak menjadi kurang efisien selama tahap ini. Otak bekerja seperti anak kecil yang berkeliaran di taman, pergi ke mana pun yang ia suka, alih-alih langsung dari titik A ke titik B.

    Masa remaja
    Pada fase ini perubahan secara tiba-tiba terjadi sejak usia sembilan tahun, ketika koneksi-koneksi di otak melewati periode efisiensi yang luar biasa.

    “Ini perubahan yang sangat besar,” kata Mousley, menggambarkan perubahan paling mendalam di antara fase-fase otak.

    Ini juga merupakan masa kemunculan risiko terbesar gangguan kesehatan mental.

    Masa remaja jelas dimulai sekitar awal pubertas. Namun, ada bukti terbaru yang menunjukkan bahwa masa ini berakhir jauh lebih lambat dari yang kita duga.

    Dulu, masa remaja dianggap membentang pada usia belasan tahun. Ilmu saraf menyatakan bahwa masa ini berlanjut hingga usia 20-an tahun. Kini, bukti baru menyebut masa remaja berakhir pada awal 30-an tahun.

    Fase ini adalah satu-satunya periode ketika jaringan neuron otak bekerja lebih efisien.

    Mousely mengatakan penelitian terbaru mendukung banyak pengukuran fungsi otak yang menunjukkan bahwa masa ini mencapai puncaknya pada awal usia 30-an tahun.

    Dia menambahkan, “sangat menarik” bahwa otak tetap berada dalam fase yang sama antara usia sembilan dan 32 tahun.

    Masa dewasa
    Selanjutnya, otak memasuki periode stabilitas saat memasuki era dewasa yang berlangsung selama tiga dekade.

    Perubahan berlangsung lebih lambat selama periode ini—dibandingkan dengan masa-masa gemilang sebelumnya. Pada periode inilah peningkatan efisiensi otak berbalik arah.

    Mousely mengatakan hal ini “sejalan dengan penurunan kecerdasan dan kepribadian” yang mungkin telah kita saksikan atau alami.

    Penuaan awal
    Masa penuaan awal pada otak terjadi pada usia 66 tahun, tetapi tidak terjadi penurunan secara tiba-tiba. Yang terjadi adalah pergeseran pola koneksi di otak.

    Alih-alih berkoordinasi sebagai satu kesatuan, otak justru semakin terpisah menjadi area-area yang bekerja sama erat—seperti anggota band yang mulai berkarier sebagai penyanyi solo.

    Usia ini juga merupakan usia ketika demensia dan tekanan darah tinggi, yang memengaruhi kesehatan otak, mulai terlihat.

    Penuaan akhir
    Kemudian, pada usia 83 tahun, kita memasuki tahap akhir. Data yang tersedia lebih sedikit dibandingkan kelompok lain karena menemukan otak yang sehat untuk dipindai lebih menantang. Perubahan otak serupa dengan penuaan dini, tetapi bahkan lebih nyata.

    Mousely mengatakan yang benar-benar mengejutkannya adalah betapa “usia-usia ini selaras dengan banyak tonggak penting” seperti pubertas, masalah kesehatan di usia lanjut, dan bahkan perubahan sosial yang cukup besar pada awal usia 30-an seperti menjadi orang tua.

  • Studi: Konsumsi Vitamin C Meningkatkan Fungsi dan Kesehatan Otak

    Studi: Konsumsi Vitamin C Meningkatkan Fungsi dan Kesehatan Otak

    7cloud.asia – Tubuh manusia tidak dapat memproduksi vitamin C sendiri, jadi kita perlu mengonsumsi cukup nutrisi penting ini melalui makanan kita. Vitamin C mengalir melalui tubuh kita, dari lambung, ke dalam darah, dan naik ke otak.

    Studi sebelumnya telah mengisyaratkan betapa pentingnya vitamin C bagi fungsi otak. Vitamin C terkonsentrasi di jaringan otak, dengan cairan serebrospinal yang membasahi otak mengandung vitamin C dua kali lebih banyak daripada darah.

    Asupan vitamin C yang cukup juga telah dikaitkan dengan risiko lebih rendah terkena penyakit Alzheimer.

    Sebuah penelitian baru yang telah diterbitkan di PLOS One memberi tahu lebih banyak tentang bagaimana vitamin C dapat meningkatkan kesehatan otak di usia lanjut.

    Sebelumnya diketahui bahwa vitamin C adalah antioksidan dan terlibat dalam berbagai reaksi kimia dalam tubuh kita.

    Tetapi kita tidak banyak mengetahui tentang bagaimana kadar vitamin C dalam darah (yang lebih mudah diambil sampelnya) mungkin berhubungan dengan kesehatan otak.

    Untuk mendapatkan kejelasan lebih lanjut, para peneliti di Universitas Hirosaki di Jepang mengambil sampel darah dari 2.044 sukarelawan dengan usia rata-rata 69 tahun.

    Mereka lalu mempelajari bagaimana kadar vitamin C dalam sampel tersebut sesuai dengan fitur-fitur tertentu pada pemindaian otak.

    Baca: Mengonsumsi Cukup Vitamin D Dapat Menurunkan Risiko Alzheimer

    Mereka sangat tertarik pada sirkuit otak utama yang disebut jaringan mode default (DMN) yang bekerja secara diam-diam, menghubungkan banyak bagian otak, bahkan ketika Anda merasa tidak melakukan apa pun.

    Pelonggaran DMN juga telah dikaitkan dengan penurunan kognitif, jadi para peneliti ingin melihat seberapa erat koneksi tersebut di antara orang Jepang lanjut usia.

    Terdapat hubungan yang jelas di antara para peserta dalam penelitian ini: Lebih banyak vitamin C dalam darah dikaitkan dengan volume materi abu-abu yang lebih tinggi, jaringan otak yang menangani memori, gerakan, dan emosi.

    Kadar vitamin C yang lebih tinggi juga berkorelasi dengan konektivitas yang lebih kuat di DMN.

    Namun, ini hanya penilaian satu kali, jadi ini tidak membuktikan bahwa vitamin C secara langsung memengaruhi koneksi otak tersebut.

    Sebaliknya, hal ini menunjukkan bahwa vitamin C mungkin berperan dalam menjaga kesehatan otak – dan mungkin, secara tidak langsung, membantu mencegah demensia.

    “Temuan ini menghasilkan hipotesis menarik bahwa diet kaya vitamin C mungkin berperan mendukung dalam menjaga kesehatan otak dan mengurangi penurunan kognitif terkait usia pada orang dewasa yang lebih tua,” kata ahli radiologi Tomohiro Shintaku, dari Universitas Hirosaki.

    Jaringan Mode Default (DMN) menghubungkan beberapa wilayah otak penting, termasuk korteks prefrontal ventromedial di dekat bagian depan otak kita (terkait dengan pemrosesan risiko, ketakutan, dan emosi), dan korteks cingulate posterior di tengah (terlibat dalam memori dan kontrol motorik).

    Baca: Lima Tahap Perkembangan Otak

    Secara keseluruhan, DMN telah dikaitkan dengan sejumlah fungsi kognitif yang berbeda, meliputi apa yang kita ingat tentang diri kita sendiri dan bagaimana kita menyebut diri kita sendiri, memikirkan masa depan, dan mengendalikan perhatian kita.

    Studi sebelumnya menemukan bahwa penderita penyakit Alzheimer, penyakit Parkinson, dan depresi cenderung memiliki DMN yang lebih lemah dan kurang terhubung dengan baik.

    Masih banyak penelitian yang diperlukan untuk meneliti hubungan ini secara lebih detail, tetapi implikasinya adalah bahwa jumlah vitamin C yang sehat dapat membantu menjaga DMN tetap berjalan lebih lancar, dan mencegah beberapa gangguan kesehatan otak ini.

    “Sejauh pengetahuan kami, ini adalah studi pertama yang menunjukkan hubungan antara kadar vitamin C plasma dan konektivitas DMN,” tulis para peneliti dalam makalah yang diterbitkan.

    Konektivitas otak
    Para peneliti melihat tiga wilayah materi abu-abu yang membentuk jaringan mode default, dan menghubungkannya dengan kadar vitamin C dalam sampel darah. (Nagaya dkk., PLOS One, 2026)

    Dalam analisis mereka, para peneliti menyesuaikan beberapa faktor yang juga dapat memengaruhi kesehatan otak, termasuk usia, jenis kelamin, dan kondisi kesehatan seperti tekanan darah tinggi.

    Namun mereka ingin melihat apakah mereka dapat mereplikasi temuan mereka dalam studi longitudinal yang melacak orang selama beberapa tahun, dan dalam kelompok yang lebih beragam.

    Baca: Hujan Mikroplastik Berpotensi Hambat Fungsi Otak

    Hal itu akan membantu kita memahami apakah hubungan yang ditemukan di sini, pada orang-orang yang relatif lanjut usia yang tinggal di Jepang, berlaku untuk populasi atau kelompok usia lain.

    Meskipun demikian, ini adalah alasan lain untuk mempertimbangkan untuk mendapatkan lebih banyak vitamin C dalam diet Anda. Vitamin C tidak hanya terdapat pada jeruk, sumber yang paling terkenal, tetapi juga pada banyak buah dan sayuran lainnya.

    Studi sebelumnya telah menghubungkan kadar vitamin C yang optimal dengan sistem kekebalan tubuh yang lebih kuat – tetapi vitamin C tidak banyak membantu mengatasi flu biasa.

    Saran bahwa vitamin C juga dapat melindungi dari polusi udara, menjadi rahasia kulit yang tampak lebih muda – atau meningkatkan kesehatan otak – mungkin tidak begitu jelas.

    Hubungan ini tentu layak untuk dieksplorasi, dan sementara itu, merupakan pengingat akan manfaat mengonsumsi makanan yang seimbang sementara para ilmuwan menggali detailnya.

    “Hal yang paling menarik bagi saya dari penelitian ini adalah kami mampu mendeteksi hubungan yang halus namun signifikan antara satu faktor nutrisi dan jaringan otak skala besar dengan memanfaatkan kohort berbasis komunitas yang kuat yang terdiri dari lebih dari 2.000 orang dewasa lanjut usia,” kata Shintaku.

    “Ini benar-benar menyoroti potensi dampak kebiasaan diet kita sehari-hari terhadap struktur otak kita.” imbuhnya