7cloud.asia – Beberapa dekade terakhir, semakin banyak bukti ilmiah soal manfaat ganja medis untuk terapi pengobatan.
Senyawa cannabidiol (CBD) dalam ganja bisa dimanfaatkan untuk mengobati kejang akibat epilepsi (gangguan pola listrik di otak), anoreksia (gangguan makan karena takut kelebihan berat badan), mual-muntah, hingga kecemasan.
Sejumlah negara pun melegalkan penggunaan ganja medis. Beberapa di antaranya (seperti Belanda dan beberapa negara bagian di Amerika Serikat/AS) bahkan mengizinkan penggunaan ganja untuk konsumsi harian.
Namun bak pedang bermata dua, pelegalan ganja medis ternyata meningkatkan kasus penyalahgunaan yang menimbulkan efek samping, seperti sindrom hiperemesis (mual-muntah berlebihan) hingga penyakit kardiovaskular.
Selain itu, dampak negatif penyalahgunaan tanaman ganja sering dikaitkan dengan penurunan fungsi otak.
Beberapa penelitian dalam kurun 2016-2018, dengan jumlah peserta terbatas menduga bahwa efek samping sementara ganja (dalam 72 jam) bisa mengganggu kemampuan mengingat pengalaman tertentu, berkonsentrasi, maupun belajar.
Sebuah studi tahun 2025 berskala lebih besar mengonfirmasi efek negatif ganja terhadap kinerja otak tersebut.
Studi ini mengungkapkan terlalu sering menggunakan ganja bisa menurunkan kemampuan memori otak jangka pendek yang berhubungan dengan proses belajar, konsentrasi, penalaran, dan berbahasa.
Baca: Konsumsi ganja bisa memicu masalah kesehatan mental
Seperti apa temuannya?
Penelitian ini melibatkan 1.003 partisipan berusia 22-37 tahun di Missouri, AS. Mereka dikelompokkan menjadi tiga kategori berdasarkan riwayat penggunaan ganja semasa hidup.
Pengguna berat memakai ganja lebih dari seribu kali, sementara pengguna sedang memakai ganja 10 – 999 kali. Adapun pemakai ganja kurang dari 10 kali dianggap nonpengguna. Sebagian peserta sudah lama menggunakan ganja, tapi ada juga pengguna baru.
Partisipan kemudian diminta mengerjakan tujuh tes kognitif untuk menguji kemampuan otak terkait memori kerja, motivasi dan penghargaan, emosi, berbahasa, kemampuan motorik, kemampuan berelasi, serta kemampuan menafsirkan sekaligus merespons psikologis orang lain.
Peneliti kemudian mengamati respons saraf otak peserta menggunakan magnetic resonance imaging (MRI), sebuah alat pemindai dengan medan magnet dan gelombang radio untuk menghasilkan gambar detail struktur otak.
Hasilnya, efek samping pemakaian ganja yang paling terlihat jelas (baik pada pengguna baru maupun lama), adalah mengurangi kemampuan memori kerja.
Ini merupakan bagian sistem otak yang membantu kita mengingat dan mengolah informasi sementara ketika melakukan tugas-tugas kompleks, seperti berbahasa, menalar, belajar, dan memecahkan masalah.
Contoh penggunaan memori kerja dalam keseharian di antaranya mengingat nomor telepon yang baru diucapkan atau menyelesaikan soal matematika. Penurunan memori kerja paling signifikan dialami oleh pengguna berat.
Para peneliti menduga penggunaan ganja berlebihan bisa mengurangi aktivitas otak di area tertentu (seperti korteks prefrontal dorsolateral, korteks prefrontal dorsomedial, dan insula anterior).
Baca: Pro kontra penggunaan ganja medis
Ketiga area otak tersebut terlibat dalam fungsi kognitif penting terkait memori kerja, seperti pengambilan keputusan, daya ingat, konsentrasi, dan emosi.
Sayangnya, penelitian ini tidak mengkaji lebih jauh jenis senyawa ganja yang mengganggu memori kerja.
Sebelumnya, sejumlah ahli meyakini bahwa senyawa lain dalam tanaman ganja bernama delta 9-tetrahydrocannabinol (THC) bisa mengikat reseptor kannabinoid (penyeimbang alami yang bantu otak tetap stabil saat hadapi tekanan).
Akibatnya, kita bisa merasakan euforia, berhalusinasi, mengalami ketergantungan, serta gangguan memori jangka pendek terkait konsentrasi dan belajar.
Diperlukan penelitian lanjutan
Temuan berskala besar pertama mengenai dampak ganja terhadap fungsi otak ini sangat penting. Namun, diperlukan studi lanjutan dalam skala lebih besar dan panjang guna mengetahui hal-hal yang belum terjawab.
Misalnya, bagaimana cara ganja memengaruhi memori kerja, senyawa apa yang berperan, berapa lama efek sampingnya berlangsung, serta adakah perbedaan efek di antara kelompok berbeda latar sosial dan usia.
Dengan mengkaji manfaat maupun efek samping ganja terhadap kesehatan, kita bisa mempertimbangkan kembali kebijakan kesehatan masyarakat terkait penggunaan ganja di masa depan.
Dengan demikian ganja medis bisa dimanfaatkan secara tepat guna untuk kesehatan, alih-alih merugikan.
Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Sharon Susanto (Lecturer in Pharmacy, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)

Leave a Reply