Tag: pakaian

  • Merancang Koleksi Pakaian Ramah Lingkungan Lagi Berkarakter

    Merancang Koleksi Pakaian Ramah Lingkungan Lagi Berkarakter

    7cloud.asia – Cara kita berpakaian memiliki dampak yang besar untuk lingkungan. Itu sebabnya, beberapa tahun belakangan muncul tren berpakaian minimalis lewat konsep lemari pakaian kapsul.  

    Lemari pakaian kapsul adalah dasar dari koleksi pakaian minimalis yang ramah lingkungan, lagi memudahkan hidup kita sehari-hari. 

    Ketika bicara tentang lemari pakaian kapsul, banyak orang langsung berpikir tentang daftar pakaian yang penting dan harus dimiliki.

    Menurut Alessia Armenise dalam tulisannya di laman prettyslow.life hal ini lumrah, karena selama bertahun-tahun majalah ataupun pusat mode telah menjadi kiblat perempuan dunia.  

    Konsep lemari pakaian kapsul yang secara luas dikenalkan majalah perempuan memang bagus, namun menurut Alessia, perlu ditambahkan dengan kata ‘pribadi’ di sana.

    Baca: Slow fashion, alternatif solusi dari dampak fast fashion bagi lingkungan

    Mengapa? Karena tidak ada lemari kapsul standar untuk semua orang. Pertama-tama, masing-masing diri kita adalah orang yang memiliki selera dan kesukaan berbeda. Pun tidak semua orang memiliki kehidupan yang sama.

    Beberapa dari kita mungkin diharuskan mengenakan pakaian tertentu di tempat kerja, bahkan mungkin dengan warna tertentu, sementara yang lain mungkin lebih bebas dalam memilih.

    “Apapun yang kita lakukan, lemari pakaian kapsul harus dibangun berdasarkan kekhasan, kepribadian, dan kebutuhan diri kita masing-masing,” tegasnya.

    Lemari pakaian kapsul, ujar Alessia, perlu mengekspresikan visi tentang diri kita sendiri dan gaya kita – dengan mempertimbangkan komitmen hidup seseorang.

    Jika kamu mencari lemari pakaian kapsul yang sempurna di internet, kamu akan menemukan beberapa pakaian klasik yang telah sering diusulkan: blazer hitam, jumper netral, kemeja putih, dan sebagainya.

    Baca: Sisi gelap fast fashion bagi lingkungan

    Namun jika kamu tidak diharuskan mengenakan blazer untuk bekerja atau hanya tidak menyukai blazer, mengapa harus memiliki pakaian itu di lemari pakaianmu?

    “Jadi, sebelum membuat lemari pakaian kapsul yang bagus, kamu perlu memahami kebutuhanmu,” demikian saran Alessia.

    Berikut beberapa hal yang perlu kamu ketahui sebelum membeli koleksi pakaian kapsulmu,

    Ketahui semua pakaian yang kamu butuhkan, tuliskan hidupmu di selembar kertas.

    Tuliskan daftar aktivitas yang paling sering kamu lakukan, seperti bekerja, berenang, bermain tenis, hiking – aktivitas apapun yang menyita hidup kamu.

    Baca: Dampak gaya hidup konsumtif bagi lingkungan

    Setelah itu, tuliskan pakaian apa saja yang diperlukan untuk melakukan aktivitas tersebut.

    Misalnya, jika kamu mendaki setiap akhir pekan, kamu butuh sepatu dan pakaian yang disesuaikan dengan aktivitas tersebut. Jika kamu bekerja di lingkungan yang sangat formal, kamu butuh pakaian yang sangat formal.

    Buatlah peta hidup Anda dan tentukan hal minimum yang kamu butuhkan, agar dapat berfungsi dalam aktivitas pilar tersebut.

    Untuk pekerjaan yang sangat formal misalnya, butuh blazer, kemeja, sepatu yang dipoles, dan celana panjang yang bagus.

    Keempat hal tersebut memang perlu, namun mungkin perlu ditambahkan beberapa kemeja dan rok lagi untuk seminggu kerja.

    Baca: Thrifting, cara berpakaian anak muda yang ramah lingkungan

    Mulailah dari kebutuhan minimum dan bangun lemari pakaian kamu dari sana.
    Sumber: prettyslow.life, baca artikel asli di sini

     

  • Gaya Hidup Minimalis: Isi Lemari Pakaianmu dengan 10 Hal Ini

    Gaya Hidup Minimalis: Isi Lemari Pakaianmu dengan 10 Hal Ini

    7cloud.asia – Memilih koleksi pakaian ala gaya hidup minimalis lebih dari sekadar memilih pakaian.

    Menurut penganjur gaya hidup minimalis, Joshua Becker, memilih koleksi pakaian ala gaya hidup minimalis adalah tentang menerima cara berpikir yang benar-benar baru. 

    Menurut Joshua, terkait pilihan pakaian ini,  orang sering mengabaikan proses dan manfaat pakaian itu sendiri dan lebih mengikuti tren sehingga justru jadi beban. Ini tidak sejalan dengan gaya hidup minimalis dan slow living.

    Ada banyak artikel yang ditulis tentang pilihan pakaian yang tepat dan apa yang harus dibeli guna membangun koleksi pakaian untuk menjadi minimalis.

    “Tapi saya harus jujur, rahasia sukses memilih koleksi pakaian ala gaya hidup minimlais tidak terlalu berkaitan dengan pakaian yang kita kenakan, tetapi lebih banyak tentang cara kita memikirkan perubahan tersebut,” tulisnya.

    Baca: 10 dampak buruk fast fashion pada lingkungan

    Karena itu, untuk mendapatkan hasil maksimal dari lemari pakaian minimalis, kita butuh pola pikir yang benar.

    Jadi buat kamu yang kesulitan untuk memilih koleksi pakaian ala minimalis, penting untuk disadari  bahwa ini bukan sekadar perjalanan mode; itu juga masalah mental.

    Berikut 10 pola pikir penting yang kita butuhkan untuk membangun koleksi pakaian yang bermakna dan tahan lama:

    1. Percaya diri
    Percaya pada diri sendiri adalah faktor penting untuk membangun koleksi pakaian ala minimalis.

    “Terapkan gaya pribadi Anda tanpa mencari validasi dari orang lain. Lemari pakaian Anda harus mencerminkan diri Anda yang sebenarnya, bukan ciptaan palsu yang bertujuan untuk menyenangkan orang lain,” tegasnya.

    Baca: Slow fashion, cara yang dilirik mereka yang muak dengan mode

    2. Cantik itu berasal dari dalam
    Sadarilah bahwa nilaimu tidak ditentukan oleh penampilanmu. Kecantikan sejati berasal dari karakter, nilai-nilai, dan cara kamu memperlakukan orang lain.

    Jadi ketimbang sibuk memikirkan hal yang bersifat lahiriah, mendingan mengembangkan inner beauty, dan tanpa kamu sadari kamu ternyata kita hanya butuh sedikit beda untuk merasa menarik dan lebih percaya diri.

    3. Hargai gaya pribadi ketimbang latah ikut  tren
    Pilih pakaian yang mencerminkan selera dan kepribadian kamu, ini akan jauh lebih awet daripada mengejar tren fesyen yang cepat berlalu.

    “Lemari pakaian yang dikurasi berdasarkan gaya pribadi akan selalu lebih memuaskan dan berkelanjutan dibandingkan lemari pakaian yang didasarkan pada mode terkini,” ujar Joshua.

    Baca: Gaya hidup minimalis makin dilirik

    4. Mode akan cepat berlalu
    Sadarilah bahwa tren datang dan pergi, namun gaya pribadi kita tetap konstan.

    “Setiap generasi menertawakan mode-mode lama, namun secara religius mengikuti mode-mode baru,” kata Henry David Thoreau.

    Berinvestasilah pada barang-barang berkualitas yang dapat bertahan lebih lama, dan hindari jebakan keharusan untuk terus memperbarui isi lemari pakaian kamu agar selalu mengikuti mode.

    5. Ketahui hal yang lebih penting untuk dibelanjakan
    Alihkan fokus dari memperoleh harta benda menjadi berinvestasi dalam pengalaman, hubungan, dan pertumbuhan pribadi.

    Mengarahkan sumber daya ke hal dan tujuan yang lebih bermakna akan mendatangkan kepuasan dan kebahagiaan yang lebih besar.

    Baca: Dampak gaya hidup konsumtif pada lingkungan

    6. Berikan contoh kepada anak-anak 
    Contohkan kesederhanaan dan hidup yang terarah untuk anak Anda dengan menjaga lemari pakaian minimalis.

    “Ajari mereka nilai kualitas dibandingkan kuantitas dan ilhami mereka untuk membuat pilihan yang bijaksana dalam hidup mereka,” imbuh Joshua

    7. Syukuri apa yang kita miliki
    Hargai pakaian yang sudah kita miliki dan kenali nilainya.

    Pola pikir bersyukur akan membantu kita menahan keinginan untuk terus mencari lebih banyak dan mendorong kita untuk memaksimalkan apa yang kita miliki.

    8. Sederhana adalah kunci
    Pahami bahwa lemari pakaian yang disederhanakan menghasilkan kehidupan yang lebih fokus dan damai.

    Dengan menghilangkan kelebihan dan gangguan, kita dapat mencurahkan energi untuk hal yang benar-benar penting.

    Baca: 10 Prinsip gaya hidup slow living

    9. Komitmen terhadap keberlanjutan
    Memiliki lebih sedikit pakaian memungkinkan kita memilih pilihan pakaian yang dibuat secara etis dan bertanggung jawab.

    Dengan melakukan hal ini, kita tidak hanya menyederhanakan isi lemari pakaian tetapi juga berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan. 

    10. Fleksibel dan mampu beradaptasi
    Bersikaplah terbuka untuk mengubah dan menyesuaikan pilihan pakaian agar sesuai dengan kebutuhan dan keadaan yang terus berkembang.

    Lemari pakaian kapsul bukanlah entitas yang kaku dan tidak berubah, melainkan cerminan dinamis dari kehidupan dan pertumbuhan pribadi kita.

    Membuat lemari pakaian kapsul bukan hanya tentang pakaian itu sendiri, namun pola pikir dan sikap yang memungkinkan Anda menolak budaya konsumen dan merangkul kesederhanaan.

    Dengan mengenali dan memilih sepuluh kualitas penting ini, Anda sudah siap untuk membangun lemari pakaian yang lebih bermakna dan disengaja.

    Baca: Cara sederhana memulai slow living

  • Demi Lingkungan, Perempuan Ini Mengurangi Frekuensi Mencuci Pakaian

    Demi Lingkungan, Perempuan Ini Mengurangi Frekuensi Mencuci Pakaian

    7cloud.asia – ’Saya membersihkan noda di pakaiannya saya selama sebulan dan tidak terlihat lebih kotor dari biasanya’

    Demikian kesaksian Chitra Ramaswamy, soal kebiasaan barunya untuk lebih jarang mencuci pakaian demi mengurangi mikroplastik yang mencemari lingkungan.

    Chitra merupakan salah satu penulis Guardian yang mengikuti program bagaimana cara mengurangi dampak iklim dengan slow fashion, salah satunya adalah dengan lebih jarang mencuci.

    Selama sebulan, tiga orang penulis Guardian menjual, menyesuaikan, dan memperbaiki pakaian mereka guna mencegah lebih banyak seratmikro mencemari bumi. 

    Mari kita ikuti kesaksian Chitra lebih lanjut: 

    Baca: Slow fashion menjadi alternatif fast fashion

    Saya merasa saya harus mulai dengan mencuci pakaian kotor saya: Saya adalah seorang ibu paruh baya yang memiliki anak kecil yang tidak mencuci pakaian apa pun di rumah kami.

    Saya tahu, seperti apa tingkat mikroplastik di perairan kita: yakni belum pernah terjadi sebelumnya.

    Tapi rekan saya, Claire yang sangat teliti dalam berbusana, yang mencuci pakaian sementara tugas saya termasuk mengajak jalan-jalan anjing, memasak, bersih-bersih, berbelanja, merawat anak yang semuanya itu menimbulkan banyak noda di lemari pakaian saya.

    Jadi ketika saya ditantang untuk mengurangi frekuensi mencuci pakaian – yang merupakan salah satu cara kecil yang bisa kita lakukan untuk mengurangi masuknya mikroplastik ke laut– hal pertama yang terjadi adalah perselisihan dengan pasangan saya.

    Baca: Jika demi lingkungan, perempuan bisa lebih jarang mencuci pakaian

    Ini mengenai pertanyaan sensitif apakah saya dapat mengklaim untuk “mencuci lebih sedikit” ketimbang tidak mencuci sama sekali.

    Tetap saja, saya bisa berusaha untuk mengurangi jumlah pakaian di keranjang cucian. Saya mulai dengan membawa kain mikrofiber kemanapun saya pergi, ala Lady Macbeth memilih kain yang antinoda.

    Saya sangat merekomendasikannya kain mikrofiber yang sangat meringankan beban cucian. Ternyata jumper wol domba Uniqlo berukuran sedang tidak perlu dicuci jika saya menjatuhkan pasta gigi ke atasnya.

    Saya hanya menyelubungi jari telunjuk saya dengan kain mikrofiber, membasahinya dengan air dingin, mengoleskannya, lalu pergi.

    Baca: Brian Sczabo perkenalkan trend tidak mencuci pakaian demi lingkungan

    Saya membersihkan jumper, jeans, celana panjang, dan kemeja selama sebulan dan tidak terlihat lebih acak-acakan dari biasanya. Sukses!

    Untuk memutuskan kapan akan mencuci barang, aturan umum saya adalah jika belum menyentuh bagian tubuh secara langsung, jangan repot-repot.

    Saya akhirnya mencuci lebih sedikit pakaian meskipun itu berarti menghabiskan banyak waktu untuk mengendus bagian ketiak dan selangkangan pakaian saya.

    Saat kami mencuci, kami menggunakan siklus ramah lingkungan selama tiga jam – mesin menggunakan lebih sedikit air dan suhu lebih rendah – dan saya tidak melihat perbedaannya.

    Baca: Dampak buruk fast fashion pada lingkungan

    Saya juga mempelajari kiat-kiat hidup lainnya: mengenakan celemek saat memasak, memasukkan celana ke dalam kaus kaki saat saya mengajak anjing jalan-jalan, menggantung pakaian di tali untuk diangin-angikan.

    Sementara itu, anak-anak saya terus membuang pakaian mereka ke dalam keranjang, maksud saya ke lantai, setiap lima menit.

    Hal ini mulai terasa seperti sebuah metafora untuk keadaan darurat iklim di mana, tentu saja, saya adalah pejuang kebersihan dan anak-anak saya adalah miliarder perusak iklim yang bertanggung jawab atas lebih banyak emisi karbon dibandingkan 66% masyarakat termiskin.

    Bukan berarti saya akan berhenti berusaha, tapi itu berarti hanya ada sedikit yang bisa saya lakukan.

    Chitra Ramaswamy, sudah dimuat di Guardian.

  • Aplikasi Ini Membantu Mereka yang Buta Warna Memilih dan Memadupadankan Pakaian

    Aplikasi Ini Membantu Mereka yang Buta Warna Memilih dan Memadupadankan Pakaian

    7cloud.asia – Bagi seorang yang buta warna, pemilihan pakaian menjadi sesuatu yang cukup pelik.

    Penyintas buta warna tak mampu membedakan warna Biru dan ungu, merah dan hijau, oranye dan coklat semua hampir sama, sehingga tak jarang mereka kesulitan memilih pakaian.

    Bagaimana seorang buta warna mengatasi kondisi ini dalam memilih pakaian, berikut tulisan Ammar Kalia yang diterbitkan di Guardian.

    Sebagai penderita buta warna, bagi saya biru dan ungu, merah dan hijau, oranye dan coklat – dan masih banyak lagi di antaranya – semuanya menyatu menjadi satu.

    Baca: Pakaian rusak nggak harus dibuang

    Ini berarti bahwa sejak saya bisa memilih pakaian sendiri, saya mendapatkan sejumlah penampilan yang meragukan bahkan mungkin aneh. Sebagai remaja saya melihat saya sering mengenakan pakaian cahaya neon Topman nu rave.

    Lalu saya mulai menggunakan kain flanel, kemeja Hawaii sebentar, celana panjang yang terlalu tipis, dan terakhir gaya saya saat ini, yang hampir sama: jeans dengan kemeja oxford.

    Saya telah membuang isi lemari pakaian saya selama bertahun-tahun dan mengirimkan barang-barang lama untuk didaur ulang atau untuk amal, tetapi entah bagaimana lemari itu selalu saja kembali penuh.

    Baru setelah menyelesaikan “audit lemari pakaian”, saya menyadari betapa tidak berubah dan borosnya saya.

    Baca: Lima prinsip utama frugal living

    Dalam beberapa tahun terakhir, aplikasi seperti Whering dan Indyx bermunculan untuk membantu kita memilih dan membeli pakaian.

    Aplikasi ini menyuruh penggunanya untuk memoto setiap item di lemari pakaian mereka, dengan foto ini Whering membuat katalog digital yang membantu Anda menentukan item mana yang paling sering Anda pakai.

    “Dan apa yang harus dilakukan dengan item yang paling sedikit Anda pakai,” tulis Khalia.

    Memotret semua pakaian memang melelahkan. Namun saya terkejut melihat betapa banyak hal yang tidak pas.

    Baca: Demi lingkungan orang ini lebih jarang mencuci pakaian, lihat apa yang terjadi

    Kemeja sutra berwarna krem ​​yang saya asumsikan hanya saya dapatkan untuk pakaian mewah, legging termal, dan setengah lusin kemeja putih formal.

    Setelah tiga minggu, saya menjelajahi “statistik” saya. Saya menemukan bahwa saya mengenakan kemeja berkancing empat yang sama sebanyak 80%, sementara dua celana jeans merupakan 90% dari pilihan bagian bawah saya.

    Setelah membaca beberapa saran audit lemari pakaian, saya mulai mencoba pakaian yang paling jarang saya pakai untuk memutuskan apakah saya harus menyimpannya, menjualnya, atau mengirimkannya ke badan amal.

    Ini diikuti dengan perjalanan yang meragukan ke supermarket dengan celana jins putih longgar, video conference dengan bahan sutra, dan pertunjukan dengan linen merah muda.

    Baca: Jika alasannya demi lingkungan, perempuan bersedia lebih jarang mengganti pakaian

    Anehnya, mengenakan pakaian yang ditemukan kembali ini tidak membuat saya merasa telah merusak pemandangan – malah membuat saya ingin menambahkan lebih banyak warna dan variasi ke dalam lemari pakaian saya, meskipun saya tidak selalu mendapatkan kombinasi yang tepat.

    Saya mungkin terlihat mencolok dari yang lain, tetapi mungkin tidak apa-apa – itu lebih baik daripada berpakaian seperti Mark Zuckerberg, terjebak dalam seragam efisiensi dan kebosanan.

    Setelah sebulan melakukan audit lemari pakaian, barang-barang pokok seperti kemeja putih yang tak ada habisnya itulah yang saya putuskan untuk dikirim ke badan amal sehingga saya dapat menyediakan ruang untuk pakaian yang sebelumnya saya kurang percaya diri untuk memakainya.

    Ada gunanya memakai dan mengadaptasi apa yang sudah kita miliki, untuk memastikan perubahan gaya kita tidak selalu berarti pembelian baru.

    Baca: Slow fashion pilihan berpakaian yang lebih ramah lingkungan

    Saat kita membeli, kita bisa mencari sesuatu yang unik dengan hemat. Namun dalam kasus saya, satu kemeja sutra mungkin sudah cukup.

    Ammar Kalia

  • Permak Pakaian: Solusi Jitu untuk Membuat Pakaian Bisa Kembali Dikenakan

    Permak Pakaian: Solusi Jitu untuk Membuat Pakaian Bisa Kembali Dikenakan

    7cloud.asia – Ini masih soal pakaian atau slow fashion, tentang bagaimana kita tidak menambah cemaran terhadap lingkungan karena cara kita memilih fesyen.

    Soal fesyen atau pakaian, menurut saya orang cenderung minimalis atau maksimalis.

    Hal ini terlihat jelas bagi saya ketika saya tumbuh dewasa, ketika adik perempuan saya yang koleksi pakaian atau fesyen nya terus bertambah, yang sebagian besar sepertinya tidak dia pakai.

    Sementara itu, saya selalu menganggap berbelanja pakaian lebih membuat stres daripada bermanfaat.

    Saya juga tidak pernah menyimpan pakaian karena sentimen – terutama karena keterbatasan tempat yang saya miliki.

    Ketimbang menumpuk pakaian, saya lebih suka memberikan pakaian yang tidak akan pernah saya pakai lagi ke toko amal setempat.

    Baca: Aplikasi ini membantu penjualan barang preloved

    Namun saya tetap mempunyai pakaian yang sebagian besar masih belum dipakai karena tidak muat.

    Kadang pakaian itu perlu diperbaiki, tetapi  saya tidak memiliki keterampilan untuk melakukannya.

    Seperti saat ini, saya memiliki celana linen putih yang bagian pinggangnya terlalu rendah yang tak sesuai dengan selera saya.

    Saya juga menyimpan kemeja sutra dengan kancing hilang di salah satu mansetnya; dan mantel Cos pea yang dibeli baru dengan lima kancingnya hilang,  tidak ada satupun yang tersisa.

    Ternyata, saya telah menunda mengunjungi penjahit lokal saya karena membayangkan biaya perbaikan barangnya akan mahal.

    Baca: Aplikasi ini membantu memadumadankan pakaian untuk penderita buta warna

    Tapi, akhirnya, saya mengemas pakaian itu dan membawanya ke penjahit. Orang di belakang konter itu cepat dan efisien.

    Saya mengenakan celana panjang dan menunjukkan kepadanya seberapa tinggi pinggang yang saya inginkan.

    Dia memasang pin di tempat yang tepat, lalu menyarankan perubahan lain pada kaki-kaki, tepat di bawah tempat duduk.

    Ini bukanlah sesuatu yang terpikir oleh saya, namun meskipun hanya dipasang dengan peniti, saya dapat melihat bahwa pendapatnya memang benar.

    Dia menyatukan ukuran celana itu menjadi pakaian baru dan menjadikannya sesuai dengan celana berpinggang tinggi yang saya inginkan.

    Baca: Jangan dulu membuang pakaian yang rusak, siapa tahu cara ini bisa ditiru

    Saya sadar, inilah daya tarik pergi ke penjahit: mengubah pakaian sesuai pesanan, sehingga nyaman dipakai.

    Tidak ada keraguan bahwa sekarang, menurut saya, mereka terlihat lebih mahal daripada sebelumnya.

    Pada minggu-minggu berikutnya, saya menerima pujian atas celana linen yang  tidak pernah saya kenakan itu.

    Ternyata hanya dengan harga sekitar 35 poundsterling, biaya untuk mengubahnya hampir sama dengan biaya yang saya bayarkan pada awalnya.

    Namun kini setelah pakaian tersebut kembali bisa saya kenakan. Dan, ternyata  kekhawatiran saya yang berakar pada alasan ekonomi sebuah kekeliruan besar:

    Tidak ada pakaian yang lebih mahal, bagi lingkungan atau saldo bank Anda, selain pakaian yang tidak pernah Anda kenakan.

    Tulisan ini diterjemahkan dari The Guardian, penulis Elle Hunt

  • Aplikasi Vinted, Bantu Warga Inggris Menjual Pakaian yang Tak Lagi Dikenakan

    Aplikasi Vinted, Bantu Warga Inggris Menjual Pakaian yang Tak Lagi Dikenakan

    7cloud.asia – Ini masalah saya: Saya punya terlalu banyak pakaian. Tapi, saya hanya punya sedikit pilihan pakaian yang benar-benar saya kenakan.

    Ada setumpuk pakaian di lemari pakaian yang sudah bertahun-tahun tidak saya lihat apalagi saya kenakan.

    Saya sadar bahwa kondisi ini sepenuhnya merupakan masalah yang saya buat sendiri – dan merupakan suatu hal yang istimewa.

    Masalah ini saya sebut “eBay backlog”: barang-barang yang saya simpan, yang ingin saya jual, selama beberapa dekade sekarang.

    Sayangnya, pakaian-pakaian ini bukanlah barang investasi yang dibuat dengan indah dan selalu saya rencanakan untuk disimpan selamanya.

    Baca: Jangan dulu buang pakaian yang rusak

    Tapi bisa ditebak, pakaian itu adalah fast fashion dengan harga miring  dipadukan dengan “permata” vintage yang kumuh dan pembelian barang bekas yang tidak dapat dikembalikan dan tidak pernah benar-benar pas.

    Saya bisa saja menyumbangkan semuanya untuk amal – tapi saya ingin melihat apakah saya bisa mendapatkan kembali sebagian uang yang telah saya keluarkan dulu.

    Hingga akhirnya saya menemukan aplikasi Vinted. Aplikasi Vinted telah menjadi terobosan dalam penjualan pakaian.

    Mirip dengan situs penjualan kembali lainnya, Anda mengambil foto barang, menulis deskripsi singkat, dan mengunggah – tetapi ini lebih cepat dan mudah digunakan dibandingkan tempat lain seperti eBay.

    Meski begitu, simpanan saya masih ada. Saya akan menyisihkan waktu berhari-hari untuk membuat daftar semuanya, tetapi perhatian saya selalu terganggu oleh hal-hal lain.

    Baca: Demi lingkungan, muncul gerakan jarang mencuci pakaian

    Mungkin, kuncinya adalah menangani tumpukan barang bekas saya sedikit demi sedikit, berjanji untuk membuat daftar satu item setiap hari untuk menghindari perasaan kewalahan.

    Ini dimulai dengan baik: Saya tidak menyukai rutinitas dan terbiasa dengan alur makan malam-televisi-Vinted.

    Tumpukan pakaian saya mulai  teratasi dan barang-barang mulai terjual. Vinted melacak saldo kumulatif Anda dan, seiring dengan hilangnya dopamin yang disebabkan oleh aplikasi, keadaan bisa menjadi lebih buruk.

    Namun, sesekali saya suka keluar atau pergi dan itu berarti penjualan saya ketinggalan. Jadi saya beralih ke penjual pihak ketiga untuk membantu saya.

    Stae adalah toko barang bekas yang menjual atas nama Anda dengan imbalan potongan keuntungan.

    Baca: Trend anak muda: beli baju bekas demi lingkungan

    Saya menawarkan 10 item kepada pendiri Stae, Jenna dan dia setuju untuk mengambil setengahnya. Dan, itu berarti lima hari libur untuk saya

    Itu semua membantu. Perlahan-lahan, tumpukan pakaian saya berkurang drastis dan berpindah ke pemilik barunya. 

    Tantangannya, Vinted juga menjadi sarang godaan untuk belanja pakaian. Karena banyak pakaian keren yang dijual disana

    Namun dalam hal peralihan ke cara berbelanja yang lebih ramah lingkungan, cara yang dikembangkan di Vinted ini masih merupakan kebiasaan yang baik untuk dikembangkan.

    Diterjemahkan dari The Guardian, Penulis Ellen Hunt

     

  • Kiat Agar Pakaian yang Kita Miliki Tidak Menambah Limbah Tekstil

    Kiat Agar Pakaian yang Kita Miliki Tidak Menambah Limbah Tekstil

    7cloud.asia – Limbah tekstil yang menumpuk di perairan menjadi masalah serius bagi lingkungan. Sebagian besar limbah tekstil ini dihasilkan dari fast fashion.

    Berdasarkan laporan dari Ellen MacArthur Foundation pada 2017, terungkap lebih dari 50 persen pakaian fast fashion dibuang menjadi limbah tekstil hanya satu tahun setelah diproduksi.

    Karena itu, penting bagi kita untuk mengambil peran dalam mengurangi limbah tekstil ini dengan bijak dalam memilih pakaian.

    Menurut Co-Founder EcoTouch, Christina, cara termudah mengurangi limbah tekstil adalah menggunakan pakaian yang kita miliki semaksimal mungkin hingga sudah benar-benar tidak layak pakai.

    “Seringkali masyarakat menggunakan pakaian hanya sekali dua kali, lalu dibuang setelah bosan,” ujarnya dalam acara Partnership Launching Ascott Jakarta dan EcoTouch di Serumpun Resto, Jakarta Pusat, pada Rabu (9/10/2024) dikutip dari Kompas.com.

    Baca: Limbah tekstil dari fast fashion picu masalah serius pada lingkungan

    Oleh karena itu, dia mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam membeli pakaian. Pilihlah baju yang bisa dipadupadankan dengan item lainnya, agar tidak mudah bosan.

    Dengan melakukan itu, kita akan lebih memaksimalkan penggunaan pakaian dan mengurangi produksi limbah tekstil.

    Christina menambahkan, pakaian yang sudah tidak dipakai lagi, sebaiknya tidak serta merta dijadikan kain lap.

    Pasalnya, jika dipakai untuk membersihkan minyak atau kotoran lainnya, kain sudah tidak bisa didaur ulang, karena minyak akan menghancurkan serat-serat kain.

    Christina merekomendasikan pakaian bekas di-upcycle menjadi barang yang bisa digunakan sehari-hari, seperti tas belanja dan selimut.

    Baca: Dampak buruk fast fashion pada lingkungan

    Bila kamu tidak memiliki keahlian mendaur ulang barang bekas, kamu bisa mendonasikan pakaian tak layak pakai ke organisasi yang bisa mendaur-ulang kain.

    Jika kamu masih bingung bagaimana mencegah produk fesyen menjadi limbah tekstil, berikut beberapa kiatnya sebagaimana dikutip dari Kompas.com:

    1. Membeli produk fesyen yang timeless
    Membeli produk fesyen yang timeless adalah salah satu cara yang bisa diterapkan untuk mencegah limbah fesyen.

    Sebab, produk fesyen yang timeless biasanya tidak akan ketinggalam zaman dan selalu relevan dengan tren mode yang sedang berkembang.

    2. Merawat pakaian dengan baik
    Merawat dan menjaga produk fesyen dengan baik dapat memperpanjang umur pakai yang sekaligus mampu mencegah kita untuk membuangnya.

    Penting bagi kamu untuk merawat pakaian sesuai dengan petunjuk yang ada, terutama jika bahannya adalah wastra atau kain asli Indonesia dan menggunakan pewarna alami.

    Jadi, semua produk fesyen yang ada di rumah mulai dari proses mencuci sampai perawatannya harus benar-benar diperhatikan.

    Baca: Melawan dampak buruk fast fashion dengan slow fashion

    3. Memperbaiki atau menyumbangkannya
    Ada pun cara lain yang juga dianjurkan untuk mencegah pembuangan produk fesyen adalah dengan memperbaiki atau menyumbangkannya kepada orang-orang yang membutuhkan.

    Kadang ada waktunya pakaian kita rusak atau kekcilan. Kalau kasusnya rusak atau robek, sebisa mungkin kita perbaiki supaya bisa terlihat bagus lagi.

    Tetapi kalau sudah tidak cocok atau kekecilan, kita bisa menyumbangkannya agar lebih bermanfaat bagi orang lain.

    4. Membeli barang preloved atau thrifting
    Mencegah limbah produk fesyen juga bisa dimulai dari awal, ketika kita pertama kali membelinya.

    Thrifting atau membeli atau barang-barang bekas (preloved) yang masih bagus dan tetap fashionable untuk dipakai lagi tanpa disadari ikut mengurangi limbah tekstil dari produk fesyen.

    Baca: Empat alasan mengapa anak muda suka thrifting

     

  • Mengadu ke BAM DPR, Pedagang Thrifting: Bukan Kami yang Merusak Pasar dan UMKM

    Mengadu ke BAM DPR, Pedagang Thrifting: Bukan Kami yang Merusak Pasar dan UMKM

    7cloud.asia – Barang thrifting yang masuk ke Indonesia diperkirakan sekitar 3.600 kontainer, atau hanya 0,5 persen dari total 28.000 kontainer tekstil ilegal yang beredar di Tanah Air.

    Angka tersebut menunjukkan bahwa thrifting atau pakaian second bukan merupakan ancaman utama bagi keberlangsungan industri pakaian jadi dan tekstil tanah air terutama UMKM.

    Hal ini terungkap dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Badan Aspirasi Masyarakat DPR dengan pelaku usaha pakaian bekas dari berbagai daerah di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (19/11/2025).

    Dalam forum tersebut, para pedagang thrifting memberikan testimoni yang menggambarkan kompleksitas persoalan di lapangan.

    Rifai Silalahi, perwakilan pedagang dari Pasar Senen, Jakarta, mengatakan bahwa usaha pakaian bekas merupakan bagian dari UMKM yang telah bertahan puluhan tahun.

    Baca: Pemprov DKI Jakarta dukung Menkeu larang thrifting

    Ia menegaskan bahwa pelaku thrifting bukanlah ancaman bagi UMKM, bahkan tidak bersinggungan secara langsung dengan produk lokal.

    “Yang merusak pasar itu bukan kami, tapi banjirnya produk impor baru. China menguasai 80 persen, ditambah barang dari Amerika, Vietnam, dan India sekitar 15 persen. Produk lokal hanya tersisa 5 persen,” ungkap Rifai dalam pertemuan tersebut.

    Merespons aspirasi tersebut, Wakil Ketua BAM, Adian Napitupulu menegaskan bahwa BAM DPR akan menindaklanjuti seluruh masukan dengan menggelar dialog lanjutan bersama kementerian terkait, terutama Kementerian Keuangan dan Kementerian Perdagangan.

    Menurutnya, penyelesaian persoalan thrifting hanya dapat dicapai jika seluruh pemangku kepentingan duduk bersama dan melihat isu ini secara menyeluruh, termasuk aspek ekonomi, sosial, dan keberlanjutan hidup pedagang.

    Adian menegaskan, kebijakan negara tidak boleh hanya didasarkan pada persepsi atau stigma, tetapi harus berpijak pada data yang akurat.

    Baca: Alasan mengapa thrifting makin dilirik anak muda

    Adian menegaskan komitmen DPR untuk memastikan bahwa aspirasi para pelaku usaha thrifting menjadi perhatian serius dalam proses penyusunan kebijakan pemerintah.

    Adian menekankan bahwa BAM DPR ingin mendengar langsung kondisi di lapangan, terutama karena wacana larangan impor pakaian bekas kembali mengemuka dan memunculkan kekhawatiran luas di kalangan pelaku usaha.

    Ia menilai persoalan thrifting selalu muncul setiap tahun, namun penanganannya tidak pernah disertai pendekatan menyeluruh dan pemahaman bahwa jutaan masyarakat menggantungkan hidup dari sektor tersebut.

    “Negara tidak boleh hanya hadir dengan tindakan, tetapi juga dengan keadilan. Kita tidak boleh mengambil keputusan yang menekan rakyat kecil ketika negara sendiri belum mampu menyediakan lapangan pekerjaan yang memadai,” ujar Adian.

    Ia juga menyoroti keluhan para pedagang mengenai operasi penertiban yang dinilai represif dan merugikan, membuat para pedagang merasa diperlakukan seperti pelaku kejahatan.

    Menurut Adian, situasi ini tidak boleh terus terjadi. Ia menegaskan bahwa sebelum melakukan penindakan, pemerintah harus memastikan telah hadir dengan solusi yang konkret dan dapat diimplementasikan.

    Baca: Mengolahulang pakaian bekas jadi produk bernilai tinggi