Tag: pancaroba

  • Sebagian Wilayah Indonesia Lewati Puncak Musim Hujan, BMKG Minta Masyarakat Bersiap Hadapi Pancaroba

    Sebagian Wilayah Indonesia Lewati Puncak Musim Hujan, BMKG Minta Masyarakat Bersiap Hadapi Pancaroba

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat untuk mewaspadai potensi terjadinya cuaca ekstrem selama periode pancaroba (peralihan musim).

    Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan peralihan musim atau pancaroba ini diprakirakan berlangsung pada bulan Maret hingga April 2024.

    “Selama periode pancaroba, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan dan antisipasi dini terhadap potensi cuaca ekstrem seperti hujan lebat dalam durasi singkat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang, angin puting beliung, dan fenomena hujan es,” ujarnya di Jakarta, Minggu (25/2/2024).

    Berdasarkan analisa dinamika atmosfer yang dilakukan BMKG, kata dia, sejumlah daerah Indonesia khususnya bagian selatan Indonesia telah melewati puncak musim hujan.  

    Baca: Musim tanam tiba petani mengeluh kesulitan beli pupuk 

    Hal tersebut, kata dia, mengindikasikan bahwa wilayah tersebut akan mulai memasuki peralihan musim pada bulan Maret hingga April.

    Salah satu ciri masa peralihan musim adalah pola hujan yang biasa terjadi pada sore hingga menjelang malam hari dengan didahului oleh adanya udara hangat dan terik pada pagi hingga siang hari.

    Kondisi itu terjadi karena radiasi matahari yang diterima pada pagi hingga siang hari cukup besar dan memicu proses konveksi (pengangkatan massa udara) dari permukaan bumi ke atmosfer sehingga memicu terbentuknya awan.

    Karakteristik hujan pada periode ini, kata Dwikorita, cenderung tidak merata dengan intensitas sedang hingga lebat dalam durasi singkat.

    Baca: BMKG ingatkan potensi cuaca ekstrem di puncak musim hujan

    Apabila kondisi atmosfer menjadi labil/tidak stabil maka potensi pembentukan awan konvektif, seperti awan Cumulonimbus (CB) akan meningkat.

    “Awan CB inilah yang erat kaitannya dengan potensi kilat/petir, angin kencang, puting beliung, bahkan hujan es. Bentuknya seperti bunga kol, warnanya ke abu-abuan dengan tepian yang jelas,” katanya.

    Menurutnya, yang patut diwaspadai yakni curah hujan lebat yang menjadi salah satu pemicu bencana hidrometeorologi, seperti banjir bandang dan tanah longsor.

    “Karenanya, kepada masyarakat yang tinggal didaerah perbukitan yang rawan longsor, kami juga mengimbau untuk waspada dan berhati-hati,” katanya

    Baca: Kenali tiga jenis cuaca ekstrem yang merusak

    Sementara itu Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto mengatakan terdapat beberapa fenomena atmosfer yang terpantau masih cukup signifikan.

    Fenomena atmosfer ini dapat memicu peningkatan curah hujan yang disertai kilat/angin kencang di sejumlah wilayah di Indonesia.

    Guswanto memaparkan, fenomena alam tersebut, yaitu pertama aktivitas Monsun Ssia yang masih dominan.

    Kedua, aktivitas Madden Jullian Oscillation (MJO) pada kuadran 3 (Samudra Hindia bagian timur) yang diprediksi akan memasuki wilayah Pesisir Barat Indonesia pada beberapa pekan ke depan.

    Baca: BRIN ingatkan cuaca ekstrem akan makin sering terjadi sebagai dampak perubahan iklim

    Selanjutnya, kata dia, adanya aktivitas gelombang atmosfer di sekitar Indonesia bagian selatan, tengah, dan timur.

    Keempat, terbentuknya pola belokan dan pertemuan angin yang memanjang di Indonesia bagian tengah dan selatan.

    “Seluruh fenomena atmosfer tersebut berkontribusi terhadap terjadinya fenomena cuaca ekstrem di berbagai wilayah di Indonesia,” kata dia.

  • Begini Kiat Menjaga Kesehatan di Musim Pancaroba

    Begini Kiat Menjaga Kesehatan di Musim Pancaroba

    7cloud.asia – Sebagian besar wilayah Indonesia kini memasuki musim pancaroba. Sejumlah penyakit kerap muncul. Ada beberapa kiat menjaga kesehatan di musim pancaroba.

    Praktisi kesehatan dr. Ngabila Salama mengungkapkan ada beberapa penyakit yang selalu muncul di musim pancaroba. Misalnya demam berdarah (DBD/dengue).

    “Cuaca yang tidak menentu seperti saat ini atau musim pancaroba, jika menuju musim penghujan penyakit akan sering muncul,” ujar Ngabila seperti yang dilansir Antaranews.

    Menurut Ngabila DBD kerap muncul saat musim pancaroba akibat adanya genangan air di tempat-tempat yang tertutup makin banyak.

    Baca: Musim pancaroba, waspada herpes zoster

    Seperti pot tanaman, kubangan air dan tempat penampungan air di rumah seperti bak mandi atau ember. 

    Namun disaat cuaca tiba-tiba panas, masyarakat biasanya terkena penyakit infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), pneumonia terutama pada anak, dan COVID-19.

    “Kemudian ada penyakit akibat polusi udara secara akut yakni ISPA, pneumonia, serangan asma sampai PPOK. Jika kronis dapat menyebabkan kanker, hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung dan pembuluh darah lainnya,” jelas Ngabila.

    Karena itu, Kepala Seksi Pelayanan Medik RSUD Taman Sari ini menganjurkan masyarakat sebaiknya menggunakan masker KF94 atau KN95 disaat cuaca panas.

    Hal ini untuk mencegah partikel PM 2.5 yang berbahaya bagi kesehatan secara akut dan kronis masuk ke dalam paru-paru.

    Baca: BMKG minta masyarakat waspada musim pancaroba

    Selain itu, dia juga mengimbau agar masyarakat juga rajin mencuci tangan dan menjaga jarak ketika sedang berada di kerumunan.

    “Mohon diingat bahwa polusi udara membuat saluran nafas menjadi lebih sensitif, sehingga mudah terkena penyakit, jika sudah kena itu akan sulit untuk sembuh,” terangnya.

    Saat cuaca panas, lanjut Ngabila,masyarakat harus mewaspadai serangan panas atau heat stroke dengan mengurangi aktivitas di luar ruangan.

    Jika suhu udara sedang tinggi, Ngabila mengimbau masyarakat agar rajin memakai payung, kacamata hitam, tabir surya hingga baju berwarna cerah sebagai pelindung diri.

    Selain itu, dia juga mengimbau masyarakat rutin mengonsumsi air putih minimal tiga sampai empat liter air atau setara dengan 12-16 gelas per hari, tanpa menunggu haus guna menjaga tubuh tetap terhidrasi.

    Baca: Faktor penyebab menyebarnya kembali Covid 19

    Selanjutnya Ngabila mengingatkan masyarakat agar dapat mengonsumsi lebih banyak buah yang mengandung banyak air seperti semangka, melon, pir dan apel.

    Menurutnya hal ini perlu dilakukan agar kebutuhan air dalam tubuh dapat terpenuhi selain mengonsumsi air putih.

    Sedangkan saat hujan, warga dapat menggalakkan Gerakan 1 Rumah 1 Kader Jumantik (G1R1J) dengan konsep Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3X10 setiap Jumat pagi.

    Artinya, pencegahan tersebut dilakukan setiap jam 10 pagi dengan durasi 10 menit efektif, selama 10 minggu berturut-turut.

  • BMKG Ingatkan Potensi Angin Puting Beliung di Masa Pancaroba Seperti Saat Ini

    BMKG Ingatkan Potensi Angin Puting Beliung di Masa Pancaroba Seperti Saat Ini

    7cloud.asia – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat untuk mewaspadai angin puting beliung yang berpotensi terjadi pada masa pancaroba atau peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan.

    Saat ini sejumlah wilayah Jawa Tengah termasuk Cilacap, Banyumas, dan sekitarnya, akan segera mengalami masa pancaroba atau peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan.

    “Musim pancaroba ditandai dengan hujan dengan intensitas ringan hingga sedang yang mulai turun dalam beberapa hari terakhir dan kadang disertai dengan petir,” kata Kepala Kelompok Teknisi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap Teguh Wardoyo di Cilacap, Sabtu (28/9/2024).

    Pada masa pancaroba seperti sekarang, lanjutnya, suhu udara biasanya mengalami peningkatan seperti halnya di Cilacap yang beberapa hari lalu rata-rata maksimal 31 derajat Celcius.

    Namun suhu udara maksimum saat sekarang mencapai 32 derajat Celcius dan akan terus meningkat pada bulan Oktober.

    Baca: BMKG ingatkan fenomena La Nina tahun ini

    Selain itu, kata dia, kondisi arah angin juga akan mengalami perubahan dan menjadi sangat variatif.

    “Namun yang perlu diwaspadai pada masa pancaroba adalah potensi terjadinya angin puting beliung, bahkan hujan es seperti yang terjadi di Kecamatan Randudongkal, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, pada hari Kamis (26/9) kemarin,” katanya.

    Saat itu, kata dia, di Kecamatan Randudongkal terjadi hujan lebat disertai angin kencang dan hujan es.

    Lebih lanjut dia mengatakan prakiraan awal musim hujan untuk wilayah Banyumas secara umum terjadi pada dasarian (10 hari) pertama Oktober, kecuali di sebagian kecil wilayah Banyumas bagian utara sudah masuk musim hujan pada dasarian ketiga September 2024.

    “Prakiraan puncak musim hujan di Banyumas secara umum pada November 2024, kecuali sebagian kecil Banyumas bagian utara pada Desember 2024 dan sebagian kecil Banyumas bagian barat pada Februari 2025. Sifat curah hujan musim hujan Normal,” katanya.

    Baca: Ini yang terjadi saat fenomena La Nina melanda

    Sementara prakiraan awal musim hujan untuk wilayah Cilacap, kata dia, terjadi pada dasarian ketiga September hingga dasarian ketiga Oktober.

    Menurut dia, wilayah yang paling cepat memasuki awal musim hujan adalah wilayah pesisir selatan Cilacap yaitu pada dasarian ketiga September.

    Selanjutnya awal musim hujan di wilayah Cilacap bagian tengah diprakirakan pada dasarian pertama Oktober, wilayah Cilacap bagian barat pada dasarian kedua Oktober, dan wilayah Cilacap bagian utara pada dasarian ketiga Oktober 2024.

    Puncak musim hujan untuk wilayah selatan dan tengah Cilacap terjadi pada November 2024, sedangkan wilayah barat dan utara Cilacap pada Januari-Februari 2025.

    “Jadi, waspadailah cuaca ekstrem pada saat masa peralihan dan saat puncak musim hujan,” kata Teguh.

    Sumber:Antaranews.com

  • Cuaca Hari Ini: Masuki Masa Pancaroba BMKG Ingatkan Potensi Angin Kencang

    Cuaca Hari Ini: Masuki Masa Pancaroba BMKG Ingatkan Potensi Angin Kencang

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan sebagian besar wilayah Indonesia sudah memasuki masa peralihan ke musim kemarau atau pancaroba.

    Oleh sebab itu, BMKG mengimbau masyarakat mewaspadai cuaca ekstrem yang dapat datang tiba-tiba di masa transisi dari musim hujan ke musim kemarau ini

    Menurut data BMKG, sebanyak 403 ZOM (Zona Musim) atau sekitar 57,7 persen wilayah di Indonesia diprediksi mulai memasuki musim kemarau pada periode bulan April hingga Juni 2025.

    Selama periode pancaroba, hujan umumnya terjadi pada siang hingga menjelang malam hari, didahului udara hangat pada pagi hingga siang yang menyebabkan kondisi atmosfer menjadi labil.

    Baca: Hujan ekstrem masih mungkin terjadi hingga akhir April

    “Pemanasan permukaan yang kuat dapat memicu pembentukan awan-awan konvektif, terutama awan Cumulonimbus (Cb) yang berpotensi menimbulkan hujan lebat disertai kilat/petir dan angin kencang,” demikian keterangan BMKG di laman bmkg.go.id.

    Kondisi ini, menurut BMKG, juga dapat memicu terjadinya hujan es atau angin kencang dan puting beliung. Karakteristik hujan pada masa pancaroba cenderung tidak merata dan berlangsung dalam durasi yang singkat.

    BMKG mengimbau kepada masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat terjadi selama masa pancaroba, seperti hujan lebat disertai angin kencang, petir, dan puting beliung.

    “Pastikan untuk mengamankan benda-benda di luar rumah yang mudah terbawa angin, hindari berteduh di bawah pohon atau baliho yang sudah rapuh saat hujan deras, dan selalu perbarui informasi cuaca terkini melalui website resmi kami di http://www.bmkg.go.id atau melalui aplikasi infobmkg dan sosial media @infobmkg,” imbau BMKG.

    Baca: Sebagian wilayah Indonesia masuki musim kemarau

    Untuk periode 8-10 April 2025, BMKG memperkirakan cuaca di Indonesia umumnya didominasi berawan hingga hujan ringan.

    Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang, berpotensi terjadi di wilayah-wilayah berikut.

    Hujan lebat diperkirakan terjadi di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Timur, Papua Pegunungan, dan Papua

    Sedangkan angin kencang, menurut BMKG, berpotensi melanda sejumlah daerah di Maluku.

     

  • Cuaca Hari Ini: Waspadai Hujan di Masa Pancaroba

    Cuaca Hari Ini: Waspadai Hujan di Masa Pancaroba

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini potensi hujan pada Kamis (10/4/2025).

    Dikutip dari laman bmkg.go.id, BMKG mengatakan sebagian besar wilayah Indonesia sudah memasuki musim pancaroba.

    Selama periode pancaroba, hujan umumnya terjadi pada siang hingga menjelang malam hari, didahului udara hangat pada pagi hingga siang yang menyebabkan kondisi atmosfer menjadi labil.

    Pemanasan permukaan yang kuat juga dapat memicu pembentukan awan-awan konvektif, terutama awan Cumulonimbus (Cb) yang berpotensi menimbulkan hujan lebat disertai kilat/petir dan angin kencang.

    Bagi masyarakat yang berada di daerah rawan bencana untuk tetap selalu waspada akan dampak cuaca ekstrem yang berpotensi terjadi yaitu potensi bencana hidrometeorologi, seperti banjir, banjir bandang, dan tanah longsor.

    Berikut wilayah yang berpotensi diguyur hujan sedang hingga lebat pada 10 April 2025:
    Pulau Sumatera: Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung

    Pulau Jawa: Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah

    Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur

    Pulau Kalimantan: Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan

    Pulau Sulawesi: Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara

    Indonesia Timur: Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Tengah, Papua Barat, Papua Pegunungan, Papua, Papua Selatan

    Adapun daerah yang berpotensi diguyur hukan lebat hingga sangat lebat adalah Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Maluku

  • Hujan Disertai Petir dan Angin Kencang Kerap Terjadi Sore atau Malam Hari, Ini Penyebabnya

    Hujan Disertai Petir dan Angin Kencang Kerap Terjadi Sore atau Malam Hari, Ini Penyebabnya

    7cloud.asia – Beberapa hari terakhir hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang kerap terjadi pada sore atau malam hari di sejumlah wilayah. Hal ini sebagai indikasi terjadinya peralihan musim atau pancaroba.

    Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dalam laman resminya menjelaskan saat masa peralihan musim (pancaroba), ditandai dengan cuaca cerah atau terik pada pagi hingga siang hari. Kemudian hujan lokal berpotensi terjadi pada sore hingga malam hari.

    Berdasarkan analisis klimatologis BMKG, adanya peningkatan intensitas radiasi matahari pada pagi hingga siang hari berkontribusi terhadap penguatan proses konvektif di lapisan atmosfer bawah. Sehingga meningkatkan potensi terbentuknya awan konvektif pada sore hingga malam hari.

    Baca: Cuaca panas kemudian hujan lebat, mengapa?

    Kondisi ini berpeluang menimbulkan hujan dengan karakteristik tidak merata, berdurasi singkat, berintensitas sedang hingga lebat, serta disertai kejadian kilat/petir dan angin kencang di sejumlah wilayah.

    Data BMKG hingga periode April–Juni 2025, sebanyak 57,7% wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau.

    Wilayah yang telah mengalami awal musim kemarau meliputi sebagian besar Sumatera, Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara. Sementara itu, sebagian wilayah lainnya masih berada musim pancaroba.

    Berdasarkan kondisi dinamika atmosfer dan labilitas sedang hingga kuat di sejumlah lokasi, masih mendukung potensi hujan di sebagian wilayah Indonesia.

    Baca: BMKG kembangkan sistem peringatan dini berbasis AI

    Periode 13 – 15 Mei 2025

    Cuaca di Indonesia umumnya didominasi cerah berawan hingga hujan ringan. Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang, berpotensi terjadi di wilayah berikut:

    Hujan lebat berpotensi mengguyur wilayah Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku.

    Sedangkan angin kencang berpotensi melanda wilayah Aceh, Nusa Tenggara Timur dan Papua Selatan.

    Baca: Riau rawan kebakaran hutan dan lahan, BMKG lakukan modifikasi cuaca

    Periode 16  – 19 Mei 2025

    Cuaca di Indonesia umumnya didominasi cerah berawan hingga hujan ringan. Masih perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang, berpotensi terjadi di wilayah berikut:

    Hujan lebat berpotensi mengguyur wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Sementara angin kencang berpotensi melanda wilayah Papua Selatan dan Maluku.

     

     

     

  • Mengenal Fenomena Kemarau Basah yang Landa Indonesia Hingga Agustus 2025

    Mengenal Fenomena Kemarau Basah yang Landa Indonesia Hingga Agustus 2025

    7cloud.asia – Sebagian besar wilayah di Indonesia saat ini masih diguyur hujan. Bahkan hingga menyebabkan banjir. Padahal mulai bulan Mei sejumlah wilayah Indonesia memasuki musim kemarau. Tetapi yang terjadi saat ini adalah kemarau basah.

    Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofiska (BMKG) menyebut fenomena kemarau basah ini merupakan kondisi meteorologi yang tidak biasa.

    Kemarau basah merupakan musim kemarau yang masih diwarnai curah hujan secara signifikan. Biasanya musim kemarau cuaca panas dan langit cerah. Tetapi saat kemarau basah kelembaban udara tinggi sehingga memungkinkan hujan lebih sering.

    Baca: Cuaca panas kemudian hujan lebat, mengapa?

    Fenomena kemarau basah ditandai dengan kelembaban udara yang tinggi dan curah hujan kurang dari 50 mm per dasarian (10 hari) selama periode pancaroba hingga awal musim kemarau.

    Namun saat kemarau basah, nilai tersebut bisa dilampaui secara signifikan dan terus-menerus. Akibatnya, musim kemarau pun tidak menunjukkan kekeringan seperti biasanya.

    BMKG memprediksi kemarau basah akan berlangsung hingga akhir musim kemarau pada Agustus 2025.

    Setelah itu Indonesia akan mengalami masa peralihan musim atau pancaroba antara September dan November. Kemudian musim hujan kembali datang pada Desember 2025 hingga Februari 2026.

    Baca: Cuaca panas lalu hujan tiba-tiba, ini yang harus dilakukan

    Sebelumnya dari hasil pemantauan serta analisis dinamika iklim global dan regional yang dilakukan oleh BMKG hingga pertengahan April 2025, musim kemarau tahun 2025 ini akan berlangsung lebih singkat dari biasanya.

    Puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada bulan Juni hingga Agustus dengan wilayah meliputi Jawa bagian tengah hingga timur, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara dan Maluku.

    Sifat musim kemarau tahun 2025, sekitar 60% wilayah diprediksi mengalami kemarau dengan sifat normal, 26% kemarau lebih basah dari normal dan 14% wilayah lebih kering dari biasanya.

    Baca: Kemarau 2025 lebih pendek, mengapa?

    Cuaca di beberapa daerah sekarang ini masih diguyur hujan baik di pagi hari, siang, sore dan malam hari. Bahkan cuaca di pagi hari terkadang kering, lain harinya terasa lembab.

    Fenomena kemarau basah bukan kali ini saja terjadi. Sebelumnya pada tahun 2022, fenomena ini juga pernah terjadi di Kota Bandung.

    Saat itu kemarau basah ditandai dengan dominannya tiupan angin muson Australia, sedangkan posisi matahari sudah mulai bergerak ke arah utara.

    Fenomena kemarau basah sebagai indikator perubahan iklim kian terasa di Indonesia. Dampaknya beragam dari kekeringan hingga bencana alam. Karena itu perlu kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan.

  • Cuaca Hari Ini: Surabaya dan Mayoritas Kota Besar Berpotensi Hujan

    Cuaca Hari Ini: Surabaya dan Mayoritas Kota Besar Berpotensi Hujan

    7cloud.asia – Memasuki musim pancaroba, hujan berintensitas ringan hingga hujan disertai petir berpotensi mengguyur mayoritas kota, termasuk Surabaya pada Selasa (29/09/2025).

    Hujan diperkirakan terjadi pada sore hari, sementara kondisi cuaca pada siang hari panas terik.

    Melalui kanal youtube resminya, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut selain Kota Surabaya, hujan berintensitas ringan juga berpotensi terjadi di Kota Medan, Pekanbaru, Padang, Tanjung Pinang, Jambi, Palembang, Pangkal Pinang, Bandar Lampung.

    Kondisi cuaca serupa berpotensi terjadi di Kota Serang, Jakarta, Mataram, Denpasar, Palangkaraya, Banjarmasin, Samarinda, Pontianak, Makassar, Palu, Manado, Ternate, Ambon, Sorong, Manokwari, Nabire, Jayawijaya, Jayapura dan Merauke.    

    Selanjutnya hujan dengan intensitas sedang berpotensi mengguyur Kota Semarang, Yogyakarta dan Mamuju. Sementara hujan disertai petir berpeluang melanda Kota Bengkulu, Bandung dan Tanjung Selor.

    BMKG juga mengimbau masyarakat mewaspadai potensi banjir rob di sejumlah pesisir seperti pesisir Tanjung Pinang, pesisir Bangka Belitung, pesisir utara Jawa Tengah, pesisir Jawa Timur dan pesisir Maluku.