Mengenal Fenomena Kemarau Basah yang Landa Indonesia Hingga Agustus 2025

Written by

in

7cloud.asia – Sebagian besar wilayah di Indonesia saat ini masih diguyur hujan. Bahkan hingga menyebabkan banjir. Padahal mulai bulan Mei sejumlah wilayah Indonesia memasuki musim kemarau. Tetapi yang terjadi saat ini adalah kemarau basah.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofiska (BMKG) menyebut fenomena kemarau basah ini merupakan kondisi meteorologi yang tidak biasa.

Kemarau basah merupakan musim kemarau yang masih diwarnai curah hujan secara signifikan. Biasanya musim kemarau cuaca panas dan langit cerah. Tetapi saat kemarau basah kelembaban udara tinggi sehingga memungkinkan hujan lebih sering.

Baca: Cuaca panas kemudian hujan lebat, mengapa?

Fenomena kemarau basah ditandai dengan kelembaban udara yang tinggi dan curah hujan kurang dari 50 mm per dasarian (10 hari) selama periode pancaroba hingga awal musim kemarau.

Namun saat kemarau basah, nilai tersebut bisa dilampaui secara signifikan dan terus-menerus. Akibatnya, musim kemarau pun tidak menunjukkan kekeringan seperti biasanya.

BMKG memprediksi kemarau basah akan berlangsung hingga akhir musim kemarau pada Agustus 2025.

Setelah itu Indonesia akan mengalami masa peralihan musim atau pancaroba antara September dan November. Kemudian musim hujan kembali datang pada Desember 2025 hingga Februari 2026.

Baca: Cuaca panas lalu hujan tiba-tiba, ini yang harus dilakukan

Sebelumnya dari hasil pemantauan serta analisis dinamika iklim global dan regional yang dilakukan oleh BMKG hingga pertengahan April 2025, musim kemarau tahun 2025 ini akan berlangsung lebih singkat dari biasanya.

Puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada bulan Juni hingga Agustus dengan wilayah meliputi Jawa bagian tengah hingga timur, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara dan Maluku.

Sifat musim kemarau tahun 2025, sekitar 60% wilayah diprediksi mengalami kemarau dengan sifat normal, 26% kemarau lebih basah dari normal dan 14% wilayah lebih kering dari biasanya.

Baca: Kemarau 2025 lebih pendek, mengapa?

Cuaca di beberapa daerah sekarang ini masih diguyur hujan baik di pagi hari, siang, sore dan malam hari. Bahkan cuaca di pagi hari terkadang kering, lain harinya terasa lembab.

Fenomena kemarau basah bukan kali ini saja terjadi. Sebelumnya pada tahun 2022, fenomena ini juga pernah terjadi di Kota Bandung.

Saat itu kemarau basah ditandai dengan dominannya tiupan angin muson Australia, sedangkan posisi matahari sudah mulai bergerak ke arah utara.

Fenomena kemarau basah sebagai indikator perubahan iklim kian terasa di Indonesia. Dampaknya beragam dari kekeringan hingga bencana alam. Karena itu perlu kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *