Tag: pancasila

  • Alumni UI Garda Pancasila Sosialisasikan Nilai Pancasila di Era Digital

    Alumni UI Garda Pancasila Sosialisasikan Nilai Pancasila di Era Digital

    7cloud.asia – Di era digital saat ini, nilai-nilai Pancasila harus disosialisasikan kepada generasi muda dengan menggunakan bahasa mereka sehingga terjangkau nalar generasi muda.

    Hal ini diungkapkan oleh Sony Danang, ketua Alumni Universitas Indonesia Garda Pancasila (AUIGP) dalam rilis yang diterima 7cloud.asia dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2024.  

    Meski menggunakan bahasa mereka, namun sosialisasi tersebut dilakukan tanpa mengurangi sedikitpun semangat dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

    Sony menjelaskan upaya ini perlu dilakukan agar nilai-nilai Pancasila tetap terjaga dan tidak usang tergerus zaman.

    Baca: Publik nilai Jokowi tak pantas berkhianat

    “Salah salah kuncinya adalah menyusup melalui relung jagat maya. Lewat interaksi social media, dapat kita jaga api nilai-nilai Pancasila,” ungkap Sony.

    “Kenapa tidak kita mensosialisasikan nilai-nilai Pancasila dengan cara yang lebih gaul dan lebih mengena di hati kaum muda. Pembekalan nilai Pancasila dengan metode yang fun dan mengikuti arus perkembangan teknologi,” lanjutnya lagi.

    Menurutnya generasi Z saat ini sangat fasih dalam penggunaan teknologi. Berbagai aktivitas sudah dalam genggaman melalui smartphone dan sejenisnya.

    Tentu saja hal ini membawa perubahan luar biasa dalam perilaku keseharian generasi muda.

    Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mengumumkan jumlah pengguna internet Indonesia tahun 2024 mencapai 221.563.479 jiwa dari total populasi 278.696.200 jiwa penduduk Indonesia tahun 2023.

    Baca: Jokowi dianggap membajak Pemilu 2024

    Dari hasil survei penetrasi internet Indonesia 2024 yang dirilis APJII, maka tingkat penetrasi internet Indonesia menyentuh angka 79,5%.

    Upaya sosialisasi ini sekaligus menjawab kekhawatiran akan lunturnya nilai-nilai luhur bangsa Indonesia karena tergerus oleh nilai- nilai negatif dari budaya global.

    Selain itu sosialisasi tersebut perlu dilakukan sebagai bentuk reinterpretasikan nilai-nilai bangsa Indonesia yang sudah dicetuskan oleh para pendiri bangsa empat pilar yang tediri dari Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI.

     

     

  • Kesenjangan Ekonomi dan Ketidakadilan Bayangi Peringatan Hari Lahir Pancasila

    Kesenjangan Ekonomi dan Ketidakadilan Bayangi Peringatan Hari Lahir Pancasila

    7cloud.asia – Peringatan Hari Lahir Pancasila yang jatuh pada 1 Juni tahun ini berlangsung di tengah kondisi sosial ekonomi Nasional sedang tidak baik-baik saja.

    Menurut Anggota Badan Legislasi (Baleg) DPR, Firman Soebagyo, terdapat tiga tantangan nyata yang membuat nilai-nilai Pancasila masih terasa jauh dari kehidupan sebagian masyarakat.

    Pertama, kesenjangan ekonomi. Ia menilai sila kelima tentang Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat miskin, petani, nelayan, pelaku UMKM, maupun para guru.

    Mereka masih menghadapi berbagai hambatan dan regulasi yang tidak hanya tidak adil tetapi juga memberatkan.

    Kedua, polarisasi dan politik identitas. Politisi Fraksi Partai Golkar itu menyebut sila ketiga tentang Persatuan Indonesia saat ini menghadapi ujian berat.

    Baca: Jokowi Mewariskan Menguatnya Politik Dinasti

    Perkembangan teknologi, penyebaran hoaks, serta maraknya politik identitas di media sosial menjadi penyebabnya. Pun, kebijakan pemerintah yang tak sepenuhnya berpihak kepada rakyat kecil.

    Ketiga, lemahnya keteladanan. Menurutnya, penerapan sila kedua tentang Kemanusiaan yang Adil dan Beradab harus dimulai dari para pejabat, elite pemerintahan, dan tokoh masyarakat.

    Dengan kondisi di atas, Firman menngingatkan bahwa peringatan Hari Lahir Pancasila tidak boleh dimaknai sekadar sebagai kegiatan seremonial.

    “Peringatan 1 Juni bukan seremoni. Ini pengingat keras bahwa Pancasila adalah fondasi rumah besar bernama Indonesia. Kalau fondasinya retak, atapnya pasti bocor,” ujar Firman dikutip Parlementaria, Senin (1/6/2026).

    Firman menambahkan, nilai-nilai Pancasila tidak untuk dihafal tetapi harus diresapi dan direalisasikan dalam kehidupan sehari=hari.

    Baca: Aksi Kamisan Ada Demi Keadilan dan Tegaknya Demokrasi

    “Kami minta Pancasila dihidupi, dijiwai, dan dirasakan. Dari warung, sawah, pabrik, sampai kantor pemerintah. Kalau negara hadir untuk rakyat kecil, Pancasila akan hidup dengan sendirinya,” tegas Firman.

    Anggota MPR RI yang aktif melakukan sosialisasi Empat Pilar MPR hingga ke berbagai desa tersebut juga menekankan pentingnya pembudayaan Pancasila sejak usia dini melalui pendidikan formal.

    Ia mengusulkan agar pembacaan Pancasila dilakukan secara rutin di sekolah-sekolah mulai dari tingkat TK, SD, SMP hingga SMA sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai, disertai menyanyikan lagu Indonesia Raya.

    Menurutnya, budaya serupa juga dapat diterapkan di lingkungan pemerintahan mulai dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten/kota hingga pemerintah pusat.

    “Dengan cara itu, ideologi Pancasila akan lebih mudah dipahami, dijiwai, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari,” pungkas Firman.