Kesenjangan Ekonomi dan Ketidakadilan Bayangi Peringatan Hari Lahir Pancasila

Written by

in

7cloud.asia – Peringatan Hari Lahir Pancasila yang jatuh pada 1 Juni tahun ini berlangsung di tengah kondisi sosial ekonomi Nasional sedang tidak baik-baik saja.

Menurut Anggota Badan Legislasi (Baleg) DPR, Firman Soebagyo, terdapat tiga tantangan nyata yang membuat nilai-nilai Pancasila masih terasa jauh dari kehidupan sebagian masyarakat.

Pertama, kesenjangan ekonomi. Ia menilai sila kelima tentang Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat miskin, petani, nelayan, pelaku UMKM, maupun para guru.

Mereka masih menghadapi berbagai hambatan dan regulasi yang tidak hanya tidak adil tetapi juga memberatkan.

Kedua, polarisasi dan politik identitas. Politisi Fraksi Partai Golkar itu menyebut sila ketiga tentang Persatuan Indonesia saat ini menghadapi ujian berat.

Baca: Jokowi Mewariskan Menguatnya Politik Dinasti

Perkembangan teknologi, penyebaran hoaks, serta maraknya politik identitas di media sosial menjadi penyebabnya. Pun, kebijakan pemerintah yang tak sepenuhnya berpihak kepada rakyat kecil.

Ketiga, lemahnya keteladanan. Menurutnya, penerapan sila kedua tentang Kemanusiaan yang Adil dan Beradab harus dimulai dari para pejabat, elite pemerintahan, dan tokoh masyarakat.

Dengan kondisi di atas, Firman menngingatkan bahwa peringatan Hari Lahir Pancasila tidak boleh dimaknai sekadar sebagai kegiatan seremonial.

“Peringatan 1 Juni bukan seremoni. Ini pengingat keras bahwa Pancasila adalah fondasi rumah besar bernama Indonesia. Kalau fondasinya retak, atapnya pasti bocor,” ujar Firman dikutip Parlementaria, Senin (1/6/2026).

Firman menambahkan, nilai-nilai Pancasila tidak untuk dihafal tetapi harus diresapi dan direalisasikan dalam kehidupan sehari=hari.

Baca: Aksi Kamisan Ada Demi Keadilan dan Tegaknya Demokrasi

“Kami minta Pancasila dihidupi, dijiwai, dan dirasakan. Dari warung, sawah, pabrik, sampai kantor pemerintah. Kalau negara hadir untuk rakyat kecil, Pancasila akan hidup dengan sendirinya,” tegas Firman.

Anggota MPR RI yang aktif melakukan sosialisasi Empat Pilar MPR hingga ke berbagai desa tersebut juga menekankan pentingnya pembudayaan Pancasila sejak usia dini melalui pendidikan formal.

Ia mengusulkan agar pembacaan Pancasila dilakukan secara rutin di sekolah-sekolah mulai dari tingkat TK, SD, SMP hingga SMA sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai, disertai menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Menurutnya, budaya serupa juga dapat diterapkan di lingkungan pemerintahan mulai dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten/kota hingga pemerintah pusat.

“Dengan cara itu, ideologi Pancasila akan lebih mudah dipahami, dijiwai, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari,” pungkas Firman.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *