Tag: pangan lokal

  • Produksi Beras Nasional Terancam, Saatnya Pangan Lokal Kembali Dipromosikan

    Produksi Beras Nasional Terancam, Saatnya Pangan Lokal Kembali Dipromosikan

    7cloud.asia – Peneliti pertanian dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Riska Ayu Purnamasari, mengemukakan sebenarnya pemerintah memiliki kebijakan yang mendorong konsumsi pangan lokal.

    Salah satu program pangan lokal itu adalah kebijakan Isi Piringku, panduan konsumsi makanan dari Kementerian Kesehatan yang mempromosikan sumber karbohidrat tidak hanya dari beras tapi juga ubi jalar, singkong, dan lain-lain.

    Selain itu, Dinas Pertanian di sejumlah daerah juga memiliki program untuk menggalang konsumsi pangan lokal.

    Salah satu gerakan pangan lokal ini dilakukan oleh pemerintah provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang menggandeng Kementerian Pertanian.

    Baca: Alih fungsi lahan ancam produksi beras

    Sayangnya, menurut Riska, kebijakan ini tidak dilaksanakan secara memadai dan saling bertentangan. Misalnya, dalam program pangan bagi masyarakat miskin, cenderung membagi-bagikan beras sebagai makanan pokok.

    “Dulu pas Orba (era Orde Baru) aparatur sipil negaranya dibagi-bagi beras,” kata Riska dalam diskusi “Belum Ketemu Nasi, belum Makan?” di akun Instagram @ConversationIDN, Jumat lalu.

    Keinginan masyarakat mengonsumsi pangan lokal, tutur Riska, juga dipengaruhi oleh sikap masyarakat terhadap pangan selain nasi.

    Selama ini, dia mengatakan banyak masyarakat yang hanya menganggap singkong, jagung, ubi, sebagai makanan sampingan.

    Baca: Pasangan Ganjar-Mahfud akan prioritaskan kedaulatan pangan

    Karena itulah, Riska mengatakan pemerintah perlu mempromosikan pangan lokal sesering mungkin.

    “Selama ini tidak ada imbauan yang benar-benar masif, kita tidak pernah lihat di TV, ayo konsumsi ubi atau sudahkah konsumsi ubi bulan ini?” kata dia.

    Riska juga menggarisbawahi pentingnya mempromosikan pangan-pangan lokal yang endemik di suatu tempat. 

    Ia mencontohkan umbi jalawure yang tumbuh liar di pinggir pantai di pesisir Garut, Jawa Barat.

    Baca: Bumi Indonesia punya 300 jenis pisang

    Tidak banyak orang yang mengenal umbi ini, padahal punya potensi besar untuk menggantikan beras ataupun terigu yang sekarang banyak dikonsumsi orang Jawa Barat.

    “Pangan lokal itu keutamaannya adalah beragam. Jadi kalau bahas pangan lokal berarti tak hanya satu, tapi semua yang ada merupakan satu kesatuan,” ujar Riska.

    Sumber: The Conversation

  • Saat Harga Beras Mahal, Amartha Mengedukasi Warga Larantuka Kembali Konsumsi Pangan Lokal

    Saat Harga Beras Mahal, Amartha Mengedukasi Warga Larantuka Kembali Konsumsi Pangan Lokal

    7cloud.asia – Mengantisipasi lonjakan harga beras dan ketergantungan pada pangan impor dilakukan edukasi dan gerakan konsumsi pangan lokal atau diversifikasi pangan di sejumlah daerah.

    Edukasi pangan lokal ini dilakukan komunitas Finbargo, BergunaID dan Amartha kepada masyarakat dari kalangan ibu rumah tangga hingga siswa sekolah dasar (SD) di Larantuka, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).

    “Kami ingin masyarakat memperbanyak konsumsi pangan lokal (diversifikasi) dari pada makanan rendah gizi seperti junk food atau mie instan,” kata Co Founder Komunitas Finbargo, Burman seperti dikutip Antaranews.com, Minggu (10/3/2024).

    Kegiatan ini dilakukan karena keprihatinan bahwa pangan lokal yang makin ditinggalkan. Dalam sosialisasi selama dua hari di Larantuka ini, disajikan aneka olahan makanan lokal yang mudah didapatkan seperti jagung dan sorgum. 

    Burman menuturkan edukasi dilakukan di Kecamatan Larantuka, di manamasyarakat dari kalangan ibu rumah tangga hingga siswa sekolah dasar diajak mengonsumsi pangan lokal yang tersedia di daerah tersebut.

    Baca: Produksi beras dalam ancaman, warga diajak kembali ke pangan lokal

    Dia mengatakan, saat ini banyak dari kalangan anak muda yang memilih makanan cepat saji dari pada makanan tinggi serat dan tinggi protein.

    Diharapkan, anak muda mulai menyadari untuk sadar pangan lokal, dan selanjutnya bertahap mengkonsumsi makanan tinggi gizi yang ada di sekitarnya.

    “Kami ingin membangkitkan konsumsi pangan lokal untuk mengalihkan anak muda dari kebiasaan makanan junk food, mi instan dan lain-lain. Itulah gerakan kami, kami ingin merubah mindset anak muda. Ini gerakan jangka panjang untuk Indonesia,” kata Burman.

    Ketua Pokmaswas Larantuka Monika Bataona menyambut baik upaya beberapa komunitas tersebut dalam menjadikan pangan lokal sebagai pangan sehat pengganti karbohidrat beras.

    Ke depan, kata Monika gerakan ini bisa menjadi gerakan Satu Hari Konsumsi Pangan Lokal di tiap sekolah dasar.

    Baca: Lonjakan harga beras tunjukkan rendahnya adaptasi pada perubahan iklim

    Menurutnya dengan mengajarkan ibu-ibu hingga anak-anak mencintai pangan lokal, akan menjadi gerakan baik di sekolah dan menggali potensi makanan lokal sehingga tidak lagi bergantung pada beras.

    “Karena itu, kita akan mengawal sekolah untuk menerapkan hari makan lokal. Dan kita sudah berkoordinasi dengan sekolah dan mereka sudah rapat untuk menetapkan hari makan pangan lokal atau satu hari tanpa nasi,” ucap Monika.

    Komunitas Finbargo berharap gerakan positif yang dilakukan akan membesar sebagai gerakan masif dan mendapatkan dukungan banyak pihak, termasuk pemerintah pusat dan daerah.

    Sementara itu, Ketua Komunitas BergunaID Rofinus Marianus Monteiro berharap sosialisasi tersebut menjadi gerakan masif bukan hanya di Larantuka namun juga di semua daerah.

    Baca: Alih fungsi lahan ancam produksi beras

    Sehingga ke depan Indonesia betul-betul mampu menjadi bangsa yang berdaulat soal pangan karena pangan lokal.

    “Dan makanan lokal itu kan tersebar di semua daerah. Jadi saya berharap gerakan ini menjadi gerakan yang masif dan dirasakan oleh Ibu-ibu dan juga siswa sekolah lainnya sehingga kita bisa mandiri pangan,” kata Rofinus.

    Menurut laki-laki yang akrab disapa Vino ini, kesadaran harus dibangun mulai dari sekarang untuk mengubah pikiran masyarakat terhadap pentingnya gizi bagi kesehatan.

    Kaum ibu, khususnya bisa memulai dengan gerakan tanam di pekarangan rumahnya masing-masing.

    “Ibu-ibu harus kembali sadar dan kembali ke pangan lokal. Karena itulah kita menggelar kegiatan ini, dimulai dari Kecamatan Larantuka,” kata Vino.

    Baca: Petani di Magelang ini menangguk untung lewat budidaya ubi cilembu

    Sementara itu, Head of Impact and Sustainability Amartha, Katrina Inandia menambahkan bahwa jenis makanan lokal yang mudah didapatkan adalah jagung dan sorgum.

    Keduanya memiliki sumber serat dan juga sumber lemak pengganti beras atau karbohidrat lainnya.

    Ia mencontohkan, hari-hari ini harga beras mahal kan, padahal ada makanan lain sebagai penggantinya.

    “Kita punya jagung, sorgum dan sumber lemak sumber serat lainnya. Lebih dari itu mereka bisa menggali sendiri apa yang mereka punya di daerahnya masing-masing,” kata Katrina.

    Sumber: Antaranews.com

     

  • DPR: Konsumsi Pangan Lokal Bisa Mengurangi Emisi Karbon hingga 20 Persen

    DPR: Konsumsi Pangan Lokal Bisa Mengurangi Emisi Karbon hingga 20 Persen

    7cloud.asia – Mengonsumsi bahan pangan lokal bisa mengurangi emisi karbon sebanyak 20 persen, sekaligus bermanfaat untuk menghindari ancaman penyakit diabetes.

    Pengurangan emisi karbon ini dari penggunaan bahan bakar fosil dalam pengangkutannya dari lokasi produksi ke pasar.

    Memanfaatkan hasil pertanian lokal seperti singkong, sorghum ataupun porang juga sekaligus bentuk upaya pada kedaulatan pangan.

    “Hebatnya singkong yang mudah ditemukan sehari-hari ini juga diminati pasar internasional untuk dibuat tapioka dan bahan pangan lain,” kata Ketua DPR Puan Maharani dikutip Parlementaria, Rabu (7/8/2024).

    Baca Juga: Prediksi Iklim Jawa tahun 2100: Kekeringan di Lumbung Pangan, Hujan Ekstrem di Hulu Sungai

    Lebih lanjut, Mantan Menko PMK ini menyebut singkong dapat dikembangkan menjadi produk pangan strategis yang dapat diunggulkan sebagai pendukung gerakan penganekaragaman konsumsi pangan.

    Puan mengatakan, penggunaan singkong sebagai bahan pangan memiliki banyak manfaat.

    “Termasuk sebagai upaya mewujudkan ketahanan pangan nasional dan mendukung produktivitas pertanian dalam negeri,” sebut Politisi Fraksi PDI-Perjuangan ini.

    Manfaat produk pangan lokal juga sudah diakui oleh sejumlah ahli dalam mendukung sektor pertanian.

    Baca Juga: Hari Tempe Nasional 2024: Tempe Dicanangkan sebagai Pangan Generasi Emas Indonesia

    Dengan masyarakat mengonsumsi bahan pangan lokal, hal tersebut dapat meningkatkan pendapatan para petani dan memberi kontribusi dalam peningkatan lapangan kerja.

    Terkait maraknya kasus diabetes belakangan ini, Puan mendorong Pemerintah untuk memperbanyak program edukasi dan sosialisasi tentang pentingnya pola makan sehat.

    Apalagi di era modern yang penuh dengan pilihan makanan tinggi gula dan makanan ultra-proses, banyak orang tua dan anak-anak yang tidak sepenuhnya menyadari dampak jangka panjang dari konsumsi makanan itu.

    “Maka edukasi mengenai gizi dan kesehatan menjadi sangat penting. Di antaranya program kampanye edukasi yang mempromosikan konsumsi bahan pangan lokal yang sehat seperti singkong itu tadi, lalu sayuran, dan buah-buahan,” urai Puan

    Baca Juga: Perempuan Berperan Penting Membangun Ketahanan Pangan Tapi Masih Terpinggirkan di Sektor Pertanian

    “Tidak hanya membantu mencegah diabetes, langkah ini juga mendukung petani lokal dalam hal produksi dan distribusi makanan alami hasil pertanian Tanah Air,” sambungnya.

    Puan juga mengingatkan pentingnya pengawasan dari instansi/lembaga terkait terhadap peredaran makanan/minuman tinggi gula dan ultra-proses.

    Regulasi pun dinilai akan semakin efektif dengan solusi yang dihadirkan oleh pembuat kebijakan.

    “Yang pasti pengawasan dari Kemenkes dan BPOM harus ekstra dan benar-benar terasa manfaatnya. Pengetatan regulasi penting, tapi penting juga memastikan asupan sehat bisa terjangkau oleh semua,” pungkas Puan.

  • Mengonsumsi Pangan Lokal Itu Keren: Lebih Sehat dan Mendukung Petani Lokal

    Mengonsumsi Pangan Lokal Itu Keren: Lebih Sehat dan Mendukung Petani Lokal

    7cloud.asia – Organisasi lingkungan World Wide Fund for Nature (WWF) mengajak berbagai pihak berkolaborasi mempromosikan pangan lokal sebagai bentuk kebanggaan akan kekayaan pangan lokal Indonesia.

    Business Engagement and Development Specialist WWF Samuel Pablo Pareira dalam diskusi di Jakarta, Rabu (13/5/2026) mengatakan kolaborasi yang kuat antara pemerintah dan sektor swasta dibutuhkan untuk mempromosikan pangan lokal.

    ”Yang memang perusahaan-perusahaan bisnis, perusahaan-perusahaan industri yang memang bagaimana mempromosikan dan juga membentuk kecintaan masyarakat untuk membentuk konsumsi pangan lokal lainnya,” katanya seperti dilansir Antaranews.com.

    Pablo menegaskan bahwa persoalan pangan lokal yang kini menjadi pilihan kedua bagi masyarakat secara umum, berkaitan dengan pasokan dan permintaan hingga pemasaran.

    Anggapan pangan lokal yang dianggap tidak keren atau kampungan membutuhkan promosi serta kampanye untuk mempromosikan nilai-nilai kebanggaan akan kekayaan pangan di tiap daerah di Indonesia.

    WWF, kata dia, memiliki kolaborasi dengan berbagai organisasi lokal serta komunitas di beberapa wilayah di Indonesia untuk menjaga pola makan tradisional yang telah diwariskan oleh leluhur.

    Ia mengidentifikasi terdapat dua persoalan yang berkaitan dengan pemanfaatan pangan lokal, pertama adalah pola konsumsi masyarakat di daerah dan pola konsumsi masyarakat di wilayah urban.

    Masyarakat di daerah diharapkan mampu bangga serta mempertahankan pola konsumsi yang telah ada, misalnya masyarakat wilayah NTT yang mengonsumsi sorgum sebagai sumber karbohidrat.

    Sementara di kawasan perkotaan, kata dia, pengenalan pangan lokal dapat dilakukan dengan menggandeng industri retail untuk memperkenalkan pangan lokal sehingga tak melulu mengonsumsi makanan ultra proses.

    Pada kesempatan yang sama, sosok pemengaruh makanan dan lingkungan, Manik Nur Hidayati mempromosikan beragam pangan lokal di Indonesia melalui konten edukatif.

    Hal ini menurutnya sebagai upaya menumbuhkan kebanggaan akan kekayaan pangan asli Indonesia. Konsumsi pangan lokal, ujarnya, juga bagus untuk lingkungan.

    Pasalnya, mengutamakan konsumsi pangan lokal secara tidak langsung akan menurunkan emisi karbon karena tidak membutuhkan pengangkutan dan pengemasan.

    Mengonsumsi pangan lokal juga berarti mendukung petani dan produsen lokal, memperkuat kedaulatan pangan, dan melestarikan budaya. Konsumsi pangan lokal juga meningkatkan ketahanan pangan karena mampu memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri dan berkelanjutan.

    Selain itu, kata dia, gizi pangan asli Indonesia juga memiliki kandungan yang beragam dan bisa memenuhi panduan porsi makan gizi seimbang yang disarankan Kementerian Kesehatan dalam “Isi Piringku”.

    Mengutamakan pangan lokal akan mengurangi ketergantungan berlebih pada beras.
    dan bagus untuk kesehatan, karenanya umumnya tinggi serat, dan sering kali bebas gluten.