7cloud.asia – Lorong-lorong di Blok F Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat itu kini terlihat sepi pengunjung. Hanya tampak sesekali saja orang lewat.
Setiap kali ada yang lewat, para pedagang yang mengaku sudah belasan tahuan berdagang di Pasar Tanah Abang ini berteriak-teriak menawarkan barang dagangannya. Namun, tak banyak yang melirik, apalagi membeli.
Kondisi yang sama juga tampak di Blok A Pasar Tanah Abang. Ketika 7cloud.asia menyusuri lorong-lorong di blok ini pada Rabu (6/9/2023), hanya sedikit pedagang yang tengah bertransaksi dengan pembeli.
Bahkan beberapa kios tampak tertutup rapat. Padahal biasanya, Pasar Tanah Abang yang merupakan pusat grosir pakaian terbesar di Asia Tenggara ini kondisinya selalu ramai pembeli.
Baca: Lima prinsip utama frugal live
Para pembeli umumnya membeli barang-barang dalam jumlah besar untuk kemudian dijual kembali di kota mereka.
Tetapi tidak untuk kali ini. Kondisi sepi seperti ini dianggap lebih parah ketika masa pandemi Covid19. Setidaknya itulah yang dirasakan Lia, yang sudah belasan tahun berjualan busana muslim di Pasar Tanah Abang.
“Sekarang turun drastis, lebih dari 50 persen turunnya. Anjlok parah. Mendingan pas Covid kemarin, masih banyak yang beli,” ungkap Lia kepada 7cloud.asia saat ditanya omzet yang didapatnya.
Malah, lanjut Lia, beberapa kali ia mengalami nol pembeli. Sama sekali tak ada barang yang berhasil ia jual dalam satu hari.
Baca: Meski kaya raya, aktor ini memilih gak boros
Bahkan orang yang datang aja menurutnya juga semakin jarang. Padahal biasanya banyak pembeli dari luar kota Jakarta yang membeli dalam jumlah besar. Barang tersebut biasanya dijual kembali di kota asalnya.
Lia mengaku tak mengetahui penyebab sepinya pasar Tanah Abang. Menurutnya kondisi seperti ini sudah terjadi setelah musim haji atau sekitar 2 bulan yang lalu.
Hal senada juga dikeluhkan oleh Wisah. Pedagang pakaian olahraga di Blok A Pasar Tanah Abang ini juga mengaku sepi pembeli. Omset yang ia dapat dalam sehari turun drastis.
“Sepi juga. Paling banyak juga sejutaan lah,” ungkap Wisah.
Baca: lelah dengan konsumerisme orang mulai berpaling pada gaya hidup minimalis
Padahal, lanjut Wisah, biasanya ia bisa mengantongi omset hingga Rp 10 juta sehari. Ia juga bingung dengan kondisi seperti ini.
”Mungkin karena mau pemilu ‘kali ya..,” katanya sambil tertawa.
Karena itu, ia berharap pemilu 2024 dapat segera terlaksana dengan baik dan berlangsung damai. Sebab, jika rusuh para pedagang akan terkena dampaknya dan akan semakin merugi.
“Udah, cepetan deh pemilu. Jangan rusuh, kan kita juga yang jualan yang kena getahnya,” ujarnya.
Baca: Awas, status utang jadi pertimbangan perusahaan terima karyawan
Wisah berharap pemerintah dapat memperhatikan para pedagang di Pasar Tanah Abang yang sepi pembeli.
“Mungkin pejabatnya datang belanja ke sini kali ya, biar rame lagi deh,” harap Wisah sambil tertawa.
Reporter: Nurakhmayani




