Tag: pasien kanker

  • Kenali Cara Komunikasi yang Inklusif dengan Pasien Kanker

    7cloud.asia – Orang dengan kanker atau pasien kanker sering kali mendapatkan komentar tidak menyenangkan—yang mungkin tidak disengaja—tetapi menyakitkan. Komentar semacam ini dikenal sebagai mikroagresi verbal.

    Komentar halus ini tidak hanya bersumber dari orang asing, tetapi juga bisa dilontarkan oleh keluarga, teman, dan atasan. Mereka mungkin tidak menyadari bahwa komentarnya bisa menyinggung perasaan, bahkan menghancurkan hidup pasien kanker.

    Mikroagresi verbal berbahaya karena berisiko merusak self esteem (harga diri), meningkatkan stigma diri, serta mengurangi rasa percaya diri maupun optimisme pasien kanker untuk sembuh.

    Kami melakukan penelitian di Hong Kong dengan mewawancarai 10 perempuan yang didiagnosis kanker. Berdasarkan riset kami dan pengalaman penulis utama sebagai penyintas kanker, setidaknya ada enam jenis mikroagresi verbal, di antaranya:

    1. Mengomentari penampilan
    Efek samping pengobatan kanker bisa menyebabkan rambut rontok, badan lemas, dan penurunan berat badan secara drastis. Sering kali, orang dengan kanker berjuang untuk bisa menerima perubahan penampilannya.

    Beberapa pasien kanker mungkin merasa malu dengan perubahan ini, sehingga berusaha untuk menyembunyikannya.

    Sayangnya, perubahan penampilan ini tak lepas dari komentar-komentar menyakitkan, contohnya:

    “Kamu kok jadi kelihatan tua dan lemah,” atau “Cuaca panas banget, kok masih pakai wig?”

    Komentar-komentar ini justru memperburuk rasa tidak percaya diri pasien kanker, sehingga mereka cenderung menganggap dirinya berbeda dari orang lain.

    Baca: Sel kanker bisa sembunyi lalu hidup lagi setelah puluhan tahun

    2. Tuntutan untuk menjelaskan penyakit
    Orang dengan kanker kerap mempertanyakan nasib mereka, seperti:

    “Mengapa ini harus terjadi pada saya?” atau “Apa yang saya lakukan sampai bisa kena kanker?”

    Namun, ketika pertanyaan serupa dilontarkan orang lain, beban mental yang dirasakan orang dengan kanker semakin berat. Beberapa pasien dalam penelitian kami bahkan menghindari interaksi sosial agar terhindar dari pertanyaan semacam ini.

    Seorang responden berkata, “Lebih baik saya merasa sendiri daripada harus menerima pertanyaan, ‘Bagaimana perasaanmu?’”

    Yang lain mengatakan, “Saya tidak ingin bicara dengan siapa pun, karena saya sendiri tidak bisa menjelaskan apa yang sedang saya alami.”

    Meski begitu, penelitian tahun 2024 dalam jurnal Healthcare mengungkapkan bahwa menghindari interaksi sosial justru bisa berdampak negatif terhadap kesehatan fisik dan kesejahteraan mental orang dengan kanker.

    3. Asumsi soal ketidakmampuan pasien kanker
    Selain mengganggu kehidupan sehari-hari orang dengan kanker, diagnosis dan proses pengobatan berisiko memicu kekhawatiran orang lain mengenai kemampuan pasien kanker dalam bekerja. Contoh komentarnya:

    “Kamu masih bisa bekerja?”

    Meski terdengar simpatik, komentar ini justru dapat mengurangi rasa percaya diri dan optimisme pasien kanker untuk sembuh.

    Baca: Perubahan warna kuku bisa jadi indikasi dan risiko kanker

    4. Asumsi bahwa hidup mereka tidak lama lagi
    Banyak orang mengira bahwa kanker merupakan penyakit yang mengurangi harapan hidup pengidapnya—persepsi ini sering kali diperkuat oleh pemberitaan media.

    Pemahaman ini bisa mendorong orang lain berkomentar, seperti:

    “Luangkan waktu bersama keluarga.”

    Hal ini dapat diartikan sebagai: “Kamu akan segera meninggal.”

    Komentar semacam ini—meski bertujuan baik—justru meningkatkan kekhawatiran pasien kanker. Dampaknya menurut partisipan kami menyebabkan sulit tidur, cemas, dan jantung berdebar.

    5. Takut tertular kanker
    Beberapa pasien kanker melaporkan mikroagresi yang berkaitan dengan ketakutan orang lain untuk terlalu dekat dengan mereka, seolah-olah kanker itu menular.

    Seorang perempuan menceritakan bahwa ia pernah diberi tahu:

    “Kamu harus mandi dan bersih-bersih dengan sangat baik.”

    Komentar ini menyiratkan bahwa kanker dikhawatirkan bisa menular. Komentar semacam ini sangat menyakitkan, terutama dari orang-orang terdekat.

    Faktanya, American Cancer Society menegaskan bahwa kanker bukanlah penyakit menular.

    6. Belas kasihan palsu
    Penderita kanker tidak suka menerima empati yang dangkal, seperti:

    “Saya benar-benar mengerti apa yang kamu rasakan.”

    Beberapa pasien kanker dalam studi kami menganggap bahwa komentar ini tidak tulus. Mereka beranggapan bahwa orang yang belum pernah terkena kanker, tidak bisa benar-benar memahami situasi yang mereka alami.

    Dampak fisik dan psikologis kanker menyebabkan stres dan kecemasan. Orang dengan kanker pun menjadi lebih rentan terhadap mikroagresi verbal karena kerap mempertanyakan diri dan menganalisis komentar orang lain secara berlebihan.

    Untuk mengurangi dampak mikroagresi verbal, pasien kanker perlu membentengi diri, serta mendorong lingkungan sosial yang inklusif dan penuh empati lewat sejumlah cara

    Artikel ini pertamakali terbit di The Conversation, Penulis: Madhu Neupane Bastola (Postdoctoral Fellow, Hong Kong Polytechnic University) dan Margo Louise Turnbull (Assistant Professor of Health Communication , Hong Kong Polytechnic University)

  • Wujudkan Sikap Empati untuk Pasien Kanker dengan Empat Cara Ini

    7cloud.asia – Dampak fisik dan psikologis kanker menyebabkan stres dan kecemasan pada orang dengan kanker atau biasa disebut pasien kanker.

    Namun, tidak jarang pasien kanker sering kali mendapatkan komentar tidak menyenangkan—yang mungkin tidak disengaja—tetapi menyakitkan. Komentar semacam ini dikenal sebagai mikroagresi verbal.

    Pasien kanker pun menjadi lebih rentan terhadap mikroagresi verbal karena kerap mempertanyakan diri dan menganalisis komentar orang lain secara berlebihan.

    Komentar halus ini tidak hanya bersumber dari orang asing, tetapi juga bisa dilontarkan oleh keluarga, teman, dan atasan. Mereka mungkin tidak menyadari bahwa komentarnya bisa menyinggung perasaan, bahkan menghancurkan hidup pasien kanker.

    Mikroagresi verbal berbahaya karena berisiko merusak self esteem (harga diri), meningkatkan stigma diri, serta mengurangi rasa percaya diri maupun optimisme pasien kanker untuk sembuh.

    Baca: Komunikasi yang inklusif dengan pasien kanker

    Untuk mengurangi dampak mikroagresi verbal, pasien kanker perlu membentengi diri, serta mendorong lingkungan sosial yang inklusif dan penuh empati lewat sejumlah cara berikut:

    1. Bikin support group
    Menjalin hubungan dengan sesama pasien kanker, misalnya melalui kelompok dukungan sebaya (peer support groups), bisa meningkatkan perasaan dipahami dan diterima.

    “Karena saya bisa menceritakan semuanya pada mereka. Akan sangat membantu ketika punya komunitas yang bisa menerima kita,” ujar seorang perempuan dalam penelitian kami.

    2. Bangun percakapan yang memberdayakan
    Kanker hanyalah salah satu aspek dalam hidup, jadi tidak perlu selalu dibicarakan dalam tiap interaksi. Perempuan dalam riset kami justru menghargai obrolan seputar topik sehari-hari.

    Mereka juga merasa dikuatkan oleh ucapan yang menumbuhkan semangat dan keberanian (terutama berasal dari sesama pasien kanker), contohnya:

    “Kamu kuat. Kamu bisa melawan ini.”

    Baca: Sel kanker bisa sembuyi lalu hidup lagi

    3. Berikan dukungan untuk masa depan mereka
    Kanker bisa menimbulkan beban ekonomi besar, sehingga pengidapnya bisa sangat mengkhawatirkan masa depan seperti pekerjaan.

    Pasien kanker bisa mendiskusikan hal ini kepada atasan dan rekan kerja. Orang yang tidak terkena kanker perlu membangun budaya kerja yang inklusif dengan memahami, memberikan dukungan yang konkret, serta memastikan terpenuhinya hak-hak kerja pasien kanker.

    4. Hindari interaksi yang tidak membantu

    Orang yang tidak terkena kanker sebaiknya menghindari ucapan belas kasihan yang seolah terdengar simpatik, tetapi justru menyakitkan bagi pasien kanker, misalnya:

    “Saya turut prihatin atas kondisimu.” atau “Kamu kelihatan lemah.”

    Mikroagresi verbal, meski penyampaiannya halus, bisa sangat menyakitkan. Kita semua tanpa sadar mungkin bisa melontarkan mikroagresi verbal

    Baca: Perubahan warna kuku bisa jadi indikasi kanker

    Oleh karena itu, kita perlu lebih bijak dalam berkomunikasi dengan pasien kanker dan menghindari contoh-contoh mikroagresi verbal.

    Pertimbangkan dengan kesadaran penuh, sebelum menyampaikan sesuatu agar bisa berinteraksi lebih baik dengan mereka.

    Dengan begitu, kita bisa mengurangi risiko dampak buruk mikroagresi bagi pasien kanker, serta menciptakan lingkungan yang lebih inklusif, aman, dan nyaman bagi semua orang.

    Artikel ini pertamakali terbit di The Conversation, Penulis: Madhu Neupane Bastola (Postdoctoral Fellow, Hong Kong Polytechnic University) dan Margo Louise Turnbull (Assistant Professor of Health Communication , Hong Kong Polytechnic University)