Wujudkan Sikap Empati untuk Pasien Kanker dengan Empat Cara Ini

Written by

in

7cloud.asia – Dampak fisik dan psikologis kanker menyebabkan stres dan kecemasan pada orang dengan kanker atau biasa disebut pasien kanker.

Namun, tidak jarang pasien kanker sering kali mendapatkan komentar tidak menyenangkan—yang mungkin tidak disengaja—tetapi menyakitkan. Komentar semacam ini dikenal sebagai mikroagresi verbal.

Pasien kanker pun menjadi lebih rentan terhadap mikroagresi verbal karena kerap mempertanyakan diri dan menganalisis komentar orang lain secara berlebihan.

Komentar halus ini tidak hanya bersumber dari orang asing, tetapi juga bisa dilontarkan oleh keluarga, teman, dan atasan. Mereka mungkin tidak menyadari bahwa komentarnya bisa menyinggung perasaan, bahkan menghancurkan hidup pasien kanker.

Mikroagresi verbal berbahaya karena berisiko merusak self esteem (harga diri), meningkatkan stigma diri, serta mengurangi rasa percaya diri maupun optimisme pasien kanker untuk sembuh.

Baca: Komunikasi yang inklusif dengan pasien kanker

Untuk mengurangi dampak mikroagresi verbal, pasien kanker perlu membentengi diri, serta mendorong lingkungan sosial yang inklusif dan penuh empati lewat sejumlah cara berikut:

1. Bikin support group
Menjalin hubungan dengan sesama pasien kanker, misalnya melalui kelompok dukungan sebaya (peer support groups), bisa meningkatkan perasaan dipahami dan diterima.

“Karena saya bisa menceritakan semuanya pada mereka. Akan sangat membantu ketika punya komunitas yang bisa menerima kita,” ujar seorang perempuan dalam penelitian kami.

2. Bangun percakapan yang memberdayakan
Kanker hanyalah salah satu aspek dalam hidup, jadi tidak perlu selalu dibicarakan dalam tiap interaksi. Perempuan dalam riset kami justru menghargai obrolan seputar topik sehari-hari.

Mereka juga merasa dikuatkan oleh ucapan yang menumbuhkan semangat dan keberanian (terutama berasal dari sesama pasien kanker), contohnya:

“Kamu kuat. Kamu bisa melawan ini.”

Baca: Sel kanker bisa sembuyi lalu hidup lagi

3. Berikan dukungan untuk masa depan mereka
Kanker bisa menimbulkan beban ekonomi besar, sehingga pengidapnya bisa sangat mengkhawatirkan masa depan seperti pekerjaan.

Pasien kanker bisa mendiskusikan hal ini kepada atasan dan rekan kerja. Orang yang tidak terkena kanker perlu membangun budaya kerja yang inklusif dengan memahami, memberikan dukungan yang konkret, serta memastikan terpenuhinya hak-hak kerja pasien kanker.

4. Hindari interaksi yang tidak membantu

Orang yang tidak terkena kanker sebaiknya menghindari ucapan belas kasihan yang seolah terdengar simpatik, tetapi justru menyakitkan bagi pasien kanker, misalnya:

“Saya turut prihatin atas kondisimu.” atau “Kamu kelihatan lemah.”

Mikroagresi verbal, meski penyampaiannya halus, bisa sangat menyakitkan. Kita semua tanpa sadar mungkin bisa melontarkan mikroagresi verbal

Baca: Perubahan warna kuku bisa jadi indikasi kanker

Oleh karena itu, kita perlu lebih bijak dalam berkomunikasi dengan pasien kanker dan menghindari contoh-contoh mikroagresi verbal.

Pertimbangkan dengan kesadaran penuh, sebelum menyampaikan sesuatu agar bisa berinteraksi lebih baik dengan mereka.

Dengan begitu, kita bisa mengurangi risiko dampak buruk mikroagresi bagi pasien kanker, serta menciptakan lingkungan yang lebih inklusif, aman, dan nyaman bagi semua orang.

Artikel ini pertamakali terbit di The Conversation, Penulis: Madhu Neupane Bastola (Postdoctoral Fellow, Hong Kong Polytechnic University) dan Margo Louise Turnbull (Assistant Professor of Health Communication , Hong Kong Polytechnic University)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *