Tag: pemanasan global

  • Riset: Pemanasan Global Akibatkan Separuh Danau di Dunia Mengering

    Riset: Pemanasan Global Akibatkan Separuh Danau di Dunia Mengering

    7cloud.asia – Hasil penelitian terbaru menunjukkan pemanasan global dan tingkat konsumsi manusia menyebabkan danau-danau di dunia mengalami kekeringan.

    Lebih dari separuh danau di dunia telah menyusut, menurut sebuah studi baru yang diterbitkan pada hari Kamis (18/05/2023) lalu.
     
    Tim peneliti internasional mempublikasikan temuan mereka di jurnal Science dan menemukan bahwa pemanasan global dan aktivitas manusia menjadi penyebab utama mengeringnya danau-danau yang mneyimpan sekitar 87% air tawar di Bumi.

    Laporan tersebut juga menyoroti perlunya solusi pengelolaan air, khususnya di danau air tawar menyusul pemanasan global

    Menurut penelitian yang dipimpin oleh ahli hidrologi Fangfang Yao dari University of Colorado, danau dan waduk besar di dunia telah menyusut sejak awal tahun 1990-an akibat pemanasan global.

    Tim ahli mengatakan bahwa beberapa sumber air tawar yang penting di dunia telah kehilangan air dengan laju kumulatif sekitar 22 gigaton per tahun selama hampir tiga dekade.

    “Lebih dari separuh penurunan tersebut terutama disebabkan oleh konsumsi manusia atau sinyal tidak langsung dari manusia melalui pemanasan iklim,” kata Yao yang menunjukkan bahwa pemanasan global memberikan kontribusi yang lebih besar.

    Para peneliti juga menemukan bahwa perubahan curah hujan dan limpasan air, sedimentasi, dan kenaikan suhu telah menyebabkan penurunan permukaan danau secara global.

    Menggunakan data satelit hampir 30 tahun
    Tim peneliti juga mengukur perubahan permukaan air di hampir 2.000 danau dan badan air lainnya di dunia serta menggunakan laporan data satelit yang dikumpulkan antara tahun 1992 dan 2020.

    Di Amerika Serikat, Danau Mead kehilangan dua pertiga airnya selama periode 28 tahun. Studi ini juga menemukan bahwa penggunaan yang tidak berkelanjutan oleh manusia telah mengeringkan danau-danau, termasuk Laut Aral di Asia Tengah dan Laut Mati di Timur Tengah.

    Danau-danau di Afganistan, Mesir, dan Mongolia dilanda kenaikan suhu, yang menyebabkan peningkatan laju penguapan permukaan.

    Para ilmuwan mengatakan bahwa pemanasan global harus dibatasi hingga 1,5 derajat Celsius untuk menghindari konsekuensi dari perubahan iklim. Dunia saat ini memanas dengan laju sekitar 1,1 derajat Celsius.

    Dampak Perubahan Iklim, Dunia Mengalami Krisis Air

    Meningkatnya suhu dan gelombang panas yang ekstrem akibat pemanasan global telah membuat negara-negara di seluruh dunia gersang. Bencana kekeringan melanda Cina, AS, Etiopia, hingga Inggris.

    Krisis kelaparan di Tanduk Afrika
    Etiopia, Kenya, dan Somalia saat ini mengalami kekeringan terburuk dalam lebih dari 40 tahun. Kondisi lahan kering menyebabkan masalah ketahanan pangan yang parah di wilayah tersebut, dengan 22 juta orang terancam kelaparan.

    Lebih dari 1 juta orang terpaksa meninggalkan rumah mereka karena bencana kekeringan, yang diperkirakan akan berlanjut selama berbulan-bulan.

    Sungai Yangtze mengering
    Dasar sungai terpanjang ketiga di dunia, Sungai Yangtze, tersingkap karena krisis kekeringan melanda Cina. Permukaan air yang rendah berdampak pada distribusi dan pembangkit listrik tenaga air, dengan produksi listrik dari Bendungan Tiga Ngarai turun 40%.

    Sebagai upaya membatasi penggunaan listrik, beberapa pusat perbelanjaan mengurangi jam buka dan pabrik melakukan penjatahan listrik.

    Hujan yang jarang terjadi di Irak
    Irak yang sangat rentan terhadap perubahan iklim dan isu penggurunan terus berjuang mengatasi kekeringan yang terjadi selama tiga tahun berturut-turut. Sebuah situs Warisan Dunia UNESCO di selatan negara itu pun telah mengering.

    Bencana kekeringan berkontribusi pada kontraksi ekonomi sekitar 17% dari sektor pertaniannya selama setahun terakhir.

    Pembatasan penggunaan air di Amerika Serikat
    Pasokan air Sungai Colorado menyusut setelah curah hujan jauh di bawah rata-rata selama lebih dari dua dekade. Krisis ini diyakini sebagai yang terburuk dalam lebih dari 1.000 tahun.

    Sungai yang mengalir melalui barat daya Amerika Serikat dan Meksiko, memasok air bagi jutaan orang dan lahan pertanian. Sejumlah negara bagian diminta untuk mengurangi penggunaan air dari Sungai Colorado.

    Eropa alami gelombang panas ekstrem, sedikit hujan, dan kebakaran hutan.
    Hampir setengah wilayah benua itu saat ini terancam kekeringan, yang menurut para ahli bisa menjadi yang terburuk dalam 500 tahun.

    Sungai-sungai besar termasuk Rhein, Po, dan Loire telah menyusut. Permukaan air yang rendah berdampak pada transportasi barang dan produksi energi.

    Dilarang pakai selang di Inggris
    Beberapa wilayah di Inggris berada dalam status kekeringan pada pertengahan Agustus. Krisis kekeringan parah sejak 1935 melanda negara itu di bulan Juli.

    Pihak berwenang mencatat suhu terpanas Inggris pada 19 Juli mencapai 40,2 derajat Celsius. Penggunaan selang air untuk menyiram kebun atau mencuci mobil tidak diperbolehkan lagi selama Agustus di seluruh negeri.

    Masa lalu prasejarah Spanyol terbongkar

    Spanyol sangat terdampak oleh krisis kekeringan dan gelombang panas. Kondisi tersebut telah memicu kebakaran hutan hebat yang menghanguskan lebih dari 280.000 hektar lahan dan memaksa ribuan orang mengungsi.

    Permukaan air yang surut di sebuah bendungan mengungkap lingkaran batu prasejarah yang dijuluki “Stonehenge Spanyol”.

    Beradaptasi dengan dunia yang lebih kering
    Dari Tokyo hingga Cape Town, banyak negara dan kota di dunia beradaptasi mengatasi kondisi yang semakin kering dan panas. Solusinya tak harus berteknologi tinggi.

    Di Senegal, para petani membuat kebun melingkar yang memungkinkan akar tumbuh ke dalam, yang bisa menampung air berharga di daerah yang jarang hujan. Di Cile dan Maroko, orang menggunakan jaring yang mampu mengubah kabut jadi air minum.

    Setelah Cape Town, Afrika Selatan, nyaris kehabisan air pada tahun 2018, kota ini memperkenalkan sejumlah langkah untuk memerangi kekeringan.

    Salah satu solusinya adalah menghilangkan spesies invasif seperti pinus dan kayu putih, yang menyerap lebih banyak air dibanding tanaman asli seperti semak fynbos. Pendekatan berbasis alam telah membantu menghemat miliaran liter air.

  • Riset: Bakteri Pemakan Metana Bisa Membantu Menahan Laju Pemanasan Global

    Ilustrasi: sampah makanan sebagai sumber utama gas metana

    7cloud.asia – Satu lagi kabar baik untuk Bumi. Peneliti dari Universitas Washington berhasil menemukan adanya bakteri pengonsumsi gas metana yang dapat memperlambat laju pemanasan global.

    Peneliti dari Universitas Washington mengusulkan metode untuk menghilangkan metana guna menahan laju pemanasan global dengan menggunakan sekelompok bakteri.

    Bakteri yang dikenal sebagai metanotrof ini secara alami mengubah metana menjadi karbon dioksida dan biomassa, sehingga efektif mengurangi pemanasan global yang dipicu metana.

    Metana adalah gas rumah kaca pemicu pemanasan global yang dihasilkan dari energi (gas alam dan sistem minyak bumi), industri, pertanian, penggunaan lahan, dan aktivitas pengelolaan limbah.

    “Semua bakteri dalam kelompok ini ‘memakan’ metana, mengeluarkannya dari udara dan mengubah sebagiannya menjadi sel sebagai sumber protein berkelanjutan,” menurut peneliti utama, Mary E Lidstrom seperti dikutip The Guardian.

    Baca: Ilmuwan AS gunakan tanaman dan bakteri untuk bersihkan polusi tanah

    Tim Lidstrom telah menemukan strain bakteri dalam kelompok ini yang disebut methylotuvimicrobium buryatense (5GB1C) yang dapat menghilangkan metana secara efisien meskipun jumlahnya lebih sedikit.

    Jika teknologi ini tersebar luas, maka teknologi ini berpotensi membantu memperlambat pemanasan global, kata para peneliti.

    Biasanya, kelompok bakteri ini tumbuh subur di lingkungan dengan tingkat metana yang tinggi (antara 5.000 dan 10.000 bagian per juta (ppm)).

    Konsentrasi normal metana di atmosfer jauh lebih rendah dari angka itu, yaitu hanya sekitar 1,9 ppm.

    Namun area tertentu seperti tempat pembuangan sampah, sawah, dan sumur minyak mengeluarkan konsentrasi yang lebih tinggi, yaitu sekitar 500 ppm.

    “Bakteri yang dengan cepat memakan metana pada konsentrasi yang lebih tinggi yang ditemukan di sekitar peternakan, dan lain-lain, dapat memberikan kontribusi besar dalam mengurangi emisi metana, terutama dari pertanian tropis,” kata Euan Nisbet, profesor ilmu bumi di Royal Holloway, Universitas London, mengomentari tentang temuan penelitian.

    Baca: Ilmuwan AS gunakan cangkang lalat untuk bikin bioplastik

    Tingkat konsumsi metana yang tinggi pada strain ini diperkirakan dipicu oleh kebutuhan energi yang rendah dan ketertarikan yang lebih besar terhadap metana – lima kali lebih banyak dibandingkan bakteri lain, menurut penelitian tersebut.

    “Bakteri mengoksidasi metana menjadi CO2 (gas rumah kaca yang tidak terlalu kuat) sehingga Anda bahkan dapat menggunakan gas buang tersebut untuk memompa ke dalam rumah kaca dan menanam tomat,” kata Nisbet.

    Hambatan terbesar yang dihadapi Tim Lidstrom dalam penerapannya saat ini adalah masalah teknis: kita perlu meningkatkan unit pengolahan metana sebanyak 20 kali lipat.

    “Jika kita bisa mencapainya, maka hambatan terbesarnya adalah modal investasi dan penerimaan masyarakat,” kata Lidstrom.

    Lidstrom yakin, timnya dapat melakukan uji coba lapangan dalam waktu tiga hingga empat tahun, dan peningkatan skalanya akan bergantung pada modal investasi dan komersialisasi

    Baca: Pemanasan global sebabkan ribuan danau mengering

    Sektor pertanian merupakan sumber emisi metana terbesar yang disebabkan oleh kotoran ternak dan pelepasan saluran pencernaan.

    Metana sendiri disebut sebagai pemicu pemanasan global, dengan kekuatan  pemanasan 85 kali lebih besar dibandingkan karbon dioksida dalam 20 tahun pertama setelah mencapai atmosfer.

    Metana juga menimbulkan masalah khusus sebagai gas rumah kaca.

    Konsentrasi Metana di atmosfer telah meningkat pesat selama 15 tahun terakhir, mencapai rekor tertinggi, dan saat ini menyumbang setidaknya 30% dari total pemanasan global.

    Pada tahun 2021, beberapa negara dengan perekonomian terbesar di dunia sepakat pada Cop26 untuk bekerja sama guna segera mengurangi tingkat metana. Namun, jumlahnya terus meningkat.

    Baca: Seperti ini dampak sampah makanan pada pemanasan global

    Untuk menerapkan bakteri pemakan metana dalam skala besar, diperlukan ribuan reaktor yang berfungsi tinggi.

    Mary Ann Bruns, profesor mikrobiologi tanah di Pennsylvania State University mengatakan, agak menakutkan tetapi jika kelangsungan hidup kita bergantung pada penurunan kadar metana di atmosfer, maka biaya mungkin menjadi prioritas yang lebih rendah dalam mengalokasikan sumber daya.

    “Kurangnya kemauan politik dan pemahaman di sektor swasta dan publik mengenai pentingnya mengurangi gas metana saat ini akan memperburuk pemanasan global di tahun-tahun mendatang,” katanya

    Saat ini, sebagian besar solusi pengurangan gas metana terfokus pada penurunan emisi, namun hal ini tidak selalu memungkinkan.

    Para peneliti menekankan bahwa strategi penghilangan metana dan penurunan emisi diperlukan untuk memenuhi target iklim.

    Baca: Start up Singapura ini mengubah sampah makanan jadi produk bernilai tinggi

    Namun, Lidstrom mengingatkan, semua strategi pengurangan emisi yang meningkatkan aktivitas bakteri di komunitas alami juga dapat mengakibatkan peningkatan emisi dinitrogen oksida (N2O), yang memiliki potensi pemanasan global 10 kali lipat dibandingkan emisi metana.

    Yang terpenting, teknologi berbasis bakteri metanotrofik ini tidak menghasilkan emisi dinitrogen oksida.

    Proyeksi terbaru memperkirakan bahwa pemanasan global dapat dikurangi 0,21C hingga 0,22C dengan menghilangkan 0,3 hingga 1 petagram metana pada tahun 2050.

    Penurunan suhu sebesar ini diperkirakan akan signifikan, terutama bila dikombinasikan dengan strategi pengurangan emisi lainnya.

    Sumber: The Guardian baca artikel asli di sini

  • Mengenal Ozon, Lubang Ozon dan Kaitannya dengan Pemanasan Global

    7cloud.asia – Lapisan ozon atau O3 pelindung Bumi perlahan pulih. Dengan kecepatan saat ini, diperkirakan memperbaiki sepenuhnya lubang ozon yang ditemukan di Antartika dalam waktu 43 tahun.

    Selain menurunkan paparan sinar ultraviolet berbahaya dari matahari, pemulihan lubang ozon ini akan membantu menahan laju pemanasan global.

    Seperti diketahui, Pada tahun 1980-an, para ilmuwan menemukan bahwa lapisan ozon menipis di stratosfer bawah, dengan hilangnya ozon secara dramatis—yang dikenal sebagai “lubang ozon”.

    Lubang ozon ini terutama terjadi saat musim semi di Antartika yakni pada September dan Oktober.

    Para ilmuwan juga menemukan bahwa lubang ozon disebabkan oleh peningkatan konsentrasi bahan kimia perusak ozon – klorofluorokarbon atau CFC (senyawa dengan klorin dan/atau fluor yang terikat pada karbon) dan pada tingkat lebih rendah halon (senyawa serupa dengan brom atau yodium) .

    Baca: Dampak lubang ozon bagi lingkungan di Indonesia

    Bahan kimia ini dapat bertahan di atmosfer selama beberapa dekade hingga lebih dari satu abad.

    Di kutub, CFC menempel pada partikel es di awan. Ketika matahari muncul kembali di musim semi kutub, partikel-partikel es mencair, melepaskan molekul perusak ozon dari permukaan partikel es.

    Setelah dilepaskan, molekul perusak ozon ini bisa memecah ikatan molekul ozon penyerap radiasi UV.

    Saat ini ada anggapan keliru bahwa lubang ozon menyebabkan pemanasan global. Yang benar adalah kedua masalah lingkungan ini disebabkan hal yang sama aktivitas manusia yang melepaskan polutan ke atmosfer.

    Pemanasan global terutama disebabkan oleh terlalu banyak karbon dioksida ke atmosfer ketika batu bara, minyak, dan gas alam dibakar untuk menghasilkan listrik atau untuk menjalankan mobil.

    Baca: Hari Ozon sedunia, kapan diperingati?

     

    Karbon dioksida menyebar ke seluruh planet seperti selimut, dan merupakan salah satu gas utama yang bertanggung jawab atas penyerapan radiasi infra merah (terasa sebagai panas), yang merupakan sebagian besar energi matahari.

    Penipisan atau lubang ozon terjadi ketika klorofluorokarbon (CFC) dan halon—gas yang sebelumnya ditemukan dalam kaleng semprot aerosol dan zat pendingin—dilepaskan ke atmosfer (lihat detailnya di bawah).

    Ozon berada di lapisan atas atmosfer dan menyerap radiasi ultraviolet, jenis energi matahari lain yang berbahaya bagi manusia, hewan, dan tumbuhan.

    CFC dan halon menyebabkan reaksi kimia yang memecah molekul ozon, sehingga mengurangi kapasitas penyerapan radiasi ultraviolet ozon.

    Baca: Mungkinkah dunia wujudkan nol emisi pada 2050?

     

    Cara kerja ozon
    Matahari memancarkan radiasi elektromagnetik pada panjang gelombang berbeda, yang berarti energi pada intensitas berbeda. Atmosfer bertindak seperti perisai berlapis-lapis yang melindungi bumi dari radiasi matahari yang berbahaya.

    Ozon ditemukan di dua bagian berbeda di atmosfer kita. Ozon di permukaan tanah atau ozon “buruk” merupakan pengganggu kesehatan manusia dan merupakan komponen kabut asap.

    Ozon jenis ini ditemukan di atmosfer bagian bawah (troposfer) dan tidak ada hubungannya dengan “lubang ozon”.

    Jenis kedua adalah Ozon tingkat tinggi atau “baik” terdapat di stratosfer dan menyumbang sebagian besar ozon di atmosfer.

    Baca: Perdagangan karbon dan pengurangan emisi karbon

    Lapisan ozon stratosfer menyerap radiasi ultraviolet (UV), mencegah sinar UV yang berbahaya mengenai permukaan bumi dan membahayakan organisme hidup.

    Sinar UV tidak dapat dilihat atau dirasakan, namun sangat kuat dan mengubah struktur kimia molekul.

    Radiasi UV berperan kecil dalam pemanasan global karena kuantitasnya tidak cukup untuk menyebabkan kelebihan panas terperangkap di atmosfer.

    Radiasi UV mewakili sebagian kecil energi matahari, dan tidak banyak diserap atau tersebar di atmosfer—terutama jika dibandingkan dengan panjang gelombang lain, seperti inframerah.

    Namun penipisan ozon juga memprihatinkan karena berdampak langsung pada kesehatan manusia dan organisme hidup lainnya.

    Baca: Hutan mangrove efektif serap emisi karbon

    Lubang ozon
    Istilah ‘lubang ozon’ mengacu pada menipisnya lapisan pelindung ozon di bagian atas atmosfer (stratosfer) di wilayah kutub bumi.

    Manusia, tumbuhan, dan hewan yang hidup di bawah lubang ozon dirugikan oleh radiasi matahari yang kini mencapai permukaan bumi—yang menyebabkan gangguan kesehatan, mulai dari kerusakan mata hingga kanker kulit .

    Ozon stratosfer secara konstan dihasilkan oleh aksi radiasi ultraviolet matahari pada molekul oksigen (dikenal sebagai reaksi fotokimia).

    Meskipun ozon terbentuk terutama di garis lintang tropis, pola sirkulasi udara skala besar di stratosfer bawah menggerakkan ozon ke arah kutub, tempat konsentrasi ozon meningkat.

    Baca: Ini yang terjadi saat PLTU Batubara ditutup

    Selain pergerakan global ini, pusaran kutub musim dingin yang kuat juga penting dalam memusatkan ozon di kutub.

    Selama musim dingin kutub yang gelap terus-menerus, udara di dalam pusaran kutub menjadi sangat dingin, suatu kondisi yang diperlukan untuk pembentukan awan stratosfer kutub.

    Awan stratosfer kutub menciptakan kondisi kerusakan ozon secara drastis, sehingga menyebabkan klorin berubah menjadi bentuk perusak ozon yang bisa memicu lubang ozon.

    Umumnya bertahan kondisi ini terjadi hingga matahari terbit di musim semi, Kondisi inilah yang memicu lubang ozon ditemukan di atas benua Antartika.

    Sumber: ucsusa.org

     

  • Green Building atau Bangunan Ramah Lingkungan, Langkah Strategis untuk Antisipasi Pemanasan Global

    Foto: Jakarta green building

    7cloud.asia – Pemanasan global yang sudah sangat dirasakan dampaknya dalam 30 tahun terakhir, harus menjadi alasan bagi Indonesia, untuk memprioritaskan pengembangan green building atau hunian layak berbasis ramah lingkungan.

    “Pemanasan global dan perubahan iklim ini nyata sudah kita rasakan sehingga pengembang perumahan diminta untuk lebih peduli lingkungan dan mulai menerapkan green building dalam pembangunannya,” kata Koordinator Bidang Iklim Terapan BMKG Marjuki di Jakarta. 

    Pernyataan soal pentingnya penerapan green building untuk mengantisipasi pemanasan global diungkap di diskusi bertajuk “Properti, Asuransi Serta Prediksi Panas Bumi Bagaimana Harus Mengantisipasi nya?”, Rabu (18/10/2023).

    Menurut Marjuki, salah satu dampak nyata dari pemanasan global adalah kekeringan yang dibuktikan dengan hari tanpa hujan di sebagian besar daerah yang sudah berlangsung sejak Juli hingga awal tahun depan.

    Baca: Mengenal apa itu desain biofilik

    Bahkan, BMKG mencatat per September 2023 merupakan bulan terpanas sepanjang masa, dengan suhu rata-rata global meningkat menjadi 36-38 derajat celcius atau mencapai rata-rata 1,5 derajat celsius lebih tinggi dibanding era pra-industri.

    Kenaikan suhu bumi tersebut akibat produksi emisi gas rumah kaca dan diperparah dengan aktifnya badai El-Nino di samudera Pasifik.

    Hal ini telah menyebabkan berbagai dampak seperti kekeringan meningkat 1,7 kali dan disertai peningkatan polusi udara yang dapat berimplikasi penurunan kesehatan penduduk.

    Oleh sebab itu, BMKG menilai masyarakat perlu diperkenalkan pada green building yang lebih ramah lingkungan karena dapat membantu mengurangi dampak perubahan iklim tersebut.

    Baca: Beda desain biofilik dan ramah lingkungan

    Green building menerapkan prinsip-prinsip keberlanjutan, seperti penghematan energi, penghematan air, dan penggunaan bahan bangunan yang ramah lingkungan.

    Salah satu contoh green building di Indonesia adalah perumahan dan rumah susun di Tegal, Jawa Tengah.

    Perumahan ini menerapkan berbagai prinsip ramah lingkungan, seperti penggunaan energi terbarukan, konservasi air, dan pengelolaan limbah yang baik.

    Di sisi lain, dia menjabarkan, semua pihak harus menyadari dalam upaya mitigasi pemanasan global dan perubahan iklim tidak hanya terkonsentrasi pada pemanfaatan sumber daya energi, dan sektor ketahanan pangan.

    Namun, juga termasuk penyediaan hunian layak sebagai salah satu kebutuhan pokok masyarakat.

    Baca: Desain bandara ini sangat ramah lingkungan sehingga layak disebut green building

    Diketahui, data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022 melaporkan jumlah perumahan di Indonesia mencapai 118,9 juta unit. Jumlah ini meningkat sebesar 2,9 persen dari tahun sebelumnya.

    Dari jumlah tersebut, sebanyak 70,1 juta unit merupakan rumah tinggal tunggal, 29,5 juta unit merupakan rumah tinggal susun, dan 9,3 juta unit merupakan rumah tinggal lainnya.

    Jumlah perumahan terbesar terdapat di Pulau Jawa, yaitu sebanyak 64,8 juta unit. Kemudian diikuti oleh Pulau Sumatra dengan 28,2 juta unit,

    Pulau Kalimantan berada di tempat ketiga dengan 12,7 juta unit, Pulau Sulawesi dengan 12,4 juta unit, Pulau Bali dan Nusa Tenggara dengan 5,8 juta unit, dan Pulau Papua dengan 1,1 juta unit.

    Baca: 8 jenis tanaman yang efektif serap polusi udara

    Maka dari itu, dia berharap dengan informasi ini para pengembang perumahan dapat lebih memahami pentingnya green building dan mulai menerapkan nya dalam pembangunan.

    Hanya saja, menurutnya, para pakar berasumsi bahwa dalam hal ini kehadiran kolaborasi pemerintah-swasta terkait penyesuaian terkait finansial harus difikirkan.

    Kerja sama ini juga  sangat dinantikan sehingga seluruh kalangan masyarakat dapat mendapatkan manfaat green building yang lebih ramah lingkungan tersebut.

    Disarikan dari artikel di Antaranews.com

     

  • Seperti Ini Peran Multi-Pihak dalam Mitigasi Perubahan Iklim lewat Perdagangan Karbon

    Seperti Ini Peran Multi-Pihak dalam Mitigasi Perubahan Iklim lewat Perdagangan Karbon

     

    7cloud.asia – Pada Maret lalu, Panel Antarpemerintah untuk Perubahan Iklim (IPCC) dari Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) menerbitkan Laporan Sintesis atas Laporan Penilaian Keenam mengenai situasi iklim terkini.

    Laporan tersebut mengingatkan, pemanasan global di abad ini telah mencapai 1,1 derajat celcius dan akan melampaui batas 1,5 derajat celcius jika tidak ada penurunan drastis emisi gas rumah kaca (GRK).

    Bagi banyak negara, pemanasan global yang memicu perubahan iklim telah terlihat dan seringkali melanda masyarakat yang paling rentan.

    Seiring berjalannya waktu, masyarakat Indonesia semakin khawatir dengan dampak pemanasan global dan perubahan iklim.

    Baca: Agar perdagangan karbon tidak dimanfaatkan untuk greenwashing

    Akan tetapi, penyebaran pengetahuan tentang lingkungan dan perubahan iklim yang tidak merata telah menghambat beberapa upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

    Kegiatan diseminasi pengetahuan perlu dilaksanakan dengan baik untuk melengkapi kerangka peraturan perubahan iklim yang telah diterbitkan oleh pemerintah Indonesia.

    Indonesia telah meratifikasi Paris Agreement dan meningkatkan komitmen pemerintah untuk menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) yang tertuang dalam Nationally Determined Contribution (NDC).

    Komitmen ini diatur di Peraturan Presiden Nomor 98/2021 tentang Penyelenggaraan Nilai Ekonomi Karbon untuk Pencapaian Target Kontribusi yang Ditetapkan Secara Nasional dan Pengendalian Emisi GRK Dalam Pembangunan Nasional.

    Baca: Bursa karbon resmi diluncurkan, ini harapan para pakar lingkungan

    Perpres ini, salah satunya berisi tentang Indonesia berkomitmen untuk menurunkan emisi GRK secara sukarela sebesar 29% dibandingkan Business as Usual (BAU) di tahun 2030 dan sampai dengan 41% dengan dukungan internasional.

    “Dalam upaya pemenuhan target NDC tersebut, sektor kehutanan diharapkan berkontribusi sebesar 17.4% dan sektor energi sebesar 12,5% dari total target NDC, ” ujar Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dolly Priatna di acara pengenalan dan perkembangan perdagangan karbon di Indonesia, Senin (6/11/2023).

    Ia berharap, acara ini meningkatkan penyadartahuan dan pemahaman stakeholders mengenai regulasi dan kebijakan serta prosedur dan mekanisme perdagangan karbon di Indonesia.

    Baca: Seperti ini mekanisme perdagangan karbon menekan emisi gas rumah kaca

    Sekaligus meningkatkan kapasitas penghitungan nilai ekonomi karbon terutama di sektor kehutanan dan energi, serta bagaimana tata cara perdagangannya melalui bursa karbon yang mekanismenya telah diatur oleh pemerintah.

    Pengajar di Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan ini menyebut, salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk mendukung upaya mitigasi perubahan iklim yaitu melalui implementasi kebijakan Nilai Ekonomi Karbon (NEK).

    “Termasuk di dalamnya yaitu mekanisme penurunan emisi dengan skema perdagangan karbon,” ujarnya.

    Ia menambahkan, perdagangan karbon dan mitigasi perubahan iklim berkaitan erat karena perdagangan karbon merupakan salah satu mekanisme berbasis pasar yang digunakan untuk mengurangi dampak perubahan iklim.

    Baca: Perdagangan karbon diatur untuk maksimalkan pendapatan negara

    Dolly menegaskan, butuh kolaborasi, dukungan dan komitmen multi-pihak, baik pemerintah, akademisi, sektor swasta, masyarakat, NGO maupun seluruh aktor kehutanan dan energi dalam rangka mendukung upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim pada tingkat nasional maupun global. 

    Sementara itu, Deputy Operation Manager PT. Syslab, Arief Setiawan,  mengatakan manajemen PT. Syslab memiliki visi dan misi untuk ikut peran serta dalam pengelolaan lingkungan hidup di Indonesia.

    Terkait tema kali perdagangan Karbon di Indonesia, Arief mengatakan, sepatutnya perlu menjadi perhatian agar kebermanfaatannya dapat dirasakan untuk masyarakat Indonesia dan Global.

    “Kami sendiri mengembangkan untuk pendampingan teknis bagi perusahaan yang akan menjalankan pengelolaan dan perdagangan karbon melalui Syslab Study Team,” ujarnya. 

    Baca: Terdampak oleh perubahan iklim, RI berhak mendapatkan dana loss and damage

    Dalam kesempatan yang sama, Direktur Mobilisasi Sumber Daya Sektoral dan Regional pada Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim KLHK, Wahyu Marjaka, Indonesia sudah mulai secara bertahap melakukan komitmen untuk penguatan pengurangan gas emisi rumah kaca.

    Pada tahun 2015, pemerintah di seluruh dunia berkomitmen lebih kuat lagi untuk pengendalian emisi gas rumah kaca secara global. 

    Indonesia meratifikasi Paris Agreement melalui Undang Undang No. 16 tahun 2016 tentang pengesahan Paris Agreement To The United Nations Framework Convention on Climate Change (Persetujuan Paris Atas Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Perubahan Iklim).

    Semenjak itu, Indonesia mendesain berbagai tataran tahap demi tahap regulasi menjadi dasar implementasi Nilai Ekonomi Karbon (NEK).  

    “NEK sangat penting menjadi salah satu dari berbagai regulasi atau substansial yang akan dilakukan Indonesia termasuk di dalamnya dari berbagai sektor NDC. Tidak hanya menjadi ukuran komitmen Indonesia tetapi juga menjadi dasar-dasar keberlanjutan di berbagai pembangunan di Indonesia”, ujar Wahyu.

     

  • Tahun 2024 Pemanasan Global Masih Berlanjut Karena Hal Ini

    Tahun 2024 Pemanasan Global Masih Berlanjut Karena Hal Ini

    7cloud.asia – Pemanasan global dan perubahan iklim saat ini masih berlangsung. Diperkirakan kondisi terus berlanjut walaupun berbagai upaya mengurangi pemanasan global telah dilakukan.

    “Pemanasan global mencapai rekor baru pada 2023, melampaui rekor tahun 2016. Tahun 2024 diperkirakan akan lebih panas lagi,” ujar Deputi Bidang Klimatologi  Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Ardhasena Sopaheluwakan seperti yang dilansir Antaranews.

    Ardhasena menjelaskan hal tersebut terjadi karena adanya kombinasi El Nino dan perubahan iklim sehingga memicu peningkatan suhu pada paruh kedua tahun 2023.

    Menurut dia, rata-rata suhu global tahunan pada 2023 sekitar 1,45 ± 0,12 derajat celsius lebih hangat dibandingkan dengan level pra-industri.

    Baca: Pemanasan global sebabkan danau mengering

    “Saat ini dunia semakin mendekati batas yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris,” ucapnya merujuk pada batas peningkatan suhu.

    Perjanjian Paris, yang telah diadopsi oleh hampir 200 negara, utamanya ditujukan untuk menjaga peningkatan suhu rata-rata global di bawah 2 derajat celsius di atas level pra-industri.

    Selain itu, Perjanjian Paris untuk membatasi kenaikan suhu tidak lebih dari 1,5 derajat celsius di atas level pra-industri.

    Berdasarkan laporan Organisasi Meteorologi Dunia, tahun 2023 kondisi panas ekstrem telah berdampak pada kesehatan manusia dan memicu kebakaran hutan di berbagai lokasi.

    “Permasalahan pemanasan global dan perubahan iklim merupakan tanggung jawab bersama setiap umat manusia. Oleh sebab itu kita perlu berupaya untuk menahan lajunya dan mengurangi dampaknya,” paparnya.

    Baca: Pemanasan global menjadi masalah lingkungan terbesar

    Pemerintah Indonesia saat ini membatasi kenaikan suhu rata-rata permukaan bumi di bawah 1,5 derajat celsius.

    Tak hanya itu, pemerintah juga menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 29 persen dengan upaya sendiri dan 41 persen dengan dukungan internasional pada 2030.

    Upaya sendiri tersebut diantaranya adalah dengan pengurangan laju deforestasi dan degradasi hutan, pengelolaan hutan lestari.

    Melakukan rehabilitasi hutan, pengelolaan lahan gambut dan mangrove, dan peningkatan konservasi keanekaragaman hayati juga sebagai upaya yang dilakukan pemerintah saat ini. 

    Pemerintah juga berupaya mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, meningkatkan penggunaan energi baru dan terbarukan.

    Upaya lainnya dengan meningkatkan pengelolaan sampah dan limbah, menerapkan sistem pertanian rendah karbon, serta menekan emisi karbon di sektor transportasi.

    Reporter: Nurakhmayani

     

     

  • Perubahan Iklim dan Pemanasan Global Mengancam Pariwisata Dunia

    Perubahan Iklim dan Pemanasan Global Mengancam Pariwisata Dunia

    7cloud.asia – Perubahan iklim dan pemanasan global yang mengancam ekosistem dan infrastruktur menjadi tantangan besar bagi berbagai destinasi pariwisata terkenal di dunia.

    Maladewa, yang harus mewaspadai kenaikan permukaan laut akibat perubahan iklim, menghadapi risiko tenggelamnya 77 persen daratan mereka pada 2100, menurut Kementerian Pariwisata negara itu.

    Karibia, yang sangat bergantung pada pariwisata, mengalami pemutihan terumbu karang dan naiknya permukaan air laut.

    Sementara di Eropa, perubahan iklim membuat Pegunungan Alpen harus menghadapi penurunan curah salju sehingga mempengaruhi pariwisata musim dingin.

    Baca: Tahun 2024 pemanasan global masih berlanjut

    Venesia menghadapi tantangan iklim dengan kenaikan permukaan laut dan cuaca ekstrem, yang mengancam situs bersejarah mereka.

    Sejumlah wilayah pesisir populer di Asia Selatan sedang bergulat dengan degradasi lingkungan yang disebabkan oleh pariwisata berlebihan dan polusi.

    Thailand, Malaysia, dan Filipina telah menerapkan langkah-langkah untuk melestarikan ekosistem pesisir mereka.

    Afrika juga menghadapi risiko kehilangan keanekaragaman hayati secara signifikan yang berdampak pada wisata safari.

    Menurut data Bank Dunia, benua ini bisa kehilangan 50 persen spesies burung dan mamalia serta 20 persen hingga 30 persen kehidupan di danau pada 2100.

    Baca: Perubahan iklim sebabkan jutaan anak putus sekolah

    Sektor penerbangan, yang penting bagi pariwisata, juga menghadapi tantangan akibat panas ekstrem.

    Beberapa perusahaan penerbangan AS harus mengurangi muatan penumpang dan bagasi atau menunda penerbangan saat cuaca menyentuh 46 derajat Celcius.

    Perilaku wisatawan juga berubah akibat kenaikan suhu. Penelitian Komisi Eropa menunjukkan bahwa jika pemanasan global terus berlanjut, aktivitas wisata di Eropa mungkin akan bergeser dari selatan ke utara.

    Hal ini bisa menyebabkan penurunan jumlah wisatawan yang berkunjung ke wilayah selatan dan meningkatkan jumlah wisatawan ke wilayah utara.

    Menurut data Dewan Perjalanan dan Pariwisata Dunia pada 2022, sektor pariwisata berkontribusi sebesar 7,6 persen atau 7,7 triliun dolar AS (sekitar Rp120,5 kuadriliun) terhadap perekonomian global.

    Baca: Tanda-tanda perubahan iklim kian mengkhawatirkan

    Meski masih dalam masa pemulihan dari pandemi COVID-19, industri ini kini harus menghadapi tantangan tambahan akibat dampak buruk perubahan iklim.

    Nilai sektor ini sebelum COVID-19 adalah 10 triliun dolar AS (sekitar Rp156,5 kuadriliun) atau sekitar 10,4 persen dari perekonomian global.

    Hasil penelitian Universitas Cambridge menyoroti dampak negatif kenaikan permukaan laut, peristiwa cuaca ekstrem, dan oksidasi laut terhadap infrastruktur pendukung pariwisata bahari.

    Selain itu, terjadi kerusakan terumbu karang, kenaikan suhu, dan kebakaran hutan yang semakin mengancam destinasi wisata.

    Sebuah penelitian pada 2023 oleh World Economic Forum (WEF) menekankan dampak negatif panas ekstrem terhadap wisatawan, seperti kebakaran hutan di Yunani, gelombang panas di Italia, dan pembatalan penerbangan di Amerika Serikat.

    Sumber: Anadolu

  • Ini yang Terjadi pada Kehidupan Jika Pemanasan Global Mencapai 2°C

    Ini yang Terjadi pada Kehidupan Jika Pemanasan Global Mencapai 2°C

    7cloud.asia – Aktivitas manusia, terutama yang harus melibatkan pembakaran bahan bakar fosil, mendorong perubahan iklim lebih cepat dari sebelumnya.

    Dalam beberapa dekade terakhir, perubahan iklim berjalan dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah umat manusia.

    Ketika dunia semakin panas karena perubahan iklim, para ilmuwan dan pembuat kebijakan sepakat untuk mencoba segala cara untuk membatasi pemanasan hingga 2°C di atas tingkat pra-industri.

    Namun pemanasan sebesar 2°C saja akan berdampak besar pada kehidupan makhluk hidup di planet Bumi.

    Earth.Org melihat apa yang akan terjadi ketika dunia mencapai tonggak sejarah pemanasan ini,

    Baca: Perubahan iklim dan pemanasan global ancam sektor pariwisata

    Perubahan apa yang dapat diperkirakan dalam peristiwa cuaca ekstrem, pola iklim, permukaan laut dan suhu, serta dampaknya bagi ekosistem dan aktivitas manusia.

    Sebelum membahas lebih detail, mari kita pahami apa arti kenaikan suhu global 2°C dalam kaitannya dengan perubahan iklim.

    Kenaikan suhu global adalah peningkatan rata-rata suhu permukaan global dibandingkan dengan tingkat pra-industri (periode antara tahun 1850-1900).

    Menurut Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional AS (NOAA), suhu bumi sejauh ini telah mencapai 1,2°C, dan banyak proyeksi yang menunjukkan bahwa kita “sedang dalam perjalanan” menuju suhu 2°C.

    Penting untuk diingat bahwa pemanasan tidak terjadi secara merata di seluruh dunia. Beberapa wilayah, seperti wilayah kutub, mengalami pemanasan lebih cepat dibandingkan wilayah lainnya.

    Baca: Pemanasan global menyebabkan separuh danau di dunia mengering

    Eropa adalah benua yang mengalami pemanasan tercepat di dunia, dengan laju pemanasan dua kali lipat dibandingkan benua lain.

    Demikian pula, dampak pemanasan dapat sangat bervariasi tergantung pada kondisi dan kerentanan setempat.

    Pendorong utama perubahan iklim ini adalah konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer akibat emisi yang berlebihan.

    Di balik hal ini terdapat aktivitas manusia seperti pembakaran bahan bakar fosil, penggundulan hutan, dan proses industri.

    Dengan pemanasan global yang diperkirakan akan terus berlanjut di tahun-tahun mendatang, kita kini berada pada momen kritis dalam sejarah umat manusia di mana pilihan-pilihan kita akan menentukan masa depan kehidupan di planet ini.

    Pada tahun 2015, para pemimpin dunia bertemu di Paris untuk membahas masalah global bernama perubahan iklim ini.

    Baca: Pemanasan global menyebabkan masyarakat rentan berada dalam bahaya

    Pembicaraan tersebut mencapai puncaknya pada Perjanjian Paris, sebuah perjanjian internasional yang menetapkan tujuan besar: membatasi pemanasan global hingga 1,5C atau “jauh di bawah” 2°C di atas tingkat pra-industri.

    Benchmark 2°C tidak dipilih secara sembarangan. Ini adalah titik di mana para ilmuwan yakin bahwa risiko perubahan yang bersifat bencana dan tidak dapat diubah terhadap sistem planet kita akan meningkat secara signifikan.

    Namun bahkan jika dunia dapat mencapai target ini, kita perlu memahami bahwa suhu dunia yang mencapai 2°C di atas tingkat pra-industri masih akan menjadi dunia yang sangat berbeda.

    Perubahan yang terjadi akan berdampak luas, mempengaruhi segala hal mulai dari pola cuaca dan permukaan laut hingga ekosistem dan masyarakat manusia.

    Beberapa tempat akan lebih hangat dibandingkan tempat lainnya; beberapa akan menjadi lebih basah sementara yang lain jauh lebih kering.

    Peristiwa cuaca ekstrem akan menjadi lebih sering dan intens, sehingga menimbulkan bencana ekologis yang menyebabkan kehancuran dan kematian.

  • Ini yang Terjadi pada Kondisi Lingkungan Jika Pemanasan Global Mencapai 2°C

    Ini yang Terjadi pada Kondisi Lingkungan Jika Pemanasan Global Mencapai 2°C

    7cloud.asia – Dalam tulisan sebelumnya dipaparkan bagaimana dampak kenaikan suhu global atau pemanasan global yang mencapai 2°C sangat besar pengaruhnya pada kondisi iklim dan pola cuaca.

    Karena itu para pakar dan pemerhati lingkungan dunia terus berupaya untuk mencegah agar pemanasan global bisa dihambat kurang dari 1,5°C dengan berbagai cara.

    Salah satu cara menghentikan pemanasan global tidak mencapai 2°C adalah dengan memotong emisi dan menghijaukan kembali kawasan yang sudah rusak.

    Mengapa? Karena, pada tahap selanjutnya, pemanasan global  yang mencapai 2°C mengakibatkan dampak serius pada lingkungan, yang bisa disebut satu per satu seperti berikut ini, seperti dikutip dari earth.org:

    Baca: Dampak pemanasan global pada pola cuaca

    Kenaikan Permukaan Laut
    Kenaikan permukaan laut adalah salah satu dampak jangka panjang terbesar dari pemanasan global.

    Dengan pemanasan sebesar 2°C, rata-rata permukaan laut global diperkirakan akan meningkat sebesar 0,46-0,99 meter (1,51-3,25 kaki) pada tahun 2100 dibandingkan dengan kondisi pada tahun 1986-2005.

    Bahkan jika pemanasan global dapat dihentikan, permukaan air laut akan terus meningkat selama berabad-abad.

    Kenaikan permukaan air laut ini tidak akan terjadi secara merata di seluruh dunia karena penurunan permukaan tanah setempat dan perubahan arus laut. Beberapa dampak kenaikan permukaan air laut di dunia yang menghangat 2°C meliputi:

    1. Lebih banyak banjir dan erosi di wilayah pesisir, yang mengancam wilayah pesisir dataran rendah dan negara-negara kepulauan kecil.

    2. Intrusi air asin ke akuifer atau perairan pesisir, mempengaruhi sumber daya air tawar.

    3. Hilangnya lahan basah pesisir dan hutan bakau, yang menyediakan fungsieko sistem penting dan penyangga alami terhadap badai.

    4. Krisis pengungsi iklim didorong oleh pengungsian jutaan orang yang tinggal di wilayah pesisir.

    Baca: Ini yang terjadi pada kehidupan jika pemanasan global mencapai 2°C

    Dampak terhadap Ekosistem
    Ribuan spesies, baik yang hidup di darat maupun laut, akan menghadapi peningkatan risiko kepunahan karena mereka kesulitan beradaptasi terhadap kondisi yang berubah dengan cepat.

    Gangguan-gangguan ini akan berdampak besar pada keanekaragaman hayati, penyimpanan karbon, dan berbagai jasa ekosistem yang menjadi sandaran masyarakat.

    Beberapa dampak utama meliputi:
    1. Terumbu karang: Penelitian menunjukkan bahwa 99% terumbu karang akan hilang karena meningkatnya frekuensi gelombang panas laut dan pengasaman laut.

    2. Ekosistem Arktik: Pemanasan yang cepat di Arktik akan menyebabkan hilangnya es laut secara signifikan dan mengubah jaring makanan, sehingga berdampak pada spesies seperti beruang kutub dan anjing laut.

    3. Hutan: Peningkatan suhu dan perubahan pola curah hujan akan menyebabkan perubahan komposisi hutan dan peningkatan risiko kebakaran hutan dan wabah hama.

    4. Hilangnya keanekaragaman hayati: Laju kepunahan spesies diperkirakan akan semakin cepat, dengan sebuah penelitian memproyeksikan bahwa 18% serangga, 16% tumbuhan, dan 8% vertebrata akan kehilangan lebih dari separuh wilayah geografis yang ditentukan oleh iklim dengan pemanasan sebesar 2°C.

  • Dampak Pemanasan Global Sebesar 2°C pada Kehidupan Manusia

    Dampak Pemanasan Global Sebesar 2°C pada Kehidupan Manusia

    7cloud.asia – Dalam tulisan sebelumnya dipaparkan bagaimana para pakar dan pemerhati lingkungan dunia terus berupaya untuk mencegah agar kenaikan suhu bisa dihambat kurang dari 2°C dengan berbagai cara.

    Salah satu cara untuk mencegah pemanasan global tidak mencapai 2°C adalah dengan memotong emisi, mencegah penebangan hutan dan menghijaukan kembali kawasan yang sudah rusak.

    Hal ini karena pemanasan global sebesar 2°C sangat besar pengaruhnya pada kondisi iklim dan pola cuaca yang selanjutnya akan berdampak pada kesejahteraan manusia.

    Dampak pemanasan global sebesar 2°C akan dirasakan di seluruh aspek masyarakat, mulai dari ketahanan pangan dan air hingga kesehatan dan stabilitas ekonomi.

    Berikut satu per satu dampak pemanasan global sebesar 2°C seperti dikutip earth.org:

    Baca: Ini yang terjadi pada kehidupan jika pemanasan global mencapai 2°C

    Pertanian dan Ketahanan Pangan
    Sistem pertanian di seluruh dunia akan menghadapi tantangan yang signifikan akibat pemanasan global sebesar 2°C,.

    Meskipun beberapa wilayah dengan garis lintang tinggi mungkin mengalami peningkatan hasil panen karena kondisi yang mendukung musim tanam yang lebih panjang.

    Di sisi lain akan ada banyak wilayah lainnya akan mengalami penurunan produktivitas karena tekanan panas, perubahan pola curah hujan, dan meningkatnya wabah hama dan penyakit.

    Perubahan-perubahan ini akan menyebabkan kenaikan harga pangan dan meningkatnya kerawanan pangan, khususnya di daerah-daerah yang rentan.

    Dampak utama pada pertanian meliputi:
    1. Menurunnya hasil panen tanaman utama seperti gandum, padi, dan jagung di berbagai daerah, khususnya di daerah tropis dan subtropis.

    Baca: Dampak pemanasan global sebesar 2°C pada pola cuaca

    2. Pergeseran wilayah tanam yang sesuai untuk berbagai jenis tanaman, berpotensi mengganggu praktik pertanian yang sudah ada.

    3. Meningkatnya variabilitas hasil panen karena lebih seringnya kejadian cuaca ekstrem.

    4. Menurunnya kualitas nutrisi pada beberapa tanaman karena peningkatan kadar CO2.

    Sumber Daya Air
    Sumber daya dan ketersediaan air akan sangat terpengaruh pemanasan global sebesar 2°C, hal ini didorong oleh perubahan pola curah hujan dan peningkatan penguapan.

    Dampak utama pemanasan global sebesar 2°C terhadap sumber daya air meliputi:
    Meningkatnya kelangkaan air di wilayah yang sudah kering, seperti Mediterania dan Timur Tengah.
    Perubahan waktu dan volume aliran sungai, mempengaruhi pasokan air untuk pertanian, pembangkit listrik tenaga air, dan wilayah perkotaan.
    Menurunnya kualitas air karena suhu yang lebih tinggi dan perubahan pola limpasan.
    Meningkatnya persaingan memperebutkan sumber daya air, berpotensi menimbulkan konflik.

    Kesehatan
    Kesehatan manusia akan terkena dampak pemanasan global sebesar 2°C, baik secara langsung maupun tidak langsung.

    Beberapa konsekuensi kesehatan utama meliputi:
    1. Meningkatnya angka kematian dan kesakitan akibat panas, khususnya di wilayah perkotaan dan di kalangan populasi rentan.

    2. Perubahan distribusi dan kejadian penyakit yang ditularkan melalui vektor seperti malaria dan demam berdarah.

    3. Meningkatnya masalah pernapasan karena tingkat ozon di permukaan tanah yang lebih tinggi dan musim serbuk sari yang lebih lama.

    4. Dampak kesehatan mental terkait kejadian cuaca ekstrem dan perubahan lingkungan.
    Potensi peningkatan malnutrisi akibat dampaknya terhadap ketahanan pangan.

    Baca: Dampak pemanasan global sebesar 2°C pada kelestarian lingkungan

    Dampak Ekonomi
    Konsekuensi ekonomi dari pemanasan global sebesar 2°C akan sangat besar dan luas. Meskipun beberapa sektor dan wilayah mungkin merasakan manfaatnya, dampak ekonomi global secara keseluruhan diperkirakan negatif.

    Dampak ekonomi utama meliputi:
    1. Meningkatnya kerugian akibat peristiwa cuaca ekstrem dan kenaikan permukaan laut, termasuk kerusakan infrastruktur dan properti.

    2. Hilangnya produktivitas karena tekanan panas dan dampak kesehatan.

    3. Pergeseran pola pariwisata, dimana beberapa destinasi menjadi kurang menarik karena panas atau dampak iklim lainnya.

    4. Potensi gangguan terhadap rantai pasokan global karena kejadian cuaca ekstrem dan perubahan ketersediaan sumber daya.

    5. Biaya transisi seiring dengan adaptasi perekonomian terhadap masa depan rendah karbon.

    Studi menunjukkan bahwa upaya mitigasi dapat mengurangi kerusakan ekonomi global sebesar triliunan dolar setiap tahunnya pada tahun 2100 dibandingkan dengan skenario bisnis seperti biasa.