Tag: pemuda adat

  • Di Otavalo, Ekuador Para Pemuda Adat Memelopori Revitalisasi Kota

    Di Otavalo, Ekuador Para Pemuda Adat Memelopori Revitalisasi Kota

    7cloud.asia – Di pegunungan Ekuador, pemuda adat bernama Lenin Zambrano merepresentasikan pendekatan yang berbeda namun sama kuatnya terhadap pembangunan berkelanjutan.

    Sebagai seorang Kichwa Otavalo yang bangga dan anggota komunitas Adat Otavalango, ia memimpin transformasi Museo Viviente Otavalango (Museum Hidup Otavalango) menjadi Pusat Perbelanjaan Adat pertama di dunia

    Dilansir di laman resmi UN Habitat, tempat ini menjadi sebuah ruang yang melestarikan warisan Kichwa sekaligus mempromosikan urbanisasi berkelanjutan melalui kepemimpinan pemuda.

    Melalui partisipasi mereka dalam inisiatif Youth 2030 Cities, Lenin dan komunitasnya menyusun Deklarasi Pemuda Otavalo tentang Urbanisasi Berkelanjutan kepada Wali Kota.

    Deklarasi ini menyerukan perubahan sistemik yang berakar pada identitas Adat, perlindungan lingkungan, dan pemberdayaan pemuda.

    Baca: Hari Pemuda Internasional 2025, merayakan aktivisme anak muda

    “Kaum muda, khususnya pemuda Adat, membawa pengetahuan vital, kreativitas, dan urgensi ke dalam proses pembangunan lokal,” jelas Lenin dikutip UN Habitat

    Inklusi mereka memastikan keputusan mencerminkan realitas kehidupan yang beragam,” menekankan bagaimana partisipasi pemuda membantu merebut kembali memori budaya sekaligus membentuk sistem pendidikan, tata kelola, dan ketenagakerjaan yang lebih adil dan berkelanjutan.

    Kota Otavalo, Ekuador, menjadi rumah bagi 125 komunitas adat. Dalam beberapa dekade terakhir, mereka telah menyaksikan kemunduran budaya adat, termasuk budaya masyarakat Kichwa di Otavalo.

    Kemunduran ini tercermin dalam hilangnya pengetahuan tentang beberapa upacara leluhur, hilangnya tradisi dari mata publik, serta posisi bahasa dan pakaian adat Kichwa yang kurang menguntungkan.

    Baca: Pusat kota di Italia ini hanya diperuntukan bagi pejalan kaki

    Kekhawatiran terbesar yang timbul dari kejadian ini adalah terbatasnya komunikasi antara generasi tua dan muda penutur bahasa Kichwa, yang menyebabkan penyebaran informasi yang keliru tentang struktur budaya penutur bahasa Kichwa.

    Dalam praktiknya, hal ini juga berarti hilangnya partisipasi efektif masyarakat Kichwa di lembaga-lembaga publik dan swasta di Otavalo.

    Oleh karena itu, inisiatif yang digagas oleh perwakilan muda masyarakat Kichwa di Otavalo berfokus pada pengajaran bahasa Kichwa yang berkualitas kepada anak-anak dan remaja, dengan harapan untuk mempelajari lebih lanjut dan melestarikan budaya Kichwa Otavalo.

    Untuk mewujudkan transfer warisan adat antargenerasi, para kakek-nenek dari berbagai komunitas dilibatkan dalam sesi pembelajaran agar mereka dapat berdialog dengan anak-anak dan remaja modern.

    Sebagai mitra utama proyek ini, Museum Hidup Otavalango telah menjadi sekolah budaya Otavalo, di mana para kakek-nenek menjadi guru yang bijaksana, dan cucu-cucu mereka menjadi pembelajar tekun akan pengetahuan adat Otavalo yang tak ternilai harganya.

  • Pemuda Adat Global Berkumpul di Papua dan Hasilkan Deklarasi Sira, Ini Isinya

    Pemuda Adat Global Berkumpul di Papua dan Hasilkan Deklarasi Sira, Ini Isinya

    7cloud.asiaForest Defender Camp yang diselenggarakan pada 23–26 September 2025 di Kampung Sira, Distrik Saifi, Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat Daya ditutup dengan menghasilkan Deklarasi Sira.

    Deklarasi Sira, Deklarasi Pemuda Adat Global ini mencakup poin-poin tuntutan global yang merefleksikan tantangan yang sama-sama dihadapi oleh Masyarakat Adat di Cekungan Kongo, Amazon, Borneo, dan Tanah Papua.

    Deklarasi Sira lahir dari diskusi panjang oleh 89 perwakilan Masyarakat Adat yang berkumpul di Kampung Sira, Distrik Saifi, Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat Daya, Wilayah Adat Tehit Knasaimos.

    Dilansir di laman resmi Greenpeace Indonesia, para pemuda adat ini datang dari empat kawasan hutan tropis terbesar di dunia, yaitu Cekungan Kongo, Amazon, Borneo, dan Se-Tanah Papua.

    Para pemuda adat yang hadir menyepakati sebuah seruan dari Pemuda Adat global bagi para pemimpin dunia untuk menjaga iklim global yang dicatatkan dalam Deklarasi Sira.

    “Kami, para Pemuda Adat —berbicara hari ini dengan satu suara. Kami adalah Pemuda Adat, pembawa pengetahuan leluhur, dan pelindung sistem kehidupan yang menopang bukan hanya masyarakat kami, tetapi seluruh planet,“ demikian petikan Deklarasi Sira yang dibacakan Rossyana Kogoya.

    Baca: Kerusakan hutan tropis dunia semakin mengkhawatirkan

    Kiki Taufik, Kepala Kampanye Global Greenpeace untuk Hutan Indonesia, berharap deklarasi Sira dapat mengantarkan suara masyarakat adat yang merupakan penjaga hutan yang sesungguhnya ke Konferensi Perubahan Iklim atau COP30 di Belem, Brasil November mendatang.

    “Suara yang akan sampai ke telinga para pemimpin dunia nanti adalah suara para Pemuda Adat yang menjadi kunci masa depan Bumi,” tandas Kiki seperti dilansir di laman resmi Greenpeace Indonesia.

    Forest Defender Camp
    Forest Defender Camp hadir untuk memperkuat gerakan dan mengkampanyekan hak-hak Masyarakat Adat. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk membangun solidaritas global.

    Desakan untuk memperjuangkan payung hukum yang mengakui hak-hak Masyarakat Adat dan akses langsung Masyarakat Adat terhadap pendanaan iklim juga terus digaungkan.

    Menurut Nabot Sreklefat dari Komunitas Anak Muda Adat Knasaimos, kehadiran representasi dari semua wilayah adat se-Tanah Papua dan belahan dunia lain dapat saling menginspirasi.

    “Harapan sa dari kita pu kemah adat ini bisa ada rekomendasi yang kita bawakan secara nasional dan internasional,” katanya saat membuka Forest Defender Camp 2025.

    Baca: Peran masyarakat adat atasi krisis iklim

    Krisis iklim dan keanekaragaman hayati yang terjadi secara bersamaan telah menjadi ancaman global bagi masa depan generasi muda. Namun, suara generasi muda, terutama Pemuda Adat, masih sering diabaikan dalam pengambilan keputusan terkait masalah krisis iklim.

    Sebagai upaya untuk mengamplifikasi suara Pemuda Adat, Forest Defender Camp 2025 turut melaksanakan Forum Pemuda Adat Internasional, sebuah forum yang diikuti oleh perwakilan dari masing-masing wilayah adat dan para delegasi Pemuda Adat global.

    Nathalia Kycendekarun Apurinã, Masyarakat Adat Amazon yang berpartisipasi dalam forum ini, mengatakan bahwa hutan hujan tropis dan orang-orang yang melindunginya merupakan fondasi kehidupan di Bumi.

    Keberadaan hutan tropis telah menopang kehidupan dengan suplai udara, air, dan stabilitas iklim.

    Baginya, Pemuda Adat memiliki komitmen yang tak tergoyahkan, yakni untuk melindungi tanah adat, menghormati warisan leluhur, dan memastikan masa depan bagi keturunannya.

    Krisis iklim, ujarnya, menuntut semua orang—pemerintah, pelaku bisnis, dan organisasi internasional—untuk bergabung dengan masyarakat adat. Menurutnya, solusi krisis iklim ada dan berakar pada pengetahuan tradisional dan hubungan masyarakat adat dengan alam.

    ”Waktunya untuk bertindak adalah sekarang. Untuk menjaga planet ini tetap bertahan, Cekungan Kongo, Amazon, Borneo, dan Se-Tanah Papua harus tetap hidup. Umat manusia mencari jawaban, tetapi jawabannya selalu ada di sini. Jawabannya adalah kita,” tegas Komunikator untuk Koordinasi Organisasi Adat Amazon Brasil (COIAB) ini.

    Baca: Larangan adat efektif menjaga kelestarian hutan

  • Aksi Iklim Dari Kampung untuk Kampung: Upaya Pemuda Adat Domberai Menjaga Hutan Adatnya

    Aksi Iklim Dari Kampung untuk Kampung: Upaya Pemuda Adat Domberai Menjaga Hutan Adatnya

    7cloud.asia – Bertepatan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, pemuda adat dari Pemuda Adat dari Domberai, Sorong, Papua Barat Daya mendeklarasikan Aksi Iklim Dari Kampung untuk Kampung.

    Peluncuran Aksi Iklim Dari Kampung untuk Kampung ini diikuti puluhan perwakilan anak muda dan masyarakat adat. Mereka berkumpul untuk peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada  pada 5 Juni  2026. 

    Fokus Aksi Iklim Dari Kampung untuk Kampung ini adalah untuk menyatakan bahwa keadilan iklim hanya dapat tercapai lewat pengakuan pada keberadaan Masyarakat adat, utamanya pada pengakuan pengetahuan tradisional yang telah ada jauh sebelum sains modern,.

    Gerakan ini menolak upaya mitigasi iklim yang ditawarkan untuk menyingkirkan keberadaan Masyarakat Adat dari wilayah kehidupannya. Sementara hutan dan komunitas adat menghadapi ancaman yang terus-menerus.

    Dalam pernyataannya kepada media, Pemuda Adat Domberai menegaskan, sebagai pewaris pengetahuan leluhur dan pelindung sistem kehidupan yang menopang bukan hanya masyarakat kami, tetapi seluruh makhluk hidup di planet ini.

    Sejak tahun 1972, tanggal 5 Juni diperingati sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia tiap tahunnya.

    Artinya, semua pihak punya waktu setiap tahun untuk refleksi bagaimana kita memperlakukan lingkungan sekitar dan dampak aktivitas kita terhadap planet Bumi, dan yang terpenting apa aksi yang perlu kita lakukan untuk merawat Bumi.

    Selama bertahun-tahun, aktivitas manusia, industri dan teknologi terus berkembang dan digunakan sedemikian rupa sehingga menyebabkan kerusakan yang besar terhadap lingkungan.

    Bahkan faktanya, polusi udara, hilangnya keanekaragaman hayati, punahnya berbagai macam spesies, dan yang paling besar, yaitu krisis iklim yang kita hadapi saat ini merupakan akibat dari keserakahan manusia atas gaya hidupnya yang tidak berkelanjutan.

    Bumi menyediakan sumber daya alam luar biasa yang sayangnya kita gunakan dan eksploitasi secara tidak terkendali.

    Berikut pernyataan mereka selengkapnya:

    Kami dari Kepala Burung, Pulau Papua (Malamoi) kawasan hutan tropis di Tanah Papua, menuntut penghentian praktik deforestasi, ekspansi industri bahan bakar fosil, pertambangan, dan aktivitas merusak lainnya di wilayah adat.

    Kami berbicara hari ini dalam satu suara Bagi Masyarakat adat, krisis iklim bukan sekedar angka kenaikan suhu global atau target net-zero emission, melainkan realitas sehari-hari tentang hilangnya ruang hidup, rusaknya sumber pangan, dan ancaman terhadap identitas budaya.

    Aksi penyelamatan lingkungan ini menjadi krusial untuk dilakukan di Tanah Papua karena kepungan krisis ekologis yang berlapis. Aksi Iklim berbasis kampung menjadi sangat mendesak karena Papua dipaksa menanggung beban dari kontradiksi ekonomi dan iklim global.

    Krisis iklim yang terjadi di dunia saat ini tidak menoleransi dan bernegosiasi. Krisis yang terjadi tidak memilih-milih siapa yang terdampak gelombang panas, hutan yang menjadi lebih sering terbakar, banjir rob, abrasi pantai, hingga kalender musim yang berubah.

    Kondisi ini diperparah dengan aktivitas-aktivitas ekstraktivisme yang dilakukan oleh para pemilik modal dalam bentuk perampasan lahan, seluruh keanekaragaman hayati terancam.

    Krisis iklim dan perampasan lahan juga terjadi di Tanah Papua dalam skala yang masif, lebih jauh didukung oleh militerisme. Deklarasi Kampung Asbaken adalah penolakan terhadap kehadiran operasi militer di wilayah masyarakat adat, sekaligus desakan untuk mengakhiri operasi yang sedang berjalan.

    Bagaimana penguasa dan pemilik modal sedang menghancurkan Tanah Papua, sementara itu di papua bagian selatan, lahan dan hutan dirampas oleh negara dan korporasi seluas 2,7 juta hektare.

    Bukan cuma Masyarakat Adat Papua, Masyarakat Indonesia yang tinggal di luar papua juga akan kena dampaknya, akibat penghancuran hutan terbesar di dunia sedang terjadi di tanah papua, pembukaan hutab dan lahan memicu jutaan ton emisi CO2 yang akan memperburuk krisis iklim yang berakibat peningkatan bencana nasional di Indonesi.

    Papua dikorbankan untuk cetak sawah, tebu untuk bioetanol, hutan tanaman industri, pertambangan, pemanfaatan hasil hutan dan perkebunana sawit untuk biodiesel serta pembangunan infrastruktur ekstraktif demi ambisi yang diputuskan di Jakarta.

    Oleh orang-orang yag tidak pernah tinggal di tanah papua dan menanggung akibatnnya.

    Pemuda Adat memiliki komitmen yang tak tergoyahkan, yakni untuk melindungi tanah adat, menghormati warisan leluhur, dan memastikan masa depan bagi keturunannya.

    “Krisis iklim menuntut semua orang pemerintah, pelaku bisnis, dan organisasi internasional untuk bergabung dengan kami. Solusinya ada dan nyata berakar pada pengetahuan tradisional kita dan hubungan kita dengan alam.

    Waktunya untuk bertindak adalah sekarang. Untuk menjaga planet ini tetap bertahan, Tanah Papua harus tetap hidup. Umat manusia mencari jawaban, tetapi jawabannya selalu ada di sini. ketika berbicara tentang krisis iklim.

    Lebih dari itu, Tanah Papua menjadi rumah bagi masyarakat adat, komunitas lokal, ribuan spesies tanaman dan ratusan spesies hewan endemik.

    Gerakan “Aksi Iklim: Dari Kampung untuk Kampung” sendiri adalah sebuah manifesto perlawanan dan solidaritas secara horizontal yang lahir dari akar rumput.

    Gerakan ini mendekonstruksi narasi iklim global yang selama ini didominasi oleh negara diruang-ruang konferensi internasional. gerakan ini adalah tindakan, eksistensi dan keterhubungan.

    Dari Kampung untuk Kampung menegaskan bahwa benteng pertahanan iklim terbaik tidak datang dari kebijakan top-down, melainkan dari peroganisiran antar-komunitas.

    Hal ini adalah bentuk dari kerja pengorganisiran sekutu dan pembangunan solidaritas lintas wilayah, dimana satu kampung dan satu wilayah saling menguatkan dengan bertukar strategi advokasi, memetakan wilayah adat secara mandiri dan menyebarkan api kesadaran bahwa perlindungan satu kampung di pesisir berkaitan erat dengan perawatan hutan di kampung.

    Aksi Iklim “Dari Kampung untuk Kampung” adalah upaya perlawanan untuk bertahan dan menunjukkan eksistensi sebagai Masyarakat Adat, pemuda atau perempuan yang bertahan dan melawan di kampung.

    Fokusnya adalah untuk menyatakan bahwa keadilan iklim hanya dapat tercapai lewat pengakuan pada keberadaan Masyarakat adat, utamanya pada pengakuan pengetahuan tradisional yang telah ada jauh sebelum sains modern, termasuk melawan proyek mitigasi iklim yang ditawarkan untuk menyingkirkan keberadaan Masyarakat Adat dari wilayah kehidupannya.

    Namun hutan dan komunitas kami menghadapi ancaman yang terus-menerus yaitu:

    ★ Eksploitasi di wilayah adat melalui pertambangan, pembalakan, dan berbagai aktivitas merusak skala industri.

    ★ Intimidasi, kekerasan militer, dan penangkapan secara sepihak terhadap masyarakat adat. ★ Lemah atau tidak adanya peraturan yang melindungi hak-hak Masyarakat Adat, termasuk kegagalan meratifikasi United Nations Declaration on the Rights of Indigenous Peoples (UNDRIP) dan ILO No. 169.

    ★ Perampasan tanah dan hutan yang menyingkirkan masyarakat adat dari tanah leluhur.

    ★ Patisipasi tidak bermakna masyarakat adat terutama perempuan dan anak muda dalam proses pengambilan keputusan.

    ★ Pengabaian sistematis terhadap pengetahuan tradisional yang penting bagi pengelolaan berkelanjutan dan solusi iklim. Kita Semua Memiliki Hak Atas Lingkungan Jika merunut kembali sejarahnya, pada tahun 2001 Komisi HAM PBB telah menyimpulkan bahwa setiap orang memiliki hak hidup di dunia yang bebas dari polusi, bahan-bahan beracun dan degradasi lingkungan hidup.

    Resolusi ini merupakan hasil dari kerja-kerja panjang yang dilakukan oleh aktivis lingkungan hidup dan hak asasi manusia, dan tentu saja resolusi ini menjadi tonggak sejarah dalam upaya penghormatan, perlindungan dan pemenuhan hak asasi manusia dari berbagai ancaman, di antaranya adalah krisis iklim yang tengah serius mengancam keberlanjutan makhluk bumi.

    Jika merunut kembali sejarahnya, pada tahun 2001 Komisi HAM PBB telah menyimpulkan bahwa setiap orang memiliki hak hidup di dunia yang bebas dari polusi, bahan-bahan beracun dan degradasi lingkungan hidup.

    Kerusakannya parah tapi bukan tak mungkin untuk diperbaiki! Harapan kita satu-satunya adalah mulai mengubah gaya hidup kita, sistem perekonomian, dan kebijakan-kebijakan yang merusak. Ayo mulai mengadopsi pendekatan spiritual holistik untuk Bumi. Kita berhak mendapatkan kehidupan yang lebih baik, jelas begitu juga dengan Bumi.

    Jika kita sebagai manusia terus berjalan di jalan yang kita lalui saat ini, kita akan kehilangan rumah kita bersama. Waktunya kita untuk hentikan kekejaman yang kita lakukan setiap hari terhadap Bumi indah yang memeluk kita ini, kita dikejar oleh waktu. Perubahan harus dilakukan sekarang!