Tag: penduduk dunia

  • Penduduk Dunia Dekati 10 Miliar Orang, Bagaimana Pemenuhan Kebutuhan Pangannya?

    Penduduk Dunia Dekati 10 Miliar Orang, Bagaimana Pemenuhan Kebutuhan Pangannya?

    7cloud.asia – Jumlah penduduk dunia diperkirakan telah melewati angka 8 miliar dan akan meningkat menjadi 9,8 miliar pada 2050 dan 11,2 miliar pada 2100. Lantas, upaya apa yang harus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pangan untuk orang sebanyak itu. 

    Dalam 27 tahun mendatang, produksi pangan dunia perlu ditingkatkan hingga 70%, dibanding pada 2007, untuk memberi makan penduduk dunia yang begitu besar itu. 

    Lonjakan jumlah penduduk dunia ini akan membuat Asia akan menjadi kawasan paling padat. Pun demikian butuh upaya ekstra untuk memenuhi pangan yang dibutuhkan.

    Selama ini, salah satu upaya untuk meningkatkan produksi pangan, terutama beras, untuk memenuhi kebutuhan penduduk dunia adalah intensifikasi pertanian seperti menanam padi tiga kali setahun dengan pupuk kimia.

    Masalahnya, intensifikasi pertanian dapat berdampak besar pada lingkungan: degradasi tanah akibat erosi angin dan air, polusi udara dan air akibat nutrisi dan agrokimia yang berlebihan, hilangnya keanekaragaman biologis dan ekologis.

    Baca: El Nino bikin harga beras dunia melonjak

    Untuk mengurangi efek negatif dari pertanian, dunia perlu mentransformasikan proses produksi pertanian dengan cara yang lebih berkelanjutan.

    Caranya, kita perlu mengalokasikan sumber daya dengan tepat dan menggunakan praktik-praktik Pertanian Cerdas (Smart Agriculture) dengan teknik data mining. Menurut sebuah riset pada 2019, penerapan Pertanian Cerdas dapat menghemat air sampai 67% dibandingkan cara tradisional.

    Pertanian cerdas
    Sistem Pertanian cerdas bisa berperan penting dalam meningkatkan kegiatan pertanian dan produksi pangan. Ini merupakan konvergensi antara internet of things (IoT) dan teknologi informasi.

    Tujuannya untuk mengumpulkan data dari berbagai sumber yang heterogen untuk memahami, memprediksi, dan mengatur kegiatan pertanian agar lebih produktif, efisien, dan berkelanjutan.

    Melalui IoT, sensor-sensor bisa ditempatkan di mana-mana untuk mengumpulkan berbagai jenis data.

    Data suhu tanah, kelembaban tanah, kelembaban dan kehijauan daun, radiasi matahari, arah angin, dan tingkat curah hujan bisa dikumpulkan secara real time.

    Baca: Sawit, antara alternatif ketahanan pangan dan ancaman pada lingkungan

    Teknik data mining merupakan proses yang memungkinkan untuk menemukan pola dalam kumpulan data yang besar. Teknik ini berperan penting dalam analisis data.

    Di sektor pertanian, penggunaan teknik data mining telah mengarah pada berbagai tugas, seperti identifikasi hama, serta deteksi dan klasifikasi kesehatan tanaman.

    Teknik ini juga bisa dipakai untuk memprediksi penyakit tanaman, prediksi hasil panen, pengelolaan input (perencanaan irigasi dan pestisida), saran pemupukan, prediksi kelembaban tanah secara real-time, dan lainnya.

    Banyak negara di dunia mulai menerapkan teknik data mining untuk meningkatkan efisiensi produksi pertanian, mengurangi limbah, dan memaksimalkan penggunaan sumber daya.

    Negara yang sudah menggunakan teknologi ini untuk mendongkrak produksi pangan antara lain adalah Amerika Serikat, Jepang, Belanda, Cina, dan Israel.

    Data yang dikumpulkan dan diolah dapat langsung memengaruhi efisiensi kegiatan pertanian dan memberikan hasil yang lebih baik.

    Baca: El Nino akibatkan produksi pangan minus

    Data mining memungkinkan ekstraksi informasi berharga dari data yang besar dan untuk menemukan pola dan hubungan tersembunyi.

    Ini adalah proses yang melibatkan metode dan alat dari berbagai bidang ilmu komputer, statistik, atau kecerdasan buatan.

    Penerapan data mining untuk pertanian
    Ada banyak hal bisa dilakukan dengan teknik data mining di sektor pertanian.

    Pertama, pengendalian irigasi. Air merupakan faktor penting bagi perkembangan tanaman. Pemberian air dalam jumlah yang terlalu banyak atau terlalu sedikit memiliki pengaruh negatif terhadap pertumbuhan tanaman.

    Irigasi yang tidak memadai atau tidak dirancang dengan baik juga bisa menjadi sumber masalah, seperti pemborosan air, salinisasi (pengasinan) tanah, pencemaran air, dan erosi tanah.

    Untuk menghindari masalah-masalah ini, penting untuk merancang dan mengelola sistem irigasi dengan baik, memantau dan mengukur pemakaian air, serta mempertimbangkan berbagai faktor termasuk jenis tanah, kondisi iklim, dan kebutuhan tanaman.

    Baca: Negara maju diminta ambil peran lebih besar tuk tanggulangi perubahan iklim

    Banyak sistem irigasi cerdas berbasis data mining telah dikembangkan di Indonesia untuk menentukan kebutuhan air tanaman berdasarkan iklim dan siklus vegetatif.

    Data mining memainkan peran penting dalam memastikan pengelolaan irigasi yang lebih baik untuk mengevaluasi konsumsi air dengan menggunakan metode yang melibatkan unsur-unsur iklim, faktor tanaman, dan tujuan ekonomi.

    Salah satu negara yang dikenal sebagai pemimpin dalam pengembangan dan penerapan irigasi yang presisi atau “precision irrigation” adalah Israel.

    Negara ini telah mengembangkan metode pengairan yang efisien, sistem kontrol iklim dalam greenhouse, dan sistem sensor untuk mengoptimalkan pertanian di lingkungan gurun.

    Kedua, pemantauan penyakit tanaman. Tanaman dapat terpengaruh oleh beberapa penyakit selama pertumbuhannya. Deteksi penyakit-penyakit ini menjadi tujuan dari banyak penelitian.

    Deteksi ini didasarkan pada kombinasi teknik data mining dan pemrosesan gambar untuk mengatasi kurangnya observasi manusia dan bahkan untuk mengurangi biaya.

    Baca: Mungkinkah terwujud zero emision pada 2050

    Peneliti dari Universitas Padjadjaran bahkan telah mengembangkan sistem untuk mendeteksi penyakit blas pada tanaman padi berbasis citra.

    Ini merupakan salah satu pemanfaatan teknik pemrosesan gambar digital umum yang dikombinasikan dengan data mining di bidang pertanian untuk mendeteksi, mengklasifikasikan, dan mengukur penyakit-penyakit tanaman.

    Ketiga, pemantauan hama dan optimalisasi pengelolaan input (pupuk dan pestisida).

    Selama siklus produksi tanaman, kondisi abnormal seperti suhu dan kelembaban lingkungan sekitar memungkinkan penyebaran berbagai penyakit yang disebabkan oleh serangga, jamur, gulma, nematoda, dan tikus. Hama-hama ini menjadi fokus dari beberapa penelitian.

    Dalam beberapa penelitian, teknik data mining digunakan untuk memahami hubungan antara penyakit hama thrips pada tanaman pangan dan data meteorologi pada tanaman kacang tanah di India.

    Keempat, memprediksi hasil panen dan dampak perubahan iklim terhadap produktivitas.

    Baca: Manfaat hutan mangrove bagi ketahanan pangan

    Penggunaan teknik data mining dalam pertanian bukan hanya membantu dalam meningkatkan produktivitas pertanian, tapi juga dapat mengurangi risiko yang terkait dengan perubahan iklim.

    Penggunaan teknologi ini juga memberikan manfaat bagi ketahanan pangan dan lingkungan.

    Contoh konkret penggunaan teknik data mining dalam pertanian dapat melibatkan pengumpulan dan analisis data cuaca harian, suhu tanah, kelembaban udara, dan jenis tanaman yang ditanam.

    Dengan menggunakan algoritma data mining, model dapat dikembangkan untuk memprediksi hasil panen berdasarkan variabel ini.

    Cara ini sekaligus akan memberikan panduan kepada petani tentang kapan dan bagaimana mereka harus merawat tanaman mereka.

    Sumber: The Conversation baca artikel asli di sini

     

  • Angka Kelahiran Terus Menurun, Adakah Cara Mencegah Agar Populasi Manusia Tidak Punah?

    Angka Kelahiran Terus Menurun, Adakah Cara Mencegah Agar Populasi Manusia Tidak Punah?

    7cloud.asia – Sejumlah pakar menyebut populasi manusia atau penduduk dunia meningkat pesat seiring dengan revolusi industri pada abad ke-18.

    Pada masa sebelumnya, populasi manusia atau penduduk dunia stagnan karena pandemi besar yang dikenal sebagai The Black Death pada pertengahan abad ke-14.

    Pandemi ini menewaskan seperempat hingga setengah total penduduk Eropa dan menyisakan kurang dari satu miliar populasi manusia yang menjadi penduduk dunia.

    Seiring dengan munculnya revolusi industri dan penemuan antibiotik, pertumbuhan populasi manusia pun terus meningkat secara eksponensial mencapai 7,9 miliar penduduk pada 2022.

    Pertumbuhan populasi manusia yang sangat tinggi ini kemudian memunculkan teori Malthusian pada abad ke-18.

    Baca: Penduduk dunia dekati 10 miliar, akankah terjadi krisis pangan?

    Teori ini memprediksi bahwa dalam tiga abad mendatang kapasitas bumi tidak akan cukup untuk jumlah manusia yang begitu besar.

    Akibatnya, dunia akan menghadapi keterbatasan suplai makanan yang menimbulkan perang atau penyakit hingga akhirnya akan menurunkan populasi manusia.

    Namun, riset dari University of Newcastle menunjukkan terjadi Malthusian paradox karena indeks produksi tani dan hewan terus meningkat seiring dengan turunnya angka kelahiran dunia.

    Hal tersebut menunjukkan kemungkinan adanya hubungan antara kesejahteraan (stabilitas pangan populasi) dengan tingkat kelahiran.

    Berkaca pada data Produk Domestik Bruto (PDB) dan tingkat kelahiran di Cina, tingkat kelahiran turut memengaruhi PDB.

    Baca: Angka kelahiran di dunia terus menurun

    Data menunjukkan bahwa total level kelahiran di Cina sudah menurun bahkan sejak sebelum diberlakukannya one child family policy pada 1980.

    Sejak 1960, tingkat kelahiran di Cina turun dari 6 menjadi 2 anak per perempuan hanya dalam waktu dua puluh tahun.

    Tepat saat kelahiran tersebut berada di bawah 3 anak per perempuan, Cina mengalami peningkatan GDP secara stabil hingga sekarang.

    Kondisi serupa juga tampak pada negara lainnya, seperti Brazil, Taiwan, dan Korea Selatan.

    Indonesia pun telah mengalami penurunan tingkat kelahiran sejak 1960, dari 5,55 menjadi 2,2 per perempuan usia subur pada 2021.

    Meski demikian angka ini masih di atas replacement level atau angka minimal untuk mempertahankan regenerasi suatu populasi yakni 2,1.

    Baca: Perubahan iklim ancam ketahanan pangan dunia

    Bagaimana mencegah defisit populasi?
    Transisi demografi merupakan pola perjalanan demografi yang akan dialami oleh semua populasi tanpa mengenal agama dan kepercayaan.

    Pada periode pratransisi, populasi akan memiliki angka kematian dan kelahiran tinggi.

    Kemudian, saat mencapai periode transisi, angka kematian dan kelahiran populasi akan menurun.

    Akhirnya, pada periode pascatransisi angka kematian dan kelahiran akan terus menurun. Walhasil, jumlah populasi akan semakin rendah jika dibiarkan tanpa intervensi.

    John Aitken, profesor sains reproduksi dari University of Newcastle Australia, mengajukan beberapa langkah intervensi untuk menyelamatkan sebuah populasi dari infertility trap.

    Baca: Polusi pengaruhi kesuburan laki-laki

    Beberapa di antaranya adalah usaha membuat perubahan sosial untuk mendukung keluarga muda memiliki anak.

    Misalnya, dengan pemberian bonus untuk anak, perizinan cuti untuk kedua orang tua, dan fasilitas perawatan anak.

    Kebijakan lain seperti penyediaan perumahan terjangkau, peningkatan usia pensiun, pemantauan kadar bahan toksik reproduksi dari lingkungan juga bisa menyelamatkan populasi.

    Selain itu, kita perlu menghindari pengutamaan penggunaan in vitro fertilisation (IVF) atau bayi tabung untuk mengatasi infertilitas.

    Ketimbang IVF, kita perlu lebih mengutamakan pemahaman asal-usul gangguan fertilitas, karena mencegah lebih baik daripada mengobati.

    Terakhir, kita perlu meningkatkan kesadaran sosial politik terhadap perubahan demografi yang akan datang.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, ditulis oleh Shafira Meidyana Lecturer in Biostatistics and Population, Department of Public Health and Preventive Medicine, Faculty of Medicine, Airlangga University, Universitas Airlangga

  • Bagaimana Jumlah Penduduk Dunia yang Berlebihan Mengancam Kelestarian Lingkungan

    Bagaimana Jumlah Penduduk Dunia yang Berlebihan Mengancam Kelestarian Lingkungan

    7cloud.asia – Penduduk dunia telah tumbuh secara eksponensial selama beberapa dekade terakhir, dari sekitar 2 miliar pada tahun 1900 menjadi lebih dari 8 miliar saat ini.

    Diperkirakan penduduk dunia akan terus bertambah dalam beberapa dekade mendatang dan dikhawatirkan bisa berdampak pada kelestarian lingkungan.

    Meskipun peningkatan jumlah penduduk dunia dapat dilihat sebagai hal yang positif pembangunan, hal ini juga menimbulkan tantangan yang signifikan terhadap keberlanjutan lingkungan.

    Dalam artikel ini, kami mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut: Bagaimana kelebihan populasi mempengaruhi keberlanjutan dan tantangan apa yang ditimbulkan oleh tren ini?

    Artikel ini juga coba menjawab, apa solusi potensial untuk mengatasi tantangan-tantangan ini dan menciptakan lingkungan yang lebih berkelanjutan Masa depan untuk semua?

    Baca: Penduduk dunia dekati angka 10 miliar, apa dampaknya pada lingkungan

    Bagaimana Kelebihan Populasi Mempengaruhi Keberlanjutan?
    Dengan mendidik masyarakat tentang keluarga berencana, kontrasepsi, faktor dan tren pertumbuhan populasi, serta topik relevan lainnya, kita dapat memberdayakan individu untuk membuat keputusan yang tepat mengenai kesehatan reproduksi mereka.

    Meningkatnya populasi di dunia berdampak langsung pada keberlanjutan, karena bertambahnya jumlah penduduk akan semakin banyak orang yang membutuhkan sumber daya untuk bertahan hidup.

    Di bawah ini, kami mengkaji berbagai permasalahan yang timbul akibat kelebihan populasi dan dampaknya terhadap keberlanjutan.

    Perubahan iklim
    Meningkatnya tingkat populasi menyebabkan peningkatan konsumsi sumber daya, sehingga menghasilkan emisi gas rumah kaca yang lebih besar.

    Hal ini berkontribusi terhadap perubahan iklim dan dapat berdampak buruk terhadap lingkungan.

    Baca: Angka kelahiran terus menurun, kabar baik atau kabar buruk?

    Penipisan sumber daya
    Bertambahnya jumlah penduduk makan akan semakin banyak orang yang membutuhkan lebih banyak makanan, air, energi, dan sumber daya lainnya untuk kelangsungan hidup mereka.

    Karena semakin langkanya sumber daya tersebut karena kelebihan populasi, semakin sulit bagi kita untuk mempertahankan cara hidup kita saat ini.

    Degradasi Lingkungan
    Semakin banyak orang yang mengkonsumsi sumber daya, maka akan tercipta limbah dan polusi yang dapat merusak lingkungan.

    Hal ini dapat menyebabkan erosi tanah, polusi air, dan bentuk kerusakan lainnya yang dapat menimbulkan konsekuensi yang parah.

    Baca: Polusi dan degradasi lingkungan pengaruhi kesuburan

    Penggundulan hutan
    Kelebihan populasi menyebabkan peningkatan permintaan akan perumahan, makanan, dan sumber daya, yang antara lain dapat menyebabkan deforestasi.

    Dunia kehilangan sekitar 10 juta hektar setiap tahunnya. Hal ini mengakibatkan hilangnya habitat hewan dan memperburuk perubahan iklim dengan mengurangi jumlah tersebut karbon dioksida yang dapat diserap tanaman.

    Masalah sosial
    Kelebihan populasi dapat menyebabkan kepadatan penduduk, kemiskinan, kerawanan pangan, dan masalah sosial lainnya.

    Hal ini dapat menciptakan ketegangan antara masyarakat dan negara karena sumber daya menjadi semakin langka.

    Hilangnya keanekaragaman hayati
    Pada tahun 2020, WWF melaporkan bahwa selama 50 tahun terakhir, dunia telah melihat rata-rata penurunan populasi mamalia, burung, ikan, reptil, dan amfibi sebesar 68 persen.

    Hal ini karena habitat dirusak untuk dijadikan tempat tinggal manusia dan keanekaragaman satwa liar Hal ini berdampak negatif pada rantai makanan dan dapat mengancam kepunahan seluruh spesies.

    Sumber: earth.org