Angka Kelahiran Terus Menurun, Adakah Cara Mencegah Agar Populasi Manusia Tidak Punah?

Written by

in

7cloud.asia – Sejumlah pakar menyebut populasi manusia atau penduduk dunia meningkat pesat seiring dengan revolusi industri pada abad ke-18.

Pada masa sebelumnya, populasi manusia atau penduduk dunia stagnan karena pandemi besar yang dikenal sebagai The Black Death pada pertengahan abad ke-14.

Pandemi ini menewaskan seperempat hingga setengah total penduduk Eropa dan menyisakan kurang dari satu miliar populasi manusia yang menjadi penduduk dunia.

Seiring dengan munculnya revolusi industri dan penemuan antibiotik, pertumbuhan populasi manusia pun terus meningkat secara eksponensial mencapai 7,9 miliar penduduk pada 2022.

Pertumbuhan populasi manusia yang sangat tinggi ini kemudian memunculkan teori Malthusian pada abad ke-18.

Baca: Penduduk dunia dekati 10 miliar, akankah terjadi krisis pangan?

Teori ini memprediksi bahwa dalam tiga abad mendatang kapasitas bumi tidak akan cukup untuk jumlah manusia yang begitu besar.

Akibatnya, dunia akan menghadapi keterbatasan suplai makanan yang menimbulkan perang atau penyakit hingga akhirnya akan menurunkan populasi manusia.

Namun, riset dari University of Newcastle menunjukkan terjadi Malthusian paradox karena indeks produksi tani dan hewan terus meningkat seiring dengan turunnya angka kelahiran dunia.

Hal tersebut menunjukkan kemungkinan adanya hubungan antara kesejahteraan (stabilitas pangan populasi) dengan tingkat kelahiran.

Berkaca pada data Produk Domestik Bruto (PDB) dan tingkat kelahiran di Cina, tingkat kelahiran turut memengaruhi PDB.

Baca: Angka kelahiran di dunia terus menurun

Data menunjukkan bahwa total level kelahiran di Cina sudah menurun bahkan sejak sebelum diberlakukannya one child family policy pada 1980.

Sejak 1960, tingkat kelahiran di Cina turun dari 6 menjadi 2 anak per perempuan hanya dalam waktu dua puluh tahun.

Tepat saat kelahiran tersebut berada di bawah 3 anak per perempuan, Cina mengalami peningkatan GDP secara stabil hingga sekarang.

Kondisi serupa juga tampak pada negara lainnya, seperti Brazil, Taiwan, dan Korea Selatan.

Indonesia pun telah mengalami penurunan tingkat kelahiran sejak 1960, dari 5,55 menjadi 2,2 per perempuan usia subur pada 2021.

Meski demikian angka ini masih di atas replacement level atau angka minimal untuk mempertahankan regenerasi suatu populasi yakni 2,1.

Baca: Perubahan iklim ancam ketahanan pangan dunia

Bagaimana mencegah defisit populasi?
Transisi demografi merupakan pola perjalanan demografi yang akan dialami oleh semua populasi tanpa mengenal agama dan kepercayaan.

Pada periode pratransisi, populasi akan memiliki angka kematian dan kelahiran tinggi.

Kemudian, saat mencapai periode transisi, angka kematian dan kelahiran populasi akan menurun.

Akhirnya, pada periode pascatransisi angka kematian dan kelahiran akan terus menurun. Walhasil, jumlah populasi akan semakin rendah jika dibiarkan tanpa intervensi.

John Aitken, profesor sains reproduksi dari University of Newcastle Australia, mengajukan beberapa langkah intervensi untuk menyelamatkan sebuah populasi dari infertility trap.

Baca: Polusi pengaruhi kesuburan laki-laki

Beberapa di antaranya adalah usaha membuat perubahan sosial untuk mendukung keluarga muda memiliki anak.

Misalnya, dengan pemberian bonus untuk anak, perizinan cuti untuk kedua orang tua, dan fasilitas perawatan anak.

Kebijakan lain seperti penyediaan perumahan terjangkau, peningkatan usia pensiun, pemantauan kadar bahan toksik reproduksi dari lingkungan juga bisa menyelamatkan populasi.

Selain itu, kita perlu menghindari pengutamaan penggunaan in vitro fertilisation (IVF) atau bayi tabung untuk mengatasi infertilitas.

Ketimbang IVF, kita perlu lebih mengutamakan pemahaman asal-usul gangguan fertilitas, karena mencegah lebih baik daripada mengobati.

Terakhir, kita perlu meningkatkan kesadaran sosial politik terhadap perubahan demografi yang akan datang.

Artikel ini telah terbit di The Conversation, ditulis oleh Shafira Meidyana Lecturer in Biostatistics and Population, Department of Public Health and Preventive Medicine, Faculty of Medicine, Airlangga University, Universitas Airlangga

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *