Tag: pengasuhan anak

  • Mengapa Laki-laki Harus Mengambil Peran dalam Pengasuhan Anak

    Mengapa Laki-laki Harus Mengambil Peran dalam Pengasuhan Anak

    7cloud.asia – Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) diminta memberikan pelatihan pengasuh anak kepada ayah.

    Selama ini pengasuhan anak terkesan hanya menjaid tanggung jawab perempuan, sementara laki-laki atau ayah tidak dilibatkan sebagai faktor utama anak terlindungi.

    “Saya kira tagline itu jauh dari jangkauan. Dalam melindungi anak dibutuhkan peran ayah. Tidak bisa perempuan sendirian. Saya mendorong adanya pelatihan bagi ayah atau bapak untuk menciptakan sebuah keluarga yang utuh di Indonesia,” kata Anggota Komisi VIII DPR  Nur Azizah Tamhid sebagaimana dikutip Parlementaria, Rabu (14/6/2023).

    Nur Azizah melanjutkan, pelatihan bagi laki-laki dibutuhkan agar ayah atau  dapat terlibat langsung dan tahu bagaimana mengasuh dan mendidik anak, sehingga anak terlindungi dan Indonesia maju.

    Baca: Rumah Rakyat, membangun literais di Lampung

    Sementara itu, Menteri PPPA I Gusti Ayu Bintang Darmawati menyatakan bahwa KemenPPPA sepakat pentingnya keterlibatan ayah dalam mengasuh dan mendidik anak sehingga anak terlindungi dan Indonesia maju.

    Bintang setuju, pengasuhan anak tidak hanya menjadi tanggung jawab perempuan. Team work dalam keluarga sudah sering sudah sering disosialisasikan.

    “Keluarga merupakan unit terkecil mewujudkan Indonesia maju. “Mendidik anak, mengasuh anak tidak hanya tanggungjawab ibu. Pengasuhan bersama ayah dan ibu dapat melahirkan anak yang berkualitas,” tambahnya.

    Baca: Mengapa tes calistung dihapus dari seleksi masuk SD

    Indonesia termasuk ke dalam 10 besar negara dengan fatherless atau father hunger dalam pengasuhan anak, yaitu tidak adanya peran ayah.

    Ayah hanya hadir secara fisik, tetapi tidak terlibat dalam urusan perkembangan dan pengasuhan anak. Padahal peran ayah punya pengaruh besar dalam pengasuhan anak, terutama saat anak berusia 7-14 tahun dan 8-15 tahun.

    Pakar Pengasuhan Keayahan, Irwan Rinaldi mengungkapkan ketidakhadiran ayah di usia tersebut, bisa memicu ketimpangan antara pertumbuhan dan perkembangan anak karena kurangnya stimulan dari kedua orangtua.

    “Untuk menghadirkan pengasuhan yang ideal dibutuhkan peran utama ayah dan ibu (dual parenting) yang memperhatikan perkembangan dan pertumbuhan anak secara menyeluruh,” ungkap Irwan saat berbicara di acara Bimbingan Teknis Pusat Pembelajaran Keluarga dengan Tema Peran Ayah dalam Pengasuhan sebagaimana dikutip di laman resmi KemenPPPA tahun lalu.

    Baca: Pembelajaran berpusat pada siswa belum tentu cocok untuk semua usia

    Irwan menyebut, ada 3 (tiga) kategori peran ideal seorang ayah, yaitu menyambung keturunan, mencari nafkah, dan peran seorang ayah yang terdiri dari loving, coaching, modelling (mencintai, melatih, dan menjadi model).

    Ketiga unsur dalam peran ayah itu sangat penting dan saling berhubungan, namun semakin ke sini peran ini mulai tergantikan dengan peran pengasuhan pengganti di luar keluarga inti.

    Jika seluruh peran ayah ini hilang, maka akan menyebabkan munculnya kondisi father hunger atau fatherless.

    “Adapun ciri-ciri dari father hunger atau fatherless yaitu ketika usia biologis anak, khususnya anak laki-laki lebih maju dibandingkan usia psikologisnya,” terangnya.

    Kondisi ini, menurut Irwan seringkali menjadi penyebab utama terjadinya perceraian di masa depan anak.

    Dari pengamatan Irwan, 80% istri meminta bercerai karena suaminya lebih mengalami kemajuan usia biologisnya dibandingkan kematangan psikologisnya.

    Baca: Mengapa pendidikan montessori makin diminati

    Irwan menambahkan, father hunger juga mengakibatkan anak mudah mengalami depresi, menjadi antisosial, rentan melakukan tindak kriminal dan kekerasan, terjerumus seks bebas, narkoba, dan pergaulan terlarang.

    Hal tersebut umumnya terjadi karena anak kehilangan sosok ayah saat anak berada dalam periode emas, di usia 7-14 tahun dan 8-15 tahun.

    Biarpun anak memiliki ayah, namun mereka tidak mendapatkan pendampingan dan pengajaran dari sosok ayah.

    “Father hunger ini dapat menjadi penjara baru bagi anak di rumah. Di sinilah pentingnya memperkuat peran seorang ayah, yaitu loving, coaching, dan modelling,” tegas Irwan.

    Baca: Homeschool Tunas Bangsa tanamkan kebiasaan membaca dan menulis pada siswa

    Irwan berharap pemerintah dapat membuat regulasi yang jelas terkait penguatan peran ayah dalam pengasuhan anak.

    Ia mengingatkan tingginya kasus perceraian di tengah pandemi Covid-19  karena banyak informasi dan simulasi yang tidak jelas diberikan kepada para ayah.

    Banyak ayah yang tidak siap dan panik menghadapi kondisi saat itu. Ia menegaskan mengasuh dan mendidik anak dengan baik merupakan pekerjaan luar biasa.

    Ia menegaskan Indonesia akan melahirkan generasi emas, jika semua ayah berperan hebat dan optimal dalam pengasuhan anak.

    “Saya berharap Kemen PPPA dapat mendukung dan segera meluncurkan Sekolah-Sekolah Ayah di seluruh Indonesia. Hal ini sangatlah penting dan harus disampaikan ke masyarakat,” tambah Irwan.

     

  • Cegah Kasus Pembunuhan Anak Terulang, KPAI Desak Pengesahan RUU Pengasuhan Anak

    Cegah Kasus Pembunuhan Anak Terulang, KPAI Desak Pengesahan RUU Pengasuhan Anak

    7cloud.asia – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) terus mendorong agar Rancangan Undang-undang atau RUU Pengasuhan Anak untuk segera disahkan.

    Salah satu tujuan pengesahan RUU Pengasuhan Anak ini adalah untuk melindungi anak-anak dari situasi yang membahayakan.

    Pentingnya pengesahan RUU Pengasuhan Anak ini disampaikan Wakil Ketua KPAI Jasra Putra menanggapi kasus pembunuhan empat anak yang diduga dilakukan ayah kandungnya di Jagakarsa, Jakarta Selatan.

    “Soal RUU Pengasuhan Anak yang sudah 20 tahun ini diperjuangkan, namun belum berhasil menjadi perhatian, meski sudah masuk Prolegnas di nomor urut 70,” ujarnya seperti dikutip Antaranews.com.

    Baca: Kasus bunuh diri pada anak meningkat

    Keberadaan RUU Pengasuhan Anak ini penting karena untuk melakukan intervensi di dalam keluarga, membutuhkan payung hukum kebijakan yang komprehensif.

    Termasuk ketika ada kekerasan, sehingga petugas dapat segera menindaklanjuti kondisi pengasuhan anak yang terancam.

    Jasra Putra mengatakan, tanggung jawab pengasuhan anak adalah di orang tua.

    Tetapi ketika ditemukan orang tua yang terlibat konflik kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), maka negara dimandatkan untuk memastikan adanya pengasuhan yang layak bagi anak.

    Baca: Usia remaja rentan alami gangguan kesehatan mental

     

    Kesulitan yang terjadi hari ini, ujarnya, payung kebijakan RUU Pengasuhan Anak kita tidak punya.

    “Jadi persoalan anak dibunuh orang tua akan terjadi terus dan tinggal menunggu pengulangan, ketika di dalam keluarga persoalan yang ditangkap hanya soal KDRT, tidak serta soal pengasuhan anak yang layak,” kata Jasra Putra.

    Sebanyak empat anak berinisial VA (6), SP (4), AR (3), AS (1) ditemukan tewas dalam satu kamar di sebuah rumah kontrakan di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan, pada Rabu (6/12/2023).

    Kasus tersebut terungkap berawal dari kecurigaan warga sekitar yang menghirup aroma tidak sedap di sekitar rumah kontrakan yang dihuni pelaku dan keluarganya.

    Baca: Pentingnya mengajarkan toleransi sejak dini

    P, ayah kandung keempat anak itu diduga menjadi pelaku pembunuhan terhadap anak-anaknya.

    Sebelum terjadinya pembunuhan, pada Sabtu (2/12/2023), P dilaporkan ke Polsek Jagakarsa atas dugaan KDRT lantaran menganiaya istrinya inisial D.

    Namun, pemeriksaan belum dilakukan karena korban, yakni D dilarikan ke rumah sakit dan P beralasan sedang mengasuh keempat anaknya di rumah.

    Kasus dugaan pembunuhan empat anak ini kini ditangani oleh Polres Jakarta Selatan.

     

  • Orang tua yang Terlatih Akan Lebih Mampu Meningkatkan Kualitas Pengasuhan Anak

    Orang tua yang Terlatih Akan Lebih Mampu Meningkatkan Kualitas Pengasuhan Anak

    7cloud.asia – Orang tua yang telah terlatih akan lebih mampu meningkatkan kualitas pengasuhan anak yang diterapkan dalam kehidupan mereka.

    ECED Ecosystem Development Lead Tanoto Foundation Fitriana Herarti dalam keterangan resminya mengatakan, penelitian mengungkap pentingnya keterlibatan aktif dan kapasitas pengasuhan anak yang memadai dari orang tua dalam perkembangan otak anak.

    ”Pengasuhan anak tidak lagi cukup didasari oleh insting ataupun meniru bagaimana dulu orang tua diasuh, apalagi anak usia dini memiliki kebutuhan spesifik yang berbeda dengan kelompok usia lainnya,” katanya dikutip Antaranews.com Rabu (29/5/2024).

    Fitriana menuturkan tidak semua orang tua memiliki pemahaman yang sama soal usia emas seorang anak yang dimulai pada usia lima tahun pertamanya.

    Pada usia tersebut, tumbuh kembang anak berlangsung dengan sangat pesat dan tidak akan terulang lagi pada periode selanjutnya.

    Baca: Mengapa laki-laki perlu terlibat dalam pengasuhan anak

    Pesatnya tumbuh kembang ini didasarkan dari hasil riset ilmu syaraf dan perilaku selama beberapa dekade yang menghasilkan sejumlah fakta penting.

    Contohnya perkembangan otak dimulai sejak masa kehamilan hingga mencapai 80 persen di usia tiga tahun yang kemudian akan menjadi fondasi untuk semua capaian belajar, kesehatan dan perilaku di periode usia selanjutnya.

    Ia menambahkan, interaksi dua arah (serve and return) antara orang tua atau pengasuh utama dengan anak menjadi kunci perkembangan otak yang optimal.

    Sebaliknya interaksi yang negatif justru akan menjadi penghambat hingga pengalaman negatif anak di usia dini.

    Fitriana mencontohkan, anak yang mengalami kekerasan, pengabaian, maupun tidak terpenuhinya kebutuhan kesehatan dan gizi akan menghambat optimalisasi perkembangan otak.

    Baca: Pembelajaran berpusat pada anak belum tentu sukses pada semua anak

    Karena itu, ujarnya, pengasuhan anak di periode tiga tahun pertama, harus memastikan anak mendapatkan sejumlah hal, yang meliputi kesehatan yang baik,

    “Termasuk menerima semua imunisasi wajib, kebiasaan hidup bersih dan sehat sehingga anak terhindar dari infeksi berulang, misal diare, malaria, cacingan, campak, cacar,” ujar dia.

    Termasuk pula pemberian gizi yang mencukupi dan memperoleh Pola asuh yang responsif. Anak harus dapat kesempatan belajar lewat bermain dan berinteraksi dengan lingkungannya.

    Hal ini sejalan dengan hasil riset yang pihaknya lakukan selama satu tahun kepada kelompok orang tua dengan anak usia 0-3 tahun di Jakarta, Pandeglang dan Kutai Kartanegara.

    Diketahui bahwa orang tua yang menerima pelatihan dan pendampingan untuk meningkatkan keterampilan pengasuhan mampu membantu anak-anak mereka untuk mencapai peningkatan kemampuan di lima komponen.

    Baca: Pendidikan montessori makin diminati

    Lima komponen itu adalah aspek berpikir, bahasa, motorik, dan sosial-emosional lebih dari anak-anak dari orang tua yang tidak mendapatkan pelatihan atau pendampingan.

    Hal ini menunjukkan betapa pentingnya pengetahuan, kesadaran dan keterampilan pengasuhan orang tua untuk pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini.

    Sayangnya, masih banyak orang tua yang belum memiliki pengetahuan, kesadaran dan keterampilan untuk melakukan pengasuhan yang baik, responsif dan cukup bagi anak-anak mereka di usia 0 hingga 3 tahun.

    “Studi ini juga menguji kualitas pengasuhan anak di rumah melalui instrument Home Observation for Measuring the Environment (HOME).

    Pada kelompok intervensi, peningkatan besar terlihat pada beberapa aspek utama pengasuhan anakdibandingkan dengan kelompok non-intervensi.

    ”Ini bisa dilihat dari responsivitas dalam memenuhi kebutuhan dasar anak, pengelolaan kegiatan sehari hari anak, ketersediaan dan variasi bahan-bahan untuk belajar melalui bermain, serta keterikatan emosional anak dengan orang tuanya,” ujarnya.

  • Hari Anak Nasional 2024: DPR Tekankan Peran Penting Ayah Cegah Fatherless dalam Pengasuhan Anak

    Hari Anak Nasional 2024: DPR Tekankan Peran Penting Ayah Cegah Fatherless dalam Pengasuhan Anak

    7cloud.asia – Memperingati Hari Anak Nasional (HAN) 2024 yang jatuh pada Rabu 23 Juli 2024, Komisi VIII DPR menekankan pentingnya peran ayah dalam pengasuhan dan tumbuh kembang anak.

    Kehadiran sosok ayah dalam pengasuhan anak merupakan hal yang perlu diperhatikan agar membuat anak memiliki kesehatan mental yang baik dan kuat.

    “Selamat Hari Anak Nasional untuk seluruh anak Indonesia. Di tahun ini saya berharap masyarakat dapat memperhatikan pentingnya peran ayah bagi tumbuh kembang anak,” kata Anggota Komisi VIII DPR Selly Andriany Gantina dalam keterangan persnya, Selasa (23/7/2024).

    Di Hari Anak Nasional Selly menyinggung soal DPR yang telah mengesahkan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2024 tentang Kesejahteraan Ibu dan Anak pada Fase Seribu Hari Pertama Kehidupan (UU KIA).

    UU KIA ini saat ini tinggal menunggu aturan turunannya dari Pemerintah agar dapat diimplementasikan di lapangan.

    Baca Juga: Hari Anak Nasional 2023: Negara Diminta Hadir dalam Perlindungan Anak

    “Undang-Undang ini harus menjadi tonggak penting dalam upaya meningkatkan kesejahteraan keluarga di Indonesia,” tuturnya.

    Adapun UU KIA diinisiasi DPR sebagai upaya membangun kesejahteraan ibu dan anak pada tingkatan terkecil agar menjadi tanggung jawab bersama.

    Bukan hanya keluarga saja, namun juga lingkungan karena tumbuh kembang anak merupakan tanggung jawab kolektif bersama, termasuk Pemerintah.

    UU KIA hadir tak hanya mengatur soal cuti melahirkan bagi ibu pekerja saja, tapi juga tentang cuti pendampingan bagi pekerja pria yang istrinya baru saja melahirkan.

     

    Baca Juga: Mengapa Laki-laki Harus Mengambil Peran dalam Pengasuhan Anak

    Lewat UU KIA, ayah dimungkinkan untuk memperpanjang cuti untuk mendampingi istrinya merawat anak yang baru lahir.

    Selly mengatakan, peran ayah sangat diharapkan dalam mengasuh anak terutama karena 1.000 hari fase kehidupan anak merupakan masa kritis di mana anak bertumbuh dan berkembang dengan sangat cepat dan signifikan.

    Dia menegaskan, 1000 hari pertama atau golden period ini tidak bisa terulang dan tidak terjadi pada kelompok usia lain.

    “Perpanjangan cuti ayah ini bisa menjadi langkah krusial untuk memastikan hak tersebut dapat diakses secara merata oleh pekerja. Peran ayah sangatlah dibutuhkan baik untuk ibu maupun anak,” sambungnya.

    Baca Juga: Orang tua yang Terlatih Akan Lebih Mampu Meningkatkan Kualitas Pengasuhan Anak

    Dalam UU KIA memang ada klausul yang menegaskan bahwa mengasuh anak adalah tanggung jawab bersama ayah dan ibu.

    Mulai dari mempersiapkan segala hal sebelum kehamilan seperti menjaga dan memeriksakan kondisi saat perencanaan kehamilan, lalu ketika ibu hamil, sampai saat ibu melahirkan dan pasca melahirkan hingga ibu menyusui.

  • #AyahJugaBisa Mendorong Keterlibatan Aktif Ayah dalam Pengasuhan Anak

    #AyahJugaBisa Mendorong Keterlibatan Aktif Ayah dalam Pengasuhan Anak

    7cloud.asia – Keterlibatan aktif seorang ayah dalam pengasuhan anak tidak hanya mempercepat perkembangan kognitif, tetapi juga memperkuat kesehatan mental dan rasa percaya diri anak.

    Peran ayah dalam pengasuhan anak ini diungkapkan dokter spesialis anak Mesty Ariotedjo yang mengutip sebuah studi internasional yang menyebut

    “Penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan ayah bukan sekadar ‘bonus’ dalam pengasuhan, melainkan komponen penting yang membentuk perkembangan anak secara holistik,” ujar Mesty dalam keterangan pers yang diterima, Jumat (10/10/2025).

    Mesty yang juga CEO Tentang Anak ini mengatakan, Indonesia memiliki tantangan nyata yang signifikan di mana menurut data BKKBN, satu dari lima anak Indonesia tumbuh tanpa kehadiran aktif figur ayah, atau fenomena yang dikenal sebagai masalah “fatherless”.

    Maka itu, Tentang Anak melalui brand perawatan anak Expert Care berinisiatif mengubah paradigma pengasuhan di Indonesia dengan mendorong peran aktif ayah dalam tumbuh kembang anak dengan tagar #AyahJugaBisa.

    Baca: Peran penting ayah untuk mencegah fatherless dalam pengasuhan anak

    Gerakan #AyahJugaBisa hadir untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya kesetaraan peran dalam pengasuhan anak, serta memberikan dukungan praktis bagi para ayah yang ingin lebih terlibat.

    Edukasi ini berupa rangkaian rutinitas yang bisa dibangun antara ayah dan anak dalam kegiatan sehari-hari dan meningkatkan momen kedekatan yang menyenangkan bagi anak maupun orang tua.

    Di antaranya setelah mandi atau sebelum tidur ayah bisa melakukan rutinitas sederhana dengan mengoleskan lotion kepada anak, memberikan rasa hangat dengan menggunakan minyak telon dengan formula lembut, menyisir rambut dan melakukan rutinitas menyikat gigi bersama.

    “Kami percaya bahwa ketika ayah dan ibu berjalan beriringan dalam pengasuhan, mereka menciptakan fondasi yang kokoh bagi tumbuh kembang anak. Dari kelembutan dan kehadiran orangtua, tumbuh generasi Indonesia yang kuat, percaya diri, dan siap menghadapi masa depan,” tambah Mesty.

    Edukasi ini juga menghadirkan figur publik dan juga seorang ayah Dion Wiyoko, yang menyadari bahwa anak bukan hanya membutuhkan kehadiran ayah tapi juga kelembutan dan kasih sayang.

    Baca: Kebijakan cuti ayah diatur di UU Kesejahteraan Ibu dan Anak

    Dion mengatakan gerakan ini bisa menjadikan ajakan bagi semua ayah untuk hadir sepenuh hati untuk tumbuh kembang anak yang optimal.

    “Betapa berharganya setiap momen bersama mereka—baik saat memandikan, membacakan dongeng sebelum tidur, atau sekadar bermain bersama.

    Gerakan #AyahJugaBisa bersama Expert Care menjadi ajakan bagi kita semua sebagai ayah untuk hadir sepenuh hati, karena tumbuh kembang optimal anak ditentukan oleh cinta yang mereka rasakan hari ini,” ujar Dion.

    Lewat kampanye #AyahJugaBisa, Expert Care ingin menumbuhkan budaya pengasuhan baru di Indonesia, di mana ayah dan ibu bergerak bersama, saling melengkapi, dan memberikan ruang terbaik bagi anak untuk tumbuh optimal.

    Gerakan ini menandai lahirnya cara pandang baru yaitu meninggalkan dari pola pikir lama yang membatasi peran ayah, menuju masa depan di mana setiap ayah Indonesia bangga hadir dalam merawat dan mendampingi anaknya dengan kelembutan, ketenangan, serta dukungan berbasis ilmu.

    Baca: Orang tua yang terlatih akan meningkatkan kualitas pengasuhan anak