Tag: pengungsian

  • UNRWA: Wabah Polio Membayangi Lokasi Pengungsian di Seluruh Jalur Gaza

    UNRWA: Wabah Polio Membayangi Lokasi Pengungsian di Seluruh Jalur Gaza

    7cloud.asia – Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk pengungsi Palestina di Timur Dekat (UNRWA) pada Kamis (24/7/2024) membenarkan bahwa virus polio telah terdeteksi di lokasi pengungsian di seluruh Jalur Gaza.

    UNRWA melalui siaran persnya menyatakan, pihaknya sedang berkoordinasi dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan UNICEF untuk mengambil langkah yang diperlukan guna mencegah penyebaran virus polio ini.

    Virus Polio biasanya tersebar lewat tinja. Virus polio dapat mengakibatkan penyakit polio yang dapat menyebabkan kelumpuhan dengan kerusakan motor neuron pada cornu anterior dari sumsum tulang belakang akibat infeksi virus polio.

    Sebelumnya, UNRWA mengatakan bahwa anak-anak menanggung akibat terbesar imbas perang di Jalur Gaza di tengah pengungsian dan kekhawatiran hilangnya masa kecil mereka.

    Lewat unggahan di medsos X, UNRWA menambahkan, “Rekan-rekan UNRWA kami terus memberikan kegiatan psikologis, sosial dan rekreasi untuk kembali ke kehidupan normal semaksimal mungkin.”

    Baca: Israel berupaya melabeli UNRWA sebagai organisasi teroris

    “Anak-anak selayaknya bisa menjadi anak-anak,” tulis UNRWA.

    Dalam sebuah laporan, UNRWA menyatakan bahwa Israel telah memerintahkan evakuasi di 83 persen wilayah di Jalur Gaza.

    Kondisi ini menyebabkan sekitar 1,9 juta warga Palestina kini hidup dalam kondisi kehausan dan kelaparan.

    Laporan itu juga menyoroti bahwa 197 anggota staf UNRWA tewas dalam penembakan yang dilakukan Israel di Jalur Gaza, yang menargetkan 189 fasilitas milik UNRWA.

    Serangan Israel telah mengakibatkan 563 pengungsi tewas dan 1.783 orang lainnya yang berlindung di fasilitas-fasilitas yang dijadikan UNRWA sebagai tempat pengungsian terluka.

    Baca: 453 Serangan Israel Menyasar Fasilitas Kemanusiaan Milik UNRWA

    Pejabat komunikasi UNRWA, Louise Wateridge, dalam wawancara dengan stasiun radio BBC Radio 4 Inggris, Selasa (22/7/2024), mengatakan Israel telah memerintahkan evakuasi di lebih dari 80 persen wilayah di Jalur Gaza dan ribuan warga Palestina terus mengungsi dari Kota Khan Younis.

    Sejak awal agresi pendudukan di Jalur Gaza 7 Oktober 2023, sekitar 39.090 warga sipil terbunuh dan 90.147 orang lainnya terluka. Mayoritas dari mereka adalah perempuan dan anak-anak.

    Sementara itu, ribuan korban masih hilang.

    Kemungkinan mereka terkubur di bawah reruntuhan atau tergeletak di jalan lantaran tim penyelamat kesulitan menjangkau mereka karena serangan Israel hingga kini masih berlangsung dan banyak tumpukan puing-puing.

    Di Tepi Barat, jumlah korban tewas akibat serangan pasukan pendudukan dan pemukim bertambah menjadi 589 orang, termasuk 142 anak, sejak awal agresi.

    Sumber: Antaranews.com/WAFA/SPA

  • Dua Bulan Pasca Banjir Sumatera, 111.788 Warga Terdampak Masih Tinggal di Pengungsian

    7cloud.asia – Dua bulan pasca bencana banjir Sumatera, Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana di Sumatera mencatat masih ada 111.788 warga terdampak yang tinggal di pengungsian.

    Juru Bicara Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Wilayah Sumatera, Amran mengatakan Aceh tercatat sebagai wilayah dengan jumlah warga yang mengungsi terbanyak, yakni 91.663 jiwa.

    Dalam jumpa pers Kantor Kemendagri, Jakarta Pusat, Kamis (29/1/2026) Amran merinci jumlah pengungsi di Sumatera Barat sebanyak 9.040 jiwa dan di Sumatera Utara sebanyak 11.085 jiwa.

    Menanggapi kondisi ini, Dekan Fakultas Psikologi UGM, Rahmat Hidayat, S.Psi. M.Sc., Ph.D., menyampaikan terdapat tiga masalah psikologis yang mungkin dihadapi penyintas banjir Sumatera yang hingga kini masih bertahan di pengungsian.

    Pertama, adanya masalah traumatik akibat dari mengalami peristiwa banjir/longsor secara langsung. Kedua, kehilangan keluarga, saudara, teman, harta benda, hingga harapan masa depan.

    Terakhir, penyesuaian terhadap kondisi kehidupan baru yang membuat mereka memilih tinggal di pengungsian bersama banyak orang.

    Baca: Tata kelola lingkungan harus dibenahi pasca banjir Sumatera

    “Penyesuaian pasca bencana dilihat dari sejauh mana pengembalian fungsi normal, sejauh itu pula kondisi psikologis mereka dapat dipulihkan,” ujarnya Jumat (30/1/2026) seperti dilansir di ugm.ac.id 

    Rahmat menyatakan bahwa dalam keadaan masyarakat di tempat pengungsian sangat berpengaruh terhadap kondisi psikologis mereka.

    Dalam lingkungan pengungsian terdapat jejaring sosial yang kuat, dibutuhkan dukungan antar pengungsi maka akan memberikan dampak positif bagi mereka. Pola aktivitas yang dilakukan pengungsi turut memberikan kontribusi dalam psikologis mereka.

    “Lingkungan baik yaitu lingkungan yang memberikan kenyamanan dan keamanan secara fisik serta dapat memulihkan fungsi sosial pengungsi,” katanya.

    Menurut Rahmat, kunci pemulihan psikologis pengungsi terletak pada terciptanya rasa aman. Dengan adanya ancaman bencana susulan memberikan pengaruh besar pada psikologis mereka.

    Oleh karena itu, kehadiran para relawan memberi ketenangan pada mereka sehingga tidak memiliki rasa ditinggalkan sebagai bagian dari warga negara.

    Baca: Pembangunan hunian sementara jangan hanya didasarkan pada aspek fisik

    “Yang paling penting memastikan masyarakat tidak merasa ditinggalkan, tidak merasa mereka tidak mendapatkan perhatian yang memadai dari pemerintah,” ucapnya.

    Lebih lanjut, Rahmat mengatakan bahwa UGM turut memberikan kontribusi dalam pemulihan kondisi psikologis para pengungsi dengan memberikan dukungan bersama jejaring Perguruan Tinggi dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) setempat.

    Bantuan yang diberikan berupa dukungan dalam bentuk pelatihan psychological first aid dan monitoring serta dukungan jarak jauh berkelanjutan.

    “Kita tetap hadir membersamai mereka melalui masa-masa yang sulit ini secara langsung ataupun tidak langsung melalui dukungan terhadap mitra-mitra setempat yang memiliki akses langsung,” katanya.

    Ia menambahkan bahwa penanganan dampak banjir Sumatera memerlukan proses jangka panjang. Oleh karena itu, pemerintah perlu hadir untuk memberikan ketenangan kepada masyarakat bahwa mereka tidak ditinggalkan dan bukan sekadar objek politik saja.

    Namun, turut memberikan rasa tenang dan pengertian bahwa sebagai warga negara Indonesia, mereka merasakan pemerintah yang mengayomi, memberikan perlindungan dan memberikan jaminan rasa aman di masa depan.

    “Bantuan yang hadir tidak hanya dalam bentuk ketercukupan secara fisik tetapi juga kehadiran dalam arti didampingi, ditemani menjadi sesuatu yang perlu kita perhatikan,” harapnya.