7cloud.asia – Dua bulan pasca bencana banjir Sumatera, Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana di Sumatera mencatat masih ada 111.788 warga terdampak yang tinggal di pengungsian.
Juru Bicara Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Wilayah Sumatera, Amran mengatakan Aceh tercatat sebagai wilayah dengan jumlah warga yang mengungsi terbanyak, yakni 91.663 jiwa.
Dalam jumpa pers Kantor Kemendagri, Jakarta Pusat, Kamis (29/1/2026) Amran merinci jumlah pengungsi di Sumatera Barat sebanyak 9.040 jiwa dan di Sumatera Utara sebanyak 11.085 jiwa.
Menanggapi kondisi ini, Dekan Fakultas Psikologi UGM, Rahmat Hidayat, S.Psi. M.Sc., Ph.D., menyampaikan terdapat tiga masalah psikologis yang mungkin dihadapi penyintas banjir Sumatera yang hingga kini masih bertahan di pengungsian.
Pertama, adanya masalah traumatik akibat dari mengalami peristiwa banjir/longsor secara langsung. Kedua, kehilangan keluarga, saudara, teman, harta benda, hingga harapan masa depan.
Terakhir, penyesuaian terhadap kondisi kehidupan baru yang membuat mereka memilih tinggal di pengungsian bersama banyak orang.
Baca: Tata kelola lingkungan harus dibenahi pasca banjir Sumatera
“Penyesuaian pasca bencana dilihat dari sejauh mana pengembalian fungsi normal, sejauh itu pula kondisi psikologis mereka dapat dipulihkan,” ujarnya Jumat (30/1/2026) seperti dilansir di ugm.ac.id
Rahmat menyatakan bahwa dalam keadaan masyarakat di tempat pengungsian sangat berpengaruh terhadap kondisi psikologis mereka.
Dalam lingkungan pengungsian terdapat jejaring sosial yang kuat, dibutuhkan dukungan antar pengungsi maka akan memberikan dampak positif bagi mereka. Pola aktivitas yang dilakukan pengungsi turut memberikan kontribusi dalam psikologis mereka.
“Lingkungan baik yaitu lingkungan yang memberikan kenyamanan dan keamanan secara fisik serta dapat memulihkan fungsi sosial pengungsi,” katanya.
Menurut Rahmat, kunci pemulihan psikologis pengungsi terletak pada terciptanya rasa aman. Dengan adanya ancaman bencana susulan memberikan pengaruh besar pada psikologis mereka.
Oleh karena itu, kehadiran para relawan memberi ketenangan pada mereka sehingga tidak memiliki rasa ditinggalkan sebagai bagian dari warga negara.
Baca: Pembangunan hunian sementara jangan hanya didasarkan pada aspek fisik
“Yang paling penting memastikan masyarakat tidak merasa ditinggalkan, tidak merasa mereka tidak mendapatkan perhatian yang memadai dari pemerintah,” ucapnya.
Lebih lanjut, Rahmat mengatakan bahwa UGM turut memberikan kontribusi dalam pemulihan kondisi psikologis para pengungsi dengan memberikan dukungan bersama jejaring Perguruan Tinggi dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) setempat.
Bantuan yang diberikan berupa dukungan dalam bentuk pelatihan psychological first aid dan monitoring serta dukungan jarak jauh berkelanjutan.
“Kita tetap hadir membersamai mereka melalui masa-masa yang sulit ini secara langsung ataupun tidak langsung melalui dukungan terhadap mitra-mitra setempat yang memiliki akses langsung,” katanya.
Ia menambahkan bahwa penanganan dampak banjir Sumatera memerlukan proses jangka panjang. Oleh karena itu, pemerintah perlu hadir untuk memberikan ketenangan kepada masyarakat bahwa mereka tidak ditinggalkan dan bukan sekadar objek politik saja.
Namun, turut memberikan rasa tenang dan pengertian bahwa sebagai warga negara Indonesia, mereka merasakan pemerintah yang mengayomi, memberikan perlindungan dan memberikan jaminan rasa aman di masa depan.
“Bantuan yang hadir tidak hanya dalam bentuk ketercukupan secara fisik tetapi juga kehadiran dalam arti didampingi, ditemani menjadi sesuatu yang perlu kita perhatikan,” harapnya.
Leave a Reply