Tag: penyakit

  • Mengenal Meditasi sebagai Teknik Pengobatan

    Mengenal Meditasi sebagai Teknik Pengobatan

    7cloud.asia – Pikiran yang tenang disebut sebagai salah satu obat terbesar bagi banyak penyakit. Meditasi bisa menjadi jalan untuk menghadirkan pikiran yang tenang itu.

    Meditasi bisa membangun pikiran yang tenang di tengah kekacauan hidup yang bisa memicu beragam penyakit. Lebih dari itu, meditasi bermanfaat bagi kesehatan fisik, mental, emosional, dan spiritual kita dalam jangka panjang.

    Pada tahun 1960, penelitian ilmiah dimulai pada penggunaan meditasi dalam lingkungan klinis untuk membantu orang yang menderita sejumlah masalah kesehatan mental seperti stres, kecemasan, depresi dan insomnia, antara lain.

    Saat ini juga berkembang konsep meditasi mindful modern mengarah pada pengembangan terapi berbasis mindfulness.

    Baca: Olah raga pada sore hari efektif atasi diabetes tipe 2

    Salah satu hasil paling berpengaruh dari penelitian ilmiah teknik meditasi adalah program Pengurangan Stres Berbasis Perhatian (MSBR) yang disetujui secara klinis oleh Jon Kabat-Zinn.

    Teknik meditasi ini menggunakan teknik perhatian untuk menangani kondisi fisiologis seperti kecanduan, insomnia, dan lain sebagainya.

    MSBR mengilhami terapi berbasis kesadaran lain yang disebut Terapi Kognitif Berbasis Perhatian (MBCT), yang merupakan kombinasi penggunaan perhatian dan terapi kognitif untuk mengobati gangguan depresi mayor.

    Bagi banyak orang yang mendambakan keseimbangan dalam hidupnya, antara pekerjaan dan kehidupan pribadinya, aktivitas dan istirahat, atau pikiran dan tubuh, meditasi juga bisa menjadi jawaban.

    Baca: Kenali gejala diabetes melitus pada anak

    Di tulisan ini kita akan mengulik tentang meditasi terpandu yang kini mulai dilirik banyak orang.

    Meditator berpengalaman setuju bahwa meditasi terpandu sangat membantu pemula untuk menenangkan pikiran dan membantu fokus.

    Alasannya,  tak mudah bagi seorang pemula untuk melakukan jalan meditasi sendirian. Untuk pemula, berlatih meditasi di bawah bimbingan, baik dengan guru atau menggunakan teknologi akan membantu.

    Dilansir unitedwecare, meditasi terpandu memungkinkan seorang pemula untuk mengalami langkah-langkah meditasi untuk mendapatkan hasil maksimal dari latihan.

    Baca: Kondisi lingkungan bagus bagi penyembuhan pasien asma

    Teknik yang berbeda tersedia untuk meditasi terpandu. Sementara langkah-langkah yang tepat dapat bervariasi, sebagian besar teknik ini melatih seseorang untuk mengarahkan fokus ke diri mereka sendiri. 

    Apa itu Meditasi?
    Meditasi adalah praktik menggunakan teknik tertentu untuk memfokuskan pikiran pada aktivitas, pikiran, atau objek tertentu untuk mencapai kejernihan. Meditasi bisa meningkatkan kesadaran, dan mencapai keadaan tenang atau damai.

    Meditasi telah dipraktekkan di banyak agama, seperti Hindu, Buddha dan Yudaisme.

    Dengan praktik yang terkait dengan aspek untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang agama, keyakinan dan diri sendiri, dan berhubungan dengan Tuhan.

    Baca: Kontroversi penggunaan ganja untuk pengobatan

    Misalnya, dalam agama Buddha, meditasi adalah sarana untuk mencapai pencerahan jiwa.

    Penyebutan mediatasi awalnya ditemukan dalam teks-teks Veda Hinduisme dan sebagai jalan spiritual Sang Buddha mencapai pencerahan dan kebangkitan melalui kesadaran penuh.

    Meditasi akhirnya menyebar ke seluruh Asia dengan penyebaran agama Buddha dan peningkatan perdagangan di Jalur Sutra.

    Meditasi kemudian menyebar ke barat di suatu tempat sekitar abad ke-17 ketika teks-teks agama timur diterjemahkan dan mulai dipopulerkan ke dalam budaya barat.

    Baca: Rokok dan polusi udara, mana yang lebih mematikan?

    Guru meditasi dari timur mulai melakukan perjalanan ke barat dan berbagi pengetahuan mereka dengan mereka yang tertarik dengan mistisisme yang terkait dengan agama timur seperti Buddhisme.

    Ketika agama Buddha menyebar ke barat, praktik meditasi kesadaran juga menyebar.

    Meditasi dapat bervariasi berdasarkan ajaran yang berbeda – masing-masing menggunakan tekniknya sendiri untuk membenamkan tubuh dan pikiran ke dalam keadaan fokus, kesadaran, dan kejernihan meditasi yang mendalam.

    Sumber: unitedwecare.com

  • Waspadai Nyeri Pinggang yang Berkepanjangan, Karena Bisa Jadi Pertanda Penyakit Serius

    Waspadai Nyeri Pinggang yang Berkepanjangan, Karena Bisa Jadi Pertanda Penyakit Serius

    7cloud.asia – Nyeri pinggang adalah keluhan yang jamak dilontarkan mereka yang banyak menghabiskan waktunya di belakang meja. 

    Nah, buat Anda yang kerap merasakan nyeri pinggang ini harus waspada. Pasalnya nyeri pinggang bisa menjadi indikasi atau pertanada sejumlah penyakit.

    Koordinator Bidang Ilmiah Ikatan Ahli Urologi Indonesia Dr Lukman Hakim, Sp.U(K), MARS, Ph.D mengatakan, nyeri di pinggang bisa jadi pertanda ada penyakit kanker ginjal, batu ginjal atau bahkan encok.

    Namun, nyeri pinggang seperti apa yang menyebabkan sejumlah penyakit itu sulit dibedakan. Karena keluhannya hampir sama.

    Baca: Ini bahayanya jika sering duduk terlalu lama

    Walau begitu, Lukman mengatakan, ada satu nyeri spesifik yang dipastikan bukan disebabkan tumor di ginjal, batu ginjal ataupun batu di uretra-saluran yang berfungsi mengeluarkan urine dari dalam tubuh-,yakni nyeri menjalar.

    “Nyeri dari perut sebelah kanan depan menjalar menuju ke pinggang kanan belakang atau sebelah kiri, biasanya bukan nyeri karena tumor ginjal atau nyeri karena batu ginjal atau batu di uretra,” ujar dia dalam diskusi media bertema “Mengenal Kanker Ginjal” yang digelar daring, Rabu (20/9/2023)

    Dilansir Antaranews.com, Lukman mengatakan untuk memastikan penyebab nyeri di pinggang, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan salah satunya ultrasonografi atau USG untuk melihat ada apa di pinggang termasuk ginjal.

    Keluhan nyeri pinggang pada kasus kanker ginjal biasanya muncul saat stadiumnya 3, sementara pada stadium awal yakni 1 dan 2 biasanya jarang atau terkadang tidak memberikan gejala apapun.

    Baca: Kiat berolahraga di tempat dengan polusi udara

    “Jadi ginjal itu letaknya di pinggang kanan dan kiri. Ada dua ginjal. Kalau ada benjolan dan cukup besar, maka keluhan pertama yang dikeluhkan pasien mungkin nyeri (di pinggang),” jelas Lukman.

    Lukman yang menjabat sebagai Kepala Staf Medik Urologi Rumah Sakit Universitas Airlangga itu kemudian mengatakan, selain nyeri pinggang, gejala kanker pada ginjal yakni urine berwarna merah.

    Ini karena kanker merupakan benjolan yang rapuh dan mudah berdarah, sehingga darah akan mengalir ke saluran kencing dan dikeluarkan sebagai kencing yang berwarna merah atau kencing darah.

    Selanjutnya, apabila kanker sudah masuk stadium 4 atau sudah menyebar ke organ tubuh lain maka keluhan pasien akan tergantung pada organ yang terkena.

    Baca: Manfaat meditasi untuk kesehatan

    Semisal pada paru, keluhan yang bisa muncul seperti batuk-batuk atau batuk darah.

    “Begitu dicek lengkap ternyata di paru banyak benjolan, setelah dilakukan pemeriksaan lebih lengkap ternyata ditemukan ada tumor ganas atau kanker di ginjalnya namun sudah sampai pada stadium 4 dan menyebar ke paru,” jelas Lukman.

    Lalu, apabila kanker menyebar ke otak, bisa memunculkan gejala berupa kejang-kejang atau penurunan kesadaran.

    Sementara bila sudah mencapai tulang maka nyeri atau pegal-pegal pada tulang merupakan contoh keluhan yang dapat dirasakan pasien.

     

  • Jumlah Kasus Cacar Monyet Terus Meningkat, Ahli Perkirakan Bisa Tembus 3600 Kasus  

    Jumlah Kasus Cacar Monyet Terus Meningkat, Ahli Perkirakan Bisa Tembus 3600 Kasus  

    7cloud.asia – Jumlah kasus cacar monyet atau monkeypox di Indonesia terus bertambah. Hingga kini terkonfirmasi positif 14 kasus. Jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat, bahkan hingga tembus 3600 kasus sampai akhir tahun.

    Hal ini diungkapkan Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, Maxi Rein Rondonuwu berdasarkan perkiraan epidemiolog atau ahli dalam bidang investigasi pola dan penyebaran suatu penyakit.

    “Prediksi kita, setelah undang para epidemiolog, mereka lihat rate yang terjadi di Inggris lalu memperkirakan kasus kita dengan jumlah populasi kunci, itu bisa 3.600 orang kalau tidak dilakukan preventif dengan baik,” jelas Maxi seperti yang dilansir CNBC Indonesia. 

    Memang, lanjut Maxi, saat ini sudah ada vaksin cacar monyet. Tetapi yang paling utama adalah melakukan tindakan preventif untuk mencegah penyebaran kasus yang lebih luas.

    baca juga:kasus cacar monyet meningkat pengawasan kesehatan bandara soetta diperketat

    Saat ini Kemenkes tengah melakukan berbagai upaya. Salah satunya memperkuat edukasi kepada kelompok berisiko.

    “Yang pasti harus menerapkan perilaku hidup sehat, jangan melakukan hubungan seks kalau ada gejala, dan lakukan hubungan seks yang aman dengan memakai kondom,” urainya. 

    Kasus cacar monyet merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus monkeypox. Penyakit ini pada tahun 2022 lalu menjadi kekhawatiran dunia.

    Bahkan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun lalu menetapkan status darurat untuk penyakit cacar monyet. Tetapi saat itu Indonesia hanya mengonfirmasi satu kasus positif.

    baca juga: kasus cacar monyet di jakarta bertambah dinkes dki imbau masyarakat waspada

    Menurut WHO, tanda dan gejala penyakit cacar monyet umumnya muncul dalam waktu tujuh hari, tetapi dapat muncul mulai satu sampai 21 hari setelah terpapar.

    “Biasanya gejala berlangsung selama dua hingga empat minggu, tetapi bisa berlangsung lebih lama pada seseorang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah,” sebut WHO.

    Berikut gejala umum penyakit cacar monyet.

    1. Ruam
    2. Demam
    3. Sakit tenggorokan
    4. Sakit kepala
    5. Nyeri otot
    6. Nyeri punggung
    7. Lemas
    8. Pembengkakan kelenjar getah bening

    Biasanya, ruam dimulai sebagai luka yang kemudian melepuh dan berisi cairan. Luka melepuh berisi cairan itu akan terasa gatal atau menyakitkan. Setelah ruam sembuh, lesi akan mengering, membentuk kerak, dan hilang.

    Lesi kulit bisa muncul di telapak tangan atau telapak kaki, wajah, mulut, tenggorokan, selangkangan, area genital, dan anus.

    baca juga: status darurat pendemi covid 19 dicabut apakah masih harus mengenakan masker

    “Beberapa orang juga dapat mengalami pembengkakan yang menyakitkan di sekitar rektum atau rasa sakit dan kesulitan saat buang air kecil,” papar WHO.

    Karena itu, beberapa tindakan pencegahan yang dianjurkan agar terhindari dari penyakit cacar monyet, yaitu:

    • Tidak berganti-ganti pasangan seks
    • Tidak melakukan seks oral, anal, dan vagina atau menyentuh alat kelamin atau anus orang yang terkena cacar monyet
    • Tidak memeluk, memijat, mencium, atau berbicara dari jarak sangat dekat
    • Tidak menyentuh kain dan benda saat berhubungan seks yang digunakan oleh penderita cacar monyet, seperti tempat tidur, handuk, dan mainan seks.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • WHO Tetapkan Penyakit Cacar Monyet sebagai Darurat Kesehatan Sejak 2022, Seperti Ini Kondisinya di Indonesia

    WHO Tetapkan Penyakit Cacar Monyet sebagai Darurat Kesehatan Sejak 2022, Seperti Ini Kondisinya di Indonesia

    7cloud.asia – Infeksi virus Mpox  atau yang juga dikenal sebagai cacar monyet menjadi perhatian di banyak belahan dunia, termasuk Indonesia.

    Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan penyakit Cacar Monyet atau MPox ini sebagai darurat kesehatan masyarakat global pada Juli 2022.

    Laporan WHO juga menyinggung kekhawatiran bahwa cacar monyet ini terabaikan di wilayah Asia Tenggara karena kurangnya akses terhadap fasilitas medis yang memadai.

    Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta, tercatat ada 15 orang dengan kasus positif cacar monyet, dan 1 kasus sembuh (Agustus 2022).

    Baca: Ahli sebut kasus cacar monyet capi ribuan kasus

    Selain itu dari 14 orang kasus positif aktif (positivity rate PCR 44 persen) cacar monyet, dimana hampir semua bergejala ringan dan tertular secara kontak seksual.

    Data tersebut juga menyebutkan bahwa semua pasien tersebut adalah laki-laki usia 25-50 tahun.

    Selain itu, data DKI Jakarta juga menyebutkan bahwa terdapat 20 orang dengan hasil PCR negatif, dan 2 orang yang masih menunggu hasil PCR.

    Dari tanggal 13 Oktober hingga saat ini terdapat 14 orang dengan kasus positif atau terduga positif yang saat ini tengah menjalani isolasi di RS.

    Sementara itu, Kementerian Kesehatan juga telah menyediakan vaksin cacar monyet atau MPox yang telah diberikan kepada 251 orang dari target 495 orang.

    Baca: Pengawasan di Bandara Soetta diperketat untuk cegah penyebaran cacar monyet

    Penyakit cacar monyet ini disebabkan oleh virus yang ditularkan dari hewan ke manusia dan dapat menimbulkan gejala ringan hingga berat

    Mpox atau cacar monyet dapat menular dari manusia ke manusia dan tidak hanya dari hewan ke manusia.

    Cepatnya penyebaran cacar monyet Mpox secara global dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti tingginya jumlah orang yang bepergian; perdagangan internasional hewan seperti monyet.

    Satu hal yang perlu diwaspadai adalah munculnya jalur penularan baru cacar monyet dari manusia ke manusia, khususnya melalui hubungan seksual sesama laki-laki.

    Munculnya gejala yang tidak biasa dan masih minimnya ketersediaan vaksin cacar monyet di negara-negara berisiko tinggi.

    Lebih dari 90 persen kasus cacar monyet di dunia dilaporkan pada populasi khusus yaitu homoseksual dan biseksual.

    Baca: Kasus cacar monyet di Jakarta meningkat, warga diminta waspada

    Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Moh. Adib Khumaidi mengatakan, PB IDI melalui Satgas MPox akan terus mengawal perkembangan kasus cacar moyet di Indonesia.

    “Diperlukan upaya berkelanjutan dan kerja sama dari seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, organisasi layanan kesehatan, dan organisasi internasional agar dapat mengatasi masalah Mpox di Asia Tenggara ini secara efektif,” ujar Adib dalam keterangan tertulis yang diterima Senin (30/10/2023).

    Adib menambahkan perlu juga dilakukan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap penyakit cacar monyet ini dan peningkatan akses terhadap pengobatan yang efektif.

    IDI juga meminta pemerintah untuk meningkatkan pendanaan untuk penelitian dan upaya pengendalian, serta pembentukan respons terkoordinasi yang melibatkan partisipasi semua negara terutama di Asia Tenggara.

    Ketua Satgas MPox PB IDI, Hanny Nilasari, mengatakan bahwa kurangnya kesadaran masyarakat terhadap penyakit ccar monyet menjadi adalah salah satu alasan utama diabaikannya penyakit ini di Asia Tenggara.

    Baca: Waspadai nyeri pinggang berkepanjangan

    Banyak masyarakat, ujarnya, yang masih belum mengetahui gejala Mpox dan mungkin tidak tahu cara melindungi diri dari penyakit tersebut.

    “Kurangnya informasi ini dapat menyebabkan keterlambatan dalam mencari pertolongan medis, yang dapat berakibat lebih parah. Selain itu, sering terjadi kesalahpahaman cacar monyet ini bukanlah penyakit serius atau tidak umum terjadi,” ujarnya.

    Dia mengingatkan, hal ini dapat mengakibatkan kurangnya kepedulian terhadap penyakit ini dan keengganan mengambil tindakan untuk melindungi diri dari infeksi.

    Hanny menekankan pentingnya meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai gejala-gejala penyakit cacar monyet ini, dan mendidik masyarakat tentang cara melindungi diri dari infeksi.

    “Dengan cara ini, kita dapat mengurangi penyebaran penyakit dan meningkatkan hasil bagi mereka yang terinfeksi,” katanya. 

    Baca: Ini bahayanya jika duduk terlalu lama

    Dia mengatakan, banyak penderita cacar monyet memiliki gejala ringan, yang mungkin tidak cukup parah sehingga memerlukan perhatian medis.

    Hal ini dapat mengakibatkan penyakit ini terabaikan, karena orang mungkin berasumsi bahwa gejalanya tidak serius dan akan sembuh dengan sendirinya.

    Namun, kasus Mpox yang ringan sekalipun dapat menular dan menyebabkan penyebaran penyakit, serta berakibat fatal terutama pada pasien dengan imunitas rendah.

  • Neuropati Perifer Kerap Muncul Pada Penderita Diabetes, Begini Cara Mencegahnya

    Neuropati Perifer Kerap Muncul Pada Penderita Diabetes, Begini Cara Mencegahnya

    7cloud.asia – Berbagai cara dapat dilakukan untuk mencegah neuropati perifer, salah satunya adalah dengan pengendalian berat badan terutama penderita diabetes yang rentan mengalami hal ini.

    Hal ini diungkapkan oleh Kepala Departemen Endokrinologi Rumah Sakit DMH Pune India Dr. Vaishali Deshmukh dalam forum bincang media oleh P&G Health dalam rangka Hari Diabetes Sedunia 2023.

    “Kita harus lebih fokus pada pencegahan daripada pengobatannya karena begitu penyakit ini muncul maka sudah tidak bisa disembuhkan lagi,” ujar Dr. Vaishali Deshmukh seperti yang dikutip Antaranews.

    Neuropati perifer adalah gangguan pada saraf tepi yang menimbulkan sensasi kebas, kesemutan, rasa seperti tertusuk, dan sensasi panas pada bagian ujung tubuh, misalnya tangan dan kaki.

    baca: apakah penderita diabetes sama sekali nggak boleh konsumsi gula

    Kerusakan saraf tepi bisa mengenai sistem saraf sensorik atau perasa, sistem saraf motorik, sistem saraf otonom, atau kombinasi dari ketiga sistem saraf tersebut.

    Karena itu, lanjut Vaishali, ada tiga cara untuk mencegah neuropati adalah pengendalian berat badan, pengendalian glikemik (peningkatan gula darah dari karbohidrat pangan), dan pemenuhan vitamin.

    Selain itu, mencegah kecanduan juga dapat mengurangi dampak neuropati pada pengidapnya.

    Menurutnya ketiga strategi ini amat mudah dijalankan untuk mencegah penyakit neuropati perifer.

    Selanjutnya Vaishali menjelaskan langkah-langkah ini penting diperkenalkan bagi masyarakat karena di India khususnya, 74,2 juta penduduknya mengidap diabetes dan setengah dari mereka berisiko tinggi mengalami neuropati.

    https://www.rubaca: kenali gejala dan penanganan diabetes melitus pada anak

    Sementara itu, ahli farmasi dan Asisten Wakil Direktur, Akademik dan Riset dari Lyceum of the Philippines University Davao, Dr. Kenny James Merin mengatakan ahli farmasi juga bisa berperan menangani neuropati perifer sesuai dengan kejuruannya.

    “Pertama, tanyakan pertanyaan yang tepat pada pasien, lalu lakukan tes sederhana supaya kita tahu apakah pasien itu menderita penyakit neuropati yang melemahkan mereka,” jelas Merin.

    Selain itu, ahli farmasi juga dapat memberi suplemen vitamin B kompleks, yang terdiri dari B1, B6, dan B12, serta merujuk pasien supaya dapat diperiksa oleh dokter, ucap Merin.

    Senada dengan Vaishali, untuk mencegah penyakit saraf tersebut, Merin juga mengatakan perlu mengendalikan berat badan serta tingkat gula, hipertensi, dan trigliserida dalam tubuh.

    “Kemungkinan pengidap diabetes mengalami neuropati perifer kemudian hari akan tinggi jika nilai abnormal pada tubuh kita yang diketahui lewat tes laboratorium tidak kunjung dikendalikan,” ujarnya.

    Sementara itu, endokrinologis dan peneliti diabetes dari Universitas Stellenbosch Afrika Selatan Dr. Ankia Coetzee berkata bahwa praktisi kesehatan hendaknya memahami pasien dengan penuh kesabaran.

    Sebab, tidak semua dari mereka mengeluhkan sakit pada tubuh meskipun bisa jadi merupakan gejala neuropati. “Jadi, pahami apa yang pasien tidak keluhkan, apalagi hal-hal yang mereka keluhkan,” katanya.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Musim Hujan, Orangtua Harus Waspada Penyakit yang Sering Menyerang Anak

    Musim Hujan, Orangtua Harus Waspada Penyakit yang Sering Menyerang Anak

    7cloud.asia – Musim hujan telah tiba. Sejumlah penyakit biasa menyerang anak saat musim hujan. Orangtua harus mewaspadai hal tersebut.

    “Jadi untuk di musim hujan ini, satu adalah pada penyakit demam berdarah. Angkanya biasa cenderung naik di bulan-bulan ini Januari, Februari,” ujar Dokter Spesialis Anak, dr Ari Prayogo seperti dikutip Antaranews.

    Penyakit lain yang harus diwaspadai saat musim hujan adalah diare. “Hujan, sumber air tanah tidak bersih, lalu kemudian jadi mudah menyebar bakteri penyebab diare,” katanya.

    Baca: Dampak kualitas udara yang buruk terhadap anak

    Dokter yang praktek di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta ini juga menjelaskan pada masa-masa ini angka kasus demam berdarah dan diare di berbagai rumah sakit biasanya cenderung meningkat.

    Sementara penyakit lainnya seperti batuk, pilek, dan influenza, menurutnya bukan disebabkan oleh cuaca yang berubah menjadi dingin.

    “Batuk pilek sebetulnya kaitan khusus dengan hujan tidak ada. Sekarang menjadi meningkat karena selalu diingatkan sempat ada libur panjang  sehingga perhatian orang di situ. Anak, orang dewasa baik yang sehat maupun sakit kumpul menjadi satu,” jelasnya.

    Baca: Stunting jadi sorotan di pilpres 2024

    Memang, Ari mengakui peralihan cuaca juga dapat berpengaruh kepada daya tahan tubuh anak. Tetapi kegiatan yang padat dan kurangnya istirahat pada anak lah yang menyebabkan penyakit dan anak menjadi tidak nyaman.

    Karena itu, ia mengimbau kepada masyarakat, khususnya para orang tua untuk tetap menjaga Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

    Orangtua harus membiasakan mencuci tangan pakai sabun, menjaga kebersihan alat makan, serta memakai masker bila hendak berpergian.

    “Pastikan hidrasi cukup, cukup minum air putih, saluran napas bersih, jauh dari asap rokok, juga lingkungan tidak pengap dengan sirkulasi udara yang terbuka,” katanya.

     

    Reporter: Nurakhmayani

  • Masih Bingung Membedakan Flu Singapura, Cacar Air dan Sariawan? Ini Perbedaannya

    Masih Bingung Membedakan Flu Singapura, Cacar Air dan Sariawan? Ini Perbedaannya

    7cloud.asia – Jumlah kasus flu singapura saat ini tengah meroket. Masih banyak orang yang belum dapat membedakan antara flu singapura, cacar air dan sariawan. Ketiganya memang menimbulkan lesi.

    Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, hingga pekan ke 11 tahun 2024 tembus hingga 5.461 kasus flu singapura. Mayoritas menyerang anak berusia dibawah 5 tahun.

    Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, Prof. Dr. dr. Edi Hartoyo Sp.A(K) menjelaskan tingginya kasus ini karena kurangnya kepekaan orang tua pada penyakit ini.

    Orangtua kerap tidak dapat membedakan penyakit flu singapura, sariawan dan cacar air.

    Baca: Mencegah penyakit flu singapura

    Akibatnya saat anak demam, sulit makan, dan muncul bintik merah, orang tua tetap menyekolahkan anak dan tidak isolasi di rumah. Hal inilah yang membuat penyebaran pada anak sangat tinggi dan cepat.

    Hand, Foot and Mouth Disease (HFMD) atau lebih dikenal dengan flu singapura berbeda dengan sariawan biasa meskipun sama-sama menyebabkan lesi di mulut.

    “Sariawan biasa hanya di mulut, wujudnya hampir sama, maka kadang-kadang orang tua ke dokter anaknya nggak mau makan pas dilihat karena ada lesinya di mulutnya,” jelas Edi seperti yang dilansir Antaranews.

    Lesi dan lentingan juga bisa muncul di sekitar mulut dan bibir. Anak yang mengalami HFMD dan terdapat lesi dimulutnya akan malas dan kesulitan menelan.

    Hal yang sama juga terjadi jika terdapat sariawan pada anak.Tetapi, pada kasus flu singapura akan diikuti oleh gejala-gejala demam, pilek, batuk dan bersin-bersin.

    Selain sariawan, penyakit lain yang juga kerap disamakan dengan Flu Singapura adalah cacar air dan campak.

    Namun Edi menegaskan bahwa keduanya berbeda dengan flu singapura dilihat dari lokasi munculnya lesi.

    Baca: Gejala penyakit flu singapura

    “Cacar air, lesinya di badan baru keluar, lesi lentingan tepi kulitnya merah kalau flu singapura tidak, dari lokasinya flu singapura paling sering di telapak kaki, telapak tangan dan mulut, kalau cacar jarang di telapak tangan,” paparnya.

    Perbedaan lainnya adalah lesi atau luka pada kulit akibat lentingan pada kasus penyakit cacar bisa membekas pada kulit. Tetapi pada flu singapura, lesi akan hilang dengan sendirinya tanpa menyebabkan bekas.

    Menurut Edi, hal ini terjadi karena lesi lentingan pada flu singapura tidak sedalam cacar yang bisa menembus hingga lapisan kedua jaringan kulit.

    Selain itu, lanjut Edi, flu singapura tidak menyebabkan kekebalan dan bisa terkena kembali jika daya tahan tubuh menurun.

    Hal ini berbeda dengan cacar yang jika sudah terkena maka tubuh bisa membentuk kekebalan sehingga jarang cacar bisa terkena kembali di kemudian hari.

    Baca: Antisipasi lonjakan flu singapura saat mudik

    “Virus ini tidak menyebabkan kekebalan, beda dengan cacar atau campak bisa kebal tapi virus ini nggak, kalau musim ini kena besoknya bisa kena lagi kalau dia ada kontak, jadi masih bisa kena,” terangnya.

    Meski flu singapura tergolong penyakit ringan yang bisa sembuh dalam tujuh hari, Edi mengharapkan orang tua bisa mematuhi protokol kesehatan untuk mencegah penyebarannya.

    Orangtua harus mengisolasi anak jika demam dan muncul bintik merah pada telapak kaki, tangan dan mulut.

    “Kalau anak kena flu singapura di isolasi dan cegah kontak dengan anak lain karena ini menular, masa infeksius 3-5 hari, 7 hari dia sudah tidak menular walaupun lesinya dalam tahap penyembuhan tapi tidak menular,” terangnya.

     Reporter: Nurakhmayani

  • Pakar: Perubahan Iklim dan Kenaikan Suhu Bumi Picu Risiko Penyakit Musiman

    Pakar: Perubahan Iklim dan Kenaikan Suhu Bumi Picu Risiko Penyakit Musiman

    7cloud.asia – Para ahli memperingatkan kenaikan suhu terkait dengan perubahan iklim menyebabkan lebih banyak penyakit yang ditularkan oleh hewan dan penyakit musiman yang lebih lama seperti halnya flu.

    Ahli dari Fakultas Kedokteran Universitas Adnan Menderes di Aydin, Turki, Emine Didem Evci Kiraz, Jumat (5/4/2024), mengatakan bahwa kenaikan suhu akibat perubahan iklim dapat menyebabkan peningkatan yang signifikan berbagai risiko yang berdampak pada kesehatan.

    Risiko penyakit akibat perubahan iklim tersebut di antaranya dari efek radiasi ultraviolet matahari, perubahan penyakit terkait kualitas makanan dan air.

    Selain itu juga mincul perantara penyakit menular dan penularannya, penyakit yang berasal dari hewan, dan masalah kesehatan mental.

    Kiraz juga menyoroti potensi munculnya penyakit baru, dan menekankan kerentanan kesehatan umat manusia terhadap perubahan iklim.

    Baca: Perubahan iklim ancam pariwisata dunia

    Kiraz mengatakan suhu tubuh rata-rata manusia berkisar antara 36,1-37,8 derajat Celsius, dengan mekanisme seperti berkeringat dan perpindahan panas untuk mempertahankannya.

    Peningkatan suhu memberikan tekanan pada jantung dan pembuluh darah, menyebabkan hilangnya cairan pada jaringan dan sel, serta memengaruhi fungsi ginjal, katanya.

     

    Kiraz memperingatkan keadaan darurat seperti penurunan tekanan darah dan pingsan mendadak karena panas, dan menekankan potensi perkembangan sindrom metabolik dan gangguan keseimbangan organ saat stres.

    Ia menambahkan, kehilangan panas dan cairan dalam waktu lama dapat membuat seseorang tidak bisa bergerak dan menyebabkan kematian. Sementara, gelombang panas yang tiba-tiba juga dapat menyebabkan masalah kesehatan mental, kekerasan, dan perilaku tidak aman.

    Kiraz menyoroti bahwa suhu sekitar 37 derajat Celsius memberikan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan bakteri secara cepat, sehingga tubuh lebih rentan terhadap kondisi yang tidak higienis dan meningkatkan risiko penyakit yang ditularkan melalui makanan dan air.

    Baca: Pemanasan global menjadi masalah serius bagi lingkungan

    Peristiwa yang disebabkan oleh perubahan iklim seperti banjir dan pemadaman listrik, dapat memperburuk penyakit yang disebabkan oleh air dan makanan, serta meningkatkan kasus keracunan makanan.

    Pada hewan yang menularkan penyakit dan infeksi baru akibat perubahan iklim, Kiraz menyebutkan peningkatan penyakit seperti arbovirus, demam berdarah, demam Chikungunya, dan demam berdarah Krimea-Kongo.

    Kiraz menekankan pentingnya untuk tidak mengabaikan dampak perubahan iklim terhadap penyakit seperti alergi dan asma.

    Ia menyebutkan kejadian polusi udara, banjir, kebakaran hutan, dan badai debu dapat mengubah struktur serbuk sari serta meningkatkan faktor penyebab penyakit.

    Hal itu meningkatkan frekuensi penyakit seperti asma, rinosinusitis, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), dan infeksi saluran pernapasan akibat musim serbuk sari yang berkepanjangan. (Antaranews/Anadolu)

    Baca: Kelompok rentan justru ditinggalkan dalam aksi iklim

  • Pakar Kesehatan: Waspada Penyakit Kronik yang Muncul di Minggu Pertama Lebaran

    Pakar Kesehatan: Waspada Penyakit Kronik yang Muncul di Minggu Pertama Lebaran

    7cloud.asia – Lebaran identik dengan makanan berlemak tinggi dan bersantan. Akibatnya penyakit kronis berpotensi muncul kembali pada minggu pertama lebaran.

    Guru besar Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam menjelaskan penyakit tersebut muncul akibat makanan yang tak terkontrol saat lebaran.

    “Bisa saja kambuh dalam sehari dua hari saat lebaran, oleh karena itu ini yang harus kita antisipasi supaya penyakit kronis ini tidak kambuh,” ujar Ari seperti yang dilansir Antaranews.

    Ari menjelaskan penyakit kronis yang berpotensi muncul adalah asam urat, kencing manis karena gula darah berlebih dan sakit maag.

    Pada saat puasa, penyakit tersebut sebenarnya sudah bisa terkontrol. Sebab selama puasa, kita terbiasa makan di jam teratur dan mengurangi kebiasaan makan berlebihan.

    Sebagian besar pasien pun menurutnya mengalami perbaikan pada penyakit maag-nya karena berpuasa.

    Karena itu, agar penyakit tersebut tidak kambuh, Ari menyarankan untuk memilih makanan saat lebaran dan tidak mengonsumsi makanan berlebihan.

    Selain itu, Ari mengingatkan untuk menghindari mengonsumsi makanan yang terlalu asin atau terlalu manis.

    “Di satu sisi saya ingatkan harus tetap mengonsumsi sayur dan buah karena ini bisa mengurangi penyerapan kolesterol di usus halus, selain itu serat dari sayur dan buah ini bisa membuat buang air besar lancar,” jelasnya. 

    Tak hanya penyakit kronis, Ari menjelaskan penyakit lain yang berpotensi muncul saat lebaran adalah penyakit infeksi karena kelelahan dan daya tahan tubuh yang menurun saat harus beraktivitas, bersilaturahmi atau berekreasi saat libur lebaran.

    Penyakit infeksi tersebut antara lain infeksi saluran pernapasan atas, infeksi demam berdarah, dan daya tahan tubuh menurun karena kelelahan.

    Daya tahan tubuh yang menurun juga dapat menimbulkan kecelakaan yang tidak diinginkan saat melakukan perjalanan mudik.

    Karena itu, lanjut Ari, meski libur lebaran bukan berarti libur olahraga pula. Olahraga penting untuk menjaga kesehatan dan kebugaran serta rutin mengonsumsi air putih untuk mencukupi cairan tubuh.

    “Lebaran mestinya lebih bebas melakukan olahraga karena tidak berpuasa. jadi kalau banyak keringat bisa langsung konsumsi air, di masa lebaran nanti kebetulan juga libur tapi tetap lakukan olahraga,” paparnya.

    Namun, jika selama lebaran merasa tidak mengontrol makanan dengan baik, Ari menyarankan untuk melakukan cek kondisi kesehatan atau medical check up usai lebaran.

    Hal ini perlu dilakukan untuk melihat kadar kolesterol, asam urat, hingga gula darah dalam kadar yang sesuai demi antisipasi tetap sehat pasca lebaran.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • DPR Minta Pemerintah Pastikan Akses Vaksin di Daerah Rentan Penyebaran Penyakit Menular

    DPR Minta Pemerintah Pastikan Akses Vaksin di Daerah Rentan Penyebaran Penyakit Menular

    7cloud.asia – Wakil Ketua Komisi IX DPR Emanuel Melkiades Laka Lena menegaskan seluruh stakeholder harus memastikan bahwa setiap orang memiliki akses yang sama terhadap vaksin.

    Akses terhadap vaksin ini, terutama ditujukan kepada masyarakat yang rentan di daerah berisiko tinggi terhadap penyebaran penyakit menular.

    Selain itu, kesadaran masyarakat tentang teknologi dan vaksin baru juga menjadi fokus dengan menekankan pentingnya membangun kepercayaan di antara masyarakat.

    Hal ini diungkapkan Melkiades di acara Inaugural Arbovirus Summit Indonesia 2024 di Bali, Senin (22/4/2024).

    Baca Juga: Cek Fakta Benarkah Perubahan Iklim Memicu Kenaikan Kasus DBD?

    Pertemuan tersebut diselenggarakan sebagai wadah bertukar gagasan dan kolaborasi antara para ahli, pemangku kepentingan dan akademisi dalam upaya global mengatasi ancaman penyakit Arbovirus seperti demam berdarah dengue, zika dan chikungunya.

    “Kita harus menciptakan sistem yang kuat untuk mencapai hal ini. Dan melalui upaya bersama ini, kita dapat menciptakan lingkungan yang mendukung pengembangan dan penerapan teknologi dan vaksin inovatif,“ ujarnya.

    Ia menambahkan, dengan upaya ini pada akhirnya akan meningkatkan hasil kesehatan masyarakat dan mendorong pembangunan ekonomi di Indonesia

    Pada kesempatan ini, Melkiades juga menyoroti pentingnya promosi teknologi dan vaksin untuk pencegahan penyakit menular di Indonesia.

    Baca Juga: DPR Menilai Penerapan Vaksin Covid-19 Berbayar Kurang Tepat Waktunya

    Langkah tersebut ditekannya dapat dicapai melalui peningkatan pendanaan dan investasi dalam penelitian dan pengembangan.

    Termasuk juga dengan menetapkan kerangka legislatif dalam membuat aturan dan cara yang jelas untuk menyetujui vaksin arboviral agar aman, efektif dan berkualitas.

    Parlemen, ujar Melkiandes, berperan besar dalam pembuatan peraturan dan pedoman ini.

    Kita juga harus meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai teknologi dan vaksin baru dan membangun kepercayaan diantara masyarakat,” ujar Melkiades dalam rilis video yang diterima Parlementaria, Jakarta, Jumat (26/4/2024).

    Baca Juga: Vaksin Untuk Orang Dewasa, Nggak Cuma Covid-19 Loh!

    Politisi Fraksi Partai Golkar itu juga menegaskan pentingnya bekerjasama dengan berbagai pihak, termasuk instansi pemerintah lainnya, lembaga penelitian, dan perusahaan farmasi.

    “Melalui kemitraan dan kolaborasi internasional, kita dapat memanfaatkan keahlian, sumber daya, dan praktik terbaik global dalam pengembangan teknologi dan vaksin,” tandasnya.