Tag: perdagangan

  • DPR Apresiasi Langkap Pemerintah Larang Perdagangan di Media Sosial Macam TikTok Shop

    DPR Apresiasi Langkap Pemerintah Larang Perdagangan di Media Sosial Macam TikTok Shop

    7cloud.asia – Langkah pemerintah merilis Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No. 31/2023 yang melarang TikTok Shop dkk melakukan praktik social commerce menuai apresiasi. 

    Anggota Komisi VI DPR Darmadi Durianto menilai langkah pemerintah melarang perdagangan di media sosial macam TikTok Shop ini menunjukkan bahwa negara hadir untuk membela kepentingan rakyat.

    Ia pun mengapresiasi langkah pemerintah yang memberikan perlindungan kepada masyarakat terhadap serbuan produk-produk asing lewat Tiktok Shop.

    “Kita perlu apresiasi adanya Permendag 31. Ini menunjukkan bukti keberpihakan negara terhadap rakyatnya. negara memang sudah seharusnya hadir di saat rakyat memerlukan perlindungan dari serbuan produk-produk asing,” ujar Darmadi kepada media, Rabu (27/9/2023).

    Baca: TikTok kecewa atas larangan perdagangan di media sosial

    Ia menambahkan, larangan untuk  perdagangan lewat media sosial ala TikTok Shop yang dibuat pemerintah tersebut di sisi lain dapat menyelamatkan jutaan UMKM yang ada.

    Namun, ia mengingatkan masyarakat bahwa pelarangan yang dimaksud adalah menjual produk di sosial media, bukan di e-commerce.

    Bayangkan, ujarnya, jumlah UMKM kita yang 65,7 juta itu kebanyakan kegiatan usahanya bersifat offline.

    Baca: Perdagangan di media sosial macam TikTok dilarang, ini penjelasannya

    Dengan adanya larangan bertransaksi di media sosial macam TikTok shop ini, setidaknya UMKM bisa sedikit bernafas lega.

    “Tapi perlu dipahami bahwa UMKM kita boleh memasarkan produknya di e-commerce, bukan tidak boleh. Yang dilarang itu menjual produk di sosial media seperti yang dilakukan TikTok cs selama ini,” ujarnya.

    Praktik yang dilakukan TikTok jelas merugikan negara karena mereka menjual produknya di Indonesia dengan tidak membayar pajak, royalti dan kewajiban lainnya

    Baca: Temui pedagang Pasar Tanah Abang, ini janji Menteri Perdagangan

    Untuk itu, Politisi Fraksi PDI-Perjuangan ini meminta UMKM tidak cemas pasca terbitnya Permendag 31 itu. “

    Yang dilarang itu praktik usaha menggunakan sosial media semacam TikTok cs itu. Tapi praktik usaha di e-commerce itu tidak dilarang, jadi UMKM kita gak perlu cemas,” lanjutnya.

    Terakhir, Darmadi meminta agar Kemendag melakukan pengawasan dan penindakan secara tegas pasca terbitnya aturan tersebut.

    Baca: Pedagang pasar Tanah Abang keluhkan sepinya pembeli

    Menurutnya, harus ada kontrol dan penindakan yang tegas ketika aturan sudah dijalankan.

    “Termasuk kontrol terhadap perusahaan-perusahaan besar yang ikut cawe-cawe di e-commerce, jangan biarkan UMKM kita digilas oleh perusahaan-perusahaan besar,” tutupnya.

  • Donald Trump Akan Surati Ratusan Negara untuk Jelaskan Ketentuan Perdagangan Baru

    Donald Trump Akan Surati Ratusan Negara untuk Jelaskan Ketentuan Perdagangan Baru

    7cloud.asia – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump akan mengirimkan surat ke sekitar 200 negara terkait persyaratan tarif baru dan ketentuan perdagangan, dalam waktu dekat.

    “Apa yang akan saya lakukan sebelum 9 (Juli) adalah mengirim surat ke semua negara ini,” kata Trump dalam wawancara dengan Fox News yang disiarkan pada Minggu (29/6/2025).

    Sebelumnya Donald TrumpTrump telah menangguhkan tarif dagang tertentu untuk setiap negara, termasuk Uni Eropa, hingga 9 Juli 2025

    Donald Trump memberi sinyal bahwa surat-surat itu akan menetapkan ketentuan baru perdagangan di pasar AS.

    “Kami akan mengirim surat dan kami akan katakan: ‘Bagi kami ini adalah suatu kehormatan besar, dan ini yang harus Anda lakukan untuk berdagang di Amerika Serikat… Semoga Anda beruntung’,” kata dia.

    Baca: Donald Trump tangguhkan penerapan tambahan tarif impor

    Donald Trump juga mengungkapkan harapannya bahwa surat-surat tersebut dapat mengakhiri sengketa dagang dengan negara-negara lain.

    Dia mengindikasikan bahwa Amerika Serikat juga akan mengevaluasi defisit perdagangan dan menilai bagaimana negara-negara lain memperlakukan AS sebelum menetapkan syarat-syarat khusus.

    “Kami akan melihat bagaimana suatu negara memperlakukan kami. Apakah mereka baik? Apakah mereka tidak begitu baik. Untuk beberapa negara, kami tak peduli, kami hanya akan menetapkan tarif yang tinggi,” kata Trump.

    Pada Jumat (27/6/2025), Donald Trump mengumumkan bahwa pemerintahnya menghentikan negosiasi dengan Kanada terkait pajak layanan digital yang dikenakan terhadap perusahaan-perusahaan teknologi Amerika Serikat.

    Baca: Puluhan negara negosiasikan kebijakan tarif impor Donald Trump

    Donald Trump membenarkan penangguhan itu selama wawancara dan menyebut kebijakan tersebut akan tetap diberlakukan “sampai mereka mencabut pajak tertentu.”

    Dia juga menuduh Kanada mengenakan tarif hingga 400 persen kepada petani Amerika dan menyebut negara itu “sangat sulit diajak kerja sama” dan “sangat keras.”

    “Ada hal-hal yang tidak kami sukai dan hal-hal di mana mereka mengambil keuntungan, dan mudah-mudahan kami akan baik-baik saja dengan Kanada,” kata Trump.

    Dia menegaskan kembali keinginan AS untuk menjadikan Kanada negara bagian ke-51 dengan mengatakan bahwa negara itu “bergantung sepenuhnya” pada Amerika.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

  • Kisah Sejarah Perdagangan Islam Dunia di Pantai Barat Sumatera

    Kisah Sejarah Perdagangan Islam Dunia di Pantai Barat Sumatera

    7cloud.asia – Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah BRIN bekerja sama dengan Sultanate Institute dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta meluncurkan buku ”Perdagangan Maritim Dunia Islam di Pantai Barat Sumatra Abad VII-X M”.

    Buku ini merupakan buku kedua dari hasil elaborasi riset arkeologi Situs Bongal bersama BRIN. Adapun buku pertama adalah “Bukti-bukti Arkeologi Situs Bongal, Bandar Perniagaan Global di Pantai Barat Sumatra abad 7 – 10 M”.

    Buku karya Abu Bakar Said dan Ery Soedewo tersebut diterbitkan Sultanate Institute dan menjelaskan tentang sejarah dampak aktivitas komersial dan interaksi ekonomi melalui globalisasi maritim di Samudra Hindia.

    Secara khusus, buku ini mengambil titik fokus sejarah perdagangan dunia islam dengan kawasan pesisir barat Sumatra dengan Dunia Islam Abad I-IV H/7-10 M.

    Dalam peluncuran yang dilakukan pada Selasa (12/8/2025) di Kampus BRIN Jakarta, Kepala Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah, M. Irfan Mahmud menjelaskan bahwa buku ini menyuguhkan uraian beragam data arkeologis beserta interpretasi kesejarahannya.

    Hal itu sebagai hasil sintesis atas tinjauan studi literatur beserta laporan penelitian arkeologis, khususnya di kawasan pesisir Barat Sumatra.

     

    Baca: Perempuan pertama yang memimpin Kerajaan Islam di Nusantara

    “Bukti-bukti ini ditunjukkan dengan temuan artefaktual yang melimpah dan beragam. Di antaranya ragam koin Arab-Sasaniyah, koin berinskripsi Arab masa Daulah Umawiyah dan Abbasiyah, keramik, kaca, manik-manik, logam, alat-alat medis, fragmen kayu kapal, dan tali ijuk dengan beragam simpul, dan artefak berinskripsi Arab lainya,” urai Irfan.

    Isinya menunjukkan keterlibatan awal dan aktif kawasan Sumatra dalam perdagangan maritim dunia yang disebabkan oleh posisi geografinya.

    Di mana Selat Malaka dan Selat Sunda, yang menghubungkan Samudra Hindia (Afrika, Timur Tengah, Asia Selatan) dengan kawasan Asia Timur hingga Pasifik.

    Dijelaskan pula, aktivitas maritim yang dinamis telah mendukung kota-kota pelabuhan di Sumatra untuk terhubung dengan jaringan perdagangan global, yang secara organik membentuk interaksi budaya yang kompleks antara para pedagang asing dan masyarakat lokal.

    Buku ini juga menggambarkan perdagangan maritim lintas benua memberikan pertumbuhan ekonomi dengan merangsang pertumbuhan pasar, produktivitas, dan pasokan bahan baku di kota-kota yang dilaluinya.

    Baca: Menelusuri kejayaan Kerajaan Sriwijaya di masa lalu

    Bahkan, kota-kota dunia Islam di sepanjang rute perdagangan lintas benua, khususnya kawasan Samudra Hindia, mendapat manfaat dari stimulus perdagangan.

    Penting tentunya, jaringan perdagangan maritim antara Muslim dari Jazirah Arab dan Teluk Persia, hingga ke China sejak pertengahan abad ke-7 M.

    Melengkapi informasi, sebagai wujud dukungan terhadap aktivitas riset sejarah dan arkeologi, sejak tahun 2020, Sultanate Institute dengan dukungan PT. Media Literasi Nesia telah menjalin kerja sama dengan Balai Arkeologi Sumatra Utara, yang kini menjadi BRIN.

    Adapun langkah nyata dari hasil kerja sama riset ilmiah tersebut, di antaranya diwujudkan dalam bentuk penelitian ekskavasi arkeologi berkelanjutan di kawasan Situs Bongal yang terletak di Desa Jago-jago, Kecamatan Badiri, Tapanuli Tengah, pada tahun 2021 dan 2022.

    Hasil elaborasi penelitian tersebut juga telah banyak diterbitkan melalui publikasi ilmiah bertaraf internasional.

    Baca: Jejak Kerajaan Islam di Kalimantan Timur

    Sebut saja Jurnal Archipel, SPAFA, World Archaeological Congress (WAC) di Darwin Australia, International Forum on Spice Route (IFSR), Spiced Islam Internasional Conference, dan Museums and Their Role in Tourism Development International Conference (Oman).

    Riset tersebut sebagai inisiasi dalam upaya menguatkan narasi tentang peran masyarakat lokal serta posisi Nusantara sebagai simpul penting dalam jejaring maritim global, sejak masa lampau dalam forum-forum ilmiah internasional.

    Sebagai bentuk tanggung jawab moral dari aktivitas penelitian berkelanjutan di Situs Bongal tersebut, didirikan Museum Fansuri Situs Bongal yang terletak di Desa Jago-jago, Kecamatan Badiri, Kabupaten Tapanuli Tengah.Museum ini adalah upaya konservasi dan edukasi publik.

    Kehadiran buku ini diharapkan dapat mendorong riset-riset ilmiah lanjutan yang masih banyak mengalami kekosongan narasi sejarah Islam di Indonesia.

    Selain itu, dalam konteks yang lebih luas, kegiatan ini juga dapat memperkuat kerja sama dalam rangka penelitian lanjutan, pelestarian warisan budaya, dan pemajuan kebudayaan.

    Baca: Tradisi mudik sudah ada sejak zaman Majapahit