Tag: peternakan

  • Industri Peternakan Sumbang 41 Persen Deforestasi atau Penebangan Hutan Dunia

    Industri Peternakan Sumbang 41 Persen Deforestasi atau Penebangan Hutan Dunia

    7cloud.asia – Meski laju deforestasi atau penebangan hutan telah menurun selama tiga dekade terakhir, dunia tetap saja kehilangan ribuan hektare hutan setiap harinya.

    Pada 2021, negara-negara dunia sebenarnya telah sepakat untuk menahan laju deforestasi dengan meneken Komitmen Glasgow, namun penebangan hutan tetap terjadi.

    Bahkan, September 2022 tercatat dalam sejarah sebagai bulan pemecahan rekor deforestasi di Amazon, hutan hujan terbesar dan terpenting di dunia. 

    Baca: Sekilas tentang Komitmen Glasgow untuk hentikan deforestasi pada 2030

    Salah satu fakta tentang deforestasi yang menggerus luasan hutan di muka planet Bumi disumbang oleh industri peternakan.

    Para ahli menyebut, industri untuk menghasilkan daging sapi bertanggung jawab atas 41 persen angka deforestasi global.

    Jadi bisa dibayangkan berapa luas hutan yang harus ditebang atau mengalami deforestasi untuk industri ini.

    Baca: Komoditas Indonesia yang terkena dampak aturan antideforestasi Uni Eropa

    Industri peternakan perlu membuka hutan untuk lahan penggembalaan yang luas untuk ternak (dan hewan ternak) guna memenuhi permintaan daging sapi global.

    Diperkirakan 81.081 mil persegi lahan hutan hilang setiap tahunnya untuk produksi daging, 80% di antaranya terjadi di Amazon.

    Negara-negara maju seperti AS dan Tiongkok, yang merupakan konsumen daging sapi terbesar di dunia, mengonsumsi hampir sepertiga daging dunia, merupakan salah satu penyebab terbesar deforestasi.

    Baca: Indonesia dan Brasil disebut sebagai penyumbang deforestasi atau penghilangan hutan hujan tropis

    Namun beberapa tahun terakhir negara-negara berkembang juga melakukan hal yang sama, yakni membuka hutan untuk peternakan. 

    Negara berkembang berada pada jalur peningkatan deforestasi sebesar empat kali lipat dibandingkan negara-negara maju pada tahun 2028.

    Banyak negara yang menyerukan agar masyarakat mengadopsi pola makan nabati sebagai metode memerangi deforestasi dan mempertahankan luasan lahan yang ditutupi hutan.

    Baca: Laju deforestasi di Indonesia terus menurun

    Menjadi vegan juga disebut akan membantu mengurangi efek rumah kaca. emisi gas dari industri pertanian dan memperlambat pemanasan global.

    Jadi bisa dikatakan, dengan menjadi vegetarian dan tidak mengonsumsi daging menjadi salah satu cara kita melindungi hutan dunia. 

    Sumber: earth.org.

  • Peternakan Ayam Petelur Tanpa Sangkar, Cara Baru yang Lebih Memperhatikan Kesejahteraan Hewan

    Peternakan Ayam Petelur Tanpa Sangkar, Cara Baru yang Lebih Memperhatikan Kesejahteraan Hewan

    7cloud.asia – Fakultas Peternakan UGM bekerja sama dengan Global Food Partners mengembangkan pusat pendidikan dan pelatihan kandang unggas bebas sangkar.

    Pusat Pelatihan Internasional Manajemen Ayam Petelur Bebas Sangkar Milik Fakultas Peternakan UGM yang berada di Pedukuhan Kalijeruk, Widodomartani, Ngemplak, Sleman ini kini menjadi pusat pendidikan peternakan bebas sangkar di tingkat Asia Pasifik.

    Peternakan bebas sangkar milik Fakultas Peternakan UGM ini berkomitmen akan mendampingi dan menggandeng para peternakan tradisional di tanah air dalam pengembangan pemeliharaan unggas yang memperhatikan kesejahteraan hewan.

    “Nantinya semakin banyak produk peternakan kita yang lebih sehat dan memperlakukan hewan sesuai dengan kondisi habitatnya,” ujar Dekan Fakultas Peternakan UGM, Prof. Ir. Budi Guntoro , M.Sc., Ph.D., IPU ASEAN ENG, Selasa (23/1/20240 lalu.  

    Baca: Lestarikan binatang langka nggak harus memiliki

    Belum lama ini, Pusat Pelatihan ini menerima sekitar 30 orang peternak dari Filipina, ada juga dari Malaysia, India dan beberapa mahasiswa dari Belanda. 

    Global Program Director of Humane Farm Animal Care (HFAC) Luiz Masson Neto mengatakan, dengan adanya sertifikasi animal welfare ini UGM dapat menjadi pelopor dalam pengembangan manajemen kandang ayam petelur bebas sangkar di tingkat Asia Pasifik.

    CEO Global Food Partners, Elisa Lane, menambahkan pusat pelatihan internasional yang dimiliki oleh Fakultas Peternakan UGM bisa menjadi rujukan terbaik mengenai sistem pemeliharaan ayam petelur bebas sangkar di tingkat global.

    “Saya kira para supplier telur untuk dapat belajar mengenai pemeliharaan ayam yang mengutamakan kesejahteraan hewan di tempat ini. Sehingga, kesejahteraan hewan, dalam hal ini  ayam petelur, dapat direalisasikan,” tutur Lane.

    Baca: Mengenal Hari Spesies Terancam Punah 

    Pusat Pelatihan Internasional Manajemen Ayam Petelur Bebas Sangkar ini berhasil mendapat Sertifikasi Internasional animal welfare certification  dari Lembaga Humane Farm Animal Care (HFAC) yang berdomisili di Amerika Serikat.

    Penyerahan sertifikat diserahkan oleh Direktur Program Global HFAC, Luiz MAzzon Neto, kepada Dekan Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada, Prof. Ir. Budi Guntoro , M.Sc., Ph.D., IPU ASEAN ENG, di ruang auditorium Fakultas Peternakan, Selasa (23/1).

    Budi Guntoro mengatakan, sertifikasi internasional dari HFAC ini menjadi pengakuan dari lembaga sertifikasi internasional atas kegiatan pengembangan pusat pelatihan ternak unggas bebas sangkar yang mengutamakan prinsip kesejahteraan hewan.

     “Lembaga ini menilai bahwa model pelatihan uang kita kembangkan konsepnya betul-betul memperhatikan konsep animal welfare sehingga kita diberikan penghargaan sertifikasi,” katanya.

    Baca: Pelepasliaran satwa liar ke habitat aslinya

    Ia menambahkan bahwa sertifikasi animal welfare dari HFAC ini kepada Fakultas Peternakan ini merupakan yang pertama kalinya diberikan kepada pendidikan tinggi di wilayah Asia Pasifik.

    Sebelumnya sertifikasi ini diberikan kepada industri  peternakan modern.

    “Saya kira ini untuk pertama kali kampus di Asia Pasifik mendapat sertifikasi ini,” katanya.

    Ia berharap dengan adanya sertifikasi ini bisa memberikan motivasi bagi dosen dan mahasiswa Fakultas Peternakan untuk terus memberikan kontribusi dalam pengembangan pemeliharaan unggas yang memperhatikan kesejahteraan hewan.

    “Nantinya semakin banyak produk peternakan kita yang lebih sehat dan memperlakukan hewan sesuai dengan kondisi habitatnya,” tegasnya.

     

  • Mengenal Peternakan Terintegrasi di Balaraja: Mulai dari Pembibitan hingga Pengolahan Jadi Makanan Siap Santap

    Mengenal Peternakan Terintegrasi di Balaraja: Mulai dari Pembibitan hingga Pengolahan Jadi Makanan Siap Santap

    7cloud.asia – Peternakan terintegrasi di Balaraja Banten itu bernama  PT. Lembu Setia Abadi Jaya (LSAJ) dan dipimpin pengusaha nasional, Arie Triyono.

    Di atas lahan seluas 14,4 hektare itu tak hanya dimanfaatkan untuk penggemukan ternak, tetapi juga pembibitan hingga pengolahan menjadi makanan siap santap. 

    Dalam sambutan saat peresmian beberapa waktu lalu, Arie Triyono sebagai sosk di balik peternakan terintegrasi ini, mengungkapkan keinginannya untuk mengubah narasi dan persepsi orang tentang pertanian.

    Ia ingin membongkar pola pikir masyarakat, khususnya generasi milenial yang selama ini menganggap pertanian kotor, berbau, dan kurang prospektif.

    “Saya bertekad untuk membuktikan bahwa pertanian memiliki potensi besar dan masa depan yang cerah,” ujar Arie dalam keterangan tertulis yang diterima 7cloud.asia beberapa waktu lalu.

    Baca: Industri peternakan jadi salah satu penyumbang terbesar deforestasi 

    Arie mengaku terinspirasi dan terpanggil untuk mengajak masyarakat Indonesia untuk bangkit dan berkontribusi pada pengembangan ekonomi kerakyatan dengan merangkul pertanian, baik sebagai petani maupun peternak.

    Melalui perusahaan yang didirikannya ini, Arie ingin membangun peternakan sapi dan domba terintegrasi yang dikenal sebagai Integrated Farming – One Stop Shopping Peternakan”.

    Salah satu dorongan di balik usahanya ini adalah melimpahnya sumber daya di Indonesia. Indonesia, ujarnya, diberkati dengan kekayaan, kesuburan, dan cuaca yang bersahabat.

    “Tetapi impor beras, daging, garam, bawang putih, dan gula, itu menyedihkan,“ ujarnya.

    Baca: Perkebunan monokultur dan masalah lingkungan yang ditimbulkan

    Karena itu ia bermimpi agar Indonesia bisa mandiri dalam produksi daging, diikuti oleh beras dan gula.

    ”Saya ingin melihat komunitas petani dan peternak kita tidak hanya sebagai objek penderitaan, tetapi sebagai kontributor yang makmur dan sejahtera bagi negara kita.”

    Arie berharap peternakan terintegrasi yang dibangunnya akan menjadi inspirasi bagi banyak orang, serta mendorong lebih banyak individu bergabung dalam penguatan ketahanan pangan, diantaranya dengan swasembada daging nasional.

    Arie pun menambahkan bahwa peternakan LSAJ di Balaraja ini disiapkan juga sebagai wahana pelatihan bagi masyarakat yang ingin belajar agribisnis khususnya peternakan.

    Baca: 5 Kabar baik untuk lingkungan di tahun 2023

    Peresmian area perkantoran PT. LSAJ menandai pengembangan peternakan terintegrasi dengan pendekatan saintifik dan modern.

    Di area peternakan ini telah tersedia fasilitas untuk breeding (pembibitan), pabrik pakan, pabrik kompos, cold storage, pabrik bakso, nugget, dan sosis.

    Dengan adanya integrated farming inilah, diharapkan ada peningkatan nilai tambah dari sektor peternakan. Visi ini didukung oleh mitra LSAJ dari sektor swasta dan sesama pelaku usaha lainnya.

    Salah satunya disampaikan oleh General Manager Produksi Karnivor, Steven Rustandi. Karnivor adalah jaringan restoran dengan menu utama daging yang telah memiliki 6 cabang di Jakarta, Bekasi, dan Bandung.

    Baca: Sekilas tentang Komitmen Glasgow 

    Secara rutin LSAJ menyediakan pasokan daging sekitar 3 ton per bulan
    untuk kebutuhan seluruh jejaring Restoran Karnivor.

    “Dari pengelolaannya sangat luar biasa. Jadi kita bisa lihat pengaplikasian teknologi, higienitasnya betul-betul sangat diperhatikan. Mulai dari pengelolaan sapinya, pakannya pilihan, hasil dagingnya
    pun jauh di atas standar,” kata Steven.

    Apresiasi juga datang dari Bambang Prijambodo, pemilik destinasi pariwisata Tirto Gumarang Magetan, Jawa Timur yang hadir saat acara.

    “Strategi bisnis Pak Arie yang berani dan visioner ini menginspirasi banyak orang, termasuk saya untuk mengembangkan agribisnis di daerah kita masing-masing,” ujar Bambang.

  • Surat Terbuka Seorang Vegan untuk Dibawa Presiden Prabowo ke COP 29

    Surat Terbuka Seorang Vegan untuk Dibawa Presiden Prabowo ke COP 29

    7cloud.asia – Saat membacakan surat terbuka kepada Presiden Prabowo Subianto di Jakarta, Minggu (10/11/2024), peneliti di Institute for Ecosoc Right sekaligus anggota Vegan Squad Indonesia, Sri Palupi, menggarisbawahi sumbangan signifikan sektor peternakan pada pemanasan global.

    Surat ini dikirimnya kepada presiden menjelang Konferensi Para Pihak tentang Perubahan Iklim ke-29 atau COP 29 yang akan diselenggarakan di Baku, Azerbaijan pada 11-12 November.

    Dalam surat tersebut, Sri menyatakan industri peternakan telah berkontribusi secara signifikan terhadap perubahan iklim melalui emisi gas rumah kaca (karbondioksida/CO2, Metana/CH4, Nitrous Oksida/NO2) dalam jumlah besar, perusakan lingkungan akibat polusi udara-tanah-air dan deforestasi secara luas.

    Oleh karena itu, dampak industri peternakan terhadap pemanasan global tidak dapat diabaikan.

    “Tanpa pengurangan signifikan dalam konsumsi daging global maka kita akan kehilangan peluang strategis dalam mengatasi perubahan iklim, menyelamatkan Bumi dan segenap penghuninya,” ungkap Sri.

    Lebih jauh Sri memaparkan saat ini dunia tengah menghadapi ancaman yang sangat serius terkait dengan perubahan iklim yang diakibatkan oleh pemanasan global.

    Apalagi, katanya, The EU’s Copernicus Climate Change Service mencatat pada Februari 2024, ambang batas pemanasan global 1,5 derajat Celcius yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris (2015) telah terlampaui.

    “Jika pemanasan global tidak terkendali, diperkirakan populasi manusia akan berkurang hingga 75 persen akibat bencana, penyakit, kelaparan, dan kemiskinan,” tuturnya.

    Potensi Terjadinya Bencana di Indonesia Meningkat
    Indonesia, berdasarkan laporan World Risk Report (WRI) tahun 2022 sebelumnya, tercatat sebagai negara nomor tiga di dunia yang paling berisiko terkena bencana setelah Filipina dan India.

    Namun, kondisi ini memburuk setelah laporan WRI pada tahun 2023 menempatkan Indonesia sebagai negara kedua yang paling berisiko terkena bencana setelah Filipina.

    “Padahal pada 2018 Indonesia tidak termasuk dalam 10 besar negara yang paling berisiko terhadap bencana. Bergesernya posisi Indonesia menjadi negara yang berisiko sangat tinggi terhadap bencana ini menunjukkan, Indonesia memiliki tingkat paparan, kerentanan dan kerawanan tinggi terhadap bencana, sementara kapasitas penanganan bencana kurang dan minimnya adaptasi terhadap bencana,” jelasnya.

    Sepanjang 2014-2024 ada 35.925 kejadian bencana di Indonesia, di mana sedikitnya 11.350 orang meregang nyawa. Intensitas bencana di Indonesia juga menunjukkan tren peningkatan.

    Mempertimbangkan berbagai fakta itu, komunitas Vegan Squad Indonesia, ujar Sri, mengajukan usulan dan mendorong pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk membuat kebijakan mengurangi konsumsi daging sebagai salah satu langkah strategis dan ekonomis dalam mengatasi perubahan iklim.

    Selain itu, pihaknya juga mengusulkan untuk menjalankan komitmen mengurangi deforestasi secara signifikan dan menghindari proyek-proyek pembangunan yang memperburuk deforestasi.

    “Melakukan dan memperluas edukasi pada masyarakat tentang pola hidup vegan/vegetarian sebagai langkah efektif mengatasi perubahan iklim, dengan melibatkan berbagai pihak, seperti media, lembaga pendidikan, kelompok agamawan, korporasi, komunitas-komunitas vegan, dan lainnya,” katanya.

    Mendorong dan memfasilitasi produksi pangan lokal nabati untuk mendukung dan memperluas penerapan pola hidup vegan/vegetarian, serta mendukung dan memfasilitasi perluasan pertanian selaras alam dengan melibatkan organisasi dan komunitas petani.