Tag: pisa

  • Gegara Pandemi Covid-19, Skor Literasi Membaca (PISA) Indonesia Turun

    Gegara Pandemi Covid-19, Skor Literasi Membaca (PISA) Indonesia Turun

    7cloud.asia – Skor literasi membaca Indonesia (PISA) pada 2022 mengalami penurunan 12 poin bila dibandingkan 2018.

    Penilaian tersebut dilakukan oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) dalam Programme for International Student Assessment (PISA) 2022.

    PISA merupakan asesmen dari OECD yang dilakukan setiap tiga tahun sekali untuk menilai kemampuan belajar pelajar internasional.

    Pada 2022, skor literasi membaca Indonesia dalam PISA mencapai 359 poin. Nilai ini lebih rendah 12 poin dibandingkan 2018 di mana Indonesia mendapat skor 371.

    Bahkan, skor literasi membaca (PISA) Indonesia pada 2022 sama rendah dengan skor PISA tahun 2000 yakni 371.

    Dalam PISA terbaru, skor literasi membaca Indonesia pada 2022 mencatatkan nilai terendahnya sejak 2000.

    Baca: Jumlah sarjana yang menganggur terus bertambah

    Berikut skor literasi membaca Indonesia (PISA) pada 2022 menurut OECD:

    Skor tahun 2000: 371

    Skor tahun 2003: 382

    Skor tahun 2006: 393

    Skor tahun 2009: 402

    Skor tahun 2012: 396

    Skor tahun 2015: 397

    Skor tahun 2018: 371

    Skor tahun 2022: 359

    Baca: Separuh bahasa lokal di dunia terancam punah

    Selain literasi membaca, skor literasi matematika dan literasi sains Indonesia pada 2022 juga mengalami penurunan.

    Skor literasi matematika pada 2022 adalah 366. Padahal pada 2018, skornya 379.

    Sedangkan skor literasi sains dari 379 pada 2018, turun menjadi 366 pada 2022.

    Di sisi lain, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menegaskan, skor PISA 2022 tidak mencerminkan kondisi kualitas pendidikan saat ini.

    “Hasil PISA 2022 bukan cermin pendidikan saat ini, tapi itu dua tahun lalu saat kita menutup sekolah,” kata Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikbudristek Anindito Aditomo, sebagaimana dilansir Antara.

    Baca: Learning loss massal karena pandemi Covid-19

    Anindito mengatakan, penurunan skor PISA 2022 diakibatkan penutupan sekolah di Indonesia selama hampir 24 bulan karena pandemi Covid-19.

    Pembelanjaran jarak jauh akibat pandemi Covid-19 ini menyebabkan learning loss secara massal.

    Dia menjelaskan, survei PISA dilakukan tepat setelah masa pandemi berakhir, yaitu sekitar Mei sampai Juni 2022.

    Sehingga, kata Anindito, hasil dari survei tersebut tidak bisa menjadi cerminan kondisi kualitas pendidikan Indonesia saat ini.

    “Itu usang tapi karena baru diumumkan kemarin jadi seolah-seolah itu potret pendidikan saat ini,” tutur Anindito.

    Dia menuturkan, apabila ingin mengetahui kondisi kualitas pendidikan Indonesia saat ini, data yang paling cocok untuk digunakan adalah hasil dari Asesmen Nasional (AN) 2023 yang akan dirilis awal tahun depan.

     

     

  • Gegara Pandemi Covid-19 Skor Literasi Belajar atau PISA Global Anjlok, Indonesia Naik 6 Tingkat

    Gegara Pandemi Covid-19 Skor Literasi Belajar atau PISA Global Anjlok, Indonesia Naik 6 Tingkat

    7cloud.asia – Peringkat hasil belajar literasi (Programme for International Student Assessment atau Program Penilaian Pelajar Internasional (PISA) Indonesia naik 5 sampai 6 posisi dibanding PISA 2018.

    Namun demikian, skor hasil belajar dan literasi (PISA) Indonesia  2022 turun dan menyamai poin tahun 2000

    Peningkatan posisi skor hasil belajar dan literasi (PISA) Indonesia ini merupakan capaian paling tinggi secara peringkat (persentil) sepanjang sejarah Indonesia mengikuti PISA.

    Untuk literasi membaca, peringkat Indonesia di PISA 2022 naik 5 posisi dibanding sebelumnya. Untuk literasi matematika, peringkat Indonesia di PISA 2022 juga naik 5 posisi, sedangkan untuk literasi sains naik 6 posisi.

    Peningkatan posisi Indonesia pada PISA 2022 mengindikasikan resiliensi yang baik dalam menghadapi pandemi Covid-19.

    Baca: Gegara pandemi Covid-19, skor PISA Indonesia turun ke titik terendah pada 2000

    Skor literasi membaca internasional di PISA 2022 rata-rata turun 18 poin. Sedangkan skor PISA Indonesia mengalami penurunan sebesar 12 poin.

    Angka ini merupakan penurunan dengan kategori rendah dibandingkan negara-negara lain.

    Dilansir dari Kompas.com, secara global, skor PISA 2022 yang diikuti 81 negara menurun. Skor PISA Indonesia 2022 pun menurun meskipun secara peringkat mengalami kenaikan.

    Penurunan skor PISA Indonesia diduga lantaran ketertinggalan pembelajaran atau learning loss selama pandemi Covid-19.

    Baca: Cara cerdas menumbuhkan motivasi belajar pada anak

    Mengutip laman oecd.org, Kompas.com merinci skor PISA 2022 di Indonesia dibandingkan dengan 2018:

    1. Kemampuan matematika Indonesia

    Skor pada 2022: 366 Skor pada 2018: 379. Peringkat kemampuan matematika Indonesia saat ini berada di urutan ke-70.

    2. Kemampuan membaca Indonesia

    Skor pada 2022: 359 Skor pada 2018: 371. Kemampuan membaca pelajar Indonesia berada di peringkat ke-71.

    3. Kemampuan sains Indonesia

    Skor pada 2022: 383 Skor pada 2018: 389. Peringkat kemampuan sains Indonesia berada di urutan ke-67.

    Baca: Cara mudah menumbuhkan minat membaca pada anak

    Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbud Ristek), Nadiem Makarim mengatakan, peningkatan peringkat PISA ini menunjukkan ketangguhan sistem pendidikan Indonesia dalam mengatasi hilangnya pembelajaran (learning loss) akibat pandemi.

    Peringkat PISA Indonesia 2022 bisa naik karena relatif kecilnya learning loss yang mencerminkan ketangguhan para guru didukung berbagai program penanganan pandemi dari Kemendikbud Ritek.

    Berikut beberapa hal yang dilakukan Kemendikbud Ristek selama pandemi dan setelah pandemi untuk menekan learning loss di kalangan para siswa.

    1. Akses daring. Pemerintah memberikan bantuan kuota internet yang diberikan pada lebih dari 25 juta murid dan 1,7 juta guru agar dapat mengakses materi dan melaksanakan pembelajaran secara daring.

    2. Langkah berikutnya yang dilakukan Kemendikbud Ristek untuk menekan learning loss dengan melakukan pelatihan guru.

    Baca: Mengapa tes calistung dihapus dari seleksi masuk SD

    Melalui laman gurubelajardanberbagi.kemdikbud.go.id yang menyediakan berbagai pelatihan yang telah diikuti oleh hampir 800 ribu guru se-Indonesia.

    Laman ini sangat membantu untuk bertransisi dan mengetahui bagaimana caranya mengajarkan saat PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) dan bagaimana perubahan pelajaran yang harus dilakukan saat PJJ.

    3. Materi pembelajaran menjadi langkah berikutnya yang dilakukan Kemendikbud Ristek untuk menekan learning loss. Berbagai materi pembelajaran dibuat untuk membantu guru melaksanakan pembelajaran daring dan hybrid.

    “Kita juga melakukan pendidikan lewat TVRI melalui program Belajar dari Rumah, modul asesmen diagnostik, modul pembelajaran literasi dan numerasi,” beber Nadiem Makarim.

    4. Opsi Kurikulum Darurat. Salah satu inisiatif yang terbesar yakni dengan memberikan opsi bagi sekolah untuk melaksanakan Kurikulum Darurat.

    Baca: Sekolah ini ajak siswanya gemar membaca dan menulis

    Materi kurikulum disederhanakan agar guru dapat fokus pada pembelajaran yang lebih mendalam. Terutama untuk literasi dan numerasi murid.

    “Penyederhanaan materi kurikulum efektif memitigasi learning loss. Sekolah yang menggunakan Kurikulum Darurat mengalami 1 bulan learning loss dibanding sekolah yang tidak menerapkan Kurikulum Darurat mengalami 5 bulan learning loss,” beber Nadiem.

    Dilansir dari laman Direktorat GTK Kemendikbud Ristek, Direktur untuk Pendidikan dan Keterampilan, Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (Organisation for Economic Cooperation and Development, OECD), Andreas Schleicher memuji ketangguhan sistem pendidikan Indonesia, terutama di saat pandemi Covid-19.

    Beberapa tahun terakhir ini menurutnya merupakan masa yang sangat sulit. Namun, peserta didik Indonesia secara umum berhasil mempertahankan kualitas hasil pembelajaran dalam nilai PISA mereka.

    “Kami sampaikan selamat kepada Indonesia yang telah berhasil menjaga kualitas hasil pembelajaran. Hasil PISA ini juga menunjukkan bahwa para guru di Indonesia memberi dukungan yang baik para murid selama pandemi,” urai Andreas.

     

  • Skor PISA Indonesia Turun Drastis, Ini Respon DPR

    Skor PISA Indonesia Turun Drastis, Ini Respon DPR

    7cloud.asia – Meski peringkat naik, skor pada Programme for International Student Assessment (PISA) Indonesia tahun 2022 menurun dan mendekati angka terendah sejak 2009.

    Secara Internasional, skor literasi membaca (PISA) Indonesia mengalami penurunan hingga 12 poin. Kemudian, skor matematika Indonesia turun hingga 13 poin.

    Selain itu, skor sains mengalami sedikit penurunan hingga di atas rata-rata dari 13 poin.

    Pandemi Covid-19 yang memaksa siswa belajar dari rumah dituding sebagai penyebab turunnya skor PISA Indonesia ini.

    Baca: Gegara pandemi skor PISA global anjlok

    Atas dasar laporan itu, Anggota Komisi X DPR RI Mustafa Kamal menegaskan pemerintah perlu melakukan pembenahan sistem pendidikan Indonesia secara menyeluruh. 

    “Skor yang turun ini tentu menjadi suatu pembelajaran bagi kita semua agar kedepannya dapat meningkatkan kualitas kemampuan siswa dalam literasi, terutama dalam matematika dan sains siswa,” tanggap Mustafa, Sabtu (30/12/2023) seperti dikutip Parlementaria.

    Lebih lanjut, Politisi Fraksi PKS itu berharap pemerintah lebih tanggap untuk menyelesaikan isu tersebut dengan solusi yang efektif.

    Apalagi, menurutnya, penurunan skor ini juga disebabkan oleh Pandemi Covid-19, sehingga memberikan dampak besar terhadap kualitas literasi siswa Indonesia.

    Baca: Skor PISA Indonesia turun ke titik pada tahun 2000  

    Menurut Kamal, guru harus mampu menghadirkan kontekstual masalah dalam kehidupan sehari-hari yang nantinya dicurahkan dalam bentuk soal.

    “Namun, guru dan pemerintah tentu sudah berusaha dalam meningkatkan kualitas pendidikan siswa di Indonesia.” tandasnya.

    Sebagai informasi, Survey Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2022 ini mengukur kualitas literasi, matematika, dan sains siswa yang terlibat dalam survei di negara OECD, termasuk di dalamnya Indonesia.

    Kegiatan ini melibatkan kurang lebih 14.000 siswa kelas VIII Sekolah Menengah Pertama (SMP), kelas X Sekolah Menengah Atas (SMA) / Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

  • Butuh Lembaga Khusus untuk Dongkrak Literasi Siswa Didik di Indonesia

    Butuh Lembaga Khusus untuk Dongkrak Literasi Siswa Didik di Indonesia

    7cloud.asia –  Berdasarkan data dari Tes Programme for International Student Assessment (PISA) yang diinisiasi oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), skor PISA Indonesia menurun pada 2022. 

    Gegara pandemi Covid-19 skor hasil belajar dan literasi (PISA) Indonesia  2022 turun dan menyamai poin tahun 2000..

    Skor PISA Indonesia mengalami penurunan sebesar 12 poin yakni dari 371 ke 359. Sedangkan skor literasi membaca internasional di PISA 2022 rata-rata turun 18 poin.

    Namun, Peringkat hasil belajar literasi (Programme for International Student Assessment atau Program Penilaian Pelajar Internasional (PISA) Indonesia naik 5 sampai 6 posisi dibanding PISA 2018.

    Indonesia berada pada urutan ke-74 untuk tes literasi, urutan ke-73 untuk matematika, dan urutan ke-71 untuk sains dari 79 negara partisipan pada tahun 2018.

    Baca: Mengungkap fakta turunnya skor PISA Indonesia

    Menanggapi kondisi ini, anggota Komisi X DPR Andreas Hugo Pareira mengatakan  butuh lembaga khusus yang bertanggung jawab mendongkrak tingkat literasi di Indonesia.

    Hal itu disampaikan Andreas saat pertemuan dengan Bupati Sleman dan jajarannya di Sleman, DIY, Selasa (27/2/2024).

    Tes PISA sendiri adalah suatu studi untuk mengevaluasi sistem pendidikan yang diikuti oleh lebih dari 70 negara di seluruh dunia.

    “Tes Perolehan skor PISA tersebut mencerminkan bahwa pendidikan Indonesia secara umum belum berhasil membentuk peserta didik yang memiliki daya nalar, literasi, dan numerik yang baik,” jelas Andreas dikutip Parlementaria.

    Oleh sebab itu, Andreas menegaskan dibutuhkan lembaga khusus setingkat kementerian yang khusus mengurusi literasi ini karena dianggap penting sebagai respons atas rendahnya nilai tes PISA negara Indonesia.

    Baca: Peringkat PISA indonesia naik

    Bahkan pada tingkat ASEAN, skor PISA Indonesia berada di bawah Malaysia, dan Brunei Darussalam.

    Secara konsisten, Panja Peningkatan Literasi dan Tenaga Perpustakaan (PLTP) Komisi X DPR menyerap aspirasi yang berasal dari berbagai jenis stakeholder termasuk di Kabupaten Sleman ini.

    Sebagai informasi, Panja Peningkatan Literasi dan Tenaga Perpustakaan (PLTP) dibentuk sebagai upaya DPR mendukung Pemerintah Indonesia untuk memperbaiki kuantitas dan kualitas literasi baca di Indonesia.

    Salah satu kebijakan yang dilakukan adalah dengan melalui pemberdayaan peran perpustakaan. 

    “Ke depan penting bagi negara untuk memperhatikan aspek literasi ini karena menyangkut kualitas sumber daya manusia dan tumbuh berkembangnya suatu peradaban masyarakat,” tukas politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ini.

    Baca: Skor PISA Indonesia 2022 anjlok  

    Legislator asal Dapil Nusa Tenggara Timur I ini menambahkan bahwa sebenarnya dalam pemerintahan Presiden Jokowi dan Ma’ruf Amin salah satu program prioritasnya dalam membangun kualitas sumber daya manusia. 

     

    “Salah satu aspek yang berkaitan adalah peningkatan literasi. Sementara kondisi saat ini tingkat literasi di kalangan mahasiswa kita masih tergolong rendah,” pungkasnya. 

  • Intervensi yang Dapat Dilakukan untuk Meningkatkan Budaya Membaca di Indonesia

    Intervensi yang Dapat Dilakukan untuk Meningkatkan Budaya Membaca di Indonesia

    7cloud.asia – Survei Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020 menunjukkan hanya terdapat 13,11 persen orang Indonesia yang membaca buku dalam sebulan terakhir selama periode survei tersebut. Ini mengindikasikan bahwa budaya membaca di Indonesia masih lemah.

    Sejak keikutsertaannya pertama kali pada tahun 2000 dalam Program for International Student Assessment (PISA) dari OECD, organisasi inter-governmental yang bermisi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik melalui pembangunan kebijakan, Indonesia masih betah berada di klasemen bawah.

    Data PISA terbaru tahun 2022 menunjukkan, Indonesia menduduki peringkat 69 dari 81 Negara yang ikut serta.

    Dari segi literasi saja, skor Pisa Indonesia di tahun 2022 khusus untuk kategori kemampuan membaca berada di peringkat ke 71 dari 81 negara dengan skor 371, di bawah rata-rata skor membaca global yakni 476.

    Sebenarnya, pemerintah telah berupaya membenahi persoalan ini dengan berbagai program. Sebut saja program Satu Desa Satu Perpustakaan, Gerakan Literasi Sekolah, atau Sastra Masuk Kurikulum.

    Namun, upaya-upaya intervensi tersebut tampaknya tidak cukup untuk membangun budaya membaca di Indonesia. Sebab, menurut kami, ada perspektif yang tidak utuh dari cara pandang pemangku kepentingan dalam melihat budaya membaca di Indonesia.

    Di Indonesia, norma sosial yang mendukung perilaku membaca tampaknya belum terbentuk. Berdasarkan survei perilaku membaca yang kami lakukan pada 503 orang responden pada tahun 2023 di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, sebagian besar responden masih beranggapan bahwa lingkungan sosialnya tidak begitu mendukung perilaku membaca buku.

    Data di atas juga didukung oleh studi tahun 2021 yang menunjukkan bahwa ketika perilaku membaca dianggap sebagai kegiatan yang dihargai dan didukung oleh orang tua, orang-orang cenderung mengembangkan kebiasaan membaca yang kuat.

    Temuan-temuan di atas menegaskan pentingnya intervensi dalam membangun norma sosial yang pro terhadap perilaku membaca sehingga budaya membaca di Indonesia dapat lebih terbentuk.

    Beberapa upaya intervensi yang dapat dilakukan antara lain:

    1. Kampanye media sosial
    Menampakkan perilaku membaca sebagai aktivitas yang lekat dan dekat dengan anak muda bisa menjadi intervensi yang efektif.

    Inisiatif ini sudah dilakukan oleh beberapa gerakan masyarakat seperti gerakan Indonesia Book Party yang berbasis di berbagai kabupaten dan kota di Indonesia, atau gerakan Baca Di Surabaya yang berpusat di Kota Surabaya.

    Inisiatif-inisiatif semacam ini punya potensi mengeliminasi persepsi-persepsi negatif yang melekat pada perilaku membaca buku dan justru membuat perilaku membaca terlihat keren.

    Semakin keren terlihat, semakin banyak anak muda yang ingin ikut serta. Apalagi jika gerakan ini dibarengi dengan pelibatan public figure atau influencer, maka perilaku membaca akan menjadi tren populer yang akan digemari anak-anak muda.

    Riset tahun 2022 tentang dampak Influencer media sosial membuktikan bahwa influencer dipersepsikan oleh publik sebagai figur yang persuasif dan dapat dipercaya (trustworhty) sehingga memiliki kekuatan untuk memengaruhi perilaku publik.

    Sebagai individu kita juga dapat berperan dalam membangun norma sosial yang mendukung perilaku membaca buku. Dengan sering-sering mengunggah foto sedang membaca buku di media sosial, perilaku membaca akan diidentifikasi sebagai perilaku yang identik dengan masyarakat kita.

    Sehingga, orang-orang yang belum memiliki kebiasaan membaca buku akan merasakan FoMO (Fear of Missing Out) dan akhirnya mulai membaca buku agar diterima masyarakat.

    2. Program membaca bersama
    Mengadakan kegiatan membaca bersama di perpustakaan desa, di sekolah, atau di ruang publik dapat menciptakan persepsi bahwa lingkungan tersebut adalah lingkungan yang mendukung budaya membaca.

    Salah satu kegiatan yang dapat dijadikan contoh baik adalah Baca Bareng yang sudah diterapkan di Jakarta.

    Kegiatan membaca bersama di ruang publik semacam ini, jika digalakkan secara masif di berbagai daerah, akan memiliki daya yang kuat untuk mendorong masyarakat menjadi tertarik untuk membaca buku, melakukannya secara terus-menerus, hingga pada akhirnya membangun kebiasaan membaca buku dengan sendirinya.

    Tentu saja ada banyak upaya atau intervensi lain yang bisa dilakukan untuk membangun norma sosial.

    Namun, upaya-upaya tersebut tidak akan mendapat perhatian jika kita gagal memandang masalah rendahnya budaya membaca di Indonesia dengan perspektif yang benar dan utuh.

    Sudah saatnya pemerintah dan masyarakat memperluas cara pandang dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain selain akses, termasuk norma sosial yang tidak kalah penting dalam upaya pembangunan budaya membaca di Indonesia.

    Artikel ini juga mendapatkan saran dan masukan dari Melania Utami Nirwan, Hanita Putra Djaya, Febrianty Hasanah, Nur Inayah Musa, Nurmisuari Salihu, dan Sri Ayu Pratiwi dari Tim Riset Perilaku Membaca Kota Makassar (LONTAR) dan The Book Club Makassar. Tim penulis mengucapkan terima kasih atas kontribusi pemikiran yang diberikan.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, penulis:
    1. Anhar Dana Putra, Associate professor, Politeknik STIA LAN Makassar

    2. Andika, Lecturer in Geophysics, Universitas Hasanuddin

    3. Andi Riswan Mohamad, Lecturer in Linguistics and Literary Studies, Universitas Negeri Makassar

  • Riset: Budaya Baca di Indonesia Juga Berkaitan dengan Norma Sosial

    Riset: Budaya Baca di Indonesia Juga Berkaitan dengan Norma Sosial

    7cloud.asia – Sejak keikutsertaannya pada tahun 2000 dalam Program for International Student Assessment (PISA) dari OECD, organisasi inter-governmental yang bermisi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik melalui pembangunan kebijakan, Indonesia masih betah berada di klasemen bawah.

    Data PISA terbaru tahun 2022 menunjukkan, Indonesia menduduki peringkat 69 dari 81 Negara yang ikut serta.

    Dari segi literasi saja, skor PISA Indonesia di tahun 2022 khusus untuk kategori kemampuan membaca berada di peringkat ke 71 dari 81 negara dengan skor 371, di bawah rata-rata skor membaca global yakni 476.

    Sementara itu, survei Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020 menunjukkan hanya terdapat 13,11 persen orang Indonesia yang membaca buku dalam sebulan terakhir selama periode survei tersebut. Ini mengindikasikan bahwa budaya membaca di Indonesia masih lemah.

    Sebenarnya, pemerintah telah berupaya membenahi persoalan ini dengan berbagai program. Sebut saja program Satu Desa Satu Perpustakaan, Gerakan Literasi Sekolah, atau Sastra Masuk Kurikulum.

    Baca Juga: Gegara Pandemi Covid-19, Skor Literasi Membaca (PISA) Indonesia Turun

    Namun, upaya-upaya intervensi tersebut tampaknya tidak cukup untuk membangun budaya membaca di Indonesia. Sebab, menurut kami, ada perspektif yang tidak utuh dari cara pandang pemangku kepentingan dalam melihat budaya membaca di Indonesia.

    Selama ini, segala intervensi yang dilakukan masih terlalu berfokus pada pembangunan akses terhadap buku-buku bacaan. Padahal, selain akses, ada faktor lain yang juga berperan dalam menciptakan budaya baca, yaitu norma sosial.

    Norma sosial dan budaya baca
    Norma sosial merupakan seperangkat hal yang diterima atau dianggap normal (pantas) oleh orang-orang dalam suatu kelompok secara kolektif.

    Norma sosial dapat berfungsi sebagai navigator bagi seseorang untuk menentukan apakah perbuatan yang ia lakukan dapat diterima atau tidak oleh masyarakat sekaligus memprediksi bagaimana orang lain akan menanggapi perilakunya secara sosial.

    Icek Ajzen, seorang psikolog sosial dan profesor emeritus di Universitas Massachusetts Amherst, Amerika Serikat (AS) dalam teorinya, Theory of Planned Behaviour (teori perilaku yang direncanakan,) menjelaskan bahwa persepsi terhadap norma sosial adalah salah satu variabel yang menentukan munculnya intensi seseorang untuk melakukan sesuatu.

    Baca Juga: Tak Hanya Membaca, Homeschool Tunas Bangsa Juga Ajak Siswanya Membuat Buku

    Artinya, sebelum melakukan sesuatu, seseorang biasanya akan memeriksa dulu apakah lingkungan sekitarnya bisa menerima perilaku yang akan ia lakukan.

    Jika seseorang meyakini bahwa lingkungannya tidak akan mendukung perilakunya, maka ia akan cenderung mengurungkan niat untuk melakukan sesuatu tersebut.

    Dalam konteks budaya membaca, norma sosial terhadap perilaku membaca merupakan seperangkat keyakinan kolektif yang memungkinkan masyarakat memandang perilaku membaca buku sebagai perilaku yang normal dan wajar untuk dilakukan.

    Jika akses memberi seseorang kesempatan untuk membaca dengan menyediakan buku bacaan, norma sosial berperan untuk memelihara perilaku membaca buku sebagai sebuah perilaku yang dianggap normal, atau bahkan dirayakan, dalam masyarakat.

    Di Indonesia, norma sosial yang mendukung perilaku membaca tampaknya belum terbentuk.

    Baca Juga: Literasi Bintaro, Membangun Minat Membaca Anak dengan Mendongeng dan Mewarnai

    Berdasarkan survei perilaku membaca yang kami lakukan pada 503 orang responden pada tahun 2023 di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, sebagian besar responden masih beranggapan bahwa lingkungan sosialnya tidak begitu mendukung perilaku membaca buku.

    Saat ditanya apa yang orang lain pikirkan tentang dirinya ketika membaca buku di tempat umum? Sebagian besar responden meyakini bahwa mereka akan dicap negatif oleh masyarakat.

    Terdapat 30 persen responden (porsi terbesar) yang berpikir bahwa mereka akan dicap terlalu serius dan 23 persen responden (terbesar ketiga) yang berpikir bahwa mereka akan dicap sok intelek.

    Temuan ini menunjukkan bahwa orang Indonesia masih menganggap perilaku membaca sebagai perilaku yang dicap negatif oleh lingkungan.

    Argumen tersebut diperkuat dengan data yang menunjukkan bahwa terdapat lebih dari 50 persen dari total responden yang beranggapan bahwa circle (lingkaran pertemanan) mereka sendiri tidak mendukung perilaku membaca.

    Baca Juga: Membaca Pemikiran Kartini Lewat Habis Gelap Terbitlah Terang

    Selain itu, keluarga yang seringkali menjadi faktor penting terbentuknya perilaku juga tidak cukup dominan mendukung perilaku membaca.

    Sekalipun sebagian besar (54,8%) merasa didorong oleh keluarga untuk membaca buku, 45,2 persen responden masih merasa perilaku membacanya tidak didukung.

    Data di atas juga didukung oleh studi tahun 2021 yang menunjukkan bahwa ketika perilaku membaca dianggap sebagai kegiatan yang dihargai dan didukung oleh orang tua, orang-orang cenderung mengembangkan kebiasaan membaca yang kuat.

    Lantas adakah upaya intervensi yang bisa dilakukan untuk meningkatkan budaya membaca di Indonesia, jawabannya akan kita ulas dalam tulisan selanjutnya.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, penulis:

    1. Anhar Dana Putra, Associate professor, Politeknik STIA LAN Makassar

    2. Andika, Lecturer in Geophysics, Universitas Hasanuddin

    3. Andi Riswan Mohamad, Lecturer in Linguistics and Literary Studies, Universitas Negeri Makassar