Tag: PISA 2022

  • Mengungkap Fakta dari Turunnya Skor PISA 2022 Indonesia

    Mengungkap Fakta dari Turunnya Skor PISA 2022 Indonesia

    7cloud.asia – Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), awal Desember lalu merilis publikasi terbaru dari Programme for International Student Assessment atau PISA 2022 

    OECD adalah organisasi internasional dari 38 negara yang berkomitmen pada demokrasi dan ekonomi. Sedangkan skor PISA termasuk PISA 2022 bertujuan untuk mengukur tingkat literasi dan pembelajaran di negara-negara anggota OECD.

    Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Anwar Makarim secara khusus  menanggapi rilis skor PISA 2022 dari OECD ini.

    Melalui akun instagram pribadinya, Nadiem merespons rilis OECD terkait skor PISA 2022 tersebut dengan menekankan prestasi Indonesia yang berhasil naik 5 hingga 6 peringkat.

    Literasi membaca naik 5 peringkat, literasi matematika naik 5 peringkat, dan literasi sains naik 6 peringkat.

    Namun, paparan dari Nadiem Makarim hanya mengambil yang baik-baiknya saja (cherry picking). Padahal, penting juga untuk melihat bagaimana hasil PISA 2022 tersebut menggambarkan situasi pendidikan Indonesia saat ini.

    Baca: Skor PISA 2022 Indonesia anjlok

    Reza Aditia PhD student, Eötvös Loránd University yang juga akademisi yang salah satu fokus risetnya adalah kesenjangan pendidikan, menganalisis dataset mentah PISA 2022 ini.

    Berikut tulisan Reza seperti diterbitkan di The Converstion. 

    Tidak seperti data Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) milik Kemdikbudristek, dataset mentah PISA milik OECD dipublikasikan dalam laman websitenya.

    “Sehingga seluruh pihak dapat menggunakan data tersebut untuk melakukan analisis lebih lanjut, selain analisis-analisis yang telah OECD lakukan dalam laporan mereka,” tulis Reza.

    Hasil analisis menunjukkan bahwa masih terdapat kesenjangan pendidikan di Indonesia antara daerah rural dan daerah urban yang mempengaruhi capaian pembelajaran.

    Baca: Gegara pandemi skor PISA global anjlok

    Capaian berdasarkan geografi sekolah.

    Berdasarkan grafik 1 di atas, kelompok geografi sekolah yang paling rendah pada literasi matematika adalah sekolah-sekolah yang termasuk pada kategori village, hamlet atau rural area (daerah pedesaan berpenduduk kurang dari 3.000 jiwa)

    Kelompok ini mendapat skor 341,94. Skor ini berada di level 1b atau di bawah level 2, yang dianggap sebagai kecakapan minimum.

    Artinya, anak sekolah usia 15 tahun (atau 3 SMP) yang berada di kelompok geografi ini hanya mampu melakukan penghitungan sederhana dengan bilangan bulat.

    Siswa juga dapat mengikuti instruksi yang ditentukan dengan jelas, yang didefinisikan dalam teks singkat dan tata kalimat yang sederhana.

    Grafik 2 – Literasi membaca berdasarkan geografi sekolah.
    Konsisten dengan temuan sebelumnya, murid-murid yang berada di sekolah dengan kategori village, hamlet or rural area adalah kelompok yang memperoleh skor paling rendah pada uji literasi membaca.

    Kelompok ini hanya memperoleh skor 343,05 (level 1a).

    Murid-murid yang berada di level 1a dapat memahami arti harfiah dari kalimat atau paragraf pendek, serta dapat mengenali tema utama atau tujuan penulis dalam sebuah teks tentang topik yang sudah dikenal.

    Mereka juga dapat membuat hubungan sederhana antara beberapa informasi yang berdekatan, atau antara informasi yang diberikan atau berdasarkan pengetahuan mereka sebelumnya.

    Namun, mereka akan mengalami kesulitan dalam menafsirkan makna suatu teks jika informasinya tidak eksplisit atau ketika teks tersebut memuat beberapa informasi pengecoh.

    Skor ini berbeda secara signifikan jika dibandingkan dengan kelompok-kelompok geografi lainnya, terutama dengan sekolah-sekolah yang berada pada geografi large city (kota besar dengan jumlah penduduk 1.000.000 hingga 10.000.000 jiwa).

    Baca: Skor PISA 2022 Indonesia mundur ke tahun 2000an


    Grafik 3 – Literasi sains berdasarkan geografi sekolah.

    Hasil tes yang diperoleh dari literasi sains juga menunjukkan bahwa sampel yang berada di sekolah dengan geografi village, hamlet or rural merupakan kelompok yang memiliki skor rata-rata literasi sains paling rendah (366,56 atau level 1a) jika dibandingkan dengan kelompok geografi sekolah lainnya.

    Siswa-siswi ini hanya mampu menggunakan informasi dasar serta pengetahuan sesuai prosedur untuk mengenali atau mengidentifikasi penjelasan fenomena ilmiah sederhana.

    Skor ini memiliki perbedaan yang signifikan secara statistik dengan skor literasi sains yang diperoleh dari sampel yang berada pada kelompok geografi lainnya, dengan jumlah penduduk lebih dari 3.000 jiwa.

    Baca: Jumlah sarjana yang menganggur makin bertambah

    Hasil analisis yang telah dipaparkan di atas bisa menjadi langkah awal untuk melihat hasil PISA 2022 secara lebih kritis, agar keberhasilan yang dikabarkan tidak fokus pada peringkat saja.

    Pierre Bourdieu, sosiolog pendidikan asal Prancis, pernah menyebutkan bahwa:

    “Praktik seseorang dihasilkan dari hubungan antara habitus dan posisinya dalam sebuah masyarakat (dalam bentuk kapital), pada kondisi arena sosial tempat ia berada.”

    Artinya, habitus dan tempat seseorang berpijak secara tidak sadar mereproduksi kesenjangan kelas yang sudah ada pada sistem masyarakat melalui skema budaya yang didasarkan pada sistem formal.

    Dalam konteks tulisan ini, ketimpangan sosial antara desa dan kota direproduksi di sekolah-sekolah dan melahirkan kesenjangan pendidikan yang mendorong masyarakat melakukan urbanisasi, memilih pindah dari desa ke kota.

    Namun, urbanisasi bukan jawaban atas persoalan tersebut. Perpindahan masyarakat dari desa ke kota justru berpeluang menciptakan persoalan baru.

    Lagipula, penyediaan pendidikan yang berkualitas dan merata, seharusnya tetap menjadi tanggung jawab pemerintah terlepas dari letak geografi sekolah.

    Sumber: The Conversation

  • Fakta dari Turunnya Skor PISA 2022: Jumlah GuruTidak Merata dan Fasilitas Tak Memadai

    Fakta dari Turunnya Skor PISA 2022: Jumlah GuruTidak Merata dan Fasilitas Tak Memadai

    7cloud.asia – Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), awal Desember lalu merilis publikasi terbaru dari Programme for International Student Assessment atau PISA 2022 

    Dari penelusuran yang dilakukan Reza Aditia PhD student, Eötvös Loránd University terhadap dataset mentah PISA 2022, selain student questionnaire, PISA juga menyediakan school questionnaire.

    Kuesioner PISA 2022 ini diisi oleh pihak sekolah (bisa guru maupun kepala sekolah) guna menggambarkan keadaan sekolah-sekolah yang menjadi sampel.

    Analisis terhadap data PISA 2022 soal persepsi guru mengenai hambatan yang mereka temui selama pembelajaran berlangsung (instruction hindered section), yang tersedia pada school questionnaire, Reza menemukan fakta-fakta berikut:

    Baca: Fakta lain soal PISA 2022

    1. Pentingnya pemerataan jumlah guru

    Guru-guru yang mengajar di daerah terpencil mengaku kesulitan dalam melakukan pengajaran yang efektif karena sekolah mengalami kekurangan guru jika dibandingkan dengan jumlah murid.

    Dampak hal ini, yang terjadi adalah beban kerja guru berlebih. Guru terpaksa harus mengajar dengan jumlah jam yang melebihi kewajiban mereka (24 jam per minggu), bahkan harus mengajar mata pelajaran di luar bidang keahliannya.

    Oleh karena itu, pemerintah perlu membuka lebih banyak lowongan untuk guru-guru di sekolah terpencil.

    Dan, tentu saja membuat regulasi agar guru-guru tersebut tidak menjadikan status Aparatur Sipil Negara (ASN) yang diperoleh dari sekolah tersebut sebagai batu loncatan untuk pindah ke sekolah yang terletak di perkotaan.

    Baca: Skor PISA 2022 Indonesia turun

    2. Kurangnya infrastruktur fisik di sekolah pedesaan

    Analisis dataset PISA 2022 juga menemukan bahwa mayoritas guru di pedesaan mengaku jika sekolah tempat mereka mengajar mengalami kekurangan dalam infrastruktur fisik.

    Gedung sekolah, lapangan olahraga, pendingin ruangan, pencahayaan, hingga sistem pengeras suara masih banyak yang belum memadai.

    Ketiadaan infrastuktur-infrastruktur fisik ini dapat menghambat proses belajar mengajar.

    Menyediakan bangunan yang bersirkulasi udara baik, atau memasang pendingin ruangan di kelas-kelas merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kenyamanan belajar

    Dampak akhirnya adalah memberikan lingkungan yang mendukung untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

    Baca: Gegara pandemi skor PISA 2022 Global anjlok

    3. Perlunya perbaikan dan peremajaan infrastruktur fisik yang tersedia

    Banyak guru-guru yang mengajar di daerah terpencil mengaku bahwa proses pembelajaran yang mereka lakukan mengalami kesulitan diakibatkan oleh buruknya keadaan infrastruktur fisik yang telah ada.

    Selain membangun, pemerintah perlu menjamin terawatnya fasilitas-fasilitas yang ada di sekolah.

    4. Pengadaan sumber daya digital

    Di era digital saat ini, ketersediaan perangkat digital di sekolah merupakan hal yang penting untuk menunjang proses pembelajaran.

    Namun, berdasarkan data PISA 2022, mayoritas guru yang berada di daerah terpencil mengaku kekurangan ketersediaan perangkat-perangkat digital, seperti desktop atau laptop, akses internet, learning management systems, hingga platform pembelajaran di sekolah.

    Ketersediaan perangkat-perangkat ini adalah kebutuhan mutlak, karena telah banyak riset yang membuktikan bahwa keberadaan perangkat digital mampu meningkatkan kualitas belajar siswa.

    Tentu saja, masih banyak hal lain yang perlu diselesaikan jika ingin memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia.

    Sebut saja perbaikan kesejahteraan guru, revisi sistem Pendidikan Profesi Guru (PPG), hingga menjamin agar siswa tidak memikirkan mencari nafkah untuk membantu keluarga ketika berada di luar jam sekolah.

    Baca: Gegara pandemi skor PISA 2022 turun ke angka tahun 2000an

    Kesenjangan desa dan kota
    Hasil analisis yang telah dipaparkan di atas bisa menjadi langkah awal untuk melihat hasil PISA 2022 secara lebih kritis, agar keberhasilan yang dikabarkan tidak fokus pada peringkat saja.

    Pierre Bourdieu, sosiolog pendidikan asal Prancis, pernah menyebutkan bahwa:

    “Praktik seseorang dihasilkan dari hubungan antara habitus dan posisinya dalam sebuah masyarakat (dalam bentuk kapital), pada kondisi arena sosial tempat ia berada.”

    Artinya, habitus dan tempat seseorang berpijak secara tidak sadar mereproduksi kesenjangan kelas yang sudah ada pada sistem masyarakat melalui skema budaya yang didasarkan pada sistem formal.

    Dalam konteks tulisan ini, ketimpangan sosial antara desa dan kota direproduksi di sekolah-sekolah dan melahirkan kesenjangan pendidikan yang mendorong masyarakat melakukan urbanisasi, memilih pindah dari desa ke kota.

    Namun, urbanisasi bukan jawaban atas persoalan tersebut. Perpindahan masyarakat dari desa ke kota justru berpeluang menciptakan persoalan baru.

    Lagipula, penyediaan pendidikan yang berkualitas dan merata, seharusnya tetap menjadi tanggung jawab pemerintah terlepas dari letak geografi sekolah.