Tag: pisang

  • Salah Satu Keanekaragaman Hayati Indonesia: Punya Lebih dari 300 Jenis Pisang Lokal

    Salah Satu Keanekaragaman Hayati Indonesia: Punya Lebih dari 300 Jenis Pisang Lokal

    7cloud.asia – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebut, Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang sangat banyak yang masih tumbuh liar di hutan maupun yang sudah didomestikasi untuk kepentingan manusia. Salah satunya adalah pisang. 

    Periset Hortikultura dan Perkebunan BRIN Agus Sutanto mengatakan pisang lokal menjadi salah satu kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia yang tersebar dari Pulau Sumatra hingga Papua.

    “Pisang lokal banyak tersebar di seluruh Indonesia dengan jumlah mungkin bisa lebih dari 300 jenis,” ujarnya dalam pernyataan soal keanekaragaman hayati yang dimiliki Indonesia dikutip di Jakarta, Kamis (5/10/2023).

    Agus menuturkan beberapa pisang lokal menjadi ciri khas dari suatu daerah, seperti pisang goroho di Sulawesi Utara. Pisang itu sudah menyebar dan sudah dimanfaatkan oleh masyarakat untuk keripik bahkan makanan pengganti nasi saat pagi hari.

    Baca: Petani di Pulau Pisang sukses ekspor pisang ke Singapura

    Kemudian, ada juga pisang agung dari Lumajang, pisang biu kayu dari Bali dan menyebar hingga ke Nusa Tenggara Barat (NTB), serta pisang tonga langit dari Maluku yang juga tumbuh hingga ke Papua.

    BRIN memanfaatkan sumber daya genetik pisang lokal untuk menghasilkan tanaman yang lebih unggul toleran terhadap cengkaman biotik dan abiotik, salah satunya pisang kepok tanjung untuk pengendalian penyakit darah.

    “Kita punya sumber daya genetik yang cukup besar baik pisang liar maupun lokal. Oleh karena itu, kita perlu melakukan kegiatan eksplorasi,” kata Agus.

    Kepala Pusat Riset Hortikultura dan Perkebunan BRIN Dwinita Wikan Utami mengatakan komoditas hortikultura yang ada di Indonesia sebenarnya memainkan peranan penting dalam pemenuhan kebutuhan pangan, gizi, kesehatan, dan ekonomi.

    Baca: Hari Keanekaragaman Hayati Internasional

    Hal itu sudah terbukti selama pandemi COVID-19 sektor hortikultura menjadi penopang ekonomi yang sudah berkontribusi dalam pertumbuhan ekonomi.

    Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan produk domestik bruto sektor pertanian antara kuartal pertama dan kedua tahun 2020, berada pada angka 16,24 persen.

    Kenaikan itu didukung oleh pertumbuhan subsektor pangan sebesar 34,77 persen, hortikultura 21,75 persen, dan perkebunan 23,46 persen. Sementara itu, sektoral lain justru mengalami pertumbuhan negatif akibat pandemi.

    “Pertumbuhan ekonomi domestik bruto mengalami peningkatan dibandingkan sektor lain. Hal itu menunjukkan sektor hortikultura memiliki peranan penting dalam menopang ekonomi nasional,” kata Dwinita.

    Baca: Spesies baru ditemukan di hutan Indonesia

    Lebih lanjut dia menyampaikan Indonesia punya banyak keragaman buah lokal yang sebenarnya masih belum terungkap.

    Melalui pengungkapan potensi dan studi keragaman genetik menjadi harapan untuk mengetahui potensi dan pemanfaatannya.

    Kegiatan pengungkapan potensi sejalan dengan tujuan konservasi agar relevan dengan kegiatan pemuliaan tanaman.

    “Produksi benih tidak bisa terlepas yang merupakan faktor kunci juga dalam pengembangan kultivar baru,” pungkas Dwinita.

    Sumber: Antaranews

     

  • Cara Start Up Uganda Manfaatkan Limbah Tanaman Pisang di Afrika

    Cara Start Up Uganda Manfaatkan Limbah Tanaman Pisang di Afrika

    7cloud.asia – Uganda, sebuah negara Afrika Timur sering disebut sebagai republik pisang sejati. Hal ini karena Uganda merupakan penghasil pisang terbesar di Afrika sekaligus konsumer pisang tertinggi di dunia. 

    Di daerah pedesaan di Uganda, Afrika Timur pisang dapat menyumbang hingga 25 persen asupan kalori harian, menurut angka dari Organisasi Pangan dan Pertanian PBB.

    Di Uganda, konsumsi pisang melekat pada adat dan tradisi setempat. Bagi banyak orang Uganda, makan belum lengkap tanpa seporsi matooke, makanan pokok berbahan pisang yang biasa disantap masyarakat di Kawasan Danau Besar di Afrika Timur.

    Banyaknya limbah yang dihasilkan dari tanaman pisang mendorong perusahaan rintisan (startup) di Uganda memanfaatkan kekuatan serat pisang.

    Tanpa buah, tanaman pisang hampir tidak ada gunanya bagi petani pada umumnya. Malah, pohon itu kerap mengganggu dan harus dicabut. Namun apakah batang-batang pohon pisang yang dibuang bisa hidup lagi?

    Baca: Indonesia punya lebih dari 300 jenis pisang lokal

    Bisa, menurut satu startup di Uganda, TEXFAD. Perusahaan itu membeli batang pisang lalu mengubah serat-seratnya menjadi kerajinan tangan yang dapat terurai secara hayati.

    Ketika memanen pisang, petani akan memenggal batang pohon. Penggalan ini sering kali dibiarkan membusuk di lahan terbuka. Namun, TEXFAD kini memanfaatkan banyak batang pisang yang membusuk itu untuk mengekstrak serat pisang.

    Start up yang menggambarkan diri sebagai kelompok pengelola limbah itu kemudian mengubah serat pisang menjadi barang, misalnya pemanjang rambut atau hair extension.

    John Baptist Okello, manajer bisnis TEXFAD, mengatakan apa yang dilakukan perusahaannya masuk akal mengingat para petani Uganda “sangat kesulitan” dan negara itu memiliki banyak sekali limbah yang berhubungan dengan pisang.

    “…Pisang tumbuh satu kali dan panen satu kali, sehingga setelah dipanen, batangnya menjadi limbah. Kini, karena limbah tersebut, para petani kesulitan menangani limbah ini karena mereka hanya memperoleh penghasilan dari buahnya dan terkadang buah itu dijual sekitar 1 dolar AS,” jelasnya.

    Baca: Kebutuhan pisang kepok Singapura dipasok dari Kalimantan

    Bekerja sama dengan tujuh kelompok petani berbeda di Uganda barat, TEXFaD membayar 2,7 dolar AS atau sekitar Rp45 ribu per kilogram serat kering.

    Perusahaan itu juga mengambil bahan mentah dari pihak ketiga, Tupande Holdings Ltd., yang memasok batang-batang pisang dari petani Uganda tengah.

    Para pekerja Tupande memilah dan mencari batang pisang yang diinginkan. Mesin-mesin kemudian mengubah serat menjadi benang halus.

    Ketua tim Tupande, Aggrey Muganga mengatakan, pihaknya berkontribusi dalam rantai nilai limbah pisang dengan memberikan tambahan penghasilan kepada petani.

    “Kami mengubah limbah ini menjadi sesuatu yang berharga yang kami jual kepada mitra kami yang juga membuat barang-barang yang dapat mereka jual.” ujar Aggrey

    Ia menambahkan bahwa apa yang mereka lakukan juga membuka lapangan pekerjaan dan berkontribusi pada industrialisasi Uganda dan perbaikan kehidupan masyarakat Uganda.

    Baca: Kisah sukses petani Magelang beralih dari tembakau ke ubi cilembu

    Tupande Holdings Ltd. bekerja sama dengan lebih dari 60 petani yang memasok bahan mentah.

    Jumlah tersebut hanyalah sebagian kecil dari jumlah yang tersedia di negara yang memiliki lebih dari satu juta hektar lahan yang ditanami pisang.

    Produksi pisang di Uganda terus meningkat selama bertahun-tahun, dari 6,5 metrik ton pada 2018 menjadi 8,3 metrik ton pada 2019, menurut angka dari Biro Statistik Uganda.

    Di satu pabrik di sebuah desa di luar ibu kota Uganda, Kampala, TEXFAD mempekerjakan lebih dari 30 orang. Mereka menggunakan tangan untuk membuat barang-barang dari serat pisang.

    Perusahaan itu mengekspor permadani dan kap lampu ke Eropa. Barang-barang seperti itu dimungkinkan karena “serat pisang bisa dihaluskan hingga sehalus kapas,” kata Okello.

    Bekerja sama dengan tim peneliti, TEXFAD juga bereksperimen pada kemungkinan pembuatan kain dari serat pisang.

    Baca: Mengapa pupuk kandang lebih bagus ketimbang pupuk kimia

    Perusahaan ini juga merancang produk ekstensi rambut yang diyakini dapat membantu menghilangkan pasar produk sintetis.

    Faith Kabahuma dari program pengembangan pemanjang rambut dari serat pisang di TEXFAD mengatakan, semua produk buatan perusahaannya bisa terurai secara hayati. Pemanjang rambut dari serat pisangnya akan segera dipasarkan.

    Masalah sering dipicu serat sintetis adalah mencemari lingkungan dan menyumbat saluran air. 

    “Produk itu tidak ramah lingkungan,” kata Kabahuma.

    Banyak orang yang bertani pisang, makanan pokok di Uganda, kata Beatrice Namawejje, eksekutif penjualan di TEXFAD.

    Jadi, ketika mengetahui bahwa mereka bisa mendapatkan lebih banyak manfaat dari pisang, ini menimbulkan kegembiraan karena ternyata ada manfaat lain dari pohon pisang selain menikmati buahnya.

    Sumber: VOA Indonesia

  • BRIN Dorong Pemuliaan Pisang Liar sebagai Pilar Ketahanan Pangan

    BRIN Dorong Pemuliaan Pisang Liar sebagai Pilar Ketahanan Pangan

    7cloud.asia – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah menetapkan program pemuliaan untuk 16 jenis pisang liar (Musa acuminata).

    Terkait hal ini, BRIN melakukan riset eksplorasi, karakterisasi, dan pra-pemuliaan pisang liar Indonesia guna mendukung ketahanan pangan. Indonesia dikenal sebagai salah satu hotspot spesies pisang liar.

    Kepala Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan (OR HL) BRIN, Andes Hamuraby Razak menjelaskan, bahwa BRIN telah melakukan ekspedisi pengumpulan pisang liar di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.

    Upaya ini bertujuan melestarikan sumber daya genetik khususnya tanaman pisang dari ancaman perubahan iklim, serta serangan hama dan penyakit.

    Pra-pemuliaan sangat penting untuk mengidentifikasi gen bermanfaat dari spesies liar, membuka peluang bagi pengembangan pisang baru yang lebih produktif dan bergizi.

    Baca: Indonesia punya lebih dari 300 jenis pisang lokal

    Hal tersebut disampaikan Andes dalam kegiatan The First Annual Banana Meeting bertajuk Innovating the Future of Bananas: Sustainability, Disease Resistance, and Global Food Security, pada Selasa (11/2/2025).

    Acara ini menandai satu tahun kerja sama BRIN dengan Gates Foundation dan LPDP dalam platform kolaborasi internasional riset pisang.

    “Kami fokus pada ketahanan terhadap penyakit, toleransi lingkungan, kandungan nutrisi, dan pemilihan sifat unggul pisang liar untuk mendukung ketahanan pangan nasional,’’ ujar Andes.

    Kepala Pusat Riset Rekayasa Genetika sekaligus manajer program, Ratih Asmana Ningrum, menuturkan bahwa pertemuan ini bertujuan mengeksplorasi inovasi, tantangan, dan masa depan budidaya pisang.

    BRIN menyediakan berbagai skema pendukung, seperti pendanaan eksplorasi terestrial dan program mobilitas periset berupa beasiswa pascasarjana, pendanaan post-doctoral, dan visiting researcher.

    Baca: Petani di Kaltim ekspor pisang kepok ke Singapura

    Saat ini, tercatat ada 35 mahasiswa telah lulus seleksi beasiswa untuk studi magister dan doktor.

    “Tahun ini, BRIN akan menjadi tuan rumah ASEAN Ministerial Meeting on Science, Technology and Innovation (AMMSTI), memperkenalkan platform ini ke negara-negara ASEAN untuk memperluas kolaborasi riset pisang,“’ ungkap Ratih.

    Perwakilan Gates Foundation, Jim Lorenzen, mengapresiasi inisiatif BRIN sebagai contoh kemitraan riset yang kuat.

    “Kolaborasi ini melengkapi tujuan kami dalam mendukung riset pertanian yang inovatif. Riset ini mencakup karakterisasi dan pra-pemuliaan, termasuk penyuntingan gen dengan teknologi CRISPR,“ jelas Lorenzen.

    Sementara itu Profesor Riset BRIN, Enny Sudarmonowati berharap upaya ini menarik minat sektor swasta dan industri untuk memperkuat serta memperluas kolaborasi riset pisang di Indonesia.

    Dengan kolaborasi ilmuwan, akademisi, dan sektor industri, riset pisang diharapkan memberikan kontribusi nyata bagi ketahanan pangan global.

    Salah satu contohnya dilakukan Muhammad Dylan Lawrie dengan meneliti karakterisasi gen GRF pada pisang liar Indonesia untuk meningkatkan ketahanan terhadap kekeringan.

    Timnya mengidentifikasi gen yang dapat membantu tanaman menghadapi perubahan iklim.

  • Perubahan Iklim Mempengaruhi Produksi Pisang Dunia

    Perubahan Iklim Mempengaruhi Produksi Pisang Dunia

    7cloud.asia – Pertanian merupakan salah satu sektor yang paling rentan terhadap perubahan iklim, karena hasil panen berubah seiring dengan interaksi faktor-faktor iklim seperti suhu, pola curah hujan, lamanya musim tanam, serta hama dan penyakit.

    Seiring memburuknya perubahan iklim, pasokan pangan, kualitas pangan, dan mata pencaharian petani pun ikut menurun.

    Dilansir Earth.org, sejumlah komoditas pertanian seperti pisang, kopi dan coklat merasakan dampak perubahan iklim. Dalam artikel ini kita akan ulas bagaimana tanaman pisang terimbas dampak perubahan iklim.

    Pisang (Musa Sp) merupakan tanaman pangan terbesar keempat di dunia setelah gandum, beras, dan jagung, dengan lebih dari 400 juta orang mengandalkannya untuk memenuhi 15-27 persen kebutuhan kalori harian mereka.

    Menurut penelitian terbaru oleh lembaga amal Christian Aid yang berbasis di Inggris, produksi di negara-negara seperti India dan Brasil diperkirakan akan menurun pada pertengahan abad ini akibat dampak perubahan iklim

    Penurunan produksi pisang dunia juga berdampak pada eksportir utama seperti Kolombia dan Kosta Rika.

    Baca: BRIN dorong pemuliaan pisang liar untuk pilar ketahanan pangan

    Para peneliti juga menemukan bahwa hingga 60 persen lahan di Amerika Latin dan Karibia, wilayah penghasil pisang terkemuka di dunia, tidak akan lagi cocok untuk ditanami pisang pada tahun 2080.

    “Perubahan iklim semakin parah setiap hari. Perubahan iklim merusak perkebunan kami dan juga membunuh kami,” ujar Aurelia, seorang petani Guatemala, kepada lembaga nirlaba tersebut.

    Beberapa faktor terkait iklim dapat memengaruhi tanaman pisang, termasuk peristiwa cuaca ekstrem seperti topan dan kekeringan. Namun, menurut Sophia, petani lain dari Guatemala, panas ekstremlah yang menghancurkan lahan-lahan pertanian di negaranya.

    “Masalah terbesar yang kami hadapi di komunitas ini adalah suhu panas yang tinggi, dan bagaimana iklim di sini memengaruhi perkebunan dan tanaman kami. Kami telah mengalami suhu panas tinggi ini selama dua tahun berturut-turut,” ujarnya.

    Menurut Christian Aid, kondisi cuaca yang tidak stabil memengaruhi produksi pisang dalam berbagai cara.

    Pertama, suhu di bawah 12°C dapat menyebabkan kerusakan akibat dingin pada tanaman, sementara suhu di atas 38°C biasanya menghentikan pertumbuhan,

    Baca: Indonesia punya lebih dari 300 jenis pisang lokal

    Kedua, angin kencang selama siklon tropis juga menjadi masalah, karena dapat merobek daun, sehingga memengaruhi fotosintesis tanaman.

    Selain itu, banjir yang disebabkan oleh hujan lebat juga dapat mengganggu pertumbuhan pisang karena dapat mengikis tanah.

    Masalah lain yang memengaruhi pisang adalah penyakit seperti Fusarium TR4 dan bercak daun hitam, yang semakin berkembang biak dalam kondisi panas dan basah, sehingga memengaruhi produktivitas tanaman.

    TR4, penyakit mematikan yang lebih dikenal sebagai penyakit Panama, pertama kali terdeteksi di Asia pada tahun 1970-an. Penyakit ini menyebar ke Afrika pada tahun 2013 dan tiba di Amerika Latin tujuh tahun kemudian.

    Sebagai ancaman terbesar dunia bagi produksi pisang, patogen yang berasal dari tanah ini mencemari lahan secara permanen, membuatnya tidak dapat ditanami.

    Sementara itu, garis hitam pada daun diketahui mengganggu pasokan oksigen tanaman, sehingga mengurangi hasil panen pisang hingga 80 persen.

    Baca: Pertanian regeneratif dilirik untuk amankan pasokan pangan

     

  • BRIN Galang Kolaborasi Internasional untuk Lindungi Produksi Pisang Dunia

    BRIN Galang Kolaborasi Internasional untuk Lindungi Produksi Pisang Dunia

    7cloud.asia – Pisang merupakan salah satu komoditas pangan utama dunia dan menjadi makanan pokok bagi jutaan penduduk, termasuk Indonesia, dan khususnya di beberapa negara Afrika. Di mana, pisang berperan penting dalam ketahanan pangan dan penghidupan masyarakat pedesaan.

    Namun, produksi pisang sangat rentan terhadap serangan hama dan penyakit, yang dapat berdampak serius terhadap gizi, pendapatan petani, dan stabilitas sosial.

    Hal ini terungkap dalam pertemuan tahunan kedua Program Riset Pemuliaan Pisang, bertajuk “Collection, Characterization and Pre-breeding Wild Bananas” di Cibinong, Jawa Barat beberapa waktu lalu.

    Kepala Pusat Riset Rekayasa Genetika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ratih Asmana Ningrum, mengatakan, ancaman terbesar terhadap produksi pisang antara lain penyakit layu Panama yang disebabkan jamur tular tanah Fusarium oxysporum f. sp. cubense.

    Selain itu ada juga penyakit Banana Bunchy Top (BBTV) yang disebabkan virus Banana bunchy top yang disebarkan oleh serangga.

    Patogen tular tanah Fusarium ini sangat sulit dikendalikan dan dapat bertahan lama di dalam tanah. Sehingga, metode pengendalian konvensional tidak lagi memadai. Sedangkan penyebaran virus oleh serangga juga sukar dikendalikan.

     

    Baca: Perubahan iklim mempengaruhi produksi pisang dunia

    “Oleh karena itu, pemuliaan varietas pisang yang tahan hama dan penyakit menjadi solusi paling berkelanjutan dalam jangka panjang,” kata Ratih seperti dilansir brin.go.id

    Pemuliaan pisang menghadapi tantangan biologis yang unik karena sebagian besar pisang konsumsi bersifat steril dan poliploid.

    Kondisi ini membatasi metode pemuliaan konvensional dan menuntut pendekatan inovatif yang menggabungkan bioteknologi dengan pemanfaatan sumber daya genetik pisang liar.

    “Dan kita, di Indonesia, diberkahi keragaman pisang liar yang sangat tinggi. Pisang liar tersebut diduga menjadi nenek moyang dari pisang budi daya,” ujarnya.

    Karena itu, lanjut Ratih, inti dari proyek ini adalah mengoleksi pisang liar. Kemudian mempelajari sifat-sifat ketahananan dan sifat-sifat lain yang penting untuk budi daya pisang.

    Baca: BRIN dorong pemuliaan pisang liar sebagai pilar ketahanan pangan

    “Selanjutnya, menggunakan plasma nutfah pisang liar yang telah diketahui sifat-sifatnya untuk membentuk genotipe unggul tahan Fusarium dan BBTV, selain sebagai dasar pengembangan varietas unggul lain dengan sifat target lainnya,” urai Ratih.

    Genotipe-genotipe unggul yang menjadi salah satu output dari proyek ini akan menjadi induk persilangan dalam merekayasa varietas pisang yang sesuai kebutuhan.

    Genotipe unggul ini akan dapat dimanfaatkan oleh partner dalam kerja sama ini, seperti International Institute for Tropical Agriculture (IITA) yang mengelola penyebaran ke petani dan breeder di Afrika, serta oleh BRIN bersama kementerian terkait akan disebarkan juga ke negara Asia Tenggara.

    “Dalam penelitian tersebut, digunakan berbagai teknik dari konvensional seperti penyerbukan, juga teknik-teknik modern seperti hibridisasi somatik, gene editing, juga teknik-teknik analisis modern genomik-genotyping, phenotyping, transkriptomik, metabolomik, dan intregrasi teknik tersebut,” jelasnya.

    Kegiatan riset ini dipimpin oleh BRIN yang berperan aktif melalui para periset ahli di bidang teknologi omics dan pemuliaan pisang.

    Baca: Indonesia punya lebih dari 300 jenis pisang lokal

    BRIN berkomitmen penuh dengan menyediakan berbagai dukungan melalui pendanaan, fasilitas laboratorium, dan lahan, serta skema mobilitas periset melalui pembiayaan periset tamu dan beasiswa pascasarjana.

    Riset ini juga didukung Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) – Kementerian Keuangan  dan lembaga donor internasional Gates Foundation yang memiliki misi kemanusiaan untuk meningkatkan kesejahteraan petani kecil di Afrika Timur, Asia, dan wilayah rentan lainnya.

    Kolaborasi ini melibatkan berbagai institusi akademik dan riset terkemuka, antara lain University of Queensland (Australia), Wageningen University Research (The Netherlands), Meise Botanic Gardens and the Alliance of Bioversity International & CIAT (Belgium), Institute of Experimental Botany (Czech Republic), IITA – Afrika, dan mitra pendukung lain.

    Di dalam negeri, IPB University dan Universitas Padjdjaran menjadi mitra kolaborasi utama. Kolaborasi juga melibatkan industri/swasta untuk membentuk jejaring akademia, industri, dan pemerintah, sehingga menjadi platform untuk inovasi ilmiah dan solusi pertanian yang aplikatif.

    Kepala BRIN, Arif Satria, menegaskan program ini menjadi model bagaimana kemitraan global dapat mengatasi masalah global.

    “Di tingkat nasional, kami bangga memiliki BRIN sebagai mitra inti dalam proyek ini. BRIN menyatukan para peneliti dengan keahlian luas dalam biologi, genetika, dan pemuliaan pisang, serta pengetahuan mendalam tentang keanekaragaman pisang liar Indonesia,” kata Arif.

    Baca: Petani Kaltim sukses ekspor pisang ke Singapura

    Ia menambahkan, Indonesia diakui sebagai salah satu pusat asal dan keanekaragaman pisang.

    “Spesies pisang liar kita – total 16 subspesies – mewakili cadangan genetik yang tak ternilai harganya yang dapat memberikan sifat resistensi dan potensi adaptasi untuk program pemuliaan di masa depan. Sumber daya genetik ini adalah fondasi dari upaya ilmiah kita,” tambahnya.

    Pertemuan Tahunan kedua ini juga meresmikan Banana Innovation, Network, Database (BIND) Center sebagai pusat kolaborasi global dalam riset dan pengembangan pisang.

    Inovasi melalui ekplorasi, karakterisasi, dan pra-pemuliaan pisang liar serta kolaborasi dalam jejaring global diharapkan menghasilkan luaran yang terintegrasi dalam sebuah database (INA-BAN) agar menjadi dasar kebijakan pemuliaan pisang lebih lanjut, sehingga dapat memberikan dampak nyata.

    Program ini tidak hanya berfokus pada kemajuan ilmu pengetahuan, tetapi juga perlindungan ketahanan pangan dan peningkatan kesejahteraan petani kecil di berbagai belahan dunia.