7cloud.asia – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah menetapkan program pemuliaan untuk 16 jenis pisang liar (Musa acuminata).
Terkait hal ini, BRIN melakukan riset eksplorasi, karakterisasi, dan pra-pemuliaan pisang liar Indonesia guna mendukung ketahanan pangan. Indonesia dikenal sebagai salah satu hotspot spesies pisang liar.
Kepala Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan (OR HL) BRIN, Andes Hamuraby Razak menjelaskan, bahwa BRIN telah melakukan ekspedisi pengumpulan pisang liar di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.
Upaya ini bertujuan melestarikan sumber daya genetik khususnya tanaman pisang dari ancaman perubahan iklim, serta serangan hama dan penyakit.
Pra-pemuliaan sangat penting untuk mengidentifikasi gen bermanfaat dari spesies liar, membuka peluang bagi pengembangan pisang baru yang lebih produktif dan bergizi.
Baca: Indonesia punya lebih dari 300 jenis pisang lokal
Hal tersebut disampaikan Andes dalam kegiatan The First Annual Banana Meeting bertajuk Innovating the Future of Bananas: Sustainability, Disease Resistance, and Global Food Security, pada Selasa (11/2/2025).
Acara ini menandai satu tahun kerja sama BRIN dengan Gates Foundation dan LPDP dalam platform kolaborasi internasional riset pisang.
“Kami fokus pada ketahanan terhadap penyakit, toleransi lingkungan, kandungan nutrisi, dan pemilihan sifat unggul pisang liar untuk mendukung ketahanan pangan nasional,’’ ujar Andes.
Kepala Pusat Riset Rekayasa Genetika sekaligus manajer program, Ratih Asmana Ningrum, menuturkan bahwa pertemuan ini bertujuan mengeksplorasi inovasi, tantangan, dan masa depan budidaya pisang.
BRIN menyediakan berbagai skema pendukung, seperti pendanaan eksplorasi terestrial dan program mobilitas periset berupa beasiswa pascasarjana, pendanaan post-doctoral, dan visiting researcher.
Baca: Petani di Kaltim ekspor pisang kepok ke Singapura
Saat ini, tercatat ada 35 mahasiswa telah lulus seleksi beasiswa untuk studi magister dan doktor.
“Tahun ini, BRIN akan menjadi tuan rumah ASEAN Ministerial Meeting on Science, Technology and Innovation (AMMSTI), memperkenalkan platform ini ke negara-negara ASEAN untuk memperluas kolaborasi riset pisang,“’ ungkap Ratih.
Perwakilan Gates Foundation, Jim Lorenzen, mengapresiasi inisiatif BRIN sebagai contoh kemitraan riset yang kuat.
“Kolaborasi ini melengkapi tujuan kami dalam mendukung riset pertanian yang inovatif. Riset ini mencakup karakterisasi dan pra-pemuliaan, termasuk penyuntingan gen dengan teknologi CRISPR,“ jelas Lorenzen.
Sementara itu Profesor Riset BRIN, Enny Sudarmonowati berharap upaya ini menarik minat sektor swasta dan industri untuk memperkuat serta memperluas kolaborasi riset pisang di Indonesia.
Dengan kolaborasi ilmuwan, akademisi, dan sektor industri, riset pisang diharapkan memberikan kontribusi nyata bagi ketahanan pangan global.
Salah satu contohnya dilakukan Muhammad Dylan Lawrie dengan meneliti karakterisasi gen GRF pada pisang liar Indonesia untuk meningkatkan ketahanan terhadap kekeringan.
Timnya mengidentifikasi gen yang dapat membantu tanaman menghadapi perubahan iklim.

Leave a Reply