Tag: Plasma Nutfah

  • Restorasi Gambut di Kalimantan Barat untuk Menjaga Sumber Plasma Nutfah

    Restorasi Gambut di Kalimantan Barat untuk Menjaga Sumber Plasma Nutfah

    7cloud.asia – Pembukaan lahan gambut yang tidak mengindahkan kaidah lingkungan membuat ancaman kerusakan berpeluang terus terjadi.

    Dari seluas 1,7 juta hektare (ha) areal gambut di Kalimantan Barat (Kalbar), 40 persen dalam kondisi rusak.

    Deputi III Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM), Myrna A Safitri mengatakan, salah satu ekosistem gambut yang menjadi fokus restorasi terdapat di Kabupaten Kubu Raya.

    Hal ini karena gambut di wilayah itu tidak hanya ada di desa-desa, namun juga di daerah perkotaan, dengan kedalaman yang bervariasi.

    Dalam catatan BRGM, ada 11 Kawasan Hutan Gambut (KHG), termasuk KHG Batu Ampar 1 dan 2, KHG Kuala Mandor, KHG Kubu, dan lainnya.

    Selain itu, terdapat 26 desa yang diberikan hak pengelolaan hutan desa (HPHD) melalui skema Perhutanan Sosial (PS) periode 2017 hingga 2019, tersebar di 6 kecamatan, dengan luas total 121.863 hektare.

    Baca: Pentingnya melestarikan kubah gambut sebagai antisipasi perubahan iklim

    Restorasi gambut di Kubu Raya menyasar 127.784 hektare yang mengalami degradasi. Faktor penyebabnya, termasuk alih fungsi lahan untuk perkebunan kelapa sawit, kebakaran hutan, penebangan liar, dan kegiatan pertambangan yang merusak.

    Dampak degradasi gambut itu sudah dirasakan masyarakat, mulai dari terjadinya banjir saat musim hujan dan kabut asap akibat kebakaran gambut saat kemarau, yang melepas emisi gas rumah kaca yang berkontribusi pada krisis iklim.

    Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kalimantan Barat Adi Yani mengatakan peran penting lahan gambut sebagai pengendali ekosistem penting dijawab untuk menghindari bencana, seperti kebakaran hutan dan lahan serta banjir.

    Saat ini DLHK Kalimantan Barat bekerja sama dengan “The Center for International Forestry Research and World Agroforestry” (CIFOR-ICRAF) sedang mengidentifikasi isu-isu strategis dan mempersiapkan data pengelolaan fungsi ekosistem gambut dalam penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut (RPPEG) Provinsi Kalimantan Barat.

    Kolaborasi ini akan menghasilkan dokumen RPPEG sebagai landasan dan dasar hukum untuk pengelolaan gambut yang efektif, mencakup aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan sebagai dasar strategi dalam melaksanakan kegiatan pengelolaan.

    Dalam menangani isu ekonomi, ditekankan mengenai pentingnya memperhatikan perekonomian masyarakat di wilayah gambut serta menjaga prinsip pengelolaan gambut yang berkelanjutan.

    Baca: Enam jenis_tanaman yang direkomendasikan BRIN

    Keterlibatan pelaku usaha, terutama perusahaan perkebunan sawit dan tambang, juga menjadi fokus dalam pembuatan RPPEG.

    Mereka diminta untuk membuat dokumen yang mempertimbangkan kondisi gambut di area mereka dan berkolaborasi dengan masyarakat setempat.

    Koordinator Peat-IMPACT Kalimantan Barat, ICRAF Indonesia, Happy Hendrawan berharap kolaborasi para pihak ini dapat mendukung konservasi lahan gambut di Kalimantan Barat dengan efektif.

    Sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat setempat dan mengurangi risiko bencana lingkungan di masa mendatang.

    Pasalnya, keanekaragaman hayati yang hidup di lahan gambut merupakan sumber plasma nutfah yang dapat digunakan untuk memperbaiki sifat-sifat varietas atau jenis flora dan fauna komersial.

    Dari lahan gambut diperoleh komoditas yang tahan penyakit, berproduksi tinggi atau sifat-sifat menguntungkan lainnya.

    Baca: BRIN sebut pengolahan lahan gambut sering memicu kebakaran lahan

    Dosen Prodi Budidaya Tanaman Perkebunan Politeknik Negeri Pontianak Tri Tiana Ahmadi Putri mengatakan sifatnya yang unik menjadikan gambut merupakan habitat unik bagi kehidupan beraneka macam flora dan fauna.

    Beberapa jenis tumbuhan yang teridentifikasi hidup dengan baik di lahan gambut, sehingga jika lahan ini mengalami kerusakan, dunia akan kehilangan beraneka macam jenis flora, antara lain jelutung (Dyera custulata), ramin (Gonystylus bancanus), dan meranti (Shorea sp.).

    Juga, kempas (Koompassia malaccensis), punak (Tetramerista glabra), perepat (Combretocarpus royundatus), pulai rawa (Alstonia pneumatophora), terentang (Campnosperma sp.), bungur (Lagestroemia spesiosa) dan nyatoh (Palaquium sp).

    Sementara satwa langka pada habitat ini, antara lain buaya sinyulong (Tomistoma schlegelii), beruang madu (Helarctos malayanus), tapir (Tapirus indicus), mentok rimba (Cairina scutulata).

    Dan juga bangau tongtong (Leptoptilos javanicus), yang merupakan salah satu spesies burung air yang dilindungi, dan terdaftar dalam Appendix 1 CITES, serta masuk dalam kategori Vulnerable dalam Red Databook IUCN.

    Plasma nutfah ini memiliki nilai dan peran penting dalam menjaga keanekaragaman hayati, sekaligus memastikan keberlanjutan ekosistem gambut.

    Baca: Program food estate di lahan gambut mengulang kesalahan masa lalu

    Gambut juga berperan sebagai penjaga iklim global, di mana perubahan iklim merupakan fenomena global yang ditandai dengan berubahnya suhu dan distribusi curah hujan.

    Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Barat Florentinus Anum mengatakan sejumlah plasma nutfah yang dikembangkan untuk mendukung pendapatan masyarakat yang mengelola lahan gambut, antara lain jenis padi dan umbi-umbian.

    Seluas 600 ribu hektare areal gambut di Kalbar layak dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar ekosistem gambut, dengan menanam padi dan berbagai jenis tanaman hortikultura.

    Dinas itu terus mengembangkan bibit tanaman yang sesuai untuk ditanam di lahan gambut, guna menghindari pembakaran lahan.

    Saat ini, tanaman, seperti lidah buaya, pepaya, dan beberapa jenis umbi-umbian, sudah terbukti cocok untuk ditanam di lahan gambut.

    Tanaman umbi-umbian, seperti singkong sedang dikembangkan di Kabupaten Kapuas Hulu, dengan perkiraan hasil 20 hingga 30 kilogram per pohon, pada umur tanaman delapan bulan.

    Penanaman singkong di lahan gambut itu diharapkan menjadi salah satu solusi untuk mencegah pembakaran lahan di masa yang akan datang.

    Sumber:Antaranews.com

     

  • Bisakah Pusat Plasma Nutfah Nasional Menggantikan Hutan yang Hilang di IKN?

    Bisakah Pusat Plasma Nutfah Nasional Menggantikan Hutan yang Hilang di IKN?

    7cloud.asia – Duta Besar Norwegia untuk Indonesia dan Timor Leste Rut Krüger Giverin meyakini pembangunan Pusat Plasma Nutfah Nasional di Ibu Kota Nusantara (IKN) akan sangat bermanfaat untuk melestarikan kekayaan biodiversitas di Indonesia.

    Dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu, Rut mengatakan bahwa Norwegia juga memiliki lembaga serupa bernama Svalbard Global Seed Vault yang menyimpan koleksi benih dari seluruh dunia.

    Svalbard Global Seed Vault juga bertindak untuk melestarikan keanekaragaman hayati global di bidang pertanian serta melindungi berbagai macam benih tanaman pangan.

    Adapun Indonesia dan Norwegia telah membangun kolaborasi yang efektif dalam pengendalian iklim khususnya sektor hutan dan lahan.

    Melalui kebijakan Indonesia’s FOLU Net Sink 2030, Rut yakin Indonesia dapat terus menjadi pemimpin dunia dalam upaya penurunan emisi khususnya dari perlindungan hutan tropis.

     

    Baca: Jokowi Wariskan Beban Ekonomi dan Beban Kerusakan Ekologis di IKN

    “Pelestarian biodiversitas adalah bagian yang tidak terpisahkan dari upaya ini,” kata dia.

    Pusat Plasma Nutfah Nasional merupakan salah satu upaya pengelolaan keanekaragaman hayati jangka panjang yakni melalui pengelolaan plasma nutfah atau pengelolaan sumber daya genetik.

    Pembangunan Pusat Plasma Nutfah Nasional telah dimulai sejak groundbreaking pada Oktober lalu di Kelurahan Mentawir, Kabupaten Penajam Paser Utara, Provinsi Kalimantan Timur.

    Fasilitas ini memiliki luas 93,2 hektare dengan pembangunan fisik sebesar 2,02 persen atau 2,04 hektare dari luas total.

    Pembangunan dibagi menjadi empat zona yaitu zona A yang merupakan kawasan utama, terdiri atas biobank, seed bank, hub center, dan kantor pendukung, zona B berupa perkampungan tradisional.

    Baca: Wilayah IKN miliki keanekaragaman hayati yang tinggi

    Sementara, zona C berupa kawasan wisata edukasi dan rekreasi, serta zona D berupa kawasan pendukung untuk aktivitas publik.

    Pendekatan teknologi dalam upaya konservasi juga terus dikembangkan, misalnya assisted reproductive technology (ART) dan biobank, yang pengembangannya dilakukan melalui kerja sama antara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Kehutanan dengan Sekolah Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor (IPB).

    Begitu juga dengan pengembangan teknologi seed bank yang terus dikembangkan oleh Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada (UGM).

    Pembangunan Pusat Plasma Nutfah Nasional di IKN diharapkan dapat berperan sebagai wadah untuk koleksi plasma nutfah Indonesia, wahana edukasi, dan riset kehati Indonesia, center of excellence aplikasi teknologi reproduksi.

    Pusat Plasma Nutfah juga menjadi hub training dan kerja sama dalam pengembangan dan pemanfaatan ART, biobank, seed bank, serta sebagai pusat data dan informasi plasma nutfah Indonesia.

    Pusat Plasma Nutfah diyakini memiliki berbagai manfaat jangka panjang, antara lain pelestarian keanekaragaman hayati, mendukung ketahanan pangan dan membantu menghadapi perubahan iklim serta tantangan dalam pertanian.

    Selain itu, menjadi sumber penting bagi penelitian ilmiah, memungkinkan pengembangan varietas baru yang lebih tahan terhadap hama, penyakit, dan kondisi lingkungan yang ekstrem.