Tag: populasi

  • Bagaimana Jumlah Penduduk Dunia yang Berlebihan Mengancam Kelestarian Lingkungan

    Bagaimana Jumlah Penduduk Dunia yang Berlebihan Mengancam Kelestarian Lingkungan

    7cloud.asia – Penduduk dunia telah tumbuh secara eksponensial selama beberapa dekade terakhir, dari sekitar 2 miliar pada tahun 1900 menjadi lebih dari 8 miliar saat ini.

    Diperkirakan penduduk dunia akan terus bertambah dalam beberapa dekade mendatang dan dikhawatirkan bisa berdampak pada kelestarian lingkungan.

    Meskipun peningkatan jumlah penduduk dunia dapat dilihat sebagai hal yang positif pembangunan, hal ini juga menimbulkan tantangan yang signifikan terhadap keberlanjutan lingkungan.

    Dalam artikel ini, kami mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut: Bagaimana kelebihan populasi mempengaruhi keberlanjutan dan tantangan apa yang ditimbulkan oleh tren ini?

    Artikel ini juga coba menjawab, apa solusi potensial untuk mengatasi tantangan-tantangan ini dan menciptakan lingkungan yang lebih berkelanjutan Masa depan untuk semua?

    Baca: Penduduk dunia dekati angka 10 miliar, apa dampaknya pada lingkungan

    Bagaimana Kelebihan Populasi Mempengaruhi Keberlanjutan?
    Dengan mendidik masyarakat tentang keluarga berencana, kontrasepsi, faktor dan tren pertumbuhan populasi, serta topik relevan lainnya, kita dapat memberdayakan individu untuk membuat keputusan yang tepat mengenai kesehatan reproduksi mereka.

    Meningkatnya populasi di dunia berdampak langsung pada keberlanjutan, karena bertambahnya jumlah penduduk akan semakin banyak orang yang membutuhkan sumber daya untuk bertahan hidup.

    Di bawah ini, kami mengkaji berbagai permasalahan yang timbul akibat kelebihan populasi dan dampaknya terhadap keberlanjutan.

    Perubahan iklim
    Meningkatnya tingkat populasi menyebabkan peningkatan konsumsi sumber daya, sehingga menghasilkan emisi gas rumah kaca yang lebih besar.

    Hal ini berkontribusi terhadap perubahan iklim dan dapat berdampak buruk terhadap lingkungan.

    Baca: Angka kelahiran terus menurun, kabar baik atau kabar buruk?

    Penipisan sumber daya
    Bertambahnya jumlah penduduk makan akan semakin banyak orang yang membutuhkan lebih banyak makanan, air, energi, dan sumber daya lainnya untuk kelangsungan hidup mereka.

    Karena semakin langkanya sumber daya tersebut karena kelebihan populasi, semakin sulit bagi kita untuk mempertahankan cara hidup kita saat ini.

    Degradasi Lingkungan
    Semakin banyak orang yang mengkonsumsi sumber daya, maka akan tercipta limbah dan polusi yang dapat merusak lingkungan.

    Hal ini dapat menyebabkan erosi tanah, polusi air, dan bentuk kerusakan lainnya yang dapat menimbulkan konsekuensi yang parah.

    Baca: Polusi dan degradasi lingkungan pengaruhi kesuburan

    Penggundulan hutan
    Kelebihan populasi menyebabkan peningkatan permintaan akan perumahan, makanan, dan sumber daya, yang antara lain dapat menyebabkan deforestasi.

    Dunia kehilangan sekitar 10 juta hektar setiap tahunnya. Hal ini mengakibatkan hilangnya habitat hewan dan memperburuk perubahan iklim dengan mengurangi jumlah tersebut karbon dioksida yang dapat diserap tanaman.

    Masalah sosial
    Kelebihan populasi dapat menyebabkan kepadatan penduduk, kemiskinan, kerawanan pangan, dan masalah sosial lainnya.

    Hal ini dapat menciptakan ketegangan antara masyarakat dan negara karena sumber daya menjadi semakin langka.

    Hilangnya keanekaragaman hayati
    Pada tahun 2020, WWF melaporkan bahwa selama 50 tahun terakhir, dunia telah melihat rata-rata penurunan populasi mamalia, burung, ikan, reptil, dan amfibi sebesar 68 persen.

    Hal ini karena habitat dirusak untuk dijadikan tempat tinggal manusia dan keanekaragaman satwa liar Hal ini berdampak negatif pada rantai makanan dan dapat mengancam kepunahan seluruh spesies.

    Sumber: earth.org

  • WWF : Populasi Harimau Liar di Dunia Meningkat Signifikan

    WWF : Populasi Harimau Liar di Dunia Meningkat Signifikan

    7cloud.asia – World Wildlife Fund (WWF) dalam pernyataan terbarunya menyebut, populasi harimau (Panthera Tigris) liar di dunia telah meningkat signifikan dalam satu dekade terakhir.

    Dalam pernyataannya, WWF menyebut populasi harimau liar meningkat menjadi sekitar 5.500 ekor pada 2024 dari sekitar 3.200 ekor pada 2010.

    Adapun negara-negara yang sukses melipatgandakan populasi harimau liar adalah China, Rusia, India, dan Nepal.

    Data mengenai populasi harimau liar tersebut diumumkan pada Forum Internasional tentang Konservasi dan Pemulihan Harimau dan Macan Tutul kedua yang sedang berlangsung di Kota Harbin, Provinsi Heilongjiang, China.

    Baca: Upaya pelestarian harimau Sumatera

    Antaranews.com melansir Xinhua, menyebut selama satu dekade terakhir, penurunan populasi harimau liar yang terjadi dengan cepat di seluruh dunia berhasil diredakan.

    Di China, habitat harimau liar dipulihkan dan diperbaiki secara efektif, yang menghasilkan peningkatan populasi harimau liar secara bertahap, kata Zhou Fei, wakil direktur jenderal Kantor Perwakilan WWF Beijing, pada forum tersebut, Senin (29/7/2024).

    Harimau sebagai salah satu spesies yang berada di puncak rantai makanan, merupakan indikator kesehatan ekosistem.

    Dalam beberapa tahun terakhir, China memberikan penekanan yang signifikan pada perlindungan harimau liar melalui berbagai upaya, termasuk mendirikan taman nasional.

    Baca: Pelestarian harimau Sumatera di Taman Nasional Gunung Leuser

    China juga memberlakukan larangan berburu, dan melarang total perdagangan serta penggunaan tulang harimau dalam pengobatan.

    Salah satu upaya penting adalah pendirian Taman Nasional Harimau dan Macan Tutul China Timur Laut, yang menempati area seluas lebih dari 1,4 juta hektare di Provinsi Jilin dan Provinsi Heilongjiang di China timur laut.

    Menurut statistik dari taman nasional tersebut, sekitar 70 ekor harimau Siberia liar, salah satu spesies yang paling terancam punah di dunia dan spesies utama ekosistem hutan, kini hidup di dalam area taman nasional itu.

    Pernyataan itu juga menyebutkan setidaknya ada 20 ekor anak harimau yang lahir di taman nasional tersebut pada 2023.

    Pewarta: Xinhua

  • Penduduk Dunia Sedang Menuju Depopulasi, Apa Dampaknya Bagi Ekonomi?

    Penduduk Dunia Sedang Menuju Depopulasi, Apa Dampaknya Bagi Ekonomi?

    7cloud.asia – Pertumbuhan populasi manusia sedang melambat. Sebuah fase yang sebelumnya dianggap mustahil.

    Jumlah laju pertumbuhan populasi penduduk dunia kemungkinan dapat memuncak lebih awal dari yang sebelumnya diperkirakan—sebanyak 10 miliar jiwa pada 2060-an—lalu mulai menurun.

    Di negara-negara kaya, tren ini sedang berlangsung. Populasi penduduk Jepang menurun tajam, dengan angka kehilangan penduduk bersih atau net loss (setelah dikurangi angka kelahiran) sebesar 100 jiwa setiap jam.

    Di Eropa, Amerika, dan Asia Timur, angka kelahiran menurun drastis. Tren serupa juga berpeluang terjadi di banyak negara berpendapatan menengah bahkan rendah.

    Perubahan ini sungguh luar biasa. Sepuluh tahun silam, para ahli demografi memerkirakan jumlah penduduk global dapat menyentuh 12,3 miliar jiwa, naik pesat dari 8 miliar tahun ini.

    Selama 50 tahun, beberapa pegiat lingkungan mencoba langkah-langkah pelestarian dengan memangkas pertumbuhan populasi global.

    Pada 1968, Buku The Population Bomb (Ledakan Populasi) menaksir kelaparan massal akan terjadi, sekaligus menuntut upaya pengendalian kelahiran berskala besar.

    Kini, kita menghadapi realitas yang berbeda. Pertumbuhan populasi melambat tanpa upaya-upaya pengendalian, dan populasi negara maju menurun.

    Tren ini memicu upaya memancing warga untuk memiliki lebih banyak anak—yang tergesa-gesa, tapi tak efektif. Lantas, apa dampak melambatnya populasi dunia bagi lingkungan?

    Baca: Angka kelahiran global terus menurun

    Depopulasi sedang berlangsung
    Depopulasi di banyak negara di Eropa, Amerika Utara, dan beberapa di Asia Utara, sudah berlangsung sejak dekade-dekade lalu. Angka kelahiran menurun secara konsisten sejak 70 tahun silam.

    Di kawasan-kawasan tersebut, angka ini tetap rendah, kala harapan hidup memanjang—jumlah orang-orang berusia lebih dari 80 tahun—akan bertambah dua kali lipat dalam 25 tahun ke depan.

    China saat ini merupakan negara terpadat di dunia, menyumbang seperenam dari total populasi global. Namun, tren ini bisa berubah karena populasi Cina menurun, dengan laju yang diperkirakan akan semakin cepat.

    Pada akhir abad ini, penduduk Cina ditaksir akan berkurang dua per tiga dari populasi saat ini sebanyak 1,4 miliar jiwa. Penurunan mendadak terjadi karena One Child Policy yang berlangsung lama.

    Meski berakhir pada 2016, pengakhiran kebijakan ini sudah terlambat untuk menghindari penurunan populasi.

    Jepang dulunya merupakan negara berpenduduk terbanyak kesebelas di dunia. Namun, populasi Jepang kemungkinan akan berkurang separuh sebelum akhir abad ini.

    Fenomena yang terjadi saat ini adalah transisi demografi. Saat negara mulai bergerak dari masyarakat perdesaan dan agraris ke industri dan ekonomi berbasis jasa, angka kelahiran akan menurun tajam. Ketika angka kelahiran dan kematian sama-sama rendah, populasi akan mulai menurun.

    Mengapa? Faktor pentingnya adalah pilihan perempuan. Lebih banyak perempuan yang menunda kehamilan dan rata-rata beranak lebih sedikit. Ini terjadi karena pilihan-pilihan yang lebih baik dan kebebasan menempuh pendidikan maupun karir.

    Baca: Mengapa Angka kelahiran global terus menurun

    Kenapa kita tiba-tiba berfokus pada depopulasi, padahal angka kelahiran di negara maju sudah menurun sejak beberapa dekade lalu?

    Saat pandemi Covid-19 melanda pada 2020, angka kelahiran terjun bebas di banyak negara, sebelum merayap naik sedikit. Di lain pihak, angka kematian meningkat. Walhasil, kombinasi itu mempercepat awal penurunan populasi secara lebih luas.

    Penurunan populasi memicu tantangan ekonomi. Sebab, hanya sedikit tenaga kerja yang tersedia, dan lebih banyak orang tua yang membutuhkan dukungan.

    Negara yang mengalami penurunan populasi secara cepat mungkin akan mulai membatasi emigrasi. Mereka ingin menjaga agar tenaga kerja yang sudah langka tidak ke mana-mana, sekaligus mencegah penuaan dan penurunan populasi lanjutan.

    Persaingan tenaga kerja terampil di pasar global akhirnya akan semakin panas. Tentu saja, migrasi tidak mengubah berapa banyak penduduk dunia—hanya terkait di mana mereka berada.

    Apakah ini hanya masalah negara-negara maju? Tidak. Melambatnya pertumbuhan populasi di Brasil, negara besar berpendapatan menengah, sedang mencetak rekor.

    Pada 2100, kemungkinan hanya ada enam negara di dunia yang memiliki angka kelahiran melebihi kematian: Samoa, Somalia, Tonga, Niger, Chad, and Tajikistan.

    Sekitar 97 persen negara lainnya diprediksi memiliki angka kelahiran di bawah tingkat penggantian (2,1 anak per perempuan).

    Artikel ini pertamakali terbit di The Conversation dalam bahasa Inggris, Penulis: Andrew Taylor (Associate Professor in Demography, Northern Institute, Charles Darwin University) dan Supriya Mathew (Associate professor, Charles Darwin University)

  • Populasi Penduduk Dunia Menurun, Apa Dampaknya pada Lingkungan

    Populasi Penduduk Dunia Menurun, Apa Dampaknya pada Lingkungan

    7cloud.asia – Pertumbuhan populasi manusia sedang melambat. Sebuah fase yang sebelumnya dianggap mustahil. Jumlah laju pertumbuhan populasi penduduk dunia kemungkinan dapat memuncak lebih awal dari yang sebelumnya diperkirakan—sebanyak 10 miliar jiwa pada 2060-an—lalu mulai menurun.

    Buruk bagi perekonomian—baik untuk lingkungan? Lebih sedikit manusia berarti berkah bagi alam raya—ya, kan? Sayangnya tidak sesederhana itu.

    Tengoklah data jumlah konsumsi energi per kapita yang kita gunakan meninggi pada penduduk 35 dan 55 tahun. Untuk usia seterusnya, angka ini menurun, tapi akan naik kembali pada penduduk berusia 70 dan seterusnya.

    Kenaikan terjadi karena penduduk berusia tua cenderung berada di dalam ruangan lebih lama dan hidup sendirian di rumah yang besar.

    Pertumbuhan penduduk lansia yang luar biasa pada abad ini dapat menahan laju pengurangan konsumsi energi akibat penurunan populasi.

    Kemudian ada disparitas besar dalam penggunaan sumber daya. Jika kamu tinggal di Amerika Serikat (AS) ataupun Australia, jejak karbonmu hampir dua kali lipat lebih banyak dibandingkan Cina sebagai negara pengemisi terbanyak.

    Baca: Populasi dunia dekati angka 10 miliar

    Negara maju mempunyai angka konsumsi energi yang lebih besar. Jadi, saat negara-negara semakin kaya dan sehat, meski dengan lebih sedikit anak, kemungkinan besar populasi global akan memiliki jejak emisi lebih tinggi.

    Kecuali, tentu saja, kita mencoba menumbuhkan ekonomi yang lebih rendah emisi, berikut dampak lingkungan lainnya, sebagaimana banyak ditempuh negara-negara saat ini. Namun, kemajuan upaya ini masih sangat lamban.

    Kemungkinan kita akan melihat lebih banyak kebijakan migrasi yang lebih terbuka untuk menggenjot jumlah angkatan kerja di suatu negara. Ini sudah dimulai—jumlah migrasi sudah melampaui—angka yang diproyeksikan pada 2050.

    Ketika orang-orang bermigrasi ke negara yang lebih maju, ekonomi negara tersebut akan menguntungkan mereka dan juga negara tujuannya.

    Namun, sebagai hasilnya, emisi per kapita akan naik dan dampak lingkungan memburuk, karena kenaikan pendapatan berbanding lurus dengan penambahan emisi.

    Selain itu, ada kekacauan yang mengintai akibat perubahan iklim. Seiring dengan pemanasan global, migrasi paksa—saat orang harus meninggalkan rumah untuk melarikan diri dari kekeringan, perang, atau bencana terkait iklim lainnya—diproyeksikan akan melonjak.

    Baca: Mungkinkah dunia mencapai emisi nol pada 2050?

    Angkanya diperkirakan mencapai 216 juta orang pada seperempat abad atau 25 tahun mendatang. Migrasi paksa mungkin mengubah pola emisi, tergantung pada tempat orang menemukan perlindungan.

    Selain faktor-faktor ini, populasi global yang menurun mungkin bisa mengurangi konsumsi secara keseluruhan dan mengurangi tekanan terhadap lingkungan.

    Para ahli lingkungan yang khawatir tentang overpopulasi telah lama berharap agar populasi global menurun. Keinginan mereka mungkin akan segera terpenuhi.

    Bukan melalui kebijakan pengendalian kelahiran yang dipaksakan, tetapi sebagian besar melalui pilihan perempuan terdidik dan lebih kaya yang memilih untuk memiliki keluarga kecil.

    Masih menjadi pertanyaan terbuka apakah populasi yang menurun akan mengurangi tekanan pada lingkungan. Hal tersebut belum bisa terjawab kecuali kita mengurangi emisi dan mengubah pola konsumsi di negara-negara maju.

    Artikel ini pertamakali terbit di The Conversation dalam bahasa Inggris, Penulis: Andrew Taylor (Associate Professor in Demography, Northern Institute, Charles Darwin University) dan Supriya Mathew (Associate professor, Charles Darwin University)

  • Korea Selatan Akan Mengalami Penurunan Populasi dalam Beberapa Dekade Mendatang

    7cloud.asia – Korea Selatan diperkirakan akan mengalami penurunan populasi yang signifikan dalam 50 tahun ke depan. Jumlah penduduk Korea Selatan diproyeksikan berada di angka 36 juta pada 2072, atau turun 30,8 persen dari 52 juta pada tahun 2024 lalu.

    Menurut data yang dirilis pada 23 September lalu, peringkat populasi global Korea Selatan diperkirakan akan turun 30 level akibat tingkat kelahiran yang sangat rendah dan penuaan yang cepat,

    Korea Selatan merupakan negara dengan populasi terbesar ke-29 di dunia pada 2024, namun peringkatnya diperkirakan akan turun ke posisi ke-59 pada 2072, kata lembaga tersebut.

    Negeri ginseng itu menghadapi tantangan demografi yang serius, di mana banyak anak muda memilih untuk menunda atau tidak mau menikah atau tidak memiliki anak.

    Hal ini sejalan dengan perubahan norma sosial dan gaya hidup, serta di tengah pasar kerja yang sulit dan harga rumah yang terus meningkat.

    Baca: Kekurangan murid, puluhan sekolah di Korea Selatan ditutup

    Populasi Korea Selatan mencapai puncaknya pada tahun 2020 dan telah mengalami penurunan sejak saat itu, menurut data dari lembaga statistik Korea.

    Tingkat kesuburan, rata-rata jumlah anak yang dilahirkan seorang perempuan sepanjang hidupnya, mencapai angka terendah baru yaitu 0,72 pada tahun 2023, turun dari 0,78 pada tahun sebelumnya.

    Angka ini jauh lebih rendah dari tingkat pengganti 2,1 yang diperlukan untuk menjaga populasi Korsel stabil di angka 51 juta.

    Menurut perkiraan, rasio ketergantungan populasi Korea Selatan diproyeksikan tumbuh menjadi 118,5 orang pada 2072 dari 42,5 orang tahun ini, yang berarti tekanan yang lebih besar pada populasi produktif.

    Rasio ini merujuk pada persentase anak-anak berusia 0-14 tahun dan orang dewasa berusia 65 tahun ke atas terhadap 100 orang yang produktif secara ekonomi, yaitu mereka yang berusia 15-64 tahun.

    Baca: Mengapa perempuan Korea Selatan menolak menikah

    Korsel berada di urutan ke-208 dalam daftar rasio ketergantungan populasi yang melibatkan 236 negara pada tahun 2024, tetapi diperkirakan akan menduduki posisi ketiga pada 2072 setelah Hong Kong dan Puerto Rico, menurut data tersebut.

    Persentase orang berusia 65 tahun ke atas mencapai sekitar 19,2 persen dari total populasi tahun ini dan diperkirakan akan melonjak menjadi 47,7 persen pada 2072.

    Proporsi populasi usia kerja, atau mereka yang berusia 15-64 tahun, mencapai sekitar 70,2 persen dari total pada tahun 2024 tetapi akan turun menjadi 45,8 persen pada 2072.

    Korea Selatan diperkirakan akan menjadi masyarakat super tua pada tahun 2025, di mana proporsi mereka yang berusia 65 tahun ke atas akan mencapai 20 persen dari total populasi.

    Negara ini menjadi era aging population atau masyarakat tua pada tahun 2017, ketika proporsi orang tua melebihi 14 persen.

    Baca: Indonesia telah memasuki era aging population

    Populasi Korea Utara diperkirakan akan mencapai puncaknya pada tahun 2032 sebelum turun menjadi 23 juta pada 2072 dari 26 juta pada tahun 2024.

    Akibatnya, jumlah total populasi Korea Selatan dan Utara diperkirakan menjadi 59 juta pada 2072, dibandingkan dengan 78 juta pada tahun 2024.

    Sementara itu, populasi dunia diperkirakan akan terus meningkat selama periode tersebut, mencapai 10,22 miliar pada 2072, dibandingkan dengan sekitar 8,16 miliar tahun ini.

    India merupakan negara dengan populasi terbanyak pada tahun 2024 dengan jumlah penduduk mencapai 1,45 miliar, diikuti oleh China dengan 1,42 miliar dan Amerika Serikat dengan 345 juta.

    Pada 2072, India diperkirakan akan tetap menduduki posisi teratas, diikuti oleh China dan AS.

    Sumber: Yonhap-OANA

  • Populasi Komodo di Taman Nasional Komodo Relatif Stabil

    Populasi Komodo di Taman Nasional Komodo Relatif Stabil

    7cloud.asia – Balai Taman Nasional Komodo (TNK) menyatakan populasi satwa Komodo yang berada di kawasan konservasi Taman Nasional Komodo di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) relatif stabil.

    Populasi biawak Komodo secara alami mengalami fluktuasi sesuai dengan ketersediaan populasi satwa mangsa di alam, dan secara umum populasi biawak Komodo meningkat dalam tujuh tahun terakhir.

    “Pada tahun 2024 tren populasi biawak Komodo masih dalam rentang stabil,” kata Kepala Balai TNK Hendrikus Rani Siga di Labuan Bajo, Jumat (7/3/2025)

    Berdasarkan laporan dari Balai TNK, populasi biawak Komodo mengalami penurunan pada tahun 2024 lalu setelah naik dalam lima tahun terakhir.

    Pada 2018, populasi komodo tercatat sebanyak 2.897 ekor, tahun 2019 sebanyak 3.022 ekor, tahun 2020 sebanyak 3.163 ekor, tahun 2021 sebanyak 3.303 ekor, tahun 2022 sebanyak 3.156 ekor, tahun 2023 sebanyak 3.396 ekor, dan tahun 2024 sebanyak 3.270 ekor.

    Baca: KLHK tutup sementara Taman Nasional Komodo pada Juli 2024

    Hendrikus menjelaskan, walaupun pada tahun 2024 populasi mengalami penurunan, hal tersebut masih dalam kategori relatif stabil.

    “Pertumbuhan populasi Komodo akan menyesuaikan dengan daya dukung habitat atau daya dukung alam,” katanya.

    Ia menambahkan, naik dan turunnya populasi satwa Komodo dalam kawasan konservasi merupakan hal yang wajar terjadi di alam liar.

    “Secara alamiah dia (Komodo) akan beradaptasi dengan daya dukung, kalau daya dukung cukup maka populasi dia akan naik, tapi kalau tidak terlalu mendukung maka akan menurun,” ujarnya.

    Salah satu pendukung naiknya populasi satwa Komodo adalah ketersediaan pakan yang memadai, tingginya keberhasilan anak atau bayi Komodo serta ketersediaan mangsa Komodo.

    Baca: Tinjauan berkala cagar biosfer komodo akan diperluas

    “Biasanya secara alami Komodo pasti akan beradaptasi dengan daya dukung habitat, dia akan menyesuaikan sehingga seperti grafik populasi yang naik turun,” katanya.

    Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) akan menutup sementara Taman Nasional Komodo, di Kabupaten Manggarai Barat Nusa Tenggara Timur (NTT) pada pertengahan tahun 2025.

    Pentupan Taman Nasional Komodo dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Balai Taman Nasional Komodo (BTNK)

    Penutupan Taman Nasional Komodo itu dengan mempertimbangkan jumlah wisatawan yang berkunjung, manajemen destinasi serta daya tampung destinasi itu.

  • Angka Kelahiran di Korea Selatan Meningkat dalam Setahun Terakhir, Akankah Pengaruhi Populasi

    Angka Kelahiran di Korea Selatan Meningkat dalam Setahun Terakhir, Akankah Pengaruhi Populasi

    7cloud.asia – Di tengah kekhawatiran populasi akan menurun, angin segar berhembus di Korea Selatan. Angka kelahiran di Korea Selatan dilaporkan meningkat selama 13 bulan berturut-turut.

    Data dari kantor statistik Korea Selatan yang dirilis pada Rabu (24/9/2025) juga menunjukkan adanya peningkatan angka pernikahan.

    Menurut Statistics Korea, jumlah bayi baru lahir naik 5,9 persen dari tahun sebelumnya menjadi 21.803 pada Juli 2025, terus meningkat sejak Juli tahun lalu.

    Demikian juga dengan tingkat kesuburan total, atau jumlah anak yang diperkirakan akan dilahirkan seorang perempuan selama masa hidupnya, naik 0,04 menjadi 0,80 pada bulan tersebut.

    Namun demikian, angka itu masih jauh di bawah tingkat penggantian populasi di angka 2,1 kelahiran per perempuan demi menjaga populasi tetap stabil.

    Baca: Korea Selatan akan mengalami penurunan populasi

    Dipengaruhi oleh angka kematian yang masih tinggi dan angka kelahiran yang relatif rendah, penurunan populasi alami di Korea Selatan mencapai 6.175 pada bulan tersebut.

    Laporan itu menyebut, angka pernikahan naik 8,4 persen menjadi 20.394 pada Juli secara tahunan, tetapi jumlah perceraian turun 1,4 persen menjadi 7.826.

    Kekhawatiran tetap ada terkait generasi muda yang menunda melahirkan atau bahkan memutuskan untuk tidak memiliki anak karena alasan ekonomi seperti harga rumah yang tinggi dan masalah pengangguran yang sulit diatasi.

    Angka kelahiran yang masih rendah memicu kekhawatiran akan jurang demografi, yang merujuk pada penurunan tajam jumlah kepala rumah tangga yang pada akhirnya dapat menyebabkan penyusutan konsumsi.

    Angka kematian turun 0,7 persen dibandingkan dengan bulan yang sama tahun lalu, yakni menjadi 27.979 pada Juli 2025.

    Baca: Puluhan sekolah di Korea Selatan ditutup karena kekurangan murid

    Korea Selatan diperkirakan akan mengalami penurunan populasi yang signifikan dalam 50 tahun ke depan. Jumlah penduduk Korea Selatan diproyeksikan berada di angka 36 juta pada 2072, atau turun 30,8 persen dari 52 juta pada tahun 2024 lalu.

    Menurut data yang dirilis pada 23 September 2024, peringkat populasi global Korea Selatan diperkirakan akan turun 30 level akibat tingkat kelahiran yang sangat rendah dan penuaan yang cepat,

    Korea Selatan merupakan negara dengan populasi terbesar ke-29 di dunia pada 2024, namun peringkatnya diperkirakan akan turun ke posisi ke-59 pada 2072, kata lembaga tersebut.

    Negeri ginseng itu menghadapi tantangan demografi yang serius, di mana banyak anak muda memilih untuk menunda atau tidak mau menikah atau tidak memiliki anak.

    Hal ini sejalan dengan perubahan norma sosial dan gaya hidup, serta di tengah pasar kerja yang sulit dan harga rumah yang terus meningkat.

    Baca: Jepang juga alami penurunan populasi