7cloud.asia – Pertumbuhan populasi manusia sedang melambat. Sebuah fase yang sebelumnya dianggap mustahil. Jumlah laju pertumbuhan populasi penduduk dunia kemungkinan dapat memuncak lebih awal dari yang sebelumnya diperkirakan—sebanyak 10 miliar jiwa pada 2060-an—lalu mulai menurun.
Buruk bagi perekonomian—baik untuk lingkungan? Lebih sedikit manusia berarti berkah bagi alam raya—ya, kan? Sayangnya tidak sesederhana itu.
Tengoklah data jumlah konsumsi energi per kapita yang kita gunakan meninggi pada penduduk 35 dan 55 tahun. Untuk usia seterusnya, angka ini menurun, tapi akan naik kembali pada penduduk berusia 70 dan seterusnya.
Kenaikan terjadi karena penduduk berusia tua cenderung berada di dalam ruangan lebih lama dan hidup sendirian di rumah yang besar.
Pertumbuhan penduduk lansia yang luar biasa pada abad ini dapat menahan laju pengurangan konsumsi energi akibat penurunan populasi.
Kemudian ada disparitas besar dalam penggunaan sumber daya. Jika kamu tinggal di Amerika Serikat (AS) ataupun Australia, jejak karbonmu hampir dua kali lipat lebih banyak dibandingkan Cina sebagai negara pengemisi terbanyak.
Baca: Populasi dunia dekati angka 10 miliar
Negara maju mempunyai angka konsumsi energi yang lebih besar. Jadi, saat negara-negara semakin kaya dan sehat, meski dengan lebih sedikit anak, kemungkinan besar populasi global akan memiliki jejak emisi lebih tinggi.
Kecuali, tentu saja, kita mencoba menumbuhkan ekonomi yang lebih rendah emisi, berikut dampak lingkungan lainnya, sebagaimana banyak ditempuh negara-negara saat ini. Namun, kemajuan upaya ini masih sangat lamban.
Kemungkinan kita akan melihat lebih banyak kebijakan migrasi yang lebih terbuka untuk menggenjot jumlah angkatan kerja di suatu negara. Ini sudah dimulai—jumlah migrasi sudah melampaui—angka yang diproyeksikan pada 2050.
Ketika orang-orang bermigrasi ke negara yang lebih maju, ekonomi negara tersebut akan menguntungkan mereka dan juga negara tujuannya.
Namun, sebagai hasilnya, emisi per kapita akan naik dan dampak lingkungan memburuk, karena kenaikan pendapatan berbanding lurus dengan penambahan emisi.
Selain itu, ada kekacauan yang mengintai akibat perubahan iklim. Seiring dengan pemanasan global, migrasi paksa—saat orang harus meninggalkan rumah untuk melarikan diri dari kekeringan, perang, atau bencana terkait iklim lainnya—diproyeksikan akan melonjak.
Baca: Mungkinkah dunia mencapai emisi nol pada 2050?
Angkanya diperkirakan mencapai 216 juta orang pada seperempat abad atau 25 tahun mendatang. Migrasi paksa mungkin mengubah pola emisi, tergantung pada tempat orang menemukan perlindungan.
Selain faktor-faktor ini, populasi global yang menurun mungkin bisa mengurangi konsumsi secara keseluruhan dan mengurangi tekanan terhadap lingkungan.
Para ahli lingkungan yang khawatir tentang overpopulasi telah lama berharap agar populasi global menurun. Keinginan mereka mungkin akan segera terpenuhi.
Bukan melalui kebijakan pengendalian kelahiran yang dipaksakan, tetapi sebagian besar melalui pilihan perempuan terdidik dan lebih kaya yang memilih untuk memiliki keluarga kecil.
Masih menjadi pertanyaan terbuka apakah populasi yang menurun akan mengurangi tekanan pada lingkungan. Hal tersebut belum bisa terjawab kecuali kita mengurangi emisi dan mengubah pola konsumsi di negara-negara maju.
Artikel ini pertamakali terbit di The Conversation dalam bahasa Inggris, Penulis: Andrew Taylor (Associate Professor in Demography, Northern Institute, Charles Darwin University) dan Supriya Mathew (Associate professor, Charles Darwin University)

Leave a Reply