Tag: produksi pangan

  • Perubahan Iklim Ancam Produksi Pangan, BMKG Buka Sekolah Iklim

    Perubahan Iklim Ancam Produksi Pangan, BMKG Buka Sekolah Iklim

    7cloud.asia – Perubahan iklim atau juga disebut krisis iklim mengakibtakan pergantian musim dan cuaca yang sulit diprediksi.

    Kondisi yang merupakan salah satu dampak dari perubahan iklim iklim ini disebut akan sangat mempengaruhi budi daya tanaman dan produksi pangan, dan dalam jangka panjang bisa mengancam produksi pangan -baik pertanian maupun perikanan–di Indonesia.

    Studi yang dimuat di jurnal Nature Climate Change 11 seperti dikutip di laman resmi Greenpeace melaporkan, perubahan iklim akibat aktivitas manusia telah memperlambat produksi pertanian global sebesar 21 persen sejak 1961.

    Baca Juga: Petani Kopi Kehilangan Produksi Akibat Perubahan Iklim

    Daerah yang lebih hangat, termasuk Indonesia, lebih meraakan dampak perubahan iklim, di mana penurunan produktivitas pertaniannya diperkirakan mencapai 30-33 persen.
     
    Salah satu contohnya terjadi pada 2019. Data BPS mencatat, produksi padi Indonesia pada tahun tersebut turun 7,8 persen dibanding tahun sebelumnya karena cuaca ekstrem.

    Pada Januari dan Februari 2019, banjir melanda sejumlah wilayah sehingga sawah-sawah tergenang. Sebaliknya, kemarau panjang terjadi pada Juli-Desember.

    Baca Juga: Nasib Nelayan Tradisional Terombang-ambing Dampak Perubahan Iklim

    Ancaman krisis pangan makin mencuat tatkala pada Maret 2020, Badan Pangan PBB (FAO) memperingatkan bahwa produksi dan distribusi pangan global bisa terganggu karena pembatasan pergerakan di masa pandemi Covid-19.

    Dilansir Republika.id, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan, fenomena perubahan iklim mengakibatkan semakin meningkatnya frekuensi intensitas dan durasi cuaca ekstrem sehingga akan mengganggu kegiatan pertanian dan perikanan.
     
    Dampak perubahan iklim ini bahkan mengancam produktivitas hasil panen dan tangkap ikan.
     
     
    Dwikorita menambahkan, fenomena perubahan iklim juga menyebabkan sering terjadinya bencana banjir, longsor, banjir bandang, badai tropis, puting beliung hingga kekeringan.
     
    Berbagai kejadian ekstrem dan bencana hidrometeorologi yang dipicu perubahan iklim ini juga dikhawatirkan mengganggu produksi pangan serta dapat berakibat pula pada terganggunya ketahanan pangan.
     
    Hal ini terjadi karena perubahan iklim mengakibatkan kondisi ekstrem seperti kekeringan, banjir, dan gelombang panas yang lebih sering dan parah.
     

    Karena itu, BMKG mendorong terus dimaksimalkan sekolah lapang kepada petani maupun nelayan dalam mengantisipasi cuaca dan iklim ekstrem yang dapat berdampak kepada kegiatan pertanian maupun kegiatan melaut.

    Dia menjelaskan, sekolah lapang BMKG didesain untuk memfasilitasi literasi petani dan nelayan tentang pemanfaatan info BMKG dalam mendukung kegiatan pertanian dan perikanan secara lebih adaptif, produktif dan tangguh.

    “Pengenalan cuaca dan iklim bagi para petani dan nelayan diharapkan dapat meningkatkan pemahaman petani dalam mensiasati metode dan waktu tanam agar tidak gagal panen,” ujar Dwikorita.

    Baca Juga: Peringatan Soal Perubahan Iklim Muncul Sejak 70 Tahun Silam

    Selain itu, dia berharap para nelayan juga dapat menyiasati waktu dan penentuan target zona tangkap ikan agar hasil tangkapan lebih produktif dan tetap terjaga keselamatan.

    Dwikorita mengatakan, sekolah lapang iklim telah menjangkau 451 lokasi di tingkat kabupaten di 33 provinsi serta telah melatih 16 ribu peserta selama 10 tahun terakhir.

    Sekolah lapang iklim ini kata dia, secara rata-rata berhasil meningkatkan sekitar 30 persen untuk komoditas pangan seperti padi, jagung dan hortikultura.

    Baca Juga: Gerakan Keadilan Iklim: Perlunya Melibatkan Kelompok Rentan dalam Adaptasi Perubahan Iklim

    Sedangkan, sekolah lapang cuaca nelayan saat ini sudah memfasilitasi 10.118 peserta di 159 kabupaten di 33 provinsi wilayah Indonesia sejak dimulai 2016. Dia menyebut, sekolah lapang cuaca nelayan ini juga dapat meningkatkan secara rata-rata hasil tangkapan ikan sekitar 20 hingga 30 persen.

    Karena itu, dia berharap melalui rakornas ini dapat diperluas cakupan forum sekolah lapang iklim dan sekolah lapang nelayan dengan melibatkan berbagai pihak terkait.

    “Diharapkan dapat tersusun matrik rencana tindak lanjut secara cepat, komprehensif dan sinergis dengan melibatkan multisektor dan pihak terkait untuk mengantisipasi dampak perubahan iklim terhadap ketahanan dan kedaulatan pangan,” katanya.

    Baca Juga: Terdampak Perubahan Iklim, Indonesia Berpeluang Dapatkan Dana Loss and Damage 

     

     
     
     
     
     
     
     

  • Dampak Menurunnya Populasi Lebah pada Produksi Pangan Dunia

    Dampak Menurunnya Populasi Lebah pada Produksi Pangan Dunia

    7cloud.asia – Para ilmuwan telah lama membunyikan alarm tentang ancaman hilang atau punahnya penyerbuk selama beberapa dekade terakhir.

    Mereka menyoroti pentingnya peran lebah dalam ekosistem dan kebutuhan mendesak bagi masyarakat dunia untuk mengambil langkah dan membalikkan penurunan populasi lebah di dunia.

    Sejak 1987, Komite Konservasi Alam Gabungan (Joint Nature Conservation Committee/JNCC) telah melaporkan bahwa populasi binatang penyerbuk telah menurun hampir 25 persen.

    Saat manusia terus menciptakan dunia yang sesuai dengan kebutuhannya, lebah dan banyak makhluk hidup lainnya kehilangan habitat penting yang mereka andalkan untuk makanan dan bersarang.

    Menurunnya populasi lebah menjadi ancaman nyata bagi seluruh ekosistem. Tanpa keberadaan kelompok serangga yang satu ini dunia di sekitar kita akan terlihat sangat berbeda.

    Baca: Alih fungsi lahan membuat populasi lebah turun signifikan

    Salah satu dampak jangka panjang jika lebah benar-benar punah dari muka bumi adalah terganggunya produksi pangan dunia.

    Hilang atau punahnya lebah akan menimbulkan ancaman yang sangat nyata bagi sektor pertanian yang menjadi sumber utama produksi pangan di seluruh dunia.

    Di benua Eropa, sekitar 80 persen spesies bunga liar dan tanaman pangan bergantung sepenuhnya pada penyerbukan lebah dalam proses pembuahan.

    Sementara sebagian besar tanaman sereal bergantung pada angin untuk penyerbukan, 90 persen tanaman yang dikonsumsi di seluruh dunia diserbuki oleh lebah, termasuk sebagian besar buah dan sayuran.

    Tanpa bantuan lebah, kita harus mencari cara lain yang lebih padat karya dan kurang efisien untuk menyerbuki tanaman kita. Beberapa teknik termasuk penyerbukan tangan (yang sangat memakan waktu) dan penyerbukan pesawat tanpa awak (sangat mahal).

    Baca: Peran penting lebah bagi kelestarian lingkungan

    Tidak ada alternatif manusia yang dapat dibandingkan dengan efektivitas dan spesialisasi yang dimiliki lebah dalam hal penyerbukan. Singkatnya, kita tidak dapat melakukan pekerjaan mereka pada skala atau kecepatan yang sama.

    Ancaman terhadap produksi pangan berarti ancaman terhadap ketahanan pangan. Berkurangnya hasil panen berarti kekurangan pangan, yang menyebabkan harga pangan naik. Dan kita sudah melihat dampaknya di beberapa belahan dunia.

    Di California, misalnya, peternak lebah melihat penurunan jumlah lebah yang signifikan dari Juni 2024 hingga Februari 2025.

    Mereka melaporkan kehilangan rata-rata 60 persen populasi lebah. Kekurangan hingga 500.000 sarang yang sangat penting dalam penyerbukan almond.

    Kurangnya penyerbukan penting dari lebah berarti berkurangnya varietas buah dan sayuran, yang tidak hanya akan memengaruhi pola makan kita tetapi juga ternak.

    Hal ini pada akhirnya berarti terganggunya industri daging dan susu. Dan, yang pasti hilangnya lebah akan mengakibatkan manusia kehilangan produksi madu yang kaya nutrisi.