Tag: puisi

  • Puisi Di Negeri Ketakutan Dibacakan di Acara Kampus Menggugat

    Puisi Di Negeri Ketakutan Dibacakan di Acara Kampus Menggugat

    7cloud.asia – Di sela acara Kampus Menggugat di Balairung UGM pada Selasa (12/3/2024), budayawan Achmad Munjid membacakan puisi karyanya yang diberi judul Di Negeri Ketakutan

    Puisi Di Negeri Ketakutan ini merupakan hasil refleksi Achmad Munjid yang juga dosen Fakultas Ilmu Budaya UGM itu atas kondisi politik terkini di Indonesia.

    Munjid melihat hampir semua elemen negeri tidak menjadi diri mereka sendiri. Semua dicekam ketakutan menjadi diri mereka sendiri. 

    Di akhir puisinya Munjid mengutip kata-kata dari Wiji Thukul yang melegenda di kalangan aktivis, Hanya satu kata, Lawan!. 

    Baca: Gerakan Kampus Menggugat di Yogyakarta

    Berikut puisi Di Negeri Ketakutan selengkapnya: 

    Bagai lembaga penjara, di negeri ketakutan, Pendidikan dikelola sebagai industri ketakutan Dengan birokrasi serba curiga, penuh ketakutan Dikontrol pejabat yang dihantui ribuan ketakutan.

    Sekolah-sekolah mendikte buku teks ketakutan Murid-murid gemetar mengeja huruf ketakutan Pendidikan dibayangi rasa takut macam-macam Takut ketinggalan teknologi, ketinggalan informasi Takut tercemari ideologi, takut kehilangan jati diri Takut dianggap tak beriman, takut iman berlebihan

    Guru takut pada pertanyaan
    Siswa takut belajar kenyataan
    Orang-orang takut perdebatan, takut perbedaan

    Sekolah dan universitas sibuk indoktrinasi
    Pikiran siswa dan mahasiswa dibuat seragam
    Menurut sistem yang menolak dipertanyakan Lembaga pendidikan suntuk administrasi Terperangkap borang-borang serba dekorasi
    Jargon dan slogan-slogan tanpa substansi
    Alpa ajaran guru bangsa Ki Hajar Dewantara
    Tak peduli tanggung jawab utama Pendidikan: Mengasuh watak, merdeka bernalar, terampil berkarya Agar setiap anak tumbuh wajar menjadi manusia Paham diri sendiri, bijaksana, mandiri di tengah dunia

    Serupa kisah Menara Babel, tragedi kutukan
    Di negeri ketakutan, akibat pendidikan ketakutan Orang-orang tak lagi paham bahasa kebenaran, Politik dikelola buat menaklukkan kebenaran, Hukum dibuat untuk menyiasati kebenaran, Birokrasi adalah prosedur meringkus kebenaran Pengetahuan dipelajari demi mengakali. kebenaran Agama digunakan untuk menggelorakan ketakutan, Para pemuda disihir jinak jadi domba-domba
    Buat mangsa kawanan licik serigala penguasa

    Di negeri ketakutan, semua takut

    Para hakim takut keadilan
    Anggota parlemen takut konstituen, Akademisi takut berpikir merdeka

    Wartawan takut menulis fakta Penyair takut pada kata-kata Seniman takut pada imajinasinya Para komika takut tertawa
    Para rohaniawan takut berdoa
    Para oligark takut orang lain tahu
    Bagaimana harta mereka ditimbun

    Baca: Seruan Salemba nilai Jokowi telah mempolitisasi hukum demi kekuasaan

    Mereka membeli peraturan dan kursi kekuasaan Juga pendongeng, tukang sulap dan juru gendam Para penguasa takut bagaimana setan kekuasaan Kelak datang menuntut tebusan di akhir jabatan Mereka pun bertahan dengan segala cara
    Dengan biaya apa saja, termasuk hukum dan etika Lalu mewariskan ketakutan pada sanak keluarga

    Di negeri ketakutan
    Penguasa amat takut mendengar suara
    Ia kunci segenap pintu dan jendela
    Ia tutup segala lubang, semua telinga
    Tapi siapa tak dengar suara akal dan nurani? Seperti air dan udara ia selalu punya cara Menyelinap lewat celah apa saja
    Telinga lahir bisa disumpal
    Tapi telinga batin tetap mendengar
    Tekanan justru mendorong arus kian besar
    Bisik samar kini menjelma gemuruh menggelegar Dari mimbar-mimbar universitas, masjid, gereja Dari social media, dari lembaran berita
    Dari obrolan kafe, dari pernyataan resmi lembaga Bangkit kesadaran, bahwa ketakutan hanya kalah Oleh gelombang lebih besar gulungan ketakutan Atau oleh suara akal, nurani dan kebersamaan

    Wahai, para mahasiswa universitas ketakutan
    Para dosen yang takut terhambat naik jabatan Lulusan yang takut tak mendapat pekerjaan
    Kelas bawah yang takut intimidasi kaum juragan Kelas menengah yang takut kehilangan kesempatan Umat yang takut dosa rekaan agamawan Agamawan yang takut jauh dari kekuasaan

    Gunakan akal, ikuti nurani kalian
    Mari bangkit bersama, lihat cahaya
    Mari berdiri, kita erat bergandengan tangan

    Hentikan kesewenangan mengangkangi kebenaran Hentikan arogansi anjing-anjing rakus penguasa Semena menginjaki konstitusi, moralitas bangsa Hentikan penculik akal sehat dan nurani
    Jangan biarkan perampok keadilan bebas menari Di atas nestapa nasib buruh, nelayan dan petani Jangan biarkan kebohongan memutarbalik sejarah Kita junjung tinggi amanat para pendiri Republik Bebaskan warga dari kerangkeng ketakutan Biarkan para akademisi berpikir merdeka
    Jangan biarkan generasi muda dikebiri
    Singkirkan pengkhianat proklamasi dan reformasi Pekik demokrasi tak bisa dibungkam
    Marsinah, Munir, para korban penculikan aktifis 98 Mereka telah gugur sebagai pahlawan

    Di negeri ketakutan
    Nyawa penyair Wiji Thukul bisa direnggut paksa Tapi jiwa-jiwa merdeka abadi dalam puisi Semangat Wiji-Wiji Thukul tak bisa dihabisi Hanya ada satu kata: lawan!
    Bagi para pelanggar konstitusi, Hanya ada satu kata: lawan!
    Bagi para pengkhianat janji reformasi, Hanya ada satu kata: lawan!
    Bagi para pengingkar cita-cita proklamasi Hanya ada satu kata: lawan!

    Bulaksumur, 12 Maret 2024

  • Komunitas Sastra Bulan Purnama: Para Lansia Berkumpul, Mencipta, dan Menikmati Puisi

    Komunitas Sastra Bulan Purnama: Para Lansia Berkumpul, Mencipta, dan Menikmati Puisi

     

    7cloud.asia – Sebuah komunitas yang diberi nama, Sastra Bulan Purnama (SBP) yang berpusat di Yogyakarta, menjadi wadah bagi para lansia untuk berkumpul, merangkai kata-kata menjadi sebuah puisi, dan membacakannya.

    Berawal dari karya-karya puisi yang ditulis di laman Facebook, kemudian para lansia sepakat membentuk komunitas Sastra Bulan Purnama sejak Oktober 2011.

    Pendirinya, Ignatius Untoro, 65, lansia yang akrab dipanggil Ons itu, bermaksud menyediakan ruang bagi siapapun, terutama para lansia dari segala profesi untuk berekspresi dalam sastra melalui penulisan puisi.

    “Banyak penyair, penulis, sastrawan yang usianya di atas 60 bahkan 70 tahun masih aktif. Mereka menulis dan mengirimkan karyanya. Misalnya Adri Darmadji Woko, seorang wartawan, usianya 70.

    Handrawan Nadesul, seorang dokter juga 70 tahun dan ada seorang pengusaha dari Semarang, usianya 65 tahun, Bu Sulis namanya. Juga seorang dokter RS Sarjito usianya juga di atas 60,” ujar Ons.

    Komunitas para lansia untuk merangkai kata ini nampaknya tidak hanya berkembang di lingkungan penulisan sastra Indonesia, namun juga dalam sastra Jawa.

    Aming Aminoedhin, 67, asal Ngawi, Jawa Timur yang akrab dipanggil Aming adalah seorang penyair yang pernah menjadi wartawan.

    Ia aktif menulis puisi dan bahkan menjadi pengurus Warumas (Wartawan Usia Emas) dan Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS).

    “PPSJS atau Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya ini dengan anggotanya yang sudah tua-tua, secara patungan membuat kumpulan puisi berbahasa Jawa. Setelah (profesi) wartawan selesai, kita harus menulis sastra, agar kita lebih berbudaya,” katanya kepada VOA.

    Cegah pikun
    Menurut peneliti dari Rush University Medical Center dan Illinois Institute of Technology, Chicago, aktivitas mental seperti menulis bisa membantu otak agar tetap aktif dan sehat bagi lansia.

    Menulis juga membuat lansia aktif mengingat banyak hal. Maka beberapa sumber menyebutkan, menulis bisa mengurangi risiko pikun.

    Seorang psikolog yang membuka praktek di Solo, dokter Diaz Roberto, SPsi setuju dengan hasil penelitian itu.

    “Membaca literasi supaya kita bisa menghasilkan tulisan yang baik, nah kemudian ada prosesnya juga. Jadi ada input, processing dan output. Tiga hal ini tidak bisa dipisahkan, dan di dalam proses melepaskan tiga hal ini, otomatis otak kita akan membentuk hormon-hormon kebahagiaan. Inilah yang membuat memori kita tetap bagus dan luput dari pikun,” jelasnya.

    Lintas budaya dengan selisih usia
    Chrysogonus Siddha Malilang, 38, sastrawan yang kini tinggal di Swedia mengatakan, lintas budaya di antara komunitas sangat bermanfaat, dalam hal ini antara penulis muda dan lansia.

    Dia menguatkan pendapat itu ketika melakukan penelitian untuk program pendidikan S3-nya.

    “Komunitas yang menurut saya sangat bagus untuk pengembangan penulis baru juga, karena penulis-pemulis baru kalau mereka aktif di komunitas itu, penulis-penulis kawakan itu akan bersedia membantu,” tegasnya.

    Meski telah lima tahun menetap di Swedia Siddha ikut menulis dan membaca puisi jika ia pulang ke Indonesia.

    Para anggota komunitas Sastra Bulan Purnama berasal dari berbagai provinsi, bahkan menurut Ons Untoro, beberapa peserta dari Makasar khusus datang ke Yogyakarta dengan biaya sendiri untuk mementaskan karyanya.

    Lagu puisi
    Ons Untoro yang pada Agustus lalu mendapat penghargaan 40 tahun berkarya dari Badan Bahasa itu menambahkan, karya-karya para penyair lansia itu diterbitkan menjadi buku puisi dan juga kerap dibacakan dalam sebuah pentas yang didukung dengan musik dan tarian.

    “Sastra Bulan Purnama menampilkan lagu puisi, yaitu puisi yang dilagukan. Kalau musikali puisi itu bisa membaca puisi diiringi musik,” jelasnya.

    Seorang penonton, Fellyana Junaedi yang suka menonton para anggota Sastra Bulan Purnama mementaskan karyanya, punya komentar terkait aktivitas ini.

    “Bagus sih, kolaborasi antara baca puisi dengan ada semacam sajian-sajian yang berbeda, baik itu diiringi lagu nasional, lagu Jawa atau mungkin ada semacam tari-tarian dan gerak. Sangat menarik,” paparnya.

    Amin Aminoedhin bercerita, komunitas Warumas telah menerbitkan berbagai buku dan enam buku kumpulan puisi, di antaranya yang terbaru berjudul, “Eksotika Jawa Timur” yang baru saja diluncurkan pada 8 November lalu di Surabaya.

    Menurut Survei Angkatan Kerja Nasional 2023, sebanyak hampir 54 persen lansia di Indonesia masih bekerja.

    Bagi lansia yang sudah tidak ingin bekerja, pilihan menjadi anggota komunitas dengan berbagai kegiatan yang mereka sukai, akan sangat bermanfaat bagi kesehatan jiwa dan raga.

  • Warga Singapura Nikmati Musim Kedua “Puisi di MRT”

    Warga Singapura Nikmati Musim Kedua “Puisi di MRT”

    7cloud.asia – Penumpang sistem kereta bawah tanah Mass Rapid Transit (MRT) Singapura mulai Kamis (6/11/2025) dapat membaca lebih banyak puisi yang dipajang di dalam gerbong kereta.

    Media setempat melaporkan, hal ini dimungkinkan seiring dengan dimulainya musim kedua inisiatif “Puisi di MRT” (Poems on the MRT) pada Kamis (6/11/2025).

    Dilansir laman resmi pemerintah Singapra, Puisi di MRT adalah sebuah inisiatif Dewan Kesenian Nasional, bekerja sama dengan SMRT Trains dan Stellar Ace.

    Puisi di MRT diproduksi oleh Sing Lit Station, sebuah organisasi nirlaba sastra lokal, kolaborasi ini menampilkan petikan puisi Singapura di seluruh jaringan kereta SMRT, menghadirkan Sing Lit dalam perjalanan sehari-hari.

    Sebanyak 145 kutipan puisi ditampilkan tahun ini, termasuk 50 tambahan baru. Puisi-puisi tersebut, yang ditulis dalam bahasa Inggris, Mandarin, Melayu, serta Tamil, dicetak dan dipajang di dalam kereta.

    Baca: Puisi di Negeri Ketakutan 

    Mulai 6 November 2025 hingga 4 November 2026, penumpang MRT di Singapura dapat menikmati puisi-puisi berbahasa Inggris, Mandarin, Melayu, dan Tamil di kereta-kereta Jalur Timur-Barat, Utara-Selatan, dan Lingkar.

    Puisi-puisi ini juga akan ditampilkan di poster-poster di stasiun kereta (hingga 6 Mei 2026) dan buletin di halte bus (hingga 4 Februari 2026).

    Masing-masing disertai kode respons cepat (quick response/QR) yang dapat dipindai oleh penumpang untuk membaca puisi lengkap berikut terjemahannya.

    Musim pertama puisi tersebut diluncurkan pada 1 November 2024, dan musim kedua akan berlangsung hingga November tahun depan.

    Penulis lokal Chow Teck Seng mengatakan puisi-puisi tersebut dipilih karena aksesibilitas dan kemudahan terjemahannya, memungkinkan penumpang menikmati “pengalaman sastra yang ringan dan menyenangkan dalam perjalanan pulang”.

    Pewarta: Antaranews.com/Xinhua