7cloud.asia – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) menggelar Midterm Coordination Meeting for RAS1031 “Reutilizing and Recycling Polymeric Waste through Radiation Modification for the Production of Industrial Goods – Phase II”.
Pertemuan ini merupakan bagian dari Inisiatif NUclear TEChnology for Controlling Plastic Pollution (NUTEC Plastics) atau pengolahan limbah plastik dengan teknologi radiasi yang diinisiasi oleh IAEA.
Adapun NUTEC Plastics dikembangkan untuk mendukung ekonomi sirkuler melalui inovasi berbasis nuklir. Dengan teknologi radiasi, limbah plastik dapat didegradasi dan dimodifikasi sehingga dapat digunakan kembali sebagai material baru yang memiliki nilai tambah.
Dilansir brin.go.id, seminar mengenai NUTEC Plastics ini berlangsung pada 17-21 Februari 2025 di Gedung B.J. Habibie, Komplek BRIN Jakarta.
Hadir dalam acara ini, para pakar dari IAEA, akademisi dari beberapa negara, seperti Bangladesh, Iran, Jordan, Malaysia, Myanmar, Pakistan, Filipina, Srilanka, Thailand, dan Vietnam, serta mitra industri.
Programme Management Officer IAEA, Denis Subbotnitskiy, dalam presentasinya memaparkan perkembangan mutakhir proyek RAS1031 yang bertujuan meningkatkan nilai tambah limbah plastik melalui teknologi radiasi.
Baca: Indonesia jadi pioner pengolahan limbah plastik dengan teknologi radiasi
“Teknologi radiasi memungkinkan modifikasi sifat plastik sehingga dapat digunakan kembali dalam produk industri dengan nilai tambah yang lebih tinggi,” jelasnya.
Metode ini tidak hanya mengatasi keterbatasan daur ulang konvensional tetapi juga mengurangi ketergantungan pada aditif kimia berbahaya serta menekan konsumsi energi dalam proses daur ulang.
Proyek RAS1031, yang memasuki fase kedua pada 2024-2025, melibatkan 16 negara dengan lima negara percontohan, yaitu Indonesia, Filipina, Malaysia, Thailand, dan China.
“Indonesia dan Filipina telah mencapai Technology Readiness Level (TRL) 4 pada tahun 2024, yang menandakan kesiapan teknologi ini untuk diuji lebih lanjut dalam skala industri,” tambah Subbotnitskiy.
Di Indonesia, kolaborasi antara IAEA, BRIN, dan PT Viro telah menghasilkan pengembangan komposit kayu-plastik berbasis teknologi radiasi.
Sementara itu, di Filipina, Envirotech Waste Recycling mengaplikasikan teknologi ini untuk meningkatkan kualitas mekanis plastik daur ulang dalam konstruksi perumahan.
Baca: Limbah plastik dibahas di World Economic Forum
Malaysia juga turut serta dengan AlamFlora dan HDD Tech untuk mendaur ulang limbah PTFE dan poliolefin menggunakan pyrolysis berbasis radiasi.
Subbotnitskiy menekankan bahwa dukungan pendanaan dari berbagai negara, termasuk Jepang dan Amerika Serikat, menjadi faktor penting dalam keberlanjutan proyek ini.
Jepang telah mengalokasikan 275 ribu euro untuk pengembangan sumber daya manusia, sementara Amerika Serikat memberikan kontribusi sebesar 875 ribu euro yang digunakan untuk pengadaan peralatan.
Melihat ke depan, proyek NUTEC Plastics akan memasuki fase ketiga pada 2026-2027 dengan target mencapai Technology Readiness Level (TRL) 6, yang berarti teknologi ini dapat diterapkan dalam skala industri penuh.
“Kami tidak hanya ingin mengembangkan teknologi, tetapi juga membangun ekosistem daur ulang plastik yang berkelanjutan dengan model ekonomi sirkuler,” pungkas Subbotnitskiy.
Dia berharap, negara-negara Asia-Pasifik dapat mengadopsi metode daur ulang plastik berbasis radiasi sebagai solusi inovatif dalam mengurangi pencemaran lingkungan dan meningkatkan nilai ekonomi limbah plastik.




