BRIN dan IAEA Kembangkan Penggunaan Teknologi Radiasi dalam Pengolahan Limbah Plastik

Written by

in

ruangkotacom – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) menggelar Midterm Coordination Meeting for RAS1031 “Reutilizing and Recycling Polymeric Waste through Radiation Modification for the Production of Industrial Goods – Phase II”.

Pertemuan ini merupakan bagian dari Inisiatif NUclear TEChnology for Controlling Plastic Pollution (NUTEC Plastics) yang diinisiasi oleh IAEA untuk mendukung ekonomi sirkuler melalui inovasi berbasis nuklir.

Dengan teknologi radiasi, limbah plastik dapat didegradasi dan dimodifikasi sehingga dapat digunakan kembali sebagai material baru yang memiliki nilai tambah.

Dilansir di brin.go.id, kegiatan ini berfokus pada diskusi pemanfaatan teknologi radiasi dalam mendaur ulang limbah plastik dan polimer menjadi produk industri bernilai tambah, sebagai langkah konkret dalam mengatasi pencemaran plastik global.

Dalam sambutannya, Plt. Deputi Bidang Kebijakan Pembangunan BRIN, Anugerah Widiyanto menegaskan bahwa proyek ini tidak hanya berfokus pada energi nuklir, tetapi juga pada pemanfaatan nuklir untuk berbagai sektor, termasuk industri dan lingkungan.

“Selain peta jalan nuklir untuk energi, kita juga mendorong pemanfaatan nuklir untuk berbagai sektor, termasuk industri dan lingkungan. Fase 2 dari proyek RAS1031 ini ditargetkan selesai pada 2025 dan menuju ke tahap komersialisasi,” ujar Anugerah.

Baca: Indonesia jadi pilot project pengolahan limbah plastik dengan teknologi radiasi

Menurutnya, sebagai pilot country dalam program NUTEC Plastics, Indonesia melalui BRIN memainkan peran strategis dalam pengembangan teknologi radiasi untuk mengolah limbah plastik menjadi material industri bernilai tinggi.

Hasil riset terbaru yang telah diuji bersama mitra industri menunjukkan potensi besar untuk ditingkatkan ke skala komersial, menjadikan Indonesia sebagai referensi global dalam pengelolaan limbah plastik berkelanjutan.

“Pengembangan teknologi untuk mendukung pengelolaan limbah plastik serta pemanfaatannya sebagai bahan baku industri adalah sebuah keniscayaan yang perlu terus didorong,” kata Anugerah.

Teknologi radiasi, ujarnya, menawarkan solusi yang dapat mengatasi permasalahan limbah plastik dan menjadikan limbah sebagai bahan baku potensial bagi industri, mendukung pengembangan ekonomi sirkuler.

“Kolaborasi riset dan inovasi teknologi radiasi untuk modifikasi polimer perlu terus didorong. Indonesia dapat memainkan peran sentral dalam kolaborasi ini di bawah payung kerja sama teknis IAEA, khususnya dalam kerangka inisiatif NUTEC Plastics,” ungkap Anugerah.

Lebih jauh Anugerah mengungkapkan bahwa pemanfaatan teknologi radiasi yang telah dikuasai ilmuwan Indonesia, serta aplikasinya untuk mengubah limbah plastik menjadi bahan baku industri plastik nasional, dapat dijadikan contoh bagi negara lain, khususnya dalam mendorong pengembangan ekonomi sirkuler.

Baca: Posisi Indonesia dalam mewujudkan perjanjian plastik global

“Pengalaman riset modifikasi polimer dengan menggunakan radiasi, serta kerja sama aplikasinya bersama sektor industri di Indonesia menjadi aset penting untuk mendorong kepemimpinan Indonesia dalam kolaborasi ke depan bersama banyak negara di bawah kerangka kerja sama teknis IAEA, khususnya proyek NUTEC Plastics,” tambahnya.

Penguatan Infrastruktur dan Kolaborasi Global
Sementara, Syaiful Bakhri dari Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN-BRIN) menegaskan bahwa program ini merupakan bagian dari inisiatif internasional yang sejalan dengan kebijakan nasional dalam riset dan inovasi teknologi nuklir.

Menurutnya, proyek ini sejalan dengan program nasional dalam pengembangan teknologi nuklir untuk industri. Program RAS1031 ini mendukung pemanfaatan teknologi radiasi dalam mendaur ulang limbah polimer menjadi produk industri yang lebih bernilai.

“Teknologi radiasi memiliki potensi besar dalam mengatasi masalah limbah plastik. Dengan teknologi ini, kita dapat meningkatkan kualitas plastik daur ulang sehingga bisa dimanfaatkan kembali dalam berbagai industri,” ujarnya.

Baca: UNEP terus dorong perjanjian plastik global

Dikatakannya, BRIN melalui ORTN memiliki tiga program nasional terkait teknologi nuklir, yaitu riset dan inovasi untuk energi, radioisotop dan farmasi, serta aplikasi medis dan industri.

Dalam kerangka kerja sama dengan IAEA, BRIN telah mengembangkan fasilitas electron beam (e-beam) berkekuatan 10 MeV yang kini sedang dalam tahap komisioning.

“Kami sangat mengapresiasi bantuan IAEA dalam menyediakan e-beam 2,5 MeV yang akan dikonstruksi tahun ini di kompleks fasilitas nuklir Serpong,” jelas Syaiful.

Selain itu, BRIN juga tengah mengembangkan Open Collaborative Platform for E-Beam Technology in Food Security and Industry Independency sebagai bagian dari upaya memperluas pemanfaatan teknologi radiasi dalam sektor pangan dan industri.

“Fasilitas ini terbuka bagi peneliti nasional dan internasional untuk mendorong inovasi dan transfer teknologi,” tambahnya.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *