Tag: ramadhan

  • Penetapan 1 Ramadhan di Indonesia Kembali Berbeda, Adakah Jalan Tengahnya?

    Penetapan 1 Ramadhan di Indonesia Kembali Berbeda, Adakah Jalan Tengahnya?

    7cloud.asia – Bagi umat Islam, penentuan awal bulan Ramadhan dan bulan 1 Syawal cukup krusial.

    Pasalnya, hukum Islam mewajibkan ibadah puasa sejak 1 Ramadhan (hari pertama puasa). Islam pun mengharamkan Muslim berpuasa pada 1 Syawal.

    Syawal adalah bulan kesepuluh dalam kalender Islam, yang datang tepat setelah bulan suci Ramadhan. Hari pertama di bulan Syawal inilah yang kita rayakan sebagai Hari Raya Idulfitri.

    Penentuan tanggal 1 Syawal yang tepat dan akurat menjadi penting untuk memastikan ibadah sesuai dengan waktunya.

    Selama ini, sebagian besar umat Muslim merujuk pada penentuan awal dan akhir Ramadhan dari dua sumber mainstream, yakni pemerintah – yang diikuti oleh organisasi Nahdlatul Ulama (NU) – dan organisasi Muhammadiyah.

    Baca: 1 Ramadhan 1445 Hijriah di Indonesia kemungkinan tidak dirayakan berbarengan   

    NU dan Muhammadiyah merupakan dua organisasi Islam terbesar di Indonesia. Keduanya sering menetapkan tanggal awal dan akhir Ramadan yang berbeda karena memiliki metode penentuan yang tidak sama.

    Muhammadiyah sebagai organisasi Islam yang mengusung upaya tajdid (pembaruan) hukum Islam menggunakan metode Hisab. Sedangkan NU menerapkan metode rukyat.

    Untuk tahun ini, Muhammadiyah telah menentukan 1 Ramadhan jatuh pada 11 Maret 2024. Sementara Kemenag menyatakan baru akan melakukan sidang isbat pada Minggu (10/3/2024).

    Lantas adakah jalan tengah untuk dua hal ini? Dalam salah satu tulisannya, ahli hukum Islam terkemuka di Indonesia, Afifuddin Muhajir, mengutip pendapat dari pakar hukum Islam klasik yakni Taqiyuddin as-Subki.

    Baca: Mengapa sering terjadi perbedaan pendapat dalam menentukan awal Ramadhan

    Dia menyatakan bahwa ada kemungkinan untuk mencari jalan tengah (al-manhaj al-wasathi) antara pengadopsi metode Hisab dan Rukyat.

    Jalan tengah yang dapat ditempuh adalah pemerintah mengakomodasi ide Hisab dengan mempertimbangkan posisi ilmu astronomi yang bisa divalidasi secara saintifik dan matematis ketimbang metode Rukyat.

    Ketika mencapai derajat kepastian yang lebih tinggi, Hisab bisa menggeser Rukyat sebagai metode yang valid.

    Di beberapa negara mayoritas Muslim lain, seperti Turki, pemerintahnya melakukan penyatuan kalender Hijriah.

    Baca: Tradisi buka puasa bersama di Indonesia

    Dalam beberapa tahun belakangan, Turki mengadakan Konferensi Internasional Penyatuan Kalender Hijriah sebagai upaya mengembangkan metode Hisab yang universal dan bisa diterima oleh otoritas Muslim sedunia.

    Terlepas dari segala macam ketidaksepakatan, ada satu kaidah hukum Islam yang perlu diingat umat Muslim sedunia dalam perbedaan kalender Hijriah, yakni “la yunkaru mukhtalaf fihi, wa innama yunkarul mujma’ ‘alaihi ” .

    Dalam hal Hisab dan Rukyat, kaidah tersebut bermakna bahwa perbedaan itu niscaya sehingga tidak boleh diingkari sampai muncul kesepakatan yang bisa diterima oleh otoritas Muslim sedunia.

    Zuliyan M. Rizky dari Program Studi Ilmu Hubungan Internasional Universitas Islam Indonesia (UII) ikut berkontribusi dalam penulisan artikel ini.

  • Awal Puasa Ramadhan 1445 Hijriah Berpotensi Tidak Bersamaan

    Awal Puasa Ramadhan 1445 Hijriah Berpotensi Tidak Bersamaan

     

    7cloud.asia – Masyarakat Indonesia kemungkinan akan mengawali puasa Ramadhan 1445 H/2024 M tidak bersama-sama. Mayoritas umat Islam akan mengawali puasa Ramadhan 1445 H pada 11 atau 12 Maret 2024.

    Majelis Tarjih Pengurus Pusat Muhammadiyah sudah mengumumkan awal puasa Ramadhan pada 11 Maret 2024.

    Ada juga kelompok jamaah yang sudah mulai puasa pada 7 Maret. Ada juga yang akan mulai berpuasa pada 10 Maret mendatang.

    Sedangkan pemerintah baru akan menggelar sidang isbat awal Ramadhan 1445 H pada 10 Maret 2024.

    Baca: Mengapa sering terjadi perbedaan menentukan 1 Syawal  

    “Sidang akan memutuskan apakah puasa Ramadhan tahun ini akan dimulai pada 11 atau 12 Maret,” kata Juru Bicara Kemenag Anna Hasbie di Jakarta, Jumat (8/3/2024). 

    Kementerian Agama mengimbau umat Islam untuk mengedepankan dialog serta saling menghormati terhadap potensi perbedaan awal puasa Ramadhan 1445 Hijriah/2024 Masehi.

    “Kita hormati pilihan dan keyakinan umat Islam dalam mengawali puasa Ramadhan 1445 H/2024 M. Sikap saling menghormati perlu dikedepankan dalam menyikapi perbedaan-perbedaan,” ujar Anna

    Dalam semangat saling menghormati itu, kata Anna, ruang dialog tetap harus dibuka sebab ilmu pengetahuan sudah semakin maju dan berkembang, termasuk terkait dengan astronomi.

    Baca: Pemerintah diminta dengarkan NU dan Muhammadiyah

    Ia mengatakan, penentuan awal bulan Hijriah bisa didekati secara empiris melalui hisab dan atau rukyatul hilal, tidak semata berdasar keyakinan spiritual, sehingga argumentasi tentang hal itu juga ilmiah.

    “Kemenag terus membuka ruang dialog dan diskusi terkait penentuan awal Ramadhan. Dari situ diharapkan akan terjadi proses tukar informasi dan pemahaman terkait pilihan dalam mengawali puasa Ramadhan,” kata dia.

    Muhammadiyah, misalnya, menetapkan Ramadhan pada 11 Maret karena argumentasi hisab wujudul hilal.

    Baca: Intepretasi agama yang mendiskreditkan perempuan

    Sedangkan pemerintah menggunakan pendekatan hisab sebagai informasi awal dan rukyatul hilal ​​sebagai konfirmasi.

    “Bagaimana argumentasi awal Ramadhan 1445 H pada 7 Maret atau 10 Maret? Kita bisa diskusikan agar bisa saling memberikan pemahaman,” kata Anna.

  • Sidang Isbat Kemenag: Puasa Ramadhan 1445 H Mulai Selasa 12 Maret 2024

    Sidang Isbat Kemenag: Puasa Ramadhan 1445 H Mulai Selasa 12 Maret 2024

    7cloud.asia – Kementerian Agama menggelar Sidang Isbat Penetapan Awal Ramadan 1445 H pada Minggu (10/3/2024) dan memutuskan ibadah puasa Ramadhan dimulai pada Selasa (12/3/2024).

    Anggota Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama (Kemenag) Cecep Nurwendaya  usai memaparkan posisi hilal di Auditorium HM Rasjidi, Kemenag, Jakarta Pusat, Minggu (10/3/2024).

    “Akhirnya saya simpulkan, berdasarkan kriteria MABIMS, 3 ketinggian dan elongasi 6,4 tanggal 29 Sya’ban 1445 H 10 Maret 2024 Masehi, posisi hilal di seluruh wilayah NKRI belum masuk kriteria minimum tinggi hilal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat,” ujar Cecep di Auditorium H.M Rasjidi Kementerian Agama, Jl. M.H. Thamrin, Jakarta Pusat.

    Sebelumnya, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Dirjen Bimas Islam) Kamaruddin Amin mengatakan, Sidang Isbat ini digelar secara hybrid, daring dan luring.

    “Sidang Isbat ini merupakan salah satu layanan keagamaan bagi masyarakat untuk mendapat kepastian mengenai pelaksanaan ibadah,” papar Dirjen pada Rapat Persiapan Penetapan Awal Ramadan di Jakarta, Senin (19/2/2024).

    Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah (Urais Binsyar) Kemenag, Adib menambahkan, Sidang Isbat akan melibatkan Tim Hisab dan Rukyat Kementerian Agama.

    Baca: Awal puasa Ramadhan di Indonesia berpotensi tidak bersamaan

    Sidang Isbat ini juga dihadiri para duta besar negara sahabat dan perwakilan ormas Islam.

    Perwakilan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), dan undangan lain juga hadir dalam sidang Isbat ini. 

    “Kami juga mengundang pimpinan MUI dan Komisi VIII DPR RI untuk hadir dalam sidang,” katanya.

    Sidang Isbat dibagi menjadi tiga tahap. Pertama, pemaparan posisi hilal awal Ramadan 1445 H berdasarkan hasil hisab (perhitungan astronomi). Pemaparan dilakukan Tim Hisab dan Rukyat Kemenag mulai pukul 17.00 WIB.

    Baca: Mengapa penetapan 1 Ramadhan dan 1 Syawal sering berbeda

    “Sesi ini terbuka untuk umum dan akan disiarkan secara live di Channel Youtube Bimas Islam,” ujar Adib.

    Kedua, Sidang Isbat Penetapan Awal Ramadan 1445 Hijriah yang digelar secara tertutup setelah Salat Magrib.

    Selain data hisab (informasi), sidang isbat juga akan merujuk pada hasil rukyatulhilal (konfirmasi) yang dilakukan Tim Kemenag pada 134 lokasi di seluruh Indonesia.

    “Tahap ketiga, konferensi pers hasil sidang isbat yang juga disiarkan melalui media sosial Kemenag,” pungkasnya.

  • BRIN Ajak Masyarakat Kurangi Sampah Makanan Saat Ramadhan Demi Kurangi Gas Rumah Kaca

    BRIN Ajak Masyarakat Kurangi Sampah Makanan Saat Ramadhan Demi Kurangi Gas Rumah Kaca

    7cloud.asia – Sampah makanan atau food waste terjadi peningkatan saat Ramadhan. Perlu upaya pengurangan sampah makanan sebagai salah satu bentuk melindungi bumi dari gas rumah kaca.

    Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer pada Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Maryati menjelaskan sampah makanan tersebut merupakan sampah organik yang dapat menghasilkan gas metan.

    “Gas metan merupakan gas rumah kaca dengan dampak pemanasan sekitar 30 kali gas karbon dioksida,” ungkap Maryati seperti yang dilansir Antaranews.

    Karena itu, sampah makanan seharusnya dapat berkurang di bulan Ramadhan bukannya justru bertambah.

    Baca: Pemkot Tangerang dorong pengelolaan sampah organik jadi bernilai ekonomi

    “Seharusnya dalam bulan Ramadhan ini kita lebih bisa menghargai makanan, sehingga dapat mengurangi food waste,” katanya.

    Menurut Maryati, kepentingan bisnis menawarkan makanan justru melonjak saat Ramadhan, baik dari sisi jumlah maupun keanekaragaman jenis.

    Lonjakan ini terjadi karena belanja makanan ketika perut lapar dan dorongan untuk berbagi berkontribusi dalam meningkatkan belanja umat Islam pada bulan Ramadhan.

    “Pada prinsipnya sampah itu harus diolah. Sampah makanan adalah sampah organik yang bisa dijadikan kompos, degradasi oleh magot,” jelasnya.

    Memang sampah makanan yang tidak dikelola dan hanya dikumpulkan pada suatu tempat, seperti tempat pembuangan akhir atau TPA, maka sampah tersebut tetap akan menjadi kompos. 

    Baca: Perbanyak bank sampah di DKI

    Proses pembentukan kompos di TPA dapat menghasilkan limbah cair yang dapat mencemari tanah dan air sekitarnya, juga dihasilkan gas metan.

    “Jika gas metan dipanen bisa menjadi bahan bakar gas. Jadi, bagaimana dampak sampah makanan terhadap iklim, kembali tergantung pada bagaimana kita mengelola sampah tersebut,” paparnya.

    Sebelumnya, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengungkapkan timbulan sampah saat Ramadhan kerap naik hingga 20 persen karena sisa makanan dan sampah kemasan.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • 6 Masjid Agung di Indonesia yang Kerap Jadi Tujuan Wisata Religi Saat Bulan Ramadhan

    6 Masjid Agung di Indonesia yang Kerap Jadi Tujuan Wisata Religi Saat Bulan Ramadhan

    7cloud.asia – Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia menjadi tujuan baru bagi wisatawan Muslim untuk melakukan wisata religi.

    Hal ini karena Indonesia memiliki banyak masjid yang tersebar di seluruh nusantara. Tak ketinggalan ritual uniknya di masing-masing daerah selama bulan Ramadhan ini.

    Masjid-masjid tersebut sangat menarik baik karena sejarah maupun arsitekturnya. Berikut 8 masjid di Indonesia yang layak masuk dalam daftar wisata reliji Anda di bulan Ramadhan ini: 

    1 | Masjid Raya Baiturrahman, Aceh

    Jika Anda mencari tempat untuk dikunjungi di Banda Aceh, maka Masjid Raya Baiturrahman adalah tempat yang harus dikunjungi. Situs bersejarah ini dibangun pada masa Kesultanan Aceh.

    Masjid ini telah melalui berbagai hal – mulai dari pembakaran oleh penjajah Belanda sekitar tahun 1873 hingga bencana tsunami. pada akhir tahun 2004.

    Selain berdoa, mereka kebanyakan ingin melihat jejak tsunami.Saat gelombang tsunami setinggi 21 meter menghantam pantai Banda Aceh pada 26 Desember 2004, masjid termasuk bangunan yang tetap berdiri tegak meski ada kerusakan di beberapa bagian. dari masjid.

    Baca:  Mengenal uniknya Masjid Tjia Kang Ho di Pasar Rebo

    2|Masjid Agung Palembang

    Masjid Agung Palembang memiliki keunikan perpaduan tiga budaya yaitu budaya Indonesia, Eropa, dan Tiongkok pada setiap lekukan bangunannya.

    Pintu utamanya misalnya menunjukkan pengaruh budaya Eropa, sedangkan atapnya mencerminkan pengaruh Tiongkok dengan candinya. -seperti atasan.

    Kebudayaan Indonesia tergambar pada menara-menaranya yang berbentuk kerucut dan tampak seperti nasi tumpeng atau nasi tumpeng (makanan khas Indonesia yang biasa dihidangkan sebagai wujud rasa syukur dalam suatu perayaan).

    Masjid Agung Palembang mempunyai berbagai macam kegiatan yang dilakukan secara harian, bulanan, maupun tahunan. 

    Misalnya rutinitas sehari-hari yang meliputi shalat rawatib lima hari dan dakwah yang sejalan dengan tujuan utama dibangunnya masjid. : mengingat Allah dan mengenalkan Islam.

    Ironisnya, setiap bulan suci Ramadhan, pihak masjid kerap mengadakan pengajian Al-Qur’an yang dilaksanakan setelah salat tarawih selama sebulan penuh.

    Baca: Masjid Al Azhar salah satu masjid tertua di Jakarta

    3. Masjid Agung Sumatera Barat, Padang Utara

    Liburan ke Padang Sumatera Barat Mampirlah ke Masjid Raya Sumatera Barat yang memiliki arsitektur unik, rumah ibadah ini didesain tahan gempa namun tetap megah.

    Uniknya masjid ini tidak dibangun dengan kubah di atasnya melainkan atap rumah khas Minangkabau.Minangkabau merupakan penduduk asli Sumatera Barat.

    Orang-orang ini akrab dengan ungkapan lokal basandi syarak, syarak basandi Kitabullah yang artinya adat istiadat harus berdasarkan agama, agama harus berdasarkan Kitabullah (Al-Quran).

    Hal ini tercermin pada Masjid Agung Sumatera Barat yang dirancang tidak hanya dengan pengaruh budaya tetapi juga Islam itu sendiri.

    4. Masjid Agung An-Nur, Pekanbaru

    Masjid Agung An-Nur merupakan masjid terbesar di Pekanbaru, Provinsi Riau, dibangun pada tahun 1963 dan selesai dibangun pada tahun 1968.

    Bangunan masjid ini dipengaruhi oleh gaya arsitektur campuran Melayu, Turki, Arab, dan India. Taj Mahal di Riau karena beberapa kemiripan.

    Memiliki tulisan kaligrafi indah yang dibuat oleh kaligrafer terkenal Indonesia Azhari Nur pada tahun 1970.

    Selain musala, Masjid Raya An-Nur juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti taman bermain anak, perpustakaan, dan aula.Menarik perhatian, pemandangan yang jarang ditemui masyarakat Pekanbaru.

    Baca: Warga Palestina dihalangi beribadah di masjid Al Aqsa

    5. Masjid Agung Istiqlal, Jakarta

     

    Terletak di jantung kota Jakarta, Masjid Istiqlal sangat mudah ditemukan. Masjid yang memiliki arti ‘kemenangan’ ini dibangun pada masa pemerintahan mantan presiden Sukarno pada tahun 1955.

    Kini menjadi masjid terbesar di Asia Tenggara karena mampu menampung banyak orang. kepada 200.000 jamaah.

    Masjid Istiqlal beserta Katedral Katolik di depannya merupakan simbol kerukunan di Indonesia.

    Hal ini terlihat pada hari raya keagamaan masing-masing, pada saat Idul Fitri, Gereja Katedral akan menampung mobil umat Islam di halamannya, sedangkan menjelang Natal tiba, Masjid Istiqlal siap menampung mobil jemaah gereja.

    6. Masjid Agung Jawa Tengah, Semarang

    Berbeda dengan kebanyakan Masjid Agung di Indonesia, Masjid Agung Jawa Tengah di Semarang dibangun dengan desain futuristik.

    Gaya arsitektur masjid ini diyakini merupakan perpaduan gaya Jawa dan Yunani. Selain itu, masjid ini juga memiliki payung hidrolik raksasa unik yang dapat dibuka dan dibuka. tutup secara otomatis.

    Bagi mereka yang menyukai bangunan unik, mengunjungi Masjid Agung Jawa Tengah adalah hal yang menyenangkan

  • Kiat Bugar untuk Penderita Asam Lambung selama Puasa Ramadhan

    Kiat Bugar untuk Penderita Asam Lambung selama Puasa Ramadhan

    7cloud.asia – Penelitian menyebut ibadah puasa Ramadhan bagus untuk penderita maag dan asam lambung (Gerd)

    Namun demikian ada trik khusus yang harus diperhatikan mereka yang memiliki gangguan asam lambung ini, terutama terkait pilihan makanan saat buka maupun sahur. 

    Dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi lulusan Universitas Airlangga dr. Agus Prasetyo, Sp.KFR memberikan sejumlah kiat untuk menjaga kesehatan diri selama berpuasa terutama bagi orang yang menderita asam lambung atau gerd.

    “Bagi penderita gerd yang penting itu waktu sahur dan buka, makan secukupnya dan jangan berlebihan atau kurang. Lalu usahakan makan yang lunak dulu seperti jeli baru yang keras-keras,” kata dr. Agus Prasetyo, Sp.KFR dlansir Antaranews.com, Selasa (26/3/2024).

    Baca: Penelitian ungkap puasa Ramadhan bagus untuk penderita Gerd dan Maag

    Laki-laki yang akrab disapa sebagai Dokter Pras di platform digital TikTok itu menuturkan selama berpuasa penderita asam lambung dianjurkan untuk makan secukupnya baik saat sahur maupun berbuka puasa.

    Dia menganjurkan untuk memulai berbuka dengan air putih biasa atau hangat, agar lambung tidak kaget setelah dalam keadaan kosong berjam-jam. Untuk minuman, Pras menyarankan agar tidak mengonsumsi minuman berkafein atau soda.

    Sama halnya dengan minuman, akan lebih baik bila memulai dengan makanan jenis lunak seperti bubur atau jeli.

    Adapun jenis makanan yang harus dihindari adalah makanan yang memicu sakit lambung seperti makanan yang pedas, asam dan berlemak tinggi seperti nangka muda dan goreng-gorengan.

    Baca: Mengapa gorengan disarankan dihindari saat puasa Ramadhan

    “Pilih makanan yang tepat seperti daging tanpa lemak, buah-buahan yang tidak asam, sayuran, karbohidrat kompleks misal nasi merah dan oatmeal. Akan lebih baik jika memproses makanan dengan cara dipanggang, rebus, atau kukus,” kata dia.

    Hal yang sama juga berlaku pada takjil yang dikonsumsi, penderita asam lambung bisa memakan takjil yang mengandung buah atau sayuran sesuai dengan kondisinya atau kurma yang sudah terbukti bagus bagi lambung.

    “Selain itu jangan lupa tidak boleh dehidrasi. Ingat metode 2-4-2. Minum dua gelas ketika sahur, waktu buka puasa empat gelas dan dua gelas sebelum tidur sesudah sholat isya, jadi cairan dapat terpenuhi,” ucapnya.

    Pras menyarankan agar penderita asam lambung tidak langsung tidur usai menghabiskan makanan baik saat sahur atau makan malam.

    Baca: Saran ahli gizi soal pilihan makanan saat puasa Ramadhan

    Sebab, butuh waktu minimal dua jam untuk makanan berat dan satu jam untuk makanan seperti buah dan sayur dicerna oleh lambung.

    Menurutnya selain mengatur pola makan, kondisi penderita asam lambung akan lebih terjaga bila penderitanya dapat mengelola stres dan emosi dengan baik.

    Kalaupun penyakit itu kambuh, penderita dapat meminum obat lambung jika diperlukan atau berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan obat yang tepat.

    “Jangan lupa perbanyak ibadah. Ibadah dapat membantu menenangkan pikiran dan meredakan stres,” kata dokter yang kini bekerja di RSUD Koja Jakarta Utara itu.

    Baca: Metode 2-4-2 untuk cegah dehidrasi saat puasa Ramadhan