7cloud.asia – Meski menuai kritik dari organisasi lingkungan, fasilitas Refuse Derived Fuel Plant Jakarta di Rorotan (RDF Rorotan), Jakarta Utara tetap jalan terus
Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta bahkan sudah memastikan RDF Rorotan siap beroperasi secara bertahap pada bulan depan.
Serangkaian peningkatan fasilitas pengendalian lingkungan dilakukan. Langkah ini menindaklanjuti arahan Gubernur DKI Jakarta usai meninjau proses commissioning (verifikasi sistem) awal pada Maret lalu.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menargetkan fasilitas RDF Rorotan bisa berioperasi pada 22 Agustus mendatang. Sebelum beroperasi, ia memastikan proses commisioning akan dilakukan secara bertahap.
“Untuk RDF Rorotan jadi sesuai jadwal. Mudah-mudahan tanggal 22 Agustus itu betul-betul sudah selesai. Dan sebelum tanggal 22 Agustus sudah dilakukan commisioning secara bertahap,” jelas Pramono di Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (8/7/2025) pekan lalu.
Pramono juga memastikan adanya penambahan alat deodorizer untuk mengatasi bau di area plant produksi dan gudang yang juga mengganggu masyarakat sekitar.
Baca: RDF Rorotan dinilai sebagai solusi palsu pengelolaan sampah di Jakarta
Ia berharap pemasangan seluruh alat tambahan untuk mengatasi bau yang ditimbulkan bisa rampung sebelum RDF Rorotan beroperasi penuh.
Untuk memastikan kesiapan fasilitas, Pramono Anung berencana meninjau langsung proses commisioning di RDF Rorotan dalam dua minggu ke depan.
“Nanti saya juga akan ajak teman-teman media supaya tahu bahwa RDF Rorotan sudah kita perbaiki sesuai dengan hasil pertemuan saya dengan warga pada waktu itu,” ujarnya.
Pramono pun menyoroti potensi fasilitas RDF Rorotan untuk menangani sampah di wilayah Bekasi. Mengingat kedekatan wilayah antara Bekasi dan Rorotan, ia yakin fasilitas ini nantinya juga dapat menampung sampah dari Bekasi.
“Kalau kemudian nanti RDF Rorotan ini beroperasi, cepat atau lambat pasti sampah di Bekasi mau tidak mau juga pasti kita akan bisa terima di sana (RDF Rorotan, red),” katanya.
Ia mengungkapkan, saat proses commisioning sebelumnya dilakukan, sebagian besar keluhan bau justru datang dari warga Bekasi. Karena itu, penyelesaian masalah ini dilakukan tidak hanya untuk warga Jakarta, tetapi juga bagi warga di sekitar, termasuk Bekasi.
Baca: Pembangunan ITF Sunter ditunda karena faktor biaya
“Kami juga ingin menyelesaikan persoalan ini secara menyeluruh bukan hanya bagi warga Jakarta, tapi juga warga di sekitar termasuk yang ada di Bekasi,” tandas Pramono.
Sementara, Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Asep Kuswanto mengatakan, pihaknya telah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi RDF Rorotan.
Langkah ini termasuk penambahan sejumlah fasilitas penting untuk memastikan RDF Rorotan beroperasi dengan meminimalisir dampak negatif terhadap lingkungan.
“Seluruh proses perbaikan kami lakukan secara komprehensif, salah satunya dengan penambahan tiga unit deodorizer untuk mengendalikan potensi kebauan di area proses, gudang produk, dan area residu. Ini penting agar operasional fasilitas ini tidak menggangu kenyamanan warga sekitar,” ujarnya, Senin (14/7/2025).
Asep menyampaikan, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta juga sudah melengkapi sistem pengendalian gas buang antara lain dengan pemasangan baghouse filter untuk menyaring partikel debu.
Baca: KLH pidanakan pengelola TPST Bantargebang
Juga dipasang wet scrubber kedua untuk menyisihkan polutan gas, wet electrostatistic precipitator untuk menangkap partikulat halus dan kabut pada gas buang, serta alat carbon active yang mampu menyerap senyawa kimia berbahaya dalam gas buang.
Ia menjelaskan, penambahan alat induced draft fan kedua juga dilakukan untuk mengoptimalkan aliran gas menuju cerobong.
“Selain itu, dua alat eksisting juga telah kami modifikasi, yakni wet scrubber dan cerobong, agar emisi yang dilepaskan ke udara benar-benar aman dan memenuhi baku mutu lingkungan,” ujarnya.
RDF Rorotan, ujarnya, adalah wujud transisi Jakarta menuju pengelolaan sampah yang lebih ramah lingkungan.
”Harapannya, melalui sistem pengendalian yang sudah diperkuat, RDF Rorotan akan beroperasi secara optimal sekaligus menjadi contoh pengelolaan sampah modern perkotaan di Indonesia,” tandas Asep.
Baca: Lebih 300 TPA layak ditutup karena masih terapkan sistem open dumping


