Tag: remaja

  • Cegah Stunting, Remaja Diajak Tunda Usia Perkawinan

    Cegah Stunting, Remaja Diajak Tunda Usia Perkawinan

    7cloud.asia –  Menunda usia pernikahan terbukti dapat mengurangi risiko stunting kelak saat melahirkan seorang anak.

    Karena itu, untuk menurunkan angka stunting para remaja diminta tidak buru-buru menikah dan mengikuti batas minimal usia menikah sesuai UU Perkawinan yakni 19 tahun.

    Anggota Komisi IX DPR Aliyah Mustika Ilham menilai bahwa remaja memiliki peran penting untuk memutus rantai stunting sehingga harus menjadi generasi hebat, sehat dan berkualitas.

    Baca: Mengkaji solusi stunting dari ketiga paslon

    Hal itu diungkapkan Aliyah dalam sosialisasi, advokasi dan komunikasi, informasi, edukasi (KIE) pencegahan stunting dari hulu di Kecamatan Ujung Pandang, Kota Makassar, Jumat (15/12/2023).

    “Remaja berperan sebagai pemutus rantai kasus stunting melalui program pencegahan stunting dari hulu, caranya dengan memperbaiki derajat gizi keluarga, tidak terburu-buru menikah, dan menghindari perilaku berisiko,” tegasnya.

    Aliyah berharap, melalui Duta Generasi berencana (Genre) yang terdiri dari para remaja mampu menjadi figur dan percontohan yang dapat membantu pemerintah dalam memberikan pemahaman tentang dampak buruk menikah pada usia anak.

    Baca: Satu dari enam anak Indonesia alami stunting

    Sekali lagi ia menekankan bahwa menunda pernikahan dan kehamilan hingga usia matang termasuk dalam program pencegahan stunting mulai dari hulu hingga hilir.

    Harapan kami, ujarnya, remaja di Sulawesi Selatan bisa berkolaborasi dalam memberikan pemahaman kepada teman sebaya untuk tidak melakukan pernikahan dini

    “Para remaja hendaknya melaksanakan rekomendasi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), yakni menikah pada usia minimal 21 tahun untuk perempuan, dan 25 tahun untuk laki-laki,” ucap Politisi Fraksi Partai Demokrat ini.

    Baca: Stunting bukan hanya soal kesehatan, tetapi juga ekonomi dan lingkungan

    Ia berharap Program Genre tersebut mampu membekali remaja di Sulawesi Selatan dalam mempersiapkan kehidupan berkeluarga sehingga Indonesia akan menghasilkan sumber daya manusia yang sehat dan berkualitas.

    Deputi bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga BKKBN RI Nopian Andusti yang hadir di acara ini menyatakan, remaja berperan penting membangun bangsa untuk menuju Indonesia Emas 2045.

    Pasalnya, remaja akan melahirkan generasi-generasi yang akan datang menuju tahun emas pada 2045.

    Baca: Empat provinsi penyumbang angka stunting

    “Oleh karena itu, kalian harus mampu menjadi generasi hebat, sehat, dan berkualitas, sehingga mampu bersaing dengan negara maju lainnya,” kata dia

  • Survei: Satu dari Tiga Remaja Indonesia Miliki Masalah Kesehatan Mental

    Survei: Satu dari Tiga Remaja Indonesia Miliki Masalah Kesehatan Mental

    7cloud.asia – Survei yang dilakukan Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022 menemukan ada masalah serius dengan kondisi kesehatan mental remaja di Indonesia.

    Survei itu mengungkap satu dari tiga remaja Indonesia berusia 10 sampai dengan 17 tahun memiliki masalah kesehatan mental. Angka tersebut setara dengan 15,5 juta remaja.

    Gangguan kesehatan mental yang paling banyak dialami oleh remaja adalah gangguan cemas, fobia sosial, gangguan depresi mayor, gangguan perilaku, gangguan stres pascatrauma (PTSD) dan gangguan pemusatan perhatian (ADHD).

    Hal itu cukup mengkhawatirkan mengingat hampir 20 persen dari total penduduk Indonesia berada dalam rentang usia 10–19 tahun.

    Baca: Usia kritis kesehatan mental

    Pendiri Komunitas Guru Satkaara Berbagi (KGSB) Ruth Andriani mengatakan gangguan kesehatan mental pada siswa dapat menyebabkan gangguan emosi, kesulitan dalam berkonsentrasi, stres hingga depresi.

    “Itu sebabnya peran guru dan sekolah sangat diberikan, terutama dalam memberikan dukungan psikologis awal atau Psychological First Aid (PFA) pada masalah kesehatan mental siswa,” ujar Ruth di Jakarta, Minggu (12/5/2024)

    Karena kondisi ini, KGSB bersama dengan Konsultan Psikologi Pelangi dan alumni Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, melakukan pelatihan PFA bagi guru

    Pelatihan ini bertujuan untuk membekali para tenaga pendidik dengan kemampuan pertolongan pertama pada masalah kesehatan mental anak.

    Baca: Langkah sederhana jaga kesehatan mental 

    Psikolog dari Konsultan Psikologi Pelangi dan Dosen Fakultas Psikologi Universitas Esa Unggul, Lita Patricia Lunanta menambahkan bahwa tujuan dari PFA adalah untuk mengembalikan rasa aman,

    PFA juga bertujuan menetapkan hubungan yang berguna untuk memenuhi kebutuhan yang mendesak.

    PFA ini juga untuk mengembalikan perasaan diri mampu untuk mengatasi keadaan dan menolong diri.

    “PFA dapat dilakukan di mana saja. Idealnya segera dilakukan saat kontak pertama dengan klien atau biasanya segera setelah musibah. Tetapi kalau baru ketahuan, bisa juga beberapa hari atau minggu bahkan beberapa bulan kemudian,” jelas Lita.

    Baca: Pentingnya mengenali kesehatan mental sejak dini

    Prinsip utama dari PFA adalah look (pantau), listen, dan link atau lihat, dengarkan, dan tautkan.

    Pada tahap lihat, penting bagi guru untuk terlebih dahulu menilai keadaan dari peristiwa yang sedang terjadi serta tentang (profil) siswa yang membutuhkan bantuan.

    Pada tahapan dengar, asesmen yang diberikan antara lain dengan mendengarkan, mengerti, mengeksplorasi, mendorong, dan mencari solusi.

    Guru harus serius memperhatikan dan mendengarkan siswa tersebut secara aktif, mampu memahami perasaannya, bisa menenangkannya terkait situasi krisis yang tengah mereka derita, menanyakan apa kebutuhan dan kekhawatiran mereka

    Baca: Film tentang kesehatan mental

    Guru juga diharapkan mampu membantu menyelesaikan kebutuhannya yang mendesak dan memecahkan permasalahannya.

    Tahap akhir yakni tautkan, yakni menghubungkan siswa dengan orang atau pihak lain sesuai dengan kebutuhannya.

    Bila siswa membutuhkan penanganan medis dapat dirujuk ke dokter. Bila siswa membutuhkan konseling lebih lanjut bisa dirujuk ke konselor atau psikolog.

    Bila sudah ada gangguan psikologis yang membutuhkan pengobatan lebih lanjut bisa dirujuk ke psikiater.

    Sumber:Antaranews.com

  • Ini Alasan Mengapa Menikah Cepat Tidak Dianjurkan

    Ini Alasan Mengapa Menikah Cepat Tidak Dianjurkan

    7cloud.asia – Remaja dianjurkan untuk menghindari menikah di usia terlalu dini karena mereka perlu waktu untuk berproses dan mengenali lima konsep diri masing-masing.

    Psikolog klinis anak dan remaja, Reti Oktania mengatakan lima konsep diri tersebut antara lain kompetensi skolastik hingga tingkah laku sebagai bekal seseorang menapaki tahap kehidupan selanjutnya.

    “Kenapa anak usia remaja tidak dianjurkan menikah? Karena di usia tersebut, tugas mereka adalah mengembangkan konsep diri yang positif,” kata Reti dikutip Antaranews.com, Selasa (8/10/2024)

    Psikolog lulusan Universitas Indonesia itu menambahkan, anak remaja harus terlebih dahulu memahami dirinya memiliki kompetensi di bidang apa.

    Adapun, lima konsep diri yang perlu diketahui dan dikembangkan anak serta remaja untuk membantu mereka di tahap dewasa nanti, yaitu kompetensi skolastik atau pendidikan, penerimaan sosial, kompetensi atletik atau olahraga, penampilan diri, dan tingkah laku.

    Baca: Mengapa pernikahan menjadi hal yang menakutkan

    “Ketika remaja telah menginjak usia dewasa, mereka sudah siap untuk bertanggung jawab atas pilihan masing-masing, termasuk menikah, karena sebelumnya sudah dibekali dengan pengenalan lima konsep diri,” ujarnya.

    Sebaliknya, remaja yang menikah di usia anak umumnya belum mengenali konsep diri mereka dengan baik, sehingga berdampak saat mereka telah menjadi orang tua.

    Reti memaparkan, otak depan manusia yang berfungsi sebagai decision making atau untuk mengambil keputusan bertanggung jawab, baru matang di usia 24 atau 25 tahun.

    “Makanya banyak orang tua yang belum siap, tapi sudah punya anak (salah satunya karena menikah di usia dini),” kata psikolog yang tergabung dalam Ikatan Konselor Menyusui Indonesia itu.

    “Kalau dia menikah (di usia dini), dia nggak punya lagi kesempatan olahraga, main sama teman sebayanya karena langsung dikasih tugas sebagai orang yang sudah menikah atau bahkan orang tua,” sambungnya.

    Baca: Alasan mengapa banyak orang memilih tinggal bersama tapi tidak menikah

    Ada dua faktor utama terjadinya pernikahan dini baik pada remaja maupun anak, yaitu masalah ekonomi dan kurangnya akses pendidikan.

    Di Indonesia, ujar Reti, kasus pernikahan dini masih banyak terjadi, terutama di pelosok daerah karena dua masalah utama di atas.

    Oleh sebab itu, Reti menilai perlu adanya andil berbagai pihak untuk memutus rantai pernikahan dini di Indonesia.

    Mulai dari pemerintah, masyarakat, hingga orang tua dalam memberikan akses pendidikan serta informasi yang diperlukan bagi anak dan remaja demi masa depan yang lebih baik.

    Pendidikan seksual, dan seberapa persiapan mental untuk menikah juga perlu dijelaskan. Aturan yang ada menerapkan usia menikah adalah 19 tahun.

    Baca: Makin banyak anak muda yang menunda perkawinan

    “Pemerintah juga perlu memerhatikan kesejahteraan ekonomi, pemerataan pendidikan, dan akses informasi bagi masyarakat agar bisa memutus rantai pernikahan dini,” kata salah satu pendiri The Little Wisdom itu.

    Reti pun berpesan agar para remaja dan anak-anak di Indonesia dapat mengembangkan potensi diri semaksimal mungkin, tanpa perlu melakukan pernikahan dini.

    Dengan begitu, mereka dapat meraih masa depan yang lebih baik dan semakin mencintai diri mereka sendiri.

    Reti menambahkan semua anak terlahir di dunia pasti punya makna, jadi sebelum dewasa dia mengajak remaja untuk sama-sama cari identitas diri.

    “Apa sih makna diri saya di dunia?,’ melalui pendidikan, sosialisasi, dan menjaga diri supaya kamu lebih mencintai diri kamu dan terus berbuat baik dengan sesama,” kata Reti mengakhiri percakapan.