7cloud.asia – Remaja dianjurkan untuk menghindari menikah di usia terlalu dini karena mereka perlu waktu untuk berproses dan mengenali lima konsep diri masing-masing.
Psikolog klinis anak dan remaja, Reti Oktania mengatakan lima konsep diri tersebut antara lain kompetensi skolastik hingga tingkah laku sebagai bekal seseorang menapaki tahap kehidupan selanjutnya.
“Kenapa anak usia remaja tidak dianjurkan menikah? Karena di usia tersebut, tugas mereka adalah mengembangkan konsep diri yang positif,” kata Reti dikutip Antaranews.com, Selasa (8/10/2024)
Psikolog lulusan Universitas Indonesia itu menambahkan, anak remaja harus terlebih dahulu memahami dirinya memiliki kompetensi di bidang apa.
Adapun, lima konsep diri yang perlu diketahui dan dikembangkan anak serta remaja untuk membantu mereka di tahap dewasa nanti, yaitu kompetensi skolastik atau pendidikan, penerimaan sosial, kompetensi atletik atau olahraga, penampilan diri, dan tingkah laku.
Baca: Mengapa pernikahan menjadi hal yang menakutkan
“Ketika remaja telah menginjak usia dewasa, mereka sudah siap untuk bertanggung jawab atas pilihan masing-masing, termasuk menikah, karena sebelumnya sudah dibekali dengan pengenalan lima konsep diri,” ujarnya.
Sebaliknya, remaja yang menikah di usia anak umumnya belum mengenali konsep diri mereka dengan baik, sehingga berdampak saat mereka telah menjadi orang tua.
Reti memaparkan, otak depan manusia yang berfungsi sebagai decision making atau untuk mengambil keputusan bertanggung jawab, baru matang di usia 24 atau 25 tahun.
“Makanya banyak orang tua yang belum siap, tapi sudah punya anak (salah satunya karena menikah di usia dini),” kata psikolog yang tergabung dalam Ikatan Konselor Menyusui Indonesia itu.
“Kalau dia menikah (di usia dini), dia nggak punya lagi kesempatan olahraga, main sama teman sebayanya karena langsung dikasih tugas sebagai orang yang sudah menikah atau bahkan orang tua,” sambungnya.
Baca: Alasan mengapa banyak orang memilih tinggal bersama tapi tidak menikah
Ada dua faktor utama terjadinya pernikahan dini baik pada remaja maupun anak, yaitu masalah ekonomi dan kurangnya akses pendidikan.
Di Indonesia, ujar Reti, kasus pernikahan dini masih banyak terjadi, terutama di pelosok daerah karena dua masalah utama di atas.
Oleh sebab itu, Reti menilai perlu adanya andil berbagai pihak untuk memutus rantai pernikahan dini di Indonesia.
Mulai dari pemerintah, masyarakat, hingga orang tua dalam memberikan akses pendidikan serta informasi yang diperlukan bagi anak dan remaja demi masa depan yang lebih baik.
Pendidikan seksual, dan seberapa persiapan mental untuk menikah juga perlu dijelaskan. Aturan yang ada menerapkan usia menikah adalah 19 tahun.
Baca: Makin banyak anak muda yang menunda perkawinan
“Pemerintah juga perlu memerhatikan kesejahteraan ekonomi, pemerataan pendidikan, dan akses informasi bagi masyarakat agar bisa memutus rantai pernikahan dini,” kata salah satu pendiri The Little Wisdom itu.
Reti pun berpesan agar para remaja dan anak-anak di Indonesia dapat mengembangkan potensi diri semaksimal mungkin, tanpa perlu melakukan pernikahan dini.
Dengan begitu, mereka dapat meraih masa depan yang lebih baik dan semakin mencintai diri mereka sendiri.
Reti menambahkan semua anak terlahir di dunia pasti punya makna, jadi sebelum dewasa dia mengajak remaja untuk sama-sama cari identitas diri.
“Apa sih makna diri saya di dunia?,’ melalui pendidikan, sosialisasi, dan menjaga diri supaya kamu lebih mencintai diri kamu dan terus berbuat baik dengan sesama,” kata Reti mengakhiri percakapan.

Leave a Reply