Tag: reset indonesia

  • Buku Reset Indonesia: Menata Ulang Indonesia dari Kerusakan Multi Dimensi

    Buku Reset Indonesia: Menata Ulang Indonesia dari Kerusakan Multi Dimensi

    7cloud.asia – Berbagai persoalan terjadi saat ini di sejumlah wilayah Indonesia akibat kebijakan pemerintah yang dibuat secara sembrono. Banyak pihak yang mempertanyakan ke mana bangsa ini akan dibawa, sehingga menyerukan dilakukannya ‘Reset Indonesia’.

    Desakan agar dilakukan Reset Indonesia ini dituangkan dalam buku berjudul sama, yang diluncurkan baru-baru ini di Jakarta.

    Buku Reset Indonesia ini ditulis jurnalis lintas generasi, yaitu Farid Gaban (baby boomer), Dandhy Laksono (generasi X), Yusuf Priambodo (generasi milenial), dan Benaya Harobu (generasi Z).

    Buku setebal 448 halaman ini berisi gagasan tentang Indonesia baru yang merupakan hasil ekspedisi jurnalistik selama 15 tahun dari tahun 2009 hingga 2025.

    Baca: Indonesia Memasuki Fase Fasisme

    Ekspedisi jurnalistik yang dilakukan yaitu Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa, Ekspedisi Indonesia Biru, dan Ekspedisi Indonesia Baru.

    Ada banyak isu yang dibahas dalam buku Reset Indonesia di antaranya konflik agraria, keadilan sosial, masyarakat adat, isu lingkungan, perubahan iklim, sistem politik, demokrasi dan korupsi.

    Dengan menyajikan data dari berbagai isu tersebut para penulis mengajak pembaca untuk kembali ke cita-cita luhur para pendiri bangsa dan mengidentifikasi bentuk-bentuk penjajahan baru yang hadir di era modern.

    Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid di sela-sela peluncuran buku Reset Indonesia menjelaskan kerusakan negara Indonesia saat ini sudah parah.

    Tidak hanya kerusakan di bidang hukum dan hak asasi manusia (HAM), Indonesia juga mengalami kerusakan di berbagai bidang.

    Baca: Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak Meningkat, Bukti Kegagalan Negara

    “Bisa di bilang ini kerusakan multidimensi. Kerusakan bidang lingkungan, sosial, hukum dan lain-lain. Jadi memang harus di ‘reset Indonesia’ untuk memperbaiki kerusakan yang parah ini,” kata Usman kepada ruangkotacom.

    Hal senada juga diungkapkan oleh Manager Kampanye Hutan dan Kebun Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Nasional, Uli Arta Siagian.

    Menurutnya pemerintah saat ini hanya mampu mengeruk dan menjual sumber daya alam, termasuk hutan dan tanah. Mereka tidak peduli bagaimana masyarakat adat memandang hutannya.

    Baca: BEM SI Gelar Unjuk Rasa, Satu Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran Gagal

    “Mereka hanya melihat semua itu hanya komoditas yang layak dieksploitasi dan layak dijual. Paradigma berfikir seperti ini yang membuat hidup kita dalam satu situasi yang secara terus menerus krisis,” jelas Uli.

    Selanjutnya Uli menjelaskan sentral dari kehidupan itu bukan manusia, sementara hutan, tanah, pegunungan, laut dan lainnya dianggap sebagai objek.

    Cara pandang seperti ini keliru dan harus diubah. Sentral kehidupan ini tidak hanya manusia, tetapi juga hutan, laut, tanah, gunung dan lain-lain.

    Selama ini, lanjut Uli, terjadi perampasan tanah adat di berbagai daerah, kerusakan alam semakin parah, laut tercemar, masyarakat tetap miskin dan sebagian digusur, konflik sosial semakin besar.

    Baca: Setahun Prabowo-Gibran, Mengulang 3 Dekade Kegagalan Food Estate

    Semua masalah tersebut berakar pada eksploitasi, cara pandang dan ketidakmampuan negara dalam memahami bagaimana relasi antara manusia dan lingkungan sekitarnya.

    “Kalau kita tetap ingin hidup di rumah yang sekarang kita tempati ini dengan aman, layak untuk manusia, maka secara bersama-sama kita harus mendorong reset Indonesia,” kata Uli.

    “Ini harus kita perbaiki. Perbaikannya harus mendasar, maka harus di reset indonesia. Mengatur ulang, mendefinisikan ulang,” tutupnya.

     

     

     

     

  • Pembubaran Diskusi Buku Reset Indonesia sebagai Tanda Reformasi Telah Mati

    Pembubaran Diskusi Buku Reset Indonesia sebagai Tanda Reformasi Telah Mati

    7cloud.asia – Pembubaran dan intimidasi diskusi buku Reset Indonesia pada Sabtu (20/12/2025) menuai kecaman dari aktivis HAM. Bahkan kejadian tersebut sebagai tanda matinya reformasi yang diperjuangkan mahasiswa dan rakyat tahun 1998.

    Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid kepada Ruangkota, Minggu (21/12/2025) menjelaskan acara bedah buku seharusnya menjadi ruang diskusi publik yang tidak boleh dihentikan secara paksa oleh pemerintah dan kepolisian.

    “Itu namanya praktik otoriter. Apakah ini artinya pemerintah memang ingin membungkam suara kritis dan mengabaikan aspirasi rakyat?” kata Usman.

    Baca: Reformasi Kini Berada di Titik Nadir

    Selanjutnya Usman menjelaskan pembubaran paksa seperti ini sebagai tanda bahwa reformasi yang diperjuangkan mahasiswa dan rakyat pada 1998 telah berakhir dan telah mati.

    “Semua kejadian ini adalah tanda matinya reformasi dan lahirnya babak baru menuju fasisme ala Nazi,” ujar mantan aktivis ‘98 ini.

    Sebelumnya diskusi Buku “Reset Indonesia” yang rencananya digelar pada Sabtu (20/12/2025) pukul 19.00 WIB, di Pasar Pundensari, Desa Wisata Gunungsari, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, terpaksa batal terselenggara.

    Acara ini diinisiasi oleh sejumlah komunitas lokal dan menghadirkan tim lengkap penulis buku Reset Indonesia, yakni Dandhy Laksono, Farid Gaban, Yusuf Priambodo, dan Benaya Harobu.

    Baca: Reset Indonesia, Menata Ulang Indonesia dari Kerusakan Multi Dimensi

     

    Saat seluruh persiapan telah selesai dan acara hendak dibuka, aparat pemerintah setempat—terdiri dari camat, lurah, sekretaris desa, Babinsa, serta pihak Polsek—datang ke lokasi dan meminta kegiatan dihentikan dengan alasan tidak memiliki izin.

    Padahal, panitia penyelenggara telah menyampaikan surat pemberitahuan resmi kepada Polsek Madiun sebelum acara dilaksanakan.

    Meski demikian, permintaan penghentian tetap dilakukan, sehingga komunitas penyelenggara akhirnya memutuskan untuk membatalkan diskusi demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

    Salah seorang penulis buku Reset Indonesia, Dandhy Laksono menegaskan pembubaran paksa diskusi buku ini menjadi refleksi serius bagi kondisi demokrasi dan kebebasan berekspresi di Indonesia.

    Baca: Kekerasan dan Pelanggaran HAM oleh Aparat Capai Level Epidemik

    Menurutnya, kejadian ini justru menegaskan relevansi gagasan yang diangkat dalam buku Reset Indonesia—bahwa Indonesia memang perlu di-reset.

    “Ya beginilah kenapa malam ini di tempat ini pembuktian bahwa kita memang perlu me-Reset Indonesia. Kami hanya menulis buku, kami hanya mendiskusikan isi buku. Teman-teman datang setelah hujan malam, datang kesini untuk mendiskusikan buku,” kata Dandhy kepada wartawan.

    “Kenapa kami menulis buku ini? Karena persis seperti malam inilah situasi yang dihadapi Indonesia sekarang,” lanjut Dandhy. 

    Tak hanya dibubarkan. Pada Minggu (21/12/2025) dinihari, dua mobil milik tim penulis dilempari telur oleh empat orang tak dikenal yang mengendarai dua sepeda motor.

    Baca: Pembungkaman Terhadap Kebebasan Berekspresi Makin Terasa

    Peristiwa di Gunungsari ini menjadi satu-satunya kasus pembubaran paksa yang dialami tim penulis sepanjang rangkaian diskusi tersebut.

    Selama dua bulan terakhir sejak diluncurkan pada Oktober 2025, buku Reset Indonesia telah didiskusikan di sekitar 45 titik di berbagai daerah.

    Diskusi tersebut berlangsung di komunitas, kampus, sekolah, hingga kelompok petani dan nelayan, mencakup wilayah Jabodetabek, Serang, Sumedang, Bandung, Pangandaran, Purwokerto, Cirebon, Pekalongan, Brebes, Batang, Yogyakarta, Solo, Temanggung, Wonosobo, Banjarnegara, hingga Madiun.