Tag: restorasi

  • Mengintip Kerja Besar Merestorasi Kerusakan Ekosistem Laguna Terbesar di Eropa

    Mengintip Kerja Besar Merestorasi Kerusakan Ekosistem Laguna Terbesar di Eropa

    7cloud.asia – Pembangunan yang tidak berkelanjutan di sekitar Murcia telah membebani Mar Menor -laguna terbesar di Eropa- dengan proses yang dikenal sebagai eutrofikasi.

    Ekosistem di Mar Menor yang berada di ambang kehancuran membuat orang di wilayah tersebut dan sekitarnya marah. Puluhan ribu orang berunjuk rasa di kota-kota seperti Murcia dan Cartagena, menyerukan tindakan untuk menyelamatkan Mar Menor.

    Lebih dari 500.000 orang menandatangani petisi yang meminta agar laguna Mar Menor tersebut menerima perlindungan hukum yang lebih kuat.

    Kini, dengan anggaran sebesar 675 juta euro atau sekitar Rp13,133 triliun, para manajer proyek mulai menerapkan kerangka kerja restorasi pemerintah yang mencakup puluhan tindakan restorasi di lapangan.

    Prioritas mendesak adalah menciptakan sabuk hijau selebar 1.500 meter di sekitar laguna, termasuk serangkaian lahan basah buatan serta bukit pasir yang telah direhabilitasi dan kawasan alami lainnya yang telah direstorasi.

    Beberapa lahan basah dipasangkan dengan “filter hijau”, di mana air tanah yang dipompa dialirkan melalui vegetasi yang menyerap sebagian besar polutan.

    Baca: Penggunaan pupuk secara berlebihan merusak ekosistem laguna terbesar di Eropa

    Salah satu langkah penting yang diharapkan akan segera dimulai adalah pembongkaran marina yang kontroversial di gundukan pasir yang memisahkan laguna dari Laut Mediterania.

    Namun, sebagian besar rencana tersebut dikhususkan untuk mengatasi polusi yang telah mencemari laguna pada sumber-sumber terpentingnya.

    “Persoalannya begitu mendalam dan kompleks, sehingga kami merasa perlu mencari sumber tekanan dan akar permasalahannya,” kata Francisca Baraza, Komisioner untuk Siklus Air dan Restorasi Ekosistem di Kementerian Transisi Ekologi dan Tantangan Demografi Spanyol.

    Dia melanjutkan, “Jadi, bagi kami, daerah aliran sungai (DAS) adalah skenario fundamental untuk intervensi.”

    Salah satunya adalah aliran air dan kanal yang melintasi lahan pertanian di DAS yang lebih luas akan dinaturalisasi kembali dengan pepohonan dan tanaman untuk mengurangi jumlah air, sedimen, dan polutan yang mencapai laguna. Tanggul akan diturunkan di beberapa tempat untuk menciptakan dataran banjir.

    Inisiatif ini juga mendukung langkah-langkah restorasi untuk mengurangi erosi tanah dan mendorong peralihan ke pertanian yang lebih berkelanjutan.

    Baca: Pertanian regeneratif dilirik untuk amankan pasokan pangan dunia

    Misalnya, hibah telah diberikan untuk proyek-proyek yang mempromosikan pertanian organik atau regeneratif dan teknik-teknik yang membutuhkan lebih sedikit pupuk. Bantuan yang ditujukan bagi para peternak – wilayah ini menampung ratusan peternakan babi – juga sedang dalam proses.

    Di Sierra Minera, digalakkan reboisasi dan pemulihan aliran air dengan tujuan untuk mencegah kontaminan dalam tumpukan limbah di dekat operasi pertambangan yang terbengkalai agar tidak membahayakan penduduk sekitar atau masuk ke laguna.

    Elemen kunci lain dari kerangka kerja ini meliputi operasi pemantauan air yang komprehensif, program penelitian untuk meningkatkan pemahaman tentang ekosistem yang saling terkait di kawasan tersebut, langkah-langkah konservasi keanekaragaman hayati, dan penjangkauan publik yang luas.

    Konsultasi dengan pelaku bisnis, warga, dan pemangku kepentingan lainnya dirancang tidak hanya untuk memperlancar pelaksanaan kegiatan restorasi, tetapi juga untuk mengembangkan visi Mar Menor pada tahun 2050 dan rencana aksi untuk mewujudkannya.

    “Lebih dari sekadar optimisme, saya memiliki banyak harapan bahwa ini dapat diubah,” kata Rubio, juru bicara dan pensiunan guru sekolah.

    “Karena manusia tahu cara menghancurkan. Tetapi kita juga tahu cara membangun, kita tahu cara memulihkan, kita tahu cara melestarikan, dan kita tahu cara melindungi.”

    Baca: Pertanian regeneratif mengubah wajah daerah gersang di Portugal

     

     

  • Deforestasi Hancurkan Keanekaragaman Hayati, Bagaimana Restorasi Harus Dilakukan?

    Deforestasi Hancurkan Keanekaragaman Hayati, Bagaimana Restorasi Harus Dilakukan?

    7cloud.asia – Secara umum, laju deforestasi di Indonesia menunjukkan tren pelambatan dalam beberapa tahun terakhir. Fokus kebijakan pemerintah saat ini bergeser pada restorasi atau pemulihan hutan dan bekas tambang

    Restorasi hutan bekas tambang ini dinilai sebagai langkah krusial untuk memastikan pemulihan ekosistem secara berkelanjutan.

    Guru Besar Fakultas Kehutanan UGM, Prof. Widiyatno menekankan bahwa pengelolaan hutan tidak bisa mengabaikan kemajuan teknologi, kepentingan ekonomi, dan kebutuhan pembangunan.

    Oleh karena itu, pengelolaan hutan harus mempertimbangkan kepentingan ekonomi dengan ekologi demi keberkelanjutan.

    Namun yang tidak kalah penting untuk dilakukan saat ini adalah pemilihan metodologi yang tepat untuk pelaksanaan restorasi.

    Baca: Pemuda adat global satu suara dalam melindungi hutan tropis dunia

    Ia menyebutkan, tahapan pertama restorasi adalah mengidentifikasi tingkat kerusakan hutan yang berkorelasi langsung dengan kondisi tutupan lahan.

    “Tingkat kerusakan dan kondisi tutupan lahan menjadi penentu utama dalam merumuskan strategi restorasi,” ujarnya ujarnya dalam webinar Restorasi Ekosistem pada Hutan Alam, Bekas Tambang, dan Mangrove, Kamis (25/9/2025) dalam rangka Dies Natalis ke-62 Fakultas Kehutanan UGM

    Lebih lanjut, ia memaparkan konsekuensi dari tingkat kerusakan berdampak pada upaya pemulihan hutan. Sebab, semakin tinggi tingkat degradasi hutan, maka akan semakin rendah keanekaragaman hayati dan fungsi ekosistem.

    “Akibatnya, upaya pengembalian hutan ke rona alam alaminya akan menuntut waktu dan biaya yang semakin tinggi seiring dengan meningkatnya level kerusakan yang harus diperbaiki,” ujarnya.

    Ia kemudian menyampaikan bahwa enrichment planting dan native species sebagai salah satu metode restorasi hutan yang memiliki dampak signifikan dan holistik.

    Baca: Hak komunal dan hak ulayat jadi instrumen perlindungan lingkungan

    Ia mencontohkan, metode ini terbukti mampu meningkatkan serapan karbon hingga sekitar 140 ton per hektare pada tegakan berumur 25 tahun.

    Berfokus pada isu reklamasi tambang, staf pengajar di Laboratorium Fisiologi Pohon dan Tanah Hutan FKH UGM, Dr. Handojo Hadi Nurjanto membedah pentingnya penyiapan tapak dalam keberhasilan restorasi lahan bekas tambang.

    Ia menyebutkan enam langkah kunci dalam reklamasi lahan pasca tambang, yakni penyiapan lahan, penataan lahan, pengendalian erosi, pengolahan lapisan tapak, revegetasi, dan pengamanan.

    Handojo menuturkan reklamasi tambang tidak bisa dilakukan sembarang namun menyesuaikan lokasi, jenis tanah, perlakuan penataan lahan, dan aktivitas pertambangannya.

    “Pendekatan di dalam penyiapan tapak berbeda berakibat pada vegetasi yang ditanam pun berbeda.” pungkasnya.

    Dari laporan Kementerian Kehutanan RI, luas lahan berhutan di Indonesia pada tahun 2024 mencapai 95,5 juta hektare, atau 51,1 persen dari total daratan. Sementara itu, angka deforestasi netto tahun 2024 tercatat sebesar 175,4 ribu hektare.

    Baca: Larangan adat efektif menjaga kelestarian hutan

    Mayoritas deforestasi bruto terjadi di hutan sekunder dengan luas 200,6 ribu hektare (92,8 persen), di mana 69,3 persen terjadi di dalam kawasan hutan dan sisanya di luar kawasan hutan.

    Dennis Wara H. dari PT Ekosistem Khatulistiwa Lestari, menyebut bahwa bahwa tantangan utama yang dihadapi di lapangan adalah tingkat deforestasi dan degradasi lahan, konservasi keanekaragaman hayati, kondisi sosial dan ekonomi masyarakat, serta pengembangan model bisnis perusahaan.

    Sementara Andri Ardiansyah, dari PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) menceritakan dari sisi proses reklamasi nikel dimulai dari konservasi prapenambangan dengan mendata biodiversitas, pengunduhan bibit vegetasi asli, dan perencanaan penyelamatan tanah pucuk.

    Terakhir, Boorliant Satryana dari PT Maruwai Coal, yang bergerak di penambangan dan produksi batubara metalurgi, memaparkan bahwa reklamasi berada di inpit dump sehingga lahan reklamasi menjadi kecil.

    “Langkahnya dimulai dari pembuatan tanggul dan drainase, kemudian penanaman cover crop untuk penguatan lereng, lalu melakukan pembajakan untuk memperbaiki sifat fisik tanah menjadi gembur.” pungkasnya.

    Baca: Warga Desa Air Terjun di Kerinci Seblat jaga kelestarian hutan adat

  • KLH Akan Perluas Restorasi Gambut di Luar Areal Konsesi dengan Libatkan Masyarakat

    KLH Akan Perluas Restorasi Gambut di Luar Areal Konsesi dengan Libatkan Masyarakat

    7cloud.asia – Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq meminta dunia usaha meningkatkan dukungannya dalam restorasi ekosistem gambut dengan melibatkan masyarakat ribuan desa yang berada di wilayah sekitar konsesi.

    Permintaan ini disampaikan Hanif dalam Forum Kolaborasi Pemulihan Ekosistem Gambut di Jakarta, Kamis (2/10/2025) seperti dilansir Antaranews.com.

    Hanif menyampaikan pihaknya menargetkan pengelolaan 2.354 Desa Mandiri Peduli Gambut (DMPG), dengan 1.450 desa memerlukan dukungan dari perusahaan karena berada di wilayah penyangga konsesi.

    “Untuk daerah konsesi tadi sekitar 500 ribu (hektare) atau hampir 1 jutaan, itu sudah ada peraturannya. Mungkin mereka tidak tahu persis bagaimana melakukan restorasi, sehingga tadi saya minta dalam waktu segera kita akan lakukan pelatihan tenaga kerja mereka untuk memiliki kompetensi, kemampuan untuk melakukan restorasi,” jelasnya.

    Dia mengingatkan bahwa dukungan restorasi kawasan gambut yang berada di wilayah penyangga atau buffer lima kilometer dari kawasan konsesi sudah tertuang di dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 71 Tahun 2014 Perlindungan Dan Pengelolaan Ekosistem Gambut.

    Baca: Kearifan lokal Suku Dayak Ngaju kelola lahan gambut

    KLH/BPLH sendiri sudah memetakan target restorasi terhadap 3.313.126 atau 3,3 juta hektare (ha) kawasan gambut.

    Luasan ini terbagi atas 298.276 ha di wilayah areal penggunaan lain (APL) untuk intervensi restorasi oleh KLH, 897.036 ha di kawasan hutan oleh Kementerian Kehutanan (Kemenhut), 528.683 ha di wilayah penyangga konsesi

    Sedangkan 1.589.132 hektare lainnya berada di wilayah kawasan hutan dan APL yang diwajibkan dilakukan restorasi oleh konsesi.

    Hanif mengatakan perluasan restorasi gambut di areal luar konsesi dengan menggandeng dunia usaha ini penting untuk mempercepat pemulihan ekosistem penting dalam penanganan perubahan iklim.

    Sementara untuk target pengembangan DMPG, yang berada di wilayah intervensi KLH adalah 904 desa dan di wilayah penyangga sebanyak 1.450 desa. Total terdapat 2.354 DMPG yang ditargetkan untuk pemberdayaan.

    Baca: Pengelolaan lahan gambut jadi isu strategis lingkungan

    Hanif mengingatkan kepada perwakilan dunia usaha yang menghadiri forum tersebut, bahwa di wilayah kawasan hutan konsesi sudah ada regulasi yang memandatkan dilakukan kegiatan pemulihan dan restorasinya.

    Namun, di sisi lain dia meminta perhatian perusahaan juga terhadap restorasi untuk wilayah APL.

    “Maka yang ada di dalam kawasan hutan, maupun di luar kawasan hutan yang berada di areal konsesi menjadi mandatori kita semua untuk kita lakukan. Untuk itu kami ingin kita berkolaborasi bersama,” tutur Hanif.

    Untuk itu, dia meminta kepada masing-masing perusahaan untuk memandatkan satu jajarannya untuk mengikuti pelatihan dan berkoordinasi dengan KLH/BPLH terkait restorasi gambut, tidak hanya dalam pembasahan ulang wilayah gambut tapi juga pemberdayaan masyarakat sekitar.

    Menurut Hanif, tantangan terbesar dalam merestorasi lahan gambut justru ada di area yang tidak terikat kewajiban hukum, sehingga lebih rentan terhadap degradasi.

    Baca: Beragam upaya untuk memulihkan hutan rawa gambut

    Dia menyoroti Indonesia memiliki sekitar 13,36 juta hektare lahan gambut dengan cadangan karbon mencapai 57 gigaton, menjadikannya salah satu penyerap karbon terbesar di dunia.

    Namun, lebih dari 3,3 juta hektare diantaranya mengalami kerusakan akibat drainase, konversi lahan, dan praktik pembukaan lahan dengan api.

    Kabar baiknya, data periode 2018-2023 menunjukkan adanya kemajuan signifikan dimana 3,07 juta hektare mengalami perbaikan kualitas, meskipun 2,50 juta hektare masih menurun dan sisanya sekitar 18,72 juta hektare tetap stabil.

    Tren ini menunjukkan pemulihan lahan gambut mulai memberikan dampak nyata.

    Sejak 2015, pemerintah telah menjalankan Program Desa Mandiri Peduli Gambut (DMPG) di 332 desa, yang terbukti efektif menekan kebakaran lahan. Kini, hanya tiga desa yang masih mengalami kebakaran berulang.

    Baca: 13 juta hektare lahan gambut dalam kondisi rusak