Deforestasi Hancurkan Keanekaragaman Hayati, Bagaimana Restorasi Harus Dilakukan?

Written by

in

7cloud.asia – Secara umum, laju deforestasi di Indonesia menunjukkan tren pelambatan dalam beberapa tahun terakhir. Fokus kebijakan pemerintah saat ini bergeser pada restorasi atau pemulihan hutan dan bekas tambang

Restorasi hutan bekas tambang ini dinilai sebagai langkah krusial untuk memastikan pemulihan ekosistem secara berkelanjutan.

Guru Besar Fakultas Kehutanan UGM, Prof. Widiyatno menekankan bahwa pengelolaan hutan tidak bisa mengabaikan kemajuan teknologi, kepentingan ekonomi, dan kebutuhan pembangunan.

Oleh karena itu, pengelolaan hutan harus mempertimbangkan kepentingan ekonomi dengan ekologi demi keberkelanjutan.

Namun yang tidak kalah penting untuk dilakukan saat ini adalah pemilihan metodologi yang tepat untuk pelaksanaan restorasi.

Baca: Pemuda adat global satu suara dalam melindungi hutan tropis dunia

Ia menyebutkan, tahapan pertama restorasi adalah mengidentifikasi tingkat kerusakan hutan yang berkorelasi langsung dengan kondisi tutupan lahan.

“Tingkat kerusakan dan kondisi tutupan lahan menjadi penentu utama dalam merumuskan strategi restorasi,” ujarnya ujarnya dalam webinar Restorasi Ekosistem pada Hutan Alam, Bekas Tambang, dan Mangrove, Kamis (25/9/2025) dalam rangka Dies Natalis ke-62 Fakultas Kehutanan UGM

Lebih lanjut, ia memaparkan konsekuensi dari tingkat kerusakan berdampak pada upaya pemulihan hutan. Sebab, semakin tinggi tingkat degradasi hutan, maka akan semakin rendah keanekaragaman hayati dan fungsi ekosistem.

“Akibatnya, upaya pengembalian hutan ke rona alam alaminya akan menuntut waktu dan biaya yang semakin tinggi seiring dengan meningkatnya level kerusakan yang harus diperbaiki,” ujarnya.

Ia kemudian menyampaikan bahwa enrichment planting dan native species sebagai salah satu metode restorasi hutan yang memiliki dampak signifikan dan holistik.

Baca: Hak komunal dan hak ulayat jadi instrumen perlindungan lingkungan

Ia mencontohkan, metode ini terbukti mampu meningkatkan serapan karbon hingga sekitar 140 ton per hektare pada tegakan berumur 25 tahun.

Berfokus pada isu reklamasi tambang, staf pengajar di Laboratorium Fisiologi Pohon dan Tanah Hutan FKH UGM, Dr. Handojo Hadi Nurjanto membedah pentingnya penyiapan tapak dalam keberhasilan restorasi lahan bekas tambang.

Ia menyebutkan enam langkah kunci dalam reklamasi lahan pasca tambang, yakni penyiapan lahan, penataan lahan, pengendalian erosi, pengolahan lapisan tapak, revegetasi, dan pengamanan.

Handojo menuturkan reklamasi tambang tidak bisa dilakukan sembarang namun menyesuaikan lokasi, jenis tanah, perlakuan penataan lahan, dan aktivitas pertambangannya.

“Pendekatan di dalam penyiapan tapak berbeda berakibat pada vegetasi yang ditanam pun berbeda.” pungkasnya.

Dari laporan Kementerian Kehutanan RI, luas lahan berhutan di Indonesia pada tahun 2024 mencapai 95,5 juta hektare, atau 51,1 persen dari total daratan. Sementara itu, angka deforestasi netto tahun 2024 tercatat sebesar 175,4 ribu hektare.

Baca: Larangan adat efektif menjaga kelestarian hutan

Mayoritas deforestasi bruto terjadi di hutan sekunder dengan luas 200,6 ribu hektare (92,8 persen), di mana 69,3 persen terjadi di dalam kawasan hutan dan sisanya di luar kawasan hutan.

Dennis Wara H. dari PT Ekosistem Khatulistiwa Lestari, menyebut bahwa bahwa tantangan utama yang dihadapi di lapangan adalah tingkat deforestasi dan degradasi lahan, konservasi keanekaragaman hayati, kondisi sosial dan ekonomi masyarakat, serta pengembangan model bisnis perusahaan.

Sementara Andri Ardiansyah, dari PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) menceritakan dari sisi proses reklamasi nikel dimulai dari konservasi prapenambangan dengan mendata biodiversitas, pengunduhan bibit vegetasi asli, dan perencanaan penyelamatan tanah pucuk.

Terakhir, Boorliant Satryana dari PT Maruwai Coal, yang bergerak di penambangan dan produksi batubara metalurgi, memaparkan bahwa reklamasi berada di inpit dump sehingga lahan reklamasi menjadi kecil.

“Langkahnya dimulai dari pembuatan tanggul dan drainase, kemudian penanaman cover crop untuk penguatan lereng, lalu melakukan pembajakan untuk memperbaiki sifat fisik tanah menjadi gembur.” pungkasnya.

Baca: Warga Desa Air Terjun di Kerinci Seblat jaga kelestarian hutan adat

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *