Tag: riau

  • Sejak Januari Hingga Awal Oktober, 2 Ribu Hektare Lahan di Riau Hangus Terbakar

    Sejak Januari Hingga Awal Oktober, 2 Ribu Hektare Lahan di Riau Hangus Terbakar

    7cloud.asia – Gubernur Riau, Syamsuar mengatakan, sejak Januari hingga 8 Oktober 2023 ada 2.169 titik api kebakaran hutan dan lahan (Karhutla0 di provinsi tersebut.

    Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla ini menghanguskan lahan seluas 2.029,15 hektare di daerah itu. 

    “Dari 2.029,15 hektare lahan terbakar di Riau tersebut tersebar di kabupaten dan kota, dengan Kabupaten Rokan Hulu sebanyak 50,6 hektare lahan terbakar, kemudian Kabupaten Rokan Hilir 238 hektare,” katanya dalam rilis diterima di Pekanbaru.

    Baca Juga: Pemerintah Lakukan Modifikasi Cuaca di Sejumlah daerah yang Rawan Terjadi Karhutla  

    Selain itu lahan terbakar di Kota Dumai seluas 115,67 hektare, Bengkalis 398,29 hektare, Meranti 39,05 hektare, Siak 50,06 hektare, Pekanbaru 45,97 hektare,

    Di wilayah Kampar 193,09 hektare, Pelalawan 261,73 hektare, Indragiri Hulu 349,34 hektare, Indragiri Hilir 258,85 hektare, dan Kabupaten Kuantan Singingi 28,5 hektare.

    Berdasarkan data BPBD Riau, kata dia, hingga kini karhutla di Sungai Raya dan Sekip Hilir, Kabupaten Indragiri Hulu, sudah tidak ada titik api dan saat ini sedang dilakukan pendinginan.

    Baca Juga: BMKG: Musim Kemarau Berlangsung hingga Akhir Oktober

    “Pemprov Riau tetap berupaya memadamkan api dengan melalui pembentukan dan mengaktifkan posko Satgas Karhutla di tingkat provinsi dan kabupaten/kota, serta posko lapangan di lokasi karhutla,” katanya.

    Selain itu menyiagakan seluruh sumber daya manusia dan sarana prasarana penanggulangan kebakaran hutan dan lahan seperti alat berat eskavator, mesin pompa pemadam, selang, kendaraan operasional.

    Untuk melokalisir karhutla juga dibangun sekat kanal, embung, menara pemantau api, dan lain-lain.

    Baca Juga: Karhutla Terjadi di Mana-mana, Semua Pihak Harus Bahu Membahu Memadamkan

    Pihaknya juga menyiapkan anggaran rutin dan biaya tanggap darurat untuk pencegahan dan penanggulangan kebakaran.

    “Satgas Karhutla gencar melakukan deteksi dini melalui aplikasi dashboard Lancang Kuning, Sipakar Riau, Sipongi KLHK, serta pantauan hotspot BMKG,” katanya.

    Pihaknya juga memperkuat Satgas Karhutla Riau dengan dua helikopter patroli (PK-RTX dan PK-ZGD), dua helikopter water bombing (C-FIZA dan N332N), satu pesawat TMC (Pilatus PC-6).

    Baca Juga: Hujan Deras, Banjir di Aceh Utara Meluas

    Kita, ujarnya,perlu terus mewaspadai arah angin yang mengarah dari tenggara ke barat laut-utara yang berpotensi mengirimkan asap ke wilayah Provinsi Riau sampai ke Malaysia dan Singapura.

    “Kami terus berupaya dalam mengendalikan karhutla di Riau, bahkan potensi personel yang siap ditugaskan sesuai kebutuhan sebanyak 17.764 orang,” kata Syamsuar. 

    Sumber: Antaranews

     

  • Intensitas Hujan Tinggi, Riau Tetapkan Status Siaga Darurat Bencana

    Intensitas Hujan Tinggi, Riau Tetapkan Status Siaga Darurat Bencana

    7cloud.asia – Pemerintah Provinsi Riau menetapkan Status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi yakni bencana banjir, tanah longsor dan puting beliung sejak 22 Desember 2023 hingga 31 Januari 2024.

    Penetapan status berdasarkan surat keputusan Gubernur Riau Nomor: Kpts. 7743/XII/2023 tentang Status Siaga Darurat Penanggulangan Bencana Hidrometeorologi Provinsi Riau tahun 2023.

    “Penetapan status tersebut dengan pertimbangan Pemerintah Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Kabupaten Bengkalis, Kabupaten Kampar dan Kota Pekanbaru sudah menetapkan status siaga darurat banjir, tanah longsor dan angin puting beliung,” kata Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau, M Edy Afrizal.

    Baca: Intensitas hujan tinggi, banjir landa Kota Padang

    Menurut Edy Afrizal, seperti Rohul mungkin akan meningkat status dari siaga menjadi tanggap darurat. Kemudian Kampar juga mau menaikkan status dari siaga ke tanggap darurat.

    Dengan demikian, kata Edy, menyebutkan berdasarkan pertimbangan tersebut maka sudah cukup untuk tingkat provinsi menetapkan status siaga darurat hidrometeorologi.

    “Penetapan status siaga hidrometeorologi juga mempertimbangkan Badan Meteorologi dan Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru melihat kondisi cuaca akhir-akhir ini curah hujan cukup tinggi di Riau,” katanya.

    Baca: Banjir di Malang diduga karena sampah

    Selain itu, Riau juga mempertimbangkan curah hujan di provinsi tetangga yakni Sumatera Barat yang cukup tinggi.

    Karena ini akan sangat berdampak terhadap pembukaan pintu waduk PLTA Koto Panjang Kampar, seperti Selasa (26/12) pukul 14.00 WIB, yang sudah melakukan penambahan pembukaan pintu waduk 50×60 Cm.

    Untuk mendukung upaya tanggap darurat, kata Edy, pihaknya juga sudah mendirikan posko siaga darurat bencana di kantor BPBD Riau.

    Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru memprediksi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang yang dapat disertai petir dan angin kencang masih berpotensi mengguyur di sejumlah wilayah setempat.

    Baca: Banjir bandang di Kudus

    “Pada malam hari potensi hujan terjadi di sebagian besar wilayah Provinsi Riau dan pada dini hari sebagian wilayah Kabupaten Rokan Hulu, Rokan Hilir, Kampar, Kuantan Singingi, Siak, Pelalawan, Bengkalis, Kepulauan Meranti, Indragiri Hilir, Kota Pekanbaru dan Kota Dumai berpotensi hujan,” kata Forecaster on Duty BMKG stasiun Pekanbaru, Anggun.

    Selain itu, kata Anggun, BMKG mengeluarkan peringatan dini untuk mewaspadai potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang.

    Suhu udara Riau hari ini berada di angka 22.0-31.0 °C dengan kelembapan udara 60-99 persen. Sementara arah angin berhembus ke barat laut-timur laut dengan kecepatan 10-30 Km/jam.

    “Prakiraan tinggi gelombang di perairan Provinsi Riau berkisar antara 0.01-0.50 meter,” demikian Anggun.

    Sumber: Antaranews

  • Banjir Hingga Dua Meter Rendam Puluhan Desa di Kabupaten Rohul

    Banjir Hingga Dua Meter Rendam Puluhan Desa di Kabupaten Rohul

    7cloud.asia – Intensitas hujan yang tinggi membuat puluhan desa di Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Riau terendam banjir. Ketinggian air mencapai dua meter.

    Menurut Kepala Bidang Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Jim Ghafur ada 3 kecamatan di Rokan Hulu terdampak banjir.

    Ketiga kecamatan tersebut adalah Rambah, Rambah Hilir dan Rokan IV Koto. Banjir di Rambah dan Rambah Hilir akibat luapan Sungai Rokan Kanan atau Batang Lubuh.

    Pihaknya, lanjut Jim, akan menurunkan tim ke sejumlah desa tersebut. “Besok kami (saya) mau ke Rokan Hulu,” kata Jim seperti yang dilansir Liputan 6.

    Baca: Waspada banjir di beberapa wilayah ini

    Sementara itu, salah satu warga Desa Talikumain, Kecamatan Tambusai, Kabupaten Rokan Hulu, Mawan, menjelaskan air mulai naik sejak Selasa (26/12/2023) malam akibat intensitas hujan yang tinggi.

    Akibatnya lantai satu rumahnya tidak bisa digunakan beraktivitas lagi. “Saat ini keluarga tinggal di lantai dua,” ucapnya.

    Saat ini, lanjut Mawan, ketinggian air belum berkurang karena hujan masih mengguyur wilayah tersebut.

    “Airnya naik tadi malam, saat ini belum berkurang karena masih hujan,” ujarnya.

    Mawan mengatakan, genangan air di rumah tetangganya nyaris sampai ke atap. Hal ini membuat warga mengungsi ke tempat lebih tinggi atau rumah keluarga yang tidak terdampak.

    Baca: Intensitas hujan tinggi, banjir dan longsor landa wilayah Kota Padang

    “Ada rumah tetangga, jarak air dengan atapnya kira-kira tinggal 20 centimeter lagi,” jelas Mawan.

    Menurut Marwan, hingga kini belum ada bantuan dari pemerintah setempat kepada warga desanya yang menjadi korban banjir.

    Masih banyak warga yang bertahan didalam rumahnya masing-masing. Mereka membutuhkan makanan dan pakaian bersih.

    Petugas gabungan dari TNI, Polri, dan BPBD Rohul bersiaga di lokasi banjir. Petugas juga membantu mengevakuasi warga dan barang-barang peralatan rumah tangga sejumlah korban.

    Reporter: Nurakmayani

  • Riau Banjir, 2 Ribu Lebih Warga Mengungsi

    Riau Banjir, 2 Ribu Lebih Warga Mengungsi

    7cloud.asia – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau mencatat 2.066 orang warga Provinsi Riau terpaksa mengungsi akibat banjir. Total warga daerah itu yang terdampak banjir sebanyak 131.834 jiwa.

    “Dari data yang kami himpun 2.066 jiwa warga mengungsi itu berasal dari enam kabupaten/kota di Riau, dominan asal Kabupaten Pelalawan,” kata Kepala pelaksana BPBD Riau M Edy Afrizal dalam keterangnya di Pekanbaru, Senin (15/01/2024)

    Ia mengatakan warga Riau yang masih mengungsi tersebut yakni di Kota Dumai sebanyak 88 jiwa, Kabupaten Indragiri Hulu 424 jiwa.

    Selain itu, Kabupaten Rokan Hiir 572 jiwa, Kabupaten Pelalawan 870 jiwa, Kabupaten Siak 40 jiwa dan Kabupaten Bengkalis 72 jiwa.

    Baca: Jakarta waspada banjir

    Sedangkan untuk rumah yang terdampak banjir katanya tercatat 32.303 unit, fasilitas kesehatan enam unit, fasilitas pendidikan 49 unit serta fasilitas umum 79 unit.

    Gubernur Riau, Edy Natar Nasution yang melakukan peninjauan bencana banjir di Jl Lintas Timur Kilometer 75 Kabupaten Pelalawan mengatakan banjir yang terjadi bukan siklus 5 tahun namun 20 tahun dan kondisi saat ini termasuk agak ekstrem.

    “Kita prihatin dan ada beberapa daerah kabupaten yang meningkatkan status menjadi tanggap darurat,” kata Edy.

    Selain itu Pemerintah Provinsi Riau menetapkan status siaga darurat banjir mulai 22 Desember 2023 sampai 31 Januari 2024 atau selama 40 hari dengan tetap memantau situasi dan kondisi terkini.
    Baca: Hujan deras rendam 46 RT di Jakarta

    Sementara itu berdasarkan informasi dari BMKG Stasiun Pekanbaru menyebutkan banjir di Riau akan terjadi sampai akhir Januari 2024.

    Karena itu, Gubernur Riau mengajak seluruh instansi terkait dan masyarakat untuk bergerak bersama sama.

    “Sebab situasi ini tidak bisa diduga, bahkan pada beberapa daerah juga terjadi banjir dan Pemerintah Provinsi Riau telah memberikan bantuan untuk meringankan beban masyarakat yang terdampak,” katanya.

    Sumber: Antara

  • Masih Hujan, Pemprov Riau Justru Tetapkan Status Siaga Darurat Kebakaran Hutan

    Masih Hujan, Pemprov Riau Justru Tetapkan Status Siaga Darurat Kebakaran Hutan

    7cloud.asia – Pemerintah Provinsi Riau menetapkan status siaga darurat kebakaran hutan, meski hujan hingga menyebabkan banjir melanda sebagian wilayah ini.

    Status siaga darurat kebakaran hutan yang berlaku hingga akhir November ini dituangkan dalam Surat Keputusan (SK) nomor: Kpts.293/III/2024 dan ditandatangani oleh Penjabat (Pj) Gubernur Riau SF Hariyanto,

    “Riau melakukan penetapan siaga darurat karhutla itu karena ada daerah yakni Kota Dumai dan Kabupaten Bengkalis yang telah menetapkan status siaga darurat yang sama,” jelas Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau, M Edy Afrizal seperti yang dilansir Kompas.

    Baca: BMKG ingatkan potensi kebakaran hutan dan lahan

    Menurut Edy, dengan status darurat seperti ini, penanganan kebakaran hutan dan lahan di Riau dapat dilakukan secara maksimal.

    Selain itu pihaknya juga dapat membantu meminimalkan cedera pada manusia, kerusakan lingkungan, kerugian aset/peralatan, dan dampak reputasi yang dapat terjadi.

    Sementara itu berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir per 12 Maret 2024 menunjukkan ada 116 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia.

    Jumlah titik panas ini bertambah 95 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.

    Baca: Titik panas di Sumatera bertambah

    Dari 116 titik panas terdeteksi, satu titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi (skala 80-100), 113 titik skala sedang (30-79), dan dua titik skala rendah (0-29).

    Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Kalimantan Timur sebanyak 54 titik. Kalimantan Selatan menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 15 titik.

    Kepulauan Riau berada di posisi ketiga sebanyak 11 titik panas. Sebanyak tujuh titik panas terdeteksi di Aceh.

    Kemudian Sulawesi Selatan dengan enam titik panas, serta Sulawesi Tengah dan Jambi masing-masing memiliki enam dan empat titik panas terdeteksi.

    Baca: BPBD Riau minta tambahan helikopter untuk padamkan kebakaran hutan

    Untuk wilayah Riau, menurut Edy situasi tahun ini cukup berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

    Sejumlah daerah seperti Pelalawan, Kampar dan Indragiri Hulu masih terendam banjir, tapi daerah pesisir terbakar.

    “Tahun ini cukup unik, Pelalawan, Indragiri Hulu dan daerah lain masih banjir. Tetapi di daerah pesisir seperti Dumai, Bengkalis ini sudah terbakar. Tentu kita patut bersiap,” jelas Edy.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Sebanyak 40 Titik Panas di Riau, Pemerintah Tetapkan Status Siaga Darurat

    Sebanyak 40 Titik Panas di Riau, Pemerintah Tetapkan Status Siaga Darurat

    7cloud.asia – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali marak terjadi di beberapa wilayah meski masih musim hujan. Propinsi Riau menjadi terbanyak titik panas, yaitu 40 titik. Status siaga darurat kebakaran hutan pun diberlakukan.

    Melansir Antaranews, penetapan status ini dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti, Kota Dumai dan Pemerintah Kabupaten Indragiri Hulu.

    Dengan status ini pemerintah setempat dapat dengan mudah memetakan kondisi dan keadaan terdapat potensi bencana guna menangani dampak buruk yang ditimbulkan.

    Selain itu, penetapan kondisi siaga darurat itu dilakukan karena saat ini tim gabungan dari TNI-Polri, BPBD, Manggala Agni dan masyarakat peduli api, masih terus melakukan pemadaman karhutla beberapa titik di Riau.

    Baca: Pemprov Riau tetapkan status darurat kebakaran hutan

    Tetapi ada juga beberapa daerah yang terjadi karhutla tersebut yang sudah dalam tahap pendinginan.

    “Saat ini tim gabungan masih memadamkan karhuta seperti di Pelalawan yakni di kawasan Teluk Meranti, berikut di Kota Dumai, namun sudah dalam tahap proses pendinginan,” jelas Kepala Pelaksana Badan Penanggulanan Bencana Daerah (BPBD) Riau, M Edy Afrizal.

    “Pendinginan juga dilakukan di Kabupaten Indragiri Hulu sedangkan di Kabupaten Kepulauan Meranti juga sudah muncul Karhutla,” sambungnya.

    Selanjutnya Edy mengungkapkan beberapa waktu lalu karhutla di Dumai dan Meranti memang sempat padam.

    Namun beberapa hari terakhir muncul kembali titik karhutla yang baru, seperti di Kota Dumai karhutla baru terjadi di Bukit Kapur.

    Baca: Pengolahan lahan gambut sering memicu kebakaran lahan

    Beruntung karhutla tersebut dapat segera ditangani dan kini masuk tahap pendinginan.

    Daerah yang sudah menetapkan status siaga ada tiga yakni Siak, Bengkalis dan Dumai dan untuk daerah lain belum ada.

    Propinsi Riau memang menjadi wilayah dengan titik panas terbanyak. Hingga Kamis (21/03/2024) tolal titik panas di wilayah Sumatera ada 139 titik.

    Jumlah ini  tersebar di Bengkulu 31 titik, Jambi 6, Sumatera Barat 32, Sumatera Selatan 1, Sumatera Utara 1, Kepulauan Riau 27, Bangka Belitung 1.

    Untuk Propinsi Riau mencapai 40 titik tersebar di wilayah Dumai 4, Pelalawan 20, Rokan Hilir 1, Siak 5, Indragiri Hulu 6, Kepulauan Meranti 3, Kuantan Singingi 1 titik. 

    Sementara itu, forecaster Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Pekanbaru, Gita Dewi S memprediksi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang melanda sebagian wilayah Riau.

    Baca: Titik panas di Sumatera bertambah

    Yaitu sebagian wilayah Indragiri Hilir, Rokan Hulu, Indragiri Hulu pada Kamis (21/03/2024) pagi hingga malam hari.

    Pada malam hari katanya menyebutkan hujan juga diprakirakan akan mengguyur Rokan Hilir.

    Suhu udara hari ini berkisar antara 23.0 hingga 32.0 °C dengan kelembapan udara mencapai 55 hingga 99 persen.

    Angin bertiup dari arah barat laut menuju timur dengan kecepatan antara 10 hingga 30 km/jam. Prakiraan tinggi gelombang di perairan Provinsi Riau berkisar antara 0.50

    – 1.25 meter (rendah).

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Mengenal Lebih Dekat Orang Laut dari Kampung Air Mas, Kepulauan Riau

    Mengenal Lebih Dekat Orang Laut dari Kampung Air Mas, Kepulauan Riau

    7cloud.asia – Beberapa waktu lalu Muncul berita tentang perempuan Orang Laut dari Kampung Air Mas, Batam, Kepulauan Riau, yang memulung sampah.

    Berita ini bak puncak gunung es yang tersingkap setelah puluhan tahun tertutup kabut. Bagaimana tidak, selama ini Orang Laut sangat jarang menjadi sorotan. Kehidupan mereka tak sepopuler masyarakat Badui di Banten ataupun orang Bajau di perairan timur Indonesia.

    Orang Laut merupakan salah satu penghuni asli kawasan perairan Riau. Sejak dulu, mereka sehari-hari tinggal di sampan dan hanya sesekali singgah ke daratan.

    Kepiawaian Orang Laut di bidang maritim tak bisa dianggap enteng. Di masa lampau, mereka menjadi aktor penting dalam kegemilangan Kerajaan Sriwijaya, Kesultanan Malaka, Kesultanan Johor, hingga Kesultanan Riau Lingga.

    Banyak sumber sejarah menunjukkan peran penting Orang Laut sebagai penguasa maritim (lautan) dalam mempertahankan hegemoni sebuah kesultanan.

    Termasuk diantaranya Sultan Johor Riau Lingga Pahang, Mahmud Riayat Syah, yang kekuasaannya ditopang Orang Laut dalam menghadapi perang melawan Belanda.

    Kini, mereka terkucilkan dalam sederet proyek pembangunan di Kepulauan Riau. Nasib Orang Laut, terutama yang bermukim di sekitar Pulau Rempang, semakin terombang-ambing karena megaproyek infrastruktur energi terbarukan dan kawasan hijau seluas 17 ribu hektare.

    Diabaikannya nasib Orang Laut dalam berbagai pembangunan tidak terjadi dalam semalam. Ini adalah hasil tumpukan pengabaian selama puluhan tahun akibat pembangunan yang tidak berorientasi pada kehidupan laut. Perlahan dan pasti, Orang Laut menjadi korban kekerasan infrastruktur di perairannya sendiri.

    Baca: Fenomena #KaburAjaDulu cermin kegelisahan atas ketidakpastian hukum

    Sejarah Orang Laut
    Banyak penamaan untuk masyarakat adat ini, tapi yang paling familier adalah Orang Laut. Ada juga yang menyebut Orang Mantang, Orang Sampan, Orang Barok, Orang Selat. Orang asing menyebut mereka sebagai sea nomads atau gipsi laut.

    Secara fisik, Orang Laut umumnya memiliki raut wajah yang agak keras dan warna kulit agak gelap.

    Nenek moyang Orang Laut diperkirakan adalah bangsa Proto-Melayu (Melayu tua) yang bermigrasi dari Vietnam dan Kamboja sebelum abad ke-10 Masehi.

    Ada juga yang memperkirakan Orang Laut telah ada sebelum masa Kerajaan Sriwijaya di abad ke-7 Masehi. Orang Laut yang tergolong ras Austronesia ini berasal dari daerah Sambas di Kalimantan yang kemudian berdiaspora ke wilayah pantai timur Sumatera. Mereka mendiami daerah rawa-rawa di pesisir pantai.

    Selain bentuk fisik, bahasa sehari-hari yang digunakan oleh Orang Laut—berbeda dengan bahasa Melayu—semakin menguatkan asumsi bahwa etnis ini berbeda dengan etnis Melayu masa kini.

    Jumlah Orang Laut di Kepulauan Riau lumayan besar. Yayasan Kajang—lembaga yang berfokus pada perlindungan dan pemberdayaan Orang Laut—menaksir jumlah Orang Laut mencapai [12.800 jiwa] di lima kabupaten/kota di Kepulauan Riau.

    Data riilnya bisa jadi jauh lebih besar karena selama ini dinas sosial setempat, Badan Pusat Statistik (BPS), dan instansi lainnya tidak memiliki data yang akurat tentang Orang Laut.

    Pembangunan yang masif membuat sejumlah Orang Laut memiliki pola hidup menetap dan semi menetap (meninggalkan rumah sementara untuk melaut).

    Baca: Mengenal uniknya tradisi Seba masyarakat Badui

    Beberapa di antara mereka masih bertempat tinggal di sampan kajang (perahu beratap daun nipah) yang berlayar dalam kelompok kecil.

    Hal menarik lainnya adalah adanya perubahan sosial budaya dari transisi perpindahan Orang Laut, yang semula memiliki pola hidup nomaden menjadi masyarakat lokal pesisir yang hidup menetap.

    Walau begitu, perubahan ini bersifat negatif akibat kekerasan infrastruktur yang mereka alami sejak puluhan tahun silam sampai sekarang.

    Akar kekerasan terhadap Orang Laut
    Dalam kasus Orang Laut, kekerasan infrastruktur terjadi akibat kebijakan pemerintah ‘mendaratkan’ Orang Laut yang awalnya hidup nomaden di Perairan Batam.

    Kekerasan infrastruktur kerap tak disadari karena adanya kekeliruan pemahaman pemerintah mengenai kebudayaan masyarakat berbasis laut yang amat bias dengan perspektif masyarakat berbasis darat.

    Kebijakan yang dilahirkan sebagai “pemaksaan” untuk menangani masalah-masalah masyarakat kelautan pun pada akhirnya meleset dan justru melahirkan kekerasan.

    Kekerasan ini berhulu dari pembangunan besar-besaran Kota Batam sebagai pusat investasi sejak 1970-an. Saat itu, Batam sebagai wilayah strategis daerah perbatasan negara tumbuh menjadi daerah Industri, perdagangan, galangan kapal, dan pariwisata yang mempunyai otoritas pengembangan wilayah.

    Agar Kota Batam lebih ‘berstandar internasional’, Pemerintah secara khusus mencanangkan program Pembinaan Kesejahteraan Masyarakat Terasing (PKMT) di Batam dan sekitarnya tahun 1980-an.

    Baca: Tradisi mudik Lebaran tak sekadar sungkeman

    Melalui PKMT dan dalih pembangunan nasional, pemerintah berupaya mengubah pola hidup Orang Laut dengan mendaratkan mereka di sejumlah pulau yang telah disiapkan infrastrukturnya termasuk menyediakan perumahan.

    Di Kota Batam, Orang Laut mendiami Pulau Caros (Kelurahan Karas), Tanjung Undap (Kelurahan Tembesi), Pulau Nipah (Kelurahan Galang Baru), Pulau Nanga (Galang Baru), Pulau Bertam (Bulang). Orang Laut juga ada di Pulau Lingka (Bulang), Pulau Gara (Bulang) dan Pulau Air Mas (Ngenang).

    Inilah kesalahan pertamanya. Sedari awal, negara membalikkan konstruksi moral dan kultural Orang Laut dengan melabeli mereka sebagai “masyarakat terasing”, kaum miskin, terbelakang, dan seterusnya.

    Padahal, fakta historis dan etnografis menunjukkan sebaliknya. Mereka memiliki sistem sosial yang kuat dalam mendukung keberlangsungan hidup mereka sebagai suku bangsa pengembara laut.

    Akhirnya, kehidupan Orang Laut mulai berubah seiring pembangunan. Mereka tak lagi hidup mengembara dengan sampan di lautan bebas. Tidak pula mereka bebas melakukan aktivitas ekonomi secara subsisten atau untuk kebutuhan sehari-hari.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Dedi Arman (Peneliti, Badan Riset dan Inovasi Nasional/BRIN)

  • Wilayah Riau Paling Sering Dilanda Kebakaran, BMKG Ungkap Penyebabnya

    Wilayah Riau Paling Sering Dilanda Kebakaran, BMKG Ungkap Penyebabnya

    7cloud.asia – Titik api atau hotspot mulai ditemukan di beberapa wilayah. Salah satunya Riau yang tercatat ada 144 titik hotspot dan 81 hektar lahan terbakar hingga akhir April 2025. Riau memang wilayah yang sering dilanda kebakaran, karena berbagai faktor.

    Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menjelaskan wilayah Riau berpotensi terjadi kebakaran lahan meski tanpa ada pembakaran karena faktor angin dan gesekan ranting.

    Dalam rilis BMKG, Dwikorita menerangkan adanya musim kemarau yang terjadi dua kali di Riau menyebabkan wilayah ini menjadi sering terjadi hotspot.

    Baca: BRIN sebut pengolahan lahan gambut pemicu kebakaran lahan

    Khusus Wilayah Riau, secara alamiah berpotensi mengalami dua kali musim kemarau, yakni pada Februari–Maret dan kembali pada Mei hingga Agustus, yang diprediksi menjadi puncak kemarau. Kondisi ini menyebabkan provinsi ini lebih sering mengalami hotspot dibanding wilayah lain.

    “Bahkan meski tanpa pembakaran, potensi kebakaran tetap ada karena faktor angin dan gesekan ranting. Maka prediksi berbasis data sangat penting untuk mitigasi,” jelas mantan rektor UGM ini.

    BMKG memperkirakan periode April-Mei 2025, risiko karhutla umumnya rendah. Namun beberapa area di Riau, Sumatera Utara, dan Nusa Tenggara Timur mulai menunjukkan risiko menengah hingga tinggi.

    Bulan Juni 2025, peningkatan signifikan risiko karhutla terjadi di wilayah Riau (41,5% wilayah berisiko tinggi), Sumatera Utara, Jambi, dan sekitarnya.

    Baca: Curah hujan berkurang, titik panas mulai muncul di Riau

    Sifat kemarau diprediksi didominasi kondisi normal (sekitar 60%), namun 26% wilayah berpotensi mengalami kemarau atas normal (lebih basah) dan 14% bawah normal (lebih kering).

    Lebih jauh Dwikorita memaparkan, periode April-Mei 2025 risiko karhutla umumnya rendah. Sedangkan, Bulan Juli-September 2025, risiko karhutla meluas ke Kalimantan, Nusa Tenggara, dan Papua.

    Wilayah Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Papua Selatan, Kalimantan Selatan, serta Bangka Belitung menjadi wilayah dengan potensi risiko karhutla tertinggi.

    Baca: Musim Kemarau 2025 lebih singkat, ini penyebabnya

    Kemudian pada Oktober 2025, risiko karhutla diprediksi tetap tinggi di wilayah Nusa Tenggara Timur, Papua Selatan, Sulawesi Tenggara, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah.

    Karena itu, BMKG bersama BNPB dan pemerintah daerah melakukan berbagai langkah antisipasi. Diantaranya mendorong upaya pembasahan lahan, upaya mempertahankan tinggi muka air di lahan.

    Selain itu, upaya lainnya adalah pengisian embung-embung serta kanal dengan memanfaatkan hujan yang masih ada saat periode transisi menjelang musim kemarau.

    Baca: Musim kemarau 2025 diperkirakan bulan Mei, waspada dampaknya

    Upaya penguatan lainnya juga dilakukan dalam bentuk penyiagaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), patroli udara, serta pengawasan lapangan secara berkala, khususnya di wilayah Riau yang saat ini telah berstatus siaga darurat karhutla.

    “BMKG berkomitmen untuk terus memantau perkembangan iklim dan potensi karhutla serta menyampaikan informasi terkini kepada masyarakat dan pihak terkait demi mencegah dampak buruk yang mungkin terjadi. Dengan data yang akurat dan tindakan yang cepat, kita bisa mencegah bencana besar,” urainya.

  • BMKG Pantau Ratusan Titik Panas di Riau

    BMKG Pantau Ratusan Titik Panas di Riau

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru mendeteksi 294 titik panas di sejumlah daerah Provinsi Riau,

    Adapun titik panas terbanyak terpantau berada di Kabupaten Rokan Hilir, yakni sebanyak 175 titik.

    Prakirawan BMKG Stasiun Pekanbaru Santy S, menyampaikan titik panas tersebut berdasar data yang diperbarui pada Sabtu pukul 16.00 WIB. Titik panas tersebut tersebar di sembilan kabupaten/kota yang ada di Provinsi Riau.

    “Titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi ada 14, sedang 20, dan rendah 240,” katanya di Pekanbaru, Sabtu (19/7/2025)

    Baca: Perubahan iklim mempengaruhi kebakaran hutan

    Selain Kabupaten Rokan Hilir, titik panas terbanyak lainnya ada di Rokan Hulu (69), Pelalawan (13), Siak (12), Kampar (11), Kota Dumai (8), Bengkalis (4), dan masing-masing satu di Kepulauan Meranti dan Kuantan Singingi.

    Sementara itu, untuk Pulau Sumatera secara keseluruhan ada 440 titik panas. Selain Riau, titik panas juga terpantau di Sumatra Utara (98), Sumatera Barat (28), Sumatera Selatan (10), Jambi (6), Kepulauan Riau (3), dan Aceh (1).

    Saat ini, wilayah Riau mulai memasuki puncak musim kemarau dan peluang hujan semakin kecil dalam beberapa hari ke depan.

    Baca: Penggunaan teknologi untuk mencegah kebakaran hutan

    BMKG mengimbau masyarakat, khususnya yang bermukim di sekitar lahan gambut atau aktivitas pertanian, untuk tidak melakukan pembakaran terbuka dan meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan munculnya asap akibat kebakaran hutan dan lahan.

    Meski belum ada peringatan dini yang dikeluarkan, masyarakat tetap diimbau untuk mewaspadai potensi karhutla, terutama di wilayah-wilayah dengan titik panas terbanyak.

    BMKG Pekanbaru, lanjutnya, akan terus memantau dan memperbarui informasi terkait cuaca dan titik panas secara berkala.

    Baca: Studi global ungkap kenaikan suhu Bumi lampaui ambang batas 1,5°C

  • WALHI Riau Ungkap Sejumlah Kebakaran Hutan Berulang di Tanah Konsesi

    WALHI Riau Ungkap Sejumlah Kebakaran Hutan Berulang di Tanah Konsesi

    7cloud.asia – Wahana Lingkungan Hidup atau WALHI Riau mencatat, sejak Januari sampai Juli 2025 kebakaran hutan telah menghanguskan sekitar 1.000 hektare hutan dan lahan di Riau.

    Hal ini yang kemudian menyebabkan status bencana Riau meningkat dari tahun sebelumnya menjadi tanggap darurat kebakaran hutan dan lahan.

    Berdasarkan hasil analisis spasial WALHI Riau melalui satelit Aqua dan Terra dengan confidence level di atas 70 persen menunjukkan sepanjang periode 1 Mei sampai 24 Juli 2025 terdapat 310 titik panas yang tersebar di 9 kabupaten/kota Provinsi Riau.

    Dilansir di laman resmi WALHI, Kabupaten Rokan Hulu dan Rokan Hilir menempati urutan teratas dalam jumlah kasus kebakaran hutan di Riau.

    Hasil analisis ini juga memperlihatkan titik api berada dalam areal kerja 8 (delapan) perusahaan perkebunan kayu dan kelapa sawit.

    Baca: Riau tetapkan status tanggap darurat kebakaran hutan dan lahan

    Perusahaan itu adalah PT Perawang Sukses Perkasa, PT Citra Buana Inti Fajar, PT Riau Andalan Pulp & Paper, PT Selaras Abadi Utama, PT Diamond Raya Timber, CV Bhakti Praja Mulia.

    Juga PT Ruas Utama Jaya, dan PT Jatim Jaya Perkasa. Lebih parahnya, perusahaan yang telah dijatuhi hukuman pidana, PT Jatim Jaya Perkasa (JJP) kembali terbakar di tahun ini.

    Setidaknya dari titik api yang ditemukan di konsesi perusahaan di atas, PT RAPP (APRIL&Partner), PT SRL (APRIL&Partner), dan PT DRT (Barito Grup) adalah perusahaan yang juga terbakar pada tahun-tahun sebelumnya.

    Bahkan PT Jatim Jaya Perkasa (Wilmar Grup) telah diputus bersalah melakukan perbuatan melawan hukum terkait kerusakan atau pencemaran lingkungan hidup dan kebakaran hutan dan lahan berdasar putusan Mahkamah Agung kembali ditemukan titik api dalam areal kerjanya.

    Selain itu, hasil analisis media WALHI Riau juga menemukan Perusahaan Milik Asing (PMA) asal Malaysia, PT Adei Plantation Industry (KLK Grup) kembali terbakar.

    Baca: Titik panas mulai bermunculan di Riau

    Perusahaan ini telah dua kali dijatuhi hukuman pidana atas kasus yang sama, yaitu pada tahun 2016 dan 2020.

    Direktur Eksekutif WALHI Riau, Boy Jerry Even Sembering mendesak penegak hukum menetapkan perusahaan yang areal kerjanya terbakar sebagai tersangka karhutla.

    Boy menegaskan, penegakan hukum ini juga harus paralel dengan evaluasi perizinan pembukaan lahan.

    ”Bahkan perusahaan yang berulang kali menjadi pelaku kebakaran hutan dan lahan serta memiliki catatan pelanggaran lingkungan hidup lainnya sudah layak dicabut perizinannya,” ujar Boy.

    Baca: WALHI sebut impunitas membuat kebakaran hutan terus berulang