Tag: rumah

  • Alternatif Pembiayaan Rumah untuk Masyarakat Berpendapatan Rendah

    Alternatif Pembiayaan Rumah untuk Masyarakat Berpendapatan Rendah

    7cloud.asia – Sejak 2015, Presiden Joko Widodo telah melaksanakan Program Sejuta Rumah guna mengatasi backlog perumahan terutama untuk masyarakat berpendapatan rendah.

    Adapun, realisasi program itu sejak 2015 hingga 2022 mencapai 7,99 juta unit rumah, atau rata-rata hampir mendekati 1 juta unit rumah per tahun. Meskipun realisasi program sejuta rumah (PSR) dapat dicapai, namun angka backlog masih tinggi.

    Menurut angka Susenas 2021, angka backlog mencapai 12,71 juta rumah, yang menandakan bahwa Program Sejuta Rumah belum cukup untuk mempercepat pengurangan angka backlog.

    Ketua Bidang Ekonomi The Indonesia Economic Intelligence, Sunarsip mengatakan maslah backlog perumahan terutama dihadapi oleh kelompok Masyarakat berpendapatan rendah (MBR) informal.

    Kelompok MBR informal (pekerja maupun pengusaha informal) pada umumnya memiliki penghasilan yang tidak tetap dan tidak terpola. 

    Baca: Prinsip ramah lingkungan di kantor

    Mengutip data Kementerian PUPR, IEI memperkirakan angka backlog dapat selesai pada tahun 2045 bila Indonesia mampu merealisasikan pembangunan rumah sebesar 1,5 juta per tahun.

    “Ini artinya target pembangunan perumahan harus dinaikan setidaknya 1,5 kali dari saat ini,” ujar Sunarsip dalam diskusi bertajuk Prospek dan Tantangan Pembiayaan Perumahan Rakyat, Khususnya bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) pada Selasa (11/7/2023) yang diikuti secara daring.

    Untuk mencapai target program perumahan tersebut dibutuhkan keterlibatan pendanaan baik dari pemerintah pusat (termasuk kelembagaan yang dibentuk pemerintah seperti Bank Tanah, BP3, BP Tapera), pemerintah daerah.

    Ia menambahkan, Bank Indonesia, OJK, industri perbankan dan lembaga keuangan, pengembang, dan masyarakat juga punya peran untuk mengurangi backlog tersebut.

    Baca: DPR turun tangan dalam sengkarut Graha Cempaka Mas

    Dalam rangka mempercepat pembangunan perumahan rakyat, khususnya bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), pemerintah mengeluarkan serangkaian kebijakan terobosan di bidang pembiayaan perumahan.

    Pertama, melalui Skema Sewa Beli (Rent-To-Own). Melalui skema ini, proses pengajuan pembelian rumah dilakukan dengan cara kesepakatan untuk menyewa sebuah properti dengan komitmen pasti untuk membelinya sampai jangka waktu yang ditentukan.

    Kedua, Skema Kepemilikan Bertahap (Staircasing Ownership), yaitu KPR Subsidi dengan skema kepemilikan secara bertahap. Pada tahap pertama dalam bentuk Sewa dan KPR, sedangkan pada tahap kedua murni KPR.

    Kedua inovasi pembiayaan ini terutama diperuntukan pada MBR, terutama yang berada di kota-kota yang memang rasio backlog-nya tinggi dibanding MBR di pedesaan.

    Baca: Kurir sepeda, cara Lazada untuk wujudkan bisnis yang lebih ramah lingkungan

    Sunarsip menilai positif terkait dengan inovasi kebijakan pembiayaan perumahan yang dikeluarkan oleh Pemerintah, dalam hal ini Kementerian PUPR tersebut.

    Dalam rangka memperkuat efektivitas kebijakan tersebut, Sunarsip mengusulkan adanya perubahan dalam sistem penilaian (assessment dan scoring) terkait dengan pengukuran kapasitas MBR calon penerima program.

    “Ini mengingat, metode credit scoring yang tersedia saat ini belum mengakomodir karakteristik kelompok MBR informal yang “unbankable”,” ujarnya.

    Ditambahkan, soal backlog perumahan terutama dihadapi oleh kelompok MBR informal. Kelompok MBR informal (pekerja maupun pengusaha informal) pada umumnya memiliki penghasilan yang tidak tetap dan tidak terpola.

    Baca: Daur ulang minyak jelantah jadi bisnis yang menjanjikan

    Kondisi inilah yang pada akhirnya menempatkan kelompok masyarakat berpendapatan rendah informal ini sebagai unbankable. Padahal, bila dilakukan profilling secara lebih spesifik, cukup banyak dari kelompok masyarakat berpendapatan rendah informal ini yang memiliki kapasitas membayar relatif tinggi.

    Karenanya, perlu dilakukan penyempurnaan metode credit scoring yang memungkinkan kelompok MBR informal ini dapat mengakses pembiayaan perumahan dari perbankan.

    Untuk atasi hal ini Sunarsip mengusulkan agar dimungkinkannya perbankan menggunakan aspek pengeluaran (expenditure) untuk mengukur kemampuan kredit pada kelompok masyarakat berpendapatan rendah informal.

    Baca: Ekonomi sirkular di Jawa Tengah

    Pengukuran berbasis data pengeluaran ini antara lain dapat dilakukan pemanfaatan data belanja calon debitur yang dapat ditangkap (captured) dari big data berdasarkan transaksi belanja yang pembayarannya dilakukan secara digital.

    “Dengan demikian, ini berarti calon debitur terlebih dahulu telah terkoneksi dengan perbankan melalui rekening tabungan,” paparnya.

    Namun, penerapan metode pengukuran berbasis pengeluaran ini memiliki sejumlah konsekuensi.

    Baca: Duh, 80 persen dana stunting habis untuk rapat 

    Pertama, OJK perlu mengatur mekanisme penggunaan metode internal credit scoring yang memanfaatkan big data tersebut sebagai metode baku dan diizinkan oleh OJK untuk diterapkan perbankan.

    Kedua, BI bersama perbankan perlu mendorong penetrasi implementasi QRIS khususnya kepada para pelaku ekonomi kecil, misalnya pada merchant atau pedagang pasar. Tujuannya, untuk memudahkan masyarakat (termasuk MBR informal) dalam melakukan transaksi pembayaran secara digital. Semakin masif penetrasi implementasi QRIS akan semakin banyak pula data digital dari calon debitur KPR yang dapat di-captured oleh perbankan untuk dianalisis.

    Ketiga, yang terpenting, penetrasi yang aktif dari para pemangku kepentingan dalam ekosistem perumahan, untuk mendorong kelompok MBR memiliki tabungan, baik melalui bank yang secara khusus menjadi penyalur KPR bersubsidi maupun lembaga pengelola tabungan perumahan lainnya seperti Tapera.

    Kementerian PUPR telah memiliki program bantuan pembiayaan perumahan berbasis tabungan (BP2BT) bagi kelompok MBR informal. Keberadaan ini program ini dapat menjadi pintu masuk bagi implementasi digitalisasi calon debitur KPR bersubsidi dari kelompok MBR informal tersebut.

     

     

  • Harga Rumah Terus Naik dan Generasi Milenial Sulit Miliki Hunian, Ini yang Dilakukan Pemerintah

    Harga Rumah Terus Naik dan Generasi Milenial Sulit Miliki Hunian, Ini yang Dilakukan Pemerintah

    7cloud.asia – Tingginya harga rumah, mahalnya bunga KPR, dan sulitnya mencari pekerjaan dengan penghasilan yang layak membuat generasi milenial kesulitan memiliki hunian. 

    Kalaupun bisa memiliki hunian sendiri, biasanya rumah yang bisa dibeli generasi milenial berada jauh dari pusat kota.

    Data Kementerian PUPR menyebut, 81 juta orang generasi milenial belum mendapatkan fasilitas rumah atau hunian. Hal ini harus dipikirkan bersama. 

    Bagi generasi milenial, harga beli rumah yang terus naik menjadi kendala utama untuk memiliki hunian sendiri.

    Data Kemenkeu mencatat, indeks Harga Properti Residensial (IPHR) naik sebesar 1.87% pada kuartal pertama 2022. Kenaikan harga terjadi pada semua tipe rumah.

    Baca: Alternatif pembiayaan perumahan untuk masyarakat berpendapatan rendah

    Kenaikan harga rumah terjadi karena adanya penyesuaian harga yang dilakukan developer sejak awal 2022 ketika insentif pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah mulai diberlakukan.

    Ketua Bidang Ekonomi The Indonesia Economic Intelligence, Sunarsip dalam diskusi bertajuk Prospek dan Tantangan Pembiayaan Perumahan Rakyat, Khususnya bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) pada Selasa (11/7/2023) menguatkan fakta ini.

    Ia mengatakan, dalam setahun terakhir, kenaikan IHPR relatif merata yaitu terjadi pada seluruh jenis tipe rumah, dengan kenaikan IHPR tertinggi terjadi pada rumah tipe menengah.

    Tingginya kenaikan IHPR tipe menengah ini mengindikasikan bahwa rumah tipe menengah saat ini relatif lebih diminati, dibandingkan dengan rumah tipe Kecil dan Besar.

    Baca: Rumah mungil sedang ngetrend, ini alasannya

    Sunarsip juga mencatat pertumbuhan kredit pemilikan rumah (KPR) terjadi pada seluruh tipe rumah, baik KPR Tapak maupun KPR Susun.

    “Untuk kelompok milenial sendiri, dari pemantauan IEI, makin melirik rumah susun tipe kecil. Kami perkirakan mobilitas menjadi alasan mereka,” ujar Sunarip 

    Pemerintah sendiri terus berupaya untuk memenuhi kebutuhan hunian atau rumah bagi generasi milenial ini. 

    Saat meresmikan Hunian Milenial Semesta Mahata Margonda, Depok pada April lalu, Presiden Jokowi memerintahkan agar lahan milik PT KAI dikembangkan menjadi hunian vertikal yang dibangun dengan konsep Transit Oriented Development atau TOD.

    Baca: Salah kaprah pembangunan hunian berkonsep TOD di Indonesia

    Jokowi menginginkan agar konsep TOD hunian milenial dapat dikembangkan di semua kota. Utamanya lahan-lahan PT KAI yang tidak termanfaatkan dengan baik dapat dikerjasamakan dengan BUMN seperti PT PP, Perumnas dan Kementerian PUPR untuk hunian milenial.

    “Harus kita bangun sebanyak-banyaknya hunian seperti ini,” kata Jokowi seperti dikutip di laman resmi Setkab.

    Hunian Milenial Semesta Mahata Margonda, Depok ini untuk unit subsidi dijual sekitar Rp 200 juta, sedangkan unit tanpa subsidi antara Rp 300 juta hingga Rp 500 juta.

    “Cicilannya juga murah. Sehingga sangat pas sekali kalau untuk hunian anak-anak muda kita,” ujar Jokowi kala itu.

    Baca: Slow city, konsep tata kelola kota yang lebih ramah lingkungan

    Dalam kesempatan itu, , Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan pihaknya sudah menyelesaikan hunian milenial di 7 lokasi dengan pendanaan total senilai Rp5 triliun.

    “Total unit yang dibangun mencapai 8.348 dan tingkat kelakuan-nya di atas 65%, dan 41% adalah milenial yang beli tempat ini,” ujar Erick dalam kesempatan yang sama.

    Hunian vertikal yang ditujukan untuk generasi milenial ini sudah ada di Depok, Jakarta, Tangerang, Bogor dan Karawang. Sementara rumah susun dengan konsep TOD di Klender dijadwalkan selsai usai Lebaran.

    Namun hunian vertikal bukan satu-satunya solusi untuk memenuhi kebutuhan hunian bagi generasi milenial khususnya yang tinggal di perkotaan.

    Baca: Generasi alfa, generasi yang akan membentuk dunia kerja di masa depan

    Ada sejumlah opsi yang bisa dijajaki, Koalisi Berhuni Untuk Semua misalnya menginisiasi program coresidence, di mana milenial tak harus tinggal terlalu jauh dari pusat kota.

     

     

  • Harga Rumah di Kota Besar Makin Mahal, Haruskah Kita Punya Hunian Sendiri?

    Harga Rumah di Kota Besar Makin Mahal, Haruskah Kita Punya Hunian Sendiri?

    7cloud.asia – Asteria, 35 tahun, yang hidup bersama orang tuanya di bilangan Jakarta Selatan, berharap bisa memiliki hunian atau rumah sendiri.

    “Buat gw, punya rumah sendiri itu bentuk pembuktian diri,” ujar Asteria yang lahir dan besar di Jakarta.

    Namun, posisinya sebagai sandwich generation dan orang tua tunggal yang harus patungan membiayai pengeluaran di rumah orang tua dan menyekolahkan anak menyulitkannya untuk bisa menyisihkan tabungan demi bisa membayarkan uang muka.

    Apalagi, keluarganya menilai bahwa dengan statusnya sebagai orang tua tunggal, akan lebih baik tinggal bersama di rumah orang tua untuk menghindari kasak-kusuk tetangga.

    Selain itu ada isu utama di luar itu, yakni mahalnya harga rumah di Jakarta. Isu soal mahalnya harga rumah atau properti di Jakarta memang bolak-balik ramai diperbincangkan warganet.

    Baca: Gerakan rumah mungil sedang ngetrend, ini manfaatnya untuk lingkungan

    Di kota-kota besar seperti Jakarta dan wilayah satelitnya, harga rumah tapak dibanderol ratusan juta bahkan miliaran–-kadang dengan ukuran terbilang kecil dan lokasi yang jauh dari daerah perkantoran.

    Belum lagi, bagi mereka yang menggunakan kredit pemilikan rumah (KPR), seringkali butuh puluhan tahun untuk mengangsur cicilan dan bunganya.

    Saat ini, terdapat 12,71 juta backlog perumahan di Indonesia. Sementara, harga properti terus mengalami kenaikan tiap tahunnya–pada 2022 kenaikannya tercatat sebesar hampir 4% dari tahun sebelumnya.

    Di tengah kondisi seperti ini, haruskah kita memaksakan diri membeli rumah?

    The Conversation Indonesia berbicara dengan dua orang pakar mengenai perkara ini. Keduanya menjawab bahwa keputusan untuk memiliki rumah adalah pilihan masing-masing individu, meski mempunyai hunian sendiri tetaplah pilihan terbaik.

    Baca: Milenial makin sulit miliki hunian sendiri

    Adinda Tenriangke Mungkar, Direktur Utama The Indonesian Institute, berkata pada akhirnya keputusan pembelian rumah kembali ke intensi masing-masing.

    Apalagi, ada yang berpendapat bahwa membeli rumah adalah indikator keberhasilan dan lebih bijak daripada menghabiskan uang untuk barang-barang konsumsi. Tentunya, tak semua individu sepakat dengan persepsi ini.

    “Menurut saya, buat beberapa orang bisa jadi itu adalah keharusan, tapi bisa jadi bukan keharusan juga buat yang lain karena kondisinya,” ujar Adinda.

    Kondisi Asteria di atas misalnya, bisa jadi ilustrasi bagaimana memiliki hunian sendiri tak harus jadi prioritas utama.

    Bagi Adinda, membeli atau tak membeli rumah harus mempertimbangkan cost (beban) dan benefit (keuntungan) masing-masing–termasuk lingkungan, fasilitas umum maupun fasilitas pendidikan yang baik.

    Baca: Alternatif pembiayaan rumah untuk kelompok berpendapatan rendah

    Mereka yang memiliki gaya hidup nomaden, misalnya, bisa jadi akan lebih nyaman mengontrak hunian.

    Namun, menurutnya, memiliki rumah tetaplah menjadi daya tarik tersendiri. Selain memberikan privasi dan keleluasaan untuk mendesain, rumah adalah aset yang harganya tak mengalami penyusutan.

    Membeli rumah mengasah literasi keuangan untuk menabung dan mengalokasikan pengeluaran untuk cicilan, kebutuhan, dan aktivitas bersenang-senang.

    Ia menambahkan bahwa selalu ada konsekuensi dan trade-off dari pembelian rumah yang mesti dipahami pembeli sebelum transaksi–-entah itu beban dan bunga cicilan jangka panjang, jarak, dan kompromi–kompromi lain yang mesti dipertimbangkan sebelum mengambil hunian.

    Senada, Wahyu Fahrul Ridho, dosen manajemen keuangan dari UPN Veteran Jawa Timur, menambahkan bahwa dalam situasi saat harga rumah makin mahal ini, keputusan untuk membeli rumah harus mempertimbangkan banyak faktor yang akan sangat berbeda setiap orang sesuai dengan profil resiko, keuangan dan aspirasi individu.

    Namun, ia menekankan pentingnya rumah sebagai proteksi hari tua.

    Baca: Memulai konsep slow living dari rumah sendiri

    Saat kita pensiun, ujarnya, penghasilan kita akan berkurang atau bahkan hilang sepenuhnya. Sehingga akan ada risiko beban keuangan yang besar jika kita masih harus menyewa tempat tinggal pada saat pensiun.

    “Rumah bisa juga diwariskan untuk mengurangi beban anak kita di masa depan,” terang Wahyu.

    Untuk bisa matang membeli rumah, Wahyu pun mengedepankan pentingnya perencanaan keuangan perlu dilakukan sebagai langkah awal. Hal ini dapat dilakukan dengan cara berinvestasi di aset keuangan (saham, reksadana, obligasi, dan lain-lain).

    Alternatif lain
    Pilihan juga merujuk pada bagaimana luasnya produk yang disediakan pasar. Artinya, mereka yang ingin membeli maupun menyewa sebetulnya punya beragam opsi yang bisa disesuaikan dengan kantong masing-masing.

    Menurut Wahyu, alternatif yang bisa diambil pekerja muda adalah dengan sewa tempat tinggal seperti kos, apartemen dan mengontrak yang lokasinya dekat dengan tempat kerja.

    Selain itu, jika belum menikah juga bisa mempertimbangkan untuk co-living sehingga menghemat biaya.

    Sementara menurut Adinda, dinamika pasar properti sebetulnya cukup sigap menjawab kebutuhan konsumen.

    Baca: BPS mencatat 40 persen warga tinggal di rumah tidak layak

    Ia mencontohkan banyaknya pengembang yang membangun kompleks perumahan di daerah satelit yang dekat dengan akses tol dengan harga yang jauh lebih murah dari di tengah kota.

    Atau, hunian lengkap dengan perabot yang bisa disewa dalam jangka panjang.

    Uang muka yang tinggi kerap jadi penghambat yang menyurutkan niatan membeli rumah. Terkait hal ini, Adinda memaparkan bagaimana banyak opsi uang muka yang sebenarnya ditawarkan pasar.

    “Misalnya model bekerja sama dengan bank atau langsung ke pengembangnya, ada tawaran,” jelasnya.

    Tak hanya itu, di tengah tren bekerja dari rumah (work from home/WFH) dan hybrid (bergantian antara bekerja dari rumah atau kantor), membeli rumah di kota-kota kecil yang harganya lebih ramah di kantong sebetulnya bisa jadi alternatif.

    Isu ini sebetulnya sempat diangkat oleh seorang warganet yang membangun rumah di sebuah kota di Jawa Tengah, meski banyak menuai kritik pedas terkait gentrifikasi.

    Baca: Salah kaprah pembangunan hunian berkonsep TOD di Indonesia

    Ini merujuk pada perpindahan warga dengan kelas pendapatan lebih tinggi ke wilayah yang standar hidupnya lebih rendah dan berpotensi menimbulkan kenaikan harga-harga di atas pemasukan warga lokal.

    Meski enggan mengomentari isu gentrifikasi, Wahyu berpendapat bahwa dari perspektif bisnis dan ekonomi, kepadatan penduduk yang meningkat akan menarik minat pengembang dan investor untuk mengembangkan daerah tersebut dan meningkatkan ekonomi secara lokal. Catatannya, pemerintah harus hadir sebagai regulator agar tak merugikan warga setempat.

    Kota kecil dapat menjadi solusi dengan tren gaya WFH dan hybrid working saat ini.

    “Harga yang lebih terjangkau dibanding kota besar dan kualitas hidup yang lebih baik dari tingkat kualitas polusi dan kepadatan penduduk bisa menjadi keuntungan tersendiri,” ujarnya.

    Adinda pun sepakat dengan pendapat ini. Asal, perpindahan yang dilakukan tidak melanggar hukum dan menghormati warga lokal.

    “Kita bagaimanapun kan makhluk sosial. Kalau ada pendatang dari luar, ya ada permisi-permisinya,” ujar Adinda.

    Baca: Slow city, konsep baru tata kelola kota yang lebih ramah lingkungan

    Harga tinggi, perlukah pemerintah turun tangan?
    Pemerintah sebenarnya bukannya tak turun tangan. Kementerian Pembangunan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), misalnya mengalokasikan Rp 34 triliun untuk penyediaan rumah subsidi tahun ini.

    Wahyu, misalnya, menyoroti bagaimana dari segi pembiayaan pemerintah telah melakukan berbagai inisiatif untuk mengurangi backlog dengan skema pendanaan seperti Fasilitas Likuiditas Perumahan (FLPP).

    Pemerintah jud memberikan Subsidi Bantuan Uang Muka (SBUM), dan Bantuan Pembiayaan Perumahan Berbasis Tabungan (BP2BT), dan KPR Tabungan Perumahan Rakyat.

    “Namun inisiatif ini hanya menyasar masyarakat berpenghasilan rendah, sementara backlog masyarakat kelas menengah juga perlu untuk diatasi,” ujar Wahyu.

    Sementara, Adinda berpendapat bahwa pemerintah tak sebaiknya turun tangan mengatur harga, mengingat dinamika pasar yang sebetulnya sudah cukup baik dalam membaca sinyal. Apalagi, pemerintah punya reputasi yang buruk perihal atur-mengatur harga.

    Yang perlu dilakukan pemerintah, menurutnya, adalah memastikan penegakan hukum yang kuat.

    “Yang penting, pemerintah memastikan bahwa hak kepemilikan itu dihargai jangan sampai ada proses transaksi yang tidak jelas. Misalnya, tanahnya belum diurus, waktu pembebasan lahan masih bermasalah, lebih baik seperti itu,” ujarnya.

    Baca: Kota di dunia yang mengutamakan pejalan kaki

    Baik Adinda dan Wahyu juga menekankan bahwa pemerintah lebih baik memastikan transportasi umum terintegrasi dan mengembangkan daerah satelit agar populasi tak menumpuk di kota-kota besar.

    Nah, yang terpenting, kita sebagai konsumen juga mesti peka agar tak ikut melambungkan harga.

    Misalnya, Wahyu menghimbau untuk membeli rumah untuk investasi (terutama spekulasi) secara makro dapat menaikkan harga rumah, sehingga makin membuat rumah menjadi tak terbeli bagi yang membutuhkan tempat tinggal.

    Atau, menurut Adinda, jika mendapatkan rumah susun atau hunian bersubsidi, ada baiknya memang ditempati langsung dan bukan disewakan agar tak merusak harga pasaran.

    Penulis: , Business + Economy Editor The Conversation

  • Konsep Rumah Separo: Inovasi Membangun Rumah untuk Siasati Keterbatasan Lahan

    7cloud.asia – Keterbatasan lahan di kota besar, melahirkan inovasi konsep rumah tinggal yang dinamakan “Separo” dari mahasiswa Departemen Arsitektur (DA) Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI). 

    Konsep rumah Separo hasil kreasi tiga mahasiswa Dept. Arsitektur FTUI ini menerapkan sistem pembangunan bertahap ini menjadi solusi kreatif dalam menghadapi masalah keterbatasan yang sering dialami warga kota.

    Alya Widha Aurellia, Bimantyo Ganggas Ihsani, dan Risma Fitriyanti menyebut, konsep rumah Separo adalah rumah tumbuh yang dibangun secara bertahap untuk mengatasi keterbatasan lahan di kawasan kota besar.

    “Separo, yang secara harfiah berarti “setengah” adalah konsep rumah tumbuh vertikal yang menerapkan sistem pembangunan bertahap atasi keterbatasan lahan,” demikian penjelasan Alya seperti dikutip di laman ui.ac.id.

    Baca: Terapkan desain ramah lingkungan, Bandara Banyuwangi raih penghargaan

    Mereka mencoba mengatasi isu kepadatan penduduk dengan konsep rumah yang dapat diubah sesuai kebutuhan penghuni.

    Rumah separo ini didesain fleksibel dengan menggunakan kolom atau tiang baja yang dapat disesuaikan dan modul struktur yang dibagi menjadi dua lantai.

    Hal ini memungkinkan Separo untuk berubah sesuai dengan fungsi yang diperlukan, seperti ruang usaha atau area privasi keluarga.

    “Separo mencoba untuk mengeksplorasi bagaimana arsitektur dapat membantu dalam mewadahi siklus kebutuhan pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), kemungkinan perubahan ekonomi, dan juga jumlah anggota keluarga yang terus bertambah,” ujar Alya

    Baca: Slow city, cara baru mengelola kota yang sedang tren di Eropa

    Alya menambahkan, pola ruang pada rumah Separo memungkinkan lantai utama digunakan sebagai ruang usaha, sedangkan lantai atasnya digunakan sebagai area privasi keluarga.

    “Tata letak ini dimaksudkan untuk memudahkan penghuni dalam memaksimalkan potensi fleksibilitas ruang pada menerapkan konsep open-plan dan juga modul struktur yang terbagi menjadi dua bagian,” ujar Alya.

    Lebih lanjut, konsep Separo juga mencakup berbagai strategi untuk mengatasi masalah keterbatasan lahan, seperti split leveling ruangan berbeda ketinggian.

    Di mana rumah dibadi menjadi dua bagian sebagai basis modul, dan memanfaatkan tampak muka atau fasad untuk sirkulasi atau ventilasi udara vertikal.

    Baca: Mengenal desain biofilik, memasukkan alam dalam lingkungan binaan

    Di rumah Separo ini, beranda juga dapat dioptimalkan untuk usaha UMKM dan ruang bersosialisasi.

    Rumah separo memisahkan ruang publik dan privat, penggunaan material dinding batu, sistem modul dan dinding partisi yang dapat disesuaikan, serta pemanfaatan ruang beranda yang fleksibel untuk usaha dan bersosialisasi.

    Konsep rumah Separo ini, meraih Juara 2 dalam kompetisi ETALASE Architecture Competition 2023 dengan tema “Compact House”.

    Kompetisi ini meminta peserta untuk mencari solusi yang tepat terkait kepadatan penduduk dan keterbatasan lahan. ETALASE 2023 merupakan rangkaian acara yang diselenggarakan oleh Keluarga Mahasiswa Arsitektur UNNES (Universitas Negeri Semarang).

    Baca: Kawasan Malioboro ditata sesuai fungsi dan posisinya dalam sumbu filosofi

    Dekan FTUI, Prof. Dr. Heri Hermansyah, S.T., M.Eng., IPU., mengapresiasi konsep yang diusulkan oleh mahasiswa FTUI ini.

    “Permasalahan terbatasnya lahan atas ketersediaan hunian yang layak memang menjadi isu yang harus segera dipecahkan. Atas daasr urgensi tersebut, ide yang dirancang oleh mahasiswa FTUI ini dapat menjadi desain yang adaptif dan fleksibel bagi hunian layak di lahan terbatas,” katanya. 

    Melalui 

  • Indonesia Rawan Gempa, Perhatikan Hal Ini Saat Membangun Rumah

    Indonesia Rawan Gempa, Perhatikan Hal Ini Saat Membangun Rumah

    7cloud.asia – Setidaknya 1400 rumah rusak akibat gempa berkekuatan magnitudo 4,5 yang terjadi di Sumedang, Jawa Barat pada 1 Januari 2024 lalu.

    Hal ini menjadi sorotan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), gempa bumi yang melanda Sumedang ini sebenarnya tidak terlalu kuat.

    BNPB menyoroti teknik pembangunan rumah dan bangunan di Indonesia menyusul banyaknya rumah rusak yang diakibatkan oleh berkekuatan kecil.

    Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan, hal ini menjadi evaluasi karena gempa dengan magnitudo di bawah lima pun saat ini banyak bangunan mengalami kerusakan.

    Baca: Gempa susulan di Sumedang akibatkan ratusan rumah rusak

    “Artinya, mungkin ada yang harus kita evaluasi dengan cara kita membangun rumah,” kata  dalam acara Disaster Briefing yang diikuti secara daring di Jakarta, Senin (8/1/2024).

    Ia mengungkapkan banyaknya kerusakan rumah akibat gempa telah terjadi pada sejumlah kasus, seperti gempa di Lombok dengan magnitudo enam pada 2018 silam merusak lebih dari 70.000 rumah.

    Pun demikian dengan gempa di Cianjur dengan magnitudo 5,6 pada 2022 merusak lebih dari 56.000 rumah, serta yang terbaru gempa di Sumedang dengan magnitudo 4,8 merusak lebih dari 1.400 rumah.

    Untuk itu ia mengajak masyarakat bersama-sama menimbulkan kesadaran untuk menciptakan rumah yang aman dan tahan dari ancaman gempa bumi.

    Baca: Literasi masyarakat soal gempa masih rendah

    Apalagi, jika rumah yang dibangun adalah rumah untuk dijadikan tempat tinggal manusia.

    “Kita memang harus mulai memiliki kesadaran. Sekiranya saya akan membangun rumah untuk keluarga, rumahnya juga harusnya bisa melindungi keluarga, nyaman, juga aman. Ini yang kita harus pahami bersama,” ujar Abdul Muhari.

    Adapun untuk standar bangunan yang tahan gempa, ia menyebutkan saat ini masyarakat dapat melihat langsung berbagai macam contoh dari internet.

    Ia menuturkan berbagai macam model bangunan tahan gempa tersedia di internet, pun demikian dengan biaya yang tinggi atau terjangkau.

    Baca: Lima tahun pasca gempa dan tsunami di Palu

    “Jadi masyarakat tidak perlu takut, ‘mungkin kalau saya memperkuat rumah apakah akan mahal atau tidak?’. Di internet ada yang biayanya sangat ekonomis tapi secara sains sudah terbukti,” ujarnya.

    Diketahui, gempa bumi sebanyak tiga kali di Kabupaten Sumedang pada penghujung tahun 2023 menyebabkan sejumlah kerusakan bangunan dan infrastruktur.

    Seperti, terjadinya keretakan di beberapa lokasi mulai dari terowongan ganda Tol Cisumdawu hingga dinding Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) setempat.

    Pada periode pergantian tahun, terjadi tiga kali gempa bumi di Sumedang yakni berkekuatan 4,1 magnitudo pada pukul 14.35 WIB, 3,4 magnitudo pada pukul 15.38 WIB, dan 4,8 magnitudo pada pukul 20.34 WIB.

    Sumber: Antaranews.com

     

  • Intensitas Hujan Tinggi, Ratusan Rumah di Serang Terendam

    Intensitas Hujan Tinggi, Ratusan Rumah di Serang Terendam

    7cloud.asia – Banjir melanda wilayah Kabupaten Serang, Banten. Akibatnya ratusan rumah warga terendam banjir di Desa Kosambi Ronyok, Kecamatan Anyar,  Kabupaten Serang, Banten Sabtu (03/02/2024).

    Menurut Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Serang, Nana Sukmana banjir ini disebabkan curah hujan dengan intensitas cukup tinggi.

    Akibatnya  air sungai meluap dan merendam permukiman warga. “Untuk saat ini yang tercatat kurang lebih ada 245 rumah yang terendam banjir di Desa Kosambi Ronyok,” jelasnya seperti yang dilansir Antaranews.

    Saat ini, lanjut Nana, tim gabungan telah mengevakuasi warga dengan menggunakan perahu karet ke lokasi yang lebih aman dari banjir.

    Baca: Jakarta waspada banjir

    BPBD juga telah mendirikan tenda darurat untuk para pengungsi yang rumahnya terdampak banjir.

    “Kami telah mendirikan tenda darurat untuk warga, karena saat ini ketinggian air sekitar 20-50 cm dan cuaca di lokasi juga masih hujan,” ungkap Nana.

    Para pengungsi saat ini membutuhkan beberapa barang yang mendesak seperti tenda pengungsi, obat-obatan, matras, selimut, makanan, dan pampers.

    “Anggota kami juga masih melakukan pendataan di lapangan untuk mengetahui berapa warga yang terdampak banjir,” ujarnya.

     

    Reporter: Nurakhmayani

  • Banjir dan Longsor Melanda Semarang, Ratusan Rumah Terendam Serta Perjalanan Kereta Terganggu

    Banjir dan Longsor Melanda Semarang, Ratusan Rumah Terendam Serta Perjalanan Kereta Terganggu

    7cloud.asia – Sejumlah wilayah di Indonesia dilanda banjir dan tanah longsor. Kali ini bencana tersebut melanda Kota Semarang, Jawa Tengah. Akibatnya ratusan rumah terendam dan perjalanan kereta api terganggu.

    Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang, Endro Martanto menjelaskan banjir terjadi akibat tingginya curah hujan yang terjadi sejak Rabu (13/03/2024) siang hingga malam.

    Melansir Antaranews, wilayah yang terdampak banjir adalah Jalan Kaligawe di Kelurahan Muktoharjo, Kelurahan Tambakrejo, Kelurahan Sambirejo, Kelurahan Krobokan, serta Kelurahan Kudu.

    Baca: Warga Kapuas Hulu gunakan perahu untuk tarawih akibat banjir

    Jumlah ini diperkirakan akan meningkat karena hujan masih mengguyur wilayah tersebut hingga Kamis (14/03/2024) dinihari. Ketinggian air berkisar antara 20 hingga 70 sentimeter.

    Hujan lebat disertai angin kencang yang terjadi kali ini tak hanya menyebabkan banjir, tetapi juga tanah longsor dan sejumlah pohon bertumbangan.

    “Sementara ada laporan 10 kejadian tanah longsor,” kata Endro.

    Hingga Kamis dinihari, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Saat ini BPBD Kota Semarang tengah melakukan berbagai upaya untuk menanggulangi banjir.

    Baca: Curah hujan tinggi, waspada bencana di wilayah ini

    Diantaranya menyiagakan pompa portabel di titik yang dilanda banjir, melakukan penanganan sementara di titik-titik longsor, serta melakukan pembersihan lokasi pohon tumbang akibat cuaca buruk ini.

    Tak hanya merendam rumah warga, banjir kali ini juga mengganggu perjalanan kereta api yang melintas di jalur Pantura tersebut.

    Menurut manajer humas PT KAI Daop 4 Semarang, Franoto Wibowo perjalanan sejumlah KA terpaksa dialihkan melalui jalur selatan akibat rel terendam banjir.

    Sejumlah titik yang terendam banjir antara lain jalur antara Stasiun Semarang Tawang hingga Stasiun Alas Tuwa, petak antara Stasiun Tawang hingga Stasiun Semarang Poncol, serta petak antara Stasiun Mangkang hingga Stasiun Kaliwungu.

    Baca: Peringatan dini BMKG, cuaca ekstrem di sejumlah wilayah di Jawa Tengah

    Ketinggian air melebihi 10 sentimeter dari atas kop rel sehingga tidak mungkin dilintasi KA. “Sementara ada empat kereta yang dialihkan perjalanannya,” ungkapnya.

    Keempat kereta tersebut antara lain dua perjalanan KA Argo Bromo Anggrek, KA Pandalungan, dan KA Brawijaya.
    Menurut dia, perjalanan KA dialihkan melalui jalur Solo-Yogyakarta-Purwokerto-Cirebon.

    “PT KAI menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan dari pola pengalihan perjalanan tersebut,” katanya.

    PT KAI juga siap mengembalikan biaya tiket penumpang yang batal perjalanannya akibat pengalihan perjalanan tersebut.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Banjir dan Longsor di Bandung Barat, Puluhan Rumah Hancur dan 9 Orang Hilang

    Banjir dan Longsor di Bandung Barat, Puluhan Rumah Hancur dan 9 Orang Hilang

    7cloud.asia – Banjir dan tanah longsor yang melanda Kabupaten Bandung Barat pada Minggu (24/03/2024) malam telah mengakibatkan 30 unit rumah hancur, sejumlah fasilitas umum rusak dan sembilan orang hilang.

    Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi, Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari dalam rilisnya menjelaskan kesembilan orang itu merupakan warga Desa Gintung, Cibenda, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat.

    Mereka diduga hilang setelah terbawa arus deras banjir dan gulungan tanah longsor sejak Minggu malam sekitar pukul 23.00 WIB. Menurut Muhari, jumlah korban yang hilang kemungkinan bertambah.

    Baca: Ini penyebab banjir dan longsor sering melanda Pulau Jawa

    Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung Barat saat ini  tengah melakukan pencarian dan penyelamatan.

    Petugas menggunakan pesawat  tanpa awak atau drone pendeteksi panas tubuh dari Kantor SAR Bandung agar korban yang hilang dapat segera ditemukan apapun kondisinya.

    Curah hujan yang tinggi serta kondisi tanah yang labil memicu terjadinya banjir dan longsor di wilayah ini.

    Akibatnya tanah di atas bukit longsor serta menerjang Kampung Gintung, Desa Cibenda, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. 

    Baca: Curah hujan tinggi waspada banjir dan longsor

    Berdasarkan data dari BPBD, sebanyak 99 keluarga terdampak akibat bencana tersebut. Dua diantaranya mengalami luka akibat terkena serpihan material longsor hingga harus dirawat secara intensif di puskesmas setempat.

    Selain itu, Sebanyak 189 warga mengungsi sementara di SD Negeri Padakati, Kecamatan Cipongkor dan Gor Desa Cibenda.

    Pada Senin (25/03/2024) BPBD Kabupaten Bandung Barat sudah mendirikan posko darurat dan beberapa dapur umum bekerja sama dengan Dinas Sosial (Dinsos) setempat.

    Baca: Banjir dan longsor landa Semarang

    Adapun kebutuhan mendesak yang dibutuhkan saat ini antara lain paket sembako, selimut, dan kasur.

    BNPB mengimbau masyarakat terutama yang tinggal di wilayah berbukit dan dekat dengan tebing untuk selalu waspada terutama jika hujan turun dengan intensitas tinggi lebih dari satu jam.

    Warga yang bermukim di dekat lokasi bencana tanah longsor diharap mengevakuasi diri sementara ke tempat yang lebih aman guna mengantisipasi potensi longsor susulan.

     Reporter: Nurakhmayani

  • Gaji Pekerja Swasta Bakal Dipotong 2,5 Persen untuk Tapera, Warganet: Rakyat Diperas

    Gaji Pekerja Swasta Bakal Dipotong 2,5 Persen untuk Tapera, Warganet: Rakyat Diperas

    7cloud.asia – Di ujung masa pemerintahannya, Jokowi merilis kebijakan kontroversial yakni Tabungan Perumahan Rakyat atau Tapera.

    Dari aturan yang ada Tapera antara lain dapat dimanfaatkan untuk Kredit Pemilikan Rumah (KPR), Kredit Bangun Rumah (KBR) dan Kredit Renovasi Rumah (KRR)

    Kebijakan ini tercantum dalam Peraturan Pemerintah (PP) No 21 Tahun 2024 tentang perubahan atas PP Nomor 25 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Tabungan Perumahan Rakyat atau Tapera yang baru saja diteken Jokowi.

    Nantinya, gaji pegawai negeri maupun swasta di Indonesia akan kena potongan tambahan sebesar 0,5 hingga 2,5 persen untuk simpanan tabungan perumahan rakyat (Tapera).

    “Besaran simpanan peserta untuk peserta pekerja ditanggung bersama oleh pemberi kerja sebesar 0,5% dan pekerja sebesar 2,5%,” bunyi ayat 2 pasal yang sama.

    Baca: Harga rumah makin mahal, haruskah punya rumah sendiri?

    Berdasar beleid itu, simpanan peserta itu ditetapkan berdasarkan persentase tertentu dari gaji atau upah yang dilaporkan setiap bulan untuk peserta pekerja.

    Kemudian penghasilan rata-rata setiap bulan dalam satu tahun takwim sebelumnya dengan batas tertentu untuk peserta pekerja mandiri.

    Dalam pasal 15 Ayat 1 PP tersebut dirinci bahwa besaran simpanan peserta ditetapkan sebesar 3% dari gaji atau upah untuk peserta pekerja dan penghasilan untuk peserta pekerja mandiri.

    PP tersebut juga mengatur bahwa iuran Tapera juga diperuntukkan bagi ASN/PNS termasuk TNI dan Polri yang digaji langsung oleh negara.

    Iuran Tapera bagi pekerja yang menerima gaji atau upah yang bersumber dari kas negara ini akan diatur langsung oleh Kementerian Keuangan melalui koordinasi bersama dengan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi.

    Baca: Harga rumah terus naik, bagaimana nasib Gen Z?

    Sementara, iuran Tapera dari pegawai BUMN, BUMD, BUMDes, dan karyawan swasta akan diatur oleh Kementerian Ketenagakerjaan. Kemudian, untuk pekerja mandiri akan diatur langsung oleh BP Tapera.

    Pasal 20 PP Tapera menyebutkan, pemberi kerja wajib menyetorkan simpanan Tapera setiap bulan, paling lambat tanggal 10 pada bulan berikutnya dari bulan simpanan yang bersangkutan ke Rekening Dana Tapera.

    Hal serupa juga berlaku bagi pekerja mandiri atau freelancer. Jika pada tanggal 10 hari libur maka simpanan dibayarkan pada hari kerja pertama setelah hari libur tersebut.

    Kebijakan ini langsung menuai reaksi dari warganet yang mayoritas memberi respon negatif. Mereka menilai ini cara negara mengutip uang dari rakyatnya.

    “Tanda negara mau kolaps,“ tulis @Deni Andepa

    Baca: Gerakan rumah mungil makin ngetren

    “Hasil bumi negara ini sangatlah banyak, seharusnya jadi sumber pendapatan negara. Tapi jadi sumber pendapatan pejabat, masih kurang rakyatpun diperas,“ tulis @Hamza M Daud.

    “Kebijakan yang dibuat penguasa selalu menambah beratnya beban masyarakat. harga kebutuhan kebutuhan melambung, pajak dinaikkan, biaya pendidikan dimahalkan, korupsi para pejabat dibesarkan,“ tulis @Ali Ikhwan.

    “Jadi kepikiran mau pindah negara, ke mana ya?“ tulis Mimin Mintunov.

  • Minimalisme: 7 Alasan Tinggal di Rumah yang Lebih Kecil

    Minimalisme: 7 Alasan Tinggal di Rumah yang Lebih Kecil

    7cloud.asia – Pemikiran bahwa tinggal di rumah yang lebih kecil akan lebih bahagia ketimbang rumah yang lebih besar mungkin sedikit berbeda dengan apa yang sering kita temui dari budaya di sekitar kita.

    Dalam masyarakat saat ini, di mana rumah yang lebih besar sering kali dianggap (dan digambarkan) lebih baik mempengaruhi banyak pemikiran dan pencarian rumah kita.

    Hasilnya, banyak orang bermimpi memiliki rumah besar di komunitas yang terjaga keamanannya.

    Tapi, praktisi minimalisme Joshua Becker punya pengalaman berbeda. Lewat tulisannya yang di Forbes.com, dia mengajukan argumen yang berlawanan dengan asumsi yang ada di Amerika saat ini.

    Tiga belas tahun yang lalu, saat pindah dari Vermont ke Phoenix, Joshua dan keluarga memutuskan untuk membeli rumah yang lebih kecil, meskipun memiliki kemampuan finansial untuk meningkatkannya secara signifikan.

    “Saat ini, kami sangat bahagia dengan keputusan kami. Faktanya, kami tidak pernah menyesalinya sedetik pun,” tulisnya.

    Baca: Gerakan rumah mungil sedang ngetren

    Keluarganya yang beranggotakan empat orang tinggal di rumah seluas 160 meter persegi, rumah yang tergolong kecil di AS.

    Keputusan ini, bagi Joshua, bukan hanya soal penghematan finansial. Ini tentang memilih kualitas daripada kuantitas dan membebaskan diri dari beban harta benda yang tidak diperlukan.

    “Tinggal di rumah yang lebih kecil telah memungkinkan kami untuk fokus pada hal yang benar-benar penting—keluarga, pengalaman, dan hal-hal lain. dan pertumbuhan pribadi dan spiritual,” ujarnya.

    Berikut tujuh alasan kuat mengapa Anda akan senang tinggal di rumah yang lebih kecil.

    1. Perawatan Lebih Mudah
    Siapapun yang pernah memiliki rumah pasti tahu berapa banyak waktu, tenaga, dan tenaga yang dibutuhkan untuk memeliharanya. Mulai dari pembersihan dan peningkatan hingga perbaikan dan pemeliharaan, merawat rumah membutuhkan energi mental dan finansial.

    Rumah kecil menyederhanakan tugas-tugas ini, sehingga membutuhkan lebih sedikit waktu dan sumber daya. Artinya, kita akan memiliki lebih banyak waktu untuk fokus pada aktivitas yang benar-benar penting.

    Baca: Yuk ubah pola konsumsi demi lingkungan

    2. Mengurangi Biaya
    Semua hal dianggap sama, rumah yang lebih kecil lebih murah untuk dibeli dan dirawat. Biaya asuransi, pajak, pemanas, pendingin, dan listrik semuanya lebih rendah.

    Kebebasan finansial ini memungkinkan Anda menggunakan uang Anda untuk hal lain, seperti melunasi utang, membangun dana darurat, berinvestasi untuk masa depan, atau menikmati pengalaman yang tak terlupakan.

    Selain itu renovasi rumah kecil juga jauh lebih murah. Misalnya, ketika membutuhkan karpet baru, kami bisa mendapatkan penutup lantai berkualitas lebih tinggi di seluruh rumah kami yang lebih kecil dengan harga lebih murah.

    3. Lebih sedikit utang, Lebih Sedikit Risiko
    Penasihat keuangan menyarankan, pembayaran hipotek tidak boleh lebih dari 28% dari pendapatan kotor bulanan atau 25% dari pendapatan bersih Anda.

    Dengan memilih rumah yang lebih kecil, Anda dapat mengurangi persentase ini secara signifikan, sehingga mengurangi risiko dan stres finansial.

    Bayangkan ketenangan pikiran yang muncul karena mengetahui Anda tidak terbebani oleh pembayaran hipotek Anda selama 30 tahun ke depan.

    Baca: Kiat internetan yang ramah lingkungan

    4.Dampak Lingkungan
    Rumah kecil memiliki dampak lingkungan yang lebih kecil, karena membutuhkan lebih sedikit sumber daya untuk membangun dan memelihara.

    Dengan tinggal di ruangan yang lebih kecil, Anda berkontribusi terhadap masa depan yang lebih berkelanjutan bagi semua orang. Selain itu, lebih sedikit ruang berarti lebih sedikit barang yang disimpan di dalamnya , mengurangi limbah dan siklus konsumsi yang konstan.

    5. Kebebasan mental
    Semakin banyak harta yang kita miliki, semakin banyak energi dan mental kita yang tersandera oleh harta benda tersebut.

    Hal yang sama juga berlaku pada aset kami yang terbesar dan paling berharga. Belilah dalam jumlah kecil dan bebaskan pikiran Anda.

    6. Ikatan yang erat dengan keluarga
    Sebuah fenomena menarik terjadi ketika sebuah keluarga bertumbuh. Sebuah asumsi yang wajar adalah ketika kita mulai memiliki anak, ukuran rumah kita perlu diperbesar.

    Rumah yang lebih kecil secara alami mendorong lebih banyak interaksi di antara anggota keluarga dan membantu memperdalam dan memperkaya hubungan.

    Di rumah yang lebih besar, mudah bagi setiap orang untuk kembali ke ruangnya masing-masing, yang menyebabkan lebih sedikit waktu bersama keluarga.

    Baca: Lima hal yang kudu dibenahi untuk menyederhanakan hidup

    7. Lebih mudah dijual
    Rumah yang lebih kecil umumnya lebih terjangkau dan menarik bagi segmen populasi yang lebih besar.

    Pasar yang lebih luas ini membuat rumah yang lebih kecil lebih mudah dijual ketika saatnya tiba, fleksibilitas dan daya jual rumah yang lebih kecil bisa menjadi hal yang signifikan keuntungan.

    Jika Anda merasakan tekanan finansial karena biaya perumahan atau hanya mencari cara untuk menyederhanakan hidup Anda, pertimbangkan manfaat dari perampingan. Anda akan senang tinggal di rumah yang lebih kecil.