Indonesia Rawan Gempa, Perhatikan Hal Ini Saat Membangun Rumah

Written by

in

7cloud.asia – Setidaknya 1400 rumah rusak akibat gempa berkekuatan magnitudo 4,5 yang terjadi di Sumedang, Jawa Barat pada 1 Januari 2024 lalu.

Hal ini menjadi sorotan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), gempa bumi yang melanda Sumedang ini sebenarnya tidak terlalu kuat.

BNPB menyoroti teknik pembangunan rumah dan bangunan di Indonesia menyusul banyaknya rumah rusak yang diakibatkan oleh berkekuatan kecil.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan, hal ini menjadi evaluasi karena gempa dengan magnitudo di bawah lima pun saat ini banyak bangunan mengalami kerusakan.

Baca: Gempa susulan di Sumedang akibatkan ratusan rumah rusak

“Artinya, mungkin ada yang harus kita evaluasi dengan cara kita membangun rumah,” kata  dalam acara Disaster Briefing yang diikuti secara daring di Jakarta, Senin (8/1/2024).

Ia mengungkapkan banyaknya kerusakan rumah akibat gempa telah terjadi pada sejumlah kasus, seperti gempa di Lombok dengan magnitudo enam pada 2018 silam merusak lebih dari 70.000 rumah.

Pun demikian dengan gempa di Cianjur dengan magnitudo 5,6 pada 2022 merusak lebih dari 56.000 rumah, serta yang terbaru gempa di Sumedang dengan magnitudo 4,8 merusak lebih dari 1.400 rumah.

Untuk itu ia mengajak masyarakat bersama-sama menimbulkan kesadaran untuk menciptakan rumah yang aman dan tahan dari ancaman gempa bumi.

Baca: Literasi masyarakat soal gempa masih rendah

Apalagi, jika rumah yang dibangun adalah rumah untuk dijadikan tempat tinggal manusia.

“Kita memang harus mulai memiliki kesadaran. Sekiranya saya akan membangun rumah untuk keluarga, rumahnya juga harusnya bisa melindungi keluarga, nyaman, juga aman. Ini yang kita harus pahami bersama,” ujar Abdul Muhari.

Adapun untuk standar bangunan yang tahan gempa, ia menyebutkan saat ini masyarakat dapat melihat langsung berbagai macam contoh dari internet.

Ia menuturkan berbagai macam model bangunan tahan gempa tersedia di internet, pun demikian dengan biaya yang tinggi atau terjangkau.

Baca: Lima tahun pasca gempa dan tsunami di Palu

“Jadi masyarakat tidak perlu takut, ‘mungkin kalau saya memperkuat rumah apakah akan mahal atau tidak?’. Di internet ada yang biayanya sangat ekonomis tapi secara sains sudah terbukti,” ujarnya.

Diketahui, gempa bumi sebanyak tiga kali di Kabupaten Sumedang pada penghujung tahun 2023 menyebabkan sejumlah kerusakan bangunan dan infrastruktur.

Seperti, terjadinya keretakan di beberapa lokasi mulai dari terowongan ganda Tol Cisumdawu hingga dinding Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) setempat.

Pada periode pergantian tahun, terjadi tiga kali gempa bumi di Sumedang yakni berkekuatan 4,1 magnitudo pada pukul 14.35 WIB, 3,4 magnitudo pada pukul 15.38 WIB, dan 4,8 magnitudo pada pukul 20.34 WIB.

Sumber: Antaranews.com

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *