Tag: sampah plastik

  • Solusi Sampah Plastik dI Indonesia Harus Libatkan Produsen Konsumen dan Pengelola Sampah

    Solusi Sampah Plastik dI Indonesia Harus Libatkan Produsen Konsumen dan Pengelola Sampah

    7cloud.asia – Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini fokus mengangkat isu plastik, sampah plastik dan solusinya dengan tagar #BeatPlasticPollution.

    Sampah plastik memang sudah lama menjadi momok bagi lingkungan. Pasalnya, di balik segala manfaatnya plastik menciptakan daftar panjang masalah lingkungan yang bisa memicu bencana global. 

    Lantas, bagaimana penanganan sampah plastik yang telah dilakukan di Indonesia selama ini? 

    Direktur Penanganan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Novrizal Tahar mengatakan Indonesia merupakan salah satu penghasil sampah plastik terbesar di dunia.

    Pada 2022, potensi Sampah Plastik di Indonesia: 18.12 % dari total timbulan sampah 69.2 juta ton atau sekitar 12,54 juta ton.

    Namun sampah plastik tersebut dalam kondisi belum dipilah sehingga pengolahannya belum bisa berjalan optimal.

    Baca: Sejarah Hari Lingkungan Hidup Sedunia

    Naovrizal mengakui masih banyak hal yang harus dibenahi terkait masalah sampah plastik. 

    Namun demikian dalam sepuluh tahun terakhir ada trend perubahan menuju arah yang lebih baik, baik dari partispasi publik, komitmen produsen, dan juga pemerintah daerah.

    “Sebanyak 70 persen sampah plastik di Indonesia masih dibuang ke laut dan mencemari laut,” ujar Novrizal saat menjadi pembicara dalam Webinar Hari Lingkungan Hidup yang diselenggarakan Iluni pada Sabtu (3/6/2023) di Kampus UI Depok, Jawa Barat.

    Saat ini pemerintah coba mengelola sampah plastik dengan kebijakan yang mengatur dari hulu ke hilir. Yakni dari produsen, konsumen dan pihak yang mengelola sampah. 

     

    Baca; Kaca dan plastik, mana lebih ramah lingkungan

    Pemerintah, lewat berbagai kebijakan telah membuat peta jalan bagi penanganan sampah termasuk sampah plastik. Ke depan diharapkan tidak lagi menggunakan land fill atau penimbunan lagi.  

    “Setelah 2030 ditargetkan sampah telah terkelola dengan baik dan secara bertahap pengelolaan sampah dengan sistem landfill dikurangi menjadi nol pada 2050,” imbuhnya.

    Kebijakan yang dirumuskan untuk mengurangi sampah plastik antara lain dengan Pembatasan Plastik Sekali Pakai (kantong plastik, cutlery, dan styrofoam) serta kampanye Gaya Hidup Minim Sampah.

    Baca: Mengapa styrofoam juga harus dilarang

    Kebijakan pembatasan plastik sekali pakai saat ini sudah diterapkan di sejumlah daerah. Menurut Novrizal, saat ini setidaknya ada 156 kota dan kabupaten yang telah memiliki kebijakan pembatasan plastik sekali pakai untuk mengurangi sampah plastik. 

    Kota-kota itu antara lain Jakarta, Denpasar,  Surabaya, Balikpapan, Banyumas, Cilacap. Selain itu, sebanyak 256 kota lainnya juga sedang menggodok kebijakan pembatasan sampah plastik. 

    Dari sisi produsen, mulai muncul kesadaran untuk tidak memproduksi sampah plastik. Bahkan ada sejumlah perusahaan yang juga telah membangun instalasi pengolahan sampah plastik yang dihasilkannya untuk didaur-ulang kembali menjadi botol. 

    Baca: Mendulang cuan dari daur ulang sampah plastik

    Lantas apa yang bisa dilakukan konsumen untuk mengurangi sampah plastik? Novrizal menegaskan konsumen bisa mengambil peran penting untuk mengurangi sampah plastik, yakni dengan mengubah perilaku dalam mengonsumsi.  

    “Konsumen bisa bersikap, dengan tidak membeli produk-produk yang masih menggunakan plastik, sehingga dengan demikian ada komitmen dari perusahaan untuk tidak menggunakan plastik,” ujarnya.   

    Beberapa cara lain yang bisa dllakukan masyarakat sebagai konsumen adalah dengan menhindari penggunaan plastik sekali pakai, belanja tanpa kemasan dan memilah sampah di rumah sehingga sampah plastik bisa didaur ulang.

    Baca: Cara asyik kurangi sampah plastik

    Sementara di sisi hilir, saat ini sedang didorong industri pengolahan sampah plastik menjadi berbagai barang yang berguna atau diolah kembali menjadi barang yang sama.

    “Saat ini ada 176 sociopreneur yang mengolah sampah termasuk sampah plastik menjadi berbagai barang kebutuhan rumah tangga,” terang Novrizal. 

    Untuk sampah plastik sendiri bisa diolah dengan recycle ataupun dengan upcycle. Sampah plastik, dengan proses pirolisis bisa diubah menjadi feedstock petrokimia seperti nafta, liquid dan wax seperti hidrokarbon dan gas serta minyak dasar untuk pelumas.

    Sampah plastik juga bisa diupcycle menjadi furniture atau tekstil untuk bahan fashion.

  • KLHK Ajak Masyarakat Tak Beli Produk yang Enggan Kelola Sampah Plastik yang Dihasilkannya

    7cloud.asia –  Masyarakat bisa ikut berperan dalam menanggulangi sampah plastik dengan tidak membeli produk-produk dari para produsen yang tidak memiliki komitmen terhadap Extended Producer Responsibility (EPR) atau tanggung jawab untuk menarik kembali bekas kemasan produknya dari masyarakat.

    Hal itu untuk memberikan sanksi kepada para produsen yang tidak punya komitmen untuk mengurangi sampah plastik.

    “Menjadi tugas kita semua, teman-teman mahasiswa, alumni UI (Universitas Indonesia), mari kita teriaki produsen-produsen yang nggak komitmen terhadap Extended Producer Responsibility ini. Kita berikan sanksi, nggak kita beli barang-barangnya kalau bisa, sehingga mereka punya komitmen untuk itu (tangani sampah plastik, red),” ujar Direktur Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK)Novrizal Tahar saat berbicara di acara World Environment Day 2023 bertajuk “Solution to Plastic Pollution, Collaboration Action Center ILUNI UI” akhir pekan lalu. 

    Baca: Pengelolaan sampah plastik di Indonesia

    Sebelumnya diberitakan, brand audit Komunitas Nol Sampah Surabaya bersama Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) yang dilakukan di muara sungai Wonorejo, Rungkut, Surabaya, pada Februari 2022 lalu berhasil mengumpulkan 10 karung sampah plastik.

    Community Organizer Nol Sampah Surabaya, Hani Ismail menuturkan 10 karung sampah plastik yang berhasil dikumpulkan di muara sungai Wonorejo itu berasal dari 35 produsen dengan 10 produsen sampah terbanyak.

    Ke-10 produsen tersebut yakn PT. Wings Surya, PT. Indofood Sukses Makmur Tbk, PT. Unilever Indonesia Tbk, PT. Mayora Indah Tbk, PT. Siantar Top Tbk, PT. Java Prima Abadi, PT. Sinar Sosro, PT. Kaldu Sari Nabati, PT. Santos Jaya Abadi, dan PT. P&G.

    Baca:  Apakah bioplastik benar-benar ramah lingkungan?

    Kemudian, ekspedisi Pembela Lautan 2022 yang diadakan Ocean Defender Indonesia pada Agustus 2022 lalu di Pulau Tunda, sebuah pulau kecil yang terletak di Laut Jawa dan sebelah utara Teluk Banten, juga masih menemukan banyaknya sampah plastik yang mencemari sekitar pulau dan bawah laut di daerah itu.

    Penyumbang sampah plastik terbanyak berasal dari produk Indofood, Wings, dan Mayora.  

    Secara persentase, Ocean Defender mencatat Indofood menyumbangkan sampah plastik terbanyak yaitu 114 sampah plastik di Pulau Tunda ini atau sebanyak 7,5% dari banyaknya sampah plastik yang dikumpulkan.

    Penyumbang sampah terbanyak berikutnya adalah Wings dengan 97 sampah plastik atau 6,4%, disusul Mayora sebanyak 88 sampah plastik atau 5,8%, diikuti Unilever 73 sampah plastik atau 4,8% dan PT Santos Jaya Abadi 53 sampah plastik atau 3,5%. 

    Baca:  6 Cara asyik kurangi sampah plastik

    Novrizal menyebutkan komposisi sampah plastik Indonesia terus meningkat. Di mana, pada tahun 1995 komposisinya masih sekitar 9% dari seluruh sampah di Indonesia, namun sekarang sudah di angka 18,2%.

    “Jadi, meningkat tajam terus walaupun di lima tahun terakhir atau mungkin sekitar satu dekade ini kita juga sangat masif menyampaikan untuk melawan ini semua,” tukasnya.

    Menurutnya, salah satu penyebab permasalahan sampah plastik di Indonesia adalah berkembangnya budaya perilaku masyarakat yang menggunakan barang yang sifatnya sekali pakai dan mudah menjadi sampah, di mana sebagian besar barang tersebut terbuat dari plastik.

    “Sebagian besar sampah yang dibuang dalam kondisi tercampur atau tidak dipilah, sehingga proses pengolahan sampah termasuk sampah plastik belum optimal dan masih banyak yang berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir atau TPA,” ucapnya.

    Baca: Sistem isi ulang dari Siklus bantu kamu kurangi sampah plastik

    Karena itu, dia meminta masyarakat untuk membatasi penggunaan plastik sekali pakai dan memiliki gaya hidup minim sampah melalui pencegahan sampah plastik sekali pakai, belanja tanpa kemasan, dan melakukan pemilahan sampah dari rumah.

    Dia juga mengutarakan bahwa berbagai kebijakan seperti Perpres 97 tahun 2017, di mana pada tahun 2025 ditargetkan 100% pengolahan sampah di Indonesia bisa dilakukan dengan baik dan benar, ini masih jauh.

    Begitu juga dengan pencapaian target Perpres 83 tahun 2018, di mana target untuk bisa mengurangi 70% sampah ke laut sesuai janji Indonesia ke dunia internasional, itu juga masih sulit terpenuhi.

    “Kemudian kita ada regulasi-regulasi lainnya misalnya terkait dengan Extended Producer Responsibility, di mana produsen itu di hulu punya tanggung jawab sekarang. Jadi, bukan volunteer lagi, tapi mandatory sebenarnya, juga masih belum maksimal,” tuturnya.

    Baca: Kelompok paling terdampak perubahan iklim justru ditinggalkan dalam adaptasi iklim

    Novrizal mengatakan hasil survei yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2018 menunjukkan bahwa  dari berbagai persoalan lingkungan, indeks ketidakpedulian paling tinggi itu adalah dalam hal pengelolaan sampah, di mana sebanyak 72% orang Indonesia tidak peduli terhadap sampah.

    “Ini belum dilakukan lagi surveinya, mudah-mudahan sudah berubah banyak,” ungkapnya.

    Dalam mengatasi permasalahan sampah plastik yang tidak mudah terurai secara alami, Novrizal meminta kepada para produsen untuk membangun industrialisasi pengolahan sampahnya sendiri. “Untuk itu perlu intervensi teknologi,” katanya.

    Untuk menunjukkan dukungan terhadap pengurangan sampah plastik yang terus meningkat hingga saat ini, Ketua Panitia Acara, Iwan Budisusanto mewajibkan semua ILUNI UI yang ikut dalam acara ini untuk membawa tumbler.

    “Panitia menyediakan air mineral di galon untuk kebutuhan minum saat acara berlangsung. Apabila air di tumbler habis, silahkan mengisi air dari galon yang telah disediakan panitia,” ujarnya. 

    Penulis: Charles Maruli Siahaan

  • Tak Sekadar Mengolah Sampah Plastik, Robries Memberi Nilai Lebih pada Plastik

    Tak Sekadar Mengolah Sampah Plastik, Robries Memberi Nilai Lebih pada Plastik

    7cloud.asia –  Penampian fisik alat rumah tangga produksi Robries itu terlihat mewah, dengan aksen warna-warna tertentu di beberapa lokasi. 

    Sepintas, alat produk Robries seperti tatakan gelas, gantungan kunci, jam meja hingga bangku dan meja konsol itu terbuat dari marmer ataupun terazo.

    Siapa sangka, alat rumah tangga yang terlihat begitu mewah itu terbuat dari sampah plastik seperti tutup botol, bekas botol air mineral atau bahkan serpihan ember bekas. 

    Ya, meski dibuat dari sampah plastik produk Robries tidak sekadar dibuat. Produk Robries dicreate sedemikian rupa menjadi sebuah karya yang membuat orang yang melihat tertarik membeli dan bangga menggunakan.

    Robries ingin mengajak penggunanya untuk merasakan hidup yang lebih bertanggung jawab lagi berkelanjutan.

    “Kami ingin memberi nilai lebih pada setiap produk yang dihasilkan Robries. Value ini yang selalu kita pegang,” terang Syukriatrun Niamah, pendiri sekaligus Robries kepada 7cloud.asia melalui sambungan telepon beberapa waktu lalu.

    Baca: Cara mutakhir Singapura atasi krisis sampah makanan

    Maka dalam setiap produk Robries ada cerita yang disampaikan kepada pelanggan. Produk itu dibuat dari berapa banyak sampah plastik dan dari mana bahan yang digunakan.

    Niamah menambahkan, di balik setiap produk Robries tersimpan visi besar, untuk tidak hanya mengurangi sampah plastik tetapi juga mengubah sampah plastik menjadi benda yang bermanfaat dan bernilai tinggi.

    “Mungkin untuk membuat zero waste masih jauh ya, tapi setidaknya tidak ada lagi sampah plastik yang berserakan dan mengotori lingkungan,” ujarnya.

    Robries lahir berangkat dari keresahan Niamah tentang permasalahan lingkungan yang tidak kunjung selesai.

    Baca: Produk ramah lingkungan dari DemiBumi

    Niamah yang saat itu masih tercatat sebagai mahasiswi jurusan desain produk di sebuah perguruan tinggi di kota Surabaya melihat penanganan sampah tidak banyak mencapai kemajuan.

    Sampah khususnya sampah plastik dikelola secara konvensional, yakni dikumpulkan kemudian ditimbun begitu saja.

    Cara pengelolaan sampah seperti ini terbukti telah menimbulkan masalah baik untuk lingkungan maupun masalah sosial.

    “Branding atau citra sampah itu sudah jelek, kotor dan kadang menjijikkan. Saya ingin mengubah itu,” terangnya. 

    Niamah ingin membuka perspektif baru dengan mengubah anggapan orang tentang sampah plastik yang semula adalah masalah menjadi sesuatu yang tak hanya berguna tetapi juga memiliki nilai seni.

    Baca: Dengan sistem isi ulang dari Siklus kamu bisa kurangi sampah plastik

    Niamah lantas memutar otak. Di mata Niamah plastik adalah material paling mutakhir. Belum ada material yang bisa menggantikan plastik, sehingga sampah plastik pun bisa dianggap menjadi bahan atau material yang bisa diolah menjadi beragam produk. 

    Dari pandangan inilah, kemudian lahir nama Robries yang merupakan singkatan dari kata ‘recycle object industry’ 

    Karya pertama Robries lahir pada 2018, berupa sebuah jam meja yang dibuat dari 100 gram sampah plastik. Saat itu jam meja produk Robries tersebut dijual seharga Rp 164.000.

    “Untuk membuat produk itu, saya menggunakan oven bekas dan meminjam peralatan yang ada coworking space disediakan oleh Pemprov Jawa Timur,” kenang Niamah.

    Karya Niamah ini ternyata mendapat apresiasi tinggi, sehingga pesanan terus mengalir. Kini produk Robries makin beragam dan ukurannya juga semakin besar hingga membuat furnitur. 

    Baca: KLHK ajak masyarakat boikot produk yang tak kelola sampah plastik 

    Usaha Robries juga semakin berkembang sehingga kini mempekerjakan 50an orang. Kini kapasitas produksi Robries yang semula 100-200 kilogram sampah plastik sebulan, kini mencapai 7-10 ton sampah plastik sebulan.

    Sampah plastik yang diolah Robries adalah palstik jenis HDPE seperti tutup botol, wadah sampo dan sabun dll; plastik jenis PETE: packaging kosmetik, sedotan, cup minuman dan sebagainya; serta plastik jenis PP seperti ember, baskom dan sebagainya. 

    Sampah plastik ini kemudian dirajang dan dilelehkan yang selanjutnya dipres untuk dibuat beragam produk. Produk Robries kini dipasarkan di sejumlah marketplace. 

    Produk Robries juga telah diekspor ke sejumlah negara seperti Jepang, AS dan Eropa. Juni ini Robries juga melaunching website resmi untuk mengenalkan produknya secara luas. 

    Baca: Cara asyik kurangi sampah plastik

    Pasang surut pernah dialami Niamah selama lebih 8 tahun bersama Robries. Salah satu yang paling menantang dalam mengelola usaha ini adalah mebangun tim yang bisa saling support dengan baik. Menyatukan isi banyak kepala itu tantangan sebuah bisnis. 

    Tapi tim juga yang membuat Robries bertahan dan terus berinovasi, dan Niamah yakin jika konsisten akan memberikan hasil dan menghasilkan impact bagi lingkungan.

    “Untuk memberi impact mungkin tidak mudah, tetapi jangan lihat sulitnya tetapi lihat dari impactnya. Sekecil apapun jika kita lakukan bareng-bareng maka impactnya akan besar. Jadi fokus pada impactnya fokus pada apa yang kita lakukan,” ujarnya.

    Niamah punya mimpi agar setiap produk Robries memberikan impact bukan hanya bagi penggunanya, tetapi bagi juga orang lain. 

    “Kita ingin impactnya tidak hanya internal di tim Robries dan pembeli produk Robries, tetapi juga banyak pihak seperti bank sampah, pemulung, pengepul dan lebih luas kepada lingkungan,” pungkasnya. 

     

     

     

  • Pengembangan Teknologi untuk Mengatasi Masalah Sampah Plastik

    Pengembangan Teknologi untuk Mengatasi Masalah Sampah Plastik

    7cloud.asia – Sampah plastik diketahui telah menimbulkan sederet masalah bagi lingkungan.  Setiap hari, setara dengan lebih dari 2.000 truk sampah penuh plastik dibuang ke lautan, sungai dan danau kita.

    Karena itu berbagai upaya dilakukan untuk mengurangi sampah plastik. Lebih dari itu berbagai penelitian juga dilakukan untuk mengatasi sampah plastik yang kini sudah telanjur mencemari planet Bumi. 

    Apa saja yang dilakukan ilmuwan dunia untuk mengatais sampah plastik, berikut rangkumannya seperti kami kutip dari earth.org.

    Baca: Robries memberi nilai lebih pada sampah plastik

    Enzim Pemakan Plastik
    Salah satu solusi ilmiah terpenting untuk polusi yang diakibatkan sampah plastik yang muncul adalah enzim pemakan plastik.

    Di Jepang 2016, seorang ilmuwan menemukan enzim pemakan plastik yang mampu mengurai Polyethylene terephthalate (PET) – jenis plastik yang paling umum digunakan dan menghasilkan sampah plastik terbesar.

    Enzim yang dikenal dengan nama Ideonella Sakaiensis 201-F6 ini merupakan bakteri yang dapat mencerna plastik dengan mengeluarkan enzim yang disebut PETase, dan mencerna karbon dalam PET untuk digunakan sebagai sumber makanan.

    Meskipun proses pemecahannya relatif lambat, para ilmuwan telah bekerja untuk mempercepatnya. Sebuah tim ilmuwan internasional telah mampu memodifikasi komposisi molekuler enzim, dan men-tweaknya untuk mengonsumsi PET 20% lebih cepat dari yang semula.

    Baca: KLHK ajak masyarakat boikot produk yang tak peduli sampah plastiknya

    Jamur Pemakan sampah plastik 
    Spesies jamur berpigmen gelap, yang dikenal sebagai Aspergillus Tubingensis, ditemukan mengandung zat yang dapat mendegradasi poliuretan (PU).

    Samantha Jenkins, insinyur biotek utama untuk perusahaan bio-manufaktur Biohm sedang mempelajari berbagai jenis jamur dalam sebuah proyek penelitian, ketika dia menemukan jamur pemakan sampah plastik dan menemukan bahwa jamur telah memakan jalan melalui spons plastik yang digunakan untuk menyegelnya.

    Jenkins sedang dalam proses menguji jamur pada sampah plastik PET dan PU dan menemukan bahwa jamur tersebut berkembang biak karena mengkonsumsi lebih banyak sampah plastik.

    Jamu pemakan sampah plastik ini juga berpotensi menciptakan sumber biomaterial baru “untuk makanan, atau stok pakan untuk hewan, atau antibiotik”.

    Baca: Kolaborasi pemerintah-produsen-masyakarat dalam mengatasi masalah sampah plastik

    Kumparan Magnetik
    Para ilmuwan telah menciptakan kumparan magnet yang mampu menargetkan mikroplastik di lautan. Nanoteknologi eksperimental ini mampu mengurai mikroplastik yang diakibatkan sampah plastik di dalam air tanpa membahayakan kehidupan laut.

    Lebih tipis dari rambut manusia, kumparan ini menyerupai pegas di bawah mikroskop, dan dilapisi nitrogen dan logam magnetik yang disebut mangan.

    Ketika mereka bereaksi dengan molekul oksigen, mereka menyerang sampah plastik dan dapat membantu memecahnya.

    Xiaoguang Duan, salah satu penulis studi ini menemukan bahwa nano-coils memiliki tingkat pengurangan 30% hingga 50% dalam mikroplastik selama delapan jam dalam percobaan awal.

    Baca: Bahaya mikroplastik untuk kesehatan

     

    Konversi sampah plastik menjadi bahan bakar

    Perusahaan Australia Licella Holdings telah mengembangkan teknologi baru yang dipatenkan, yang dikenal sebagai Catalytic Hydrothermal Reactor (Cat-HTR), yang dapat mengubah sampah plastik yang tidak dapat didaur ulang menjadi minyak.

    Teknologi ini mampu melelehkan sampah plastik dan mengubahnya menjadi bahan bakar cair. Melalui proses yang mirip dengan pressure-cooker ukuran komersial, teknologi ini mengurai sampah plastik menjadi komponennya guna menghasilkan berbagai bahan termasuk minyak, lilin, dan plastik yang dapat diubah menjadi produk atau bahan bakar plastik lainnya.

    Apa yang membuat teknologi ini begitu unik adalah sifatnya yang serbaguna. Tidak ada plastik yang tidak cocok untuk perangkat ini. Cat-HTR secara kimia mendaur ulang campuran plastik tanpa perlu memisahkan jenis plastik yang berbeda.

    Sampah plastik tersebut termasuk plastik akhir masa pakainya yang seharusnya dikirim ke tempat pembuangan akhir, pembakaran, atau berakhir di lautan kita.

    Teknologi ini memungkinkan sampah plastik didaurulang berulang kali dan dalam skala komersial, dan dapat mengubah 20.000 ton sampah plastik setiap tahunnya. Namun, para kritikus menyebut teknologi tersebut sebagai pertukaran lingkungan karena proses tersebut dapat menghasilkan emisi karbon.

    Baca: Mengenal bioplastik, benarkah aman untuk lingkungan

    Konversi sampah plastik untuk perkerasan jalan
    Salah satu dari banyak solusi ilmiah untuk polusi plastik adalah mengubah sampah plastik menjadi jalan. Sebuah proyek yang dikenal sebagai PlasticRoad, membuat jalur sepeda di kota Zwolle, Belanda dan jalan di Overjissel pada tahun 2018 menggunakan 70% plastik daur ulang.

    Rencananya akan ditingkatkan menjadi 100%. Proyek ini telah terbukti berhasil karena plastik lebih tahan lama daripada aspal dan membutuhkan lebih sedikit alat berat dan waktu pemasangan, yang membuat jejak karbonnya lebih kecil.

    PlasticRoad bermaksud untuk terus merancang, membuat, dan memasok jalan yang berkelanjutan, tahan iklim, dan melingkar ini, terbuat dari limbah plastik kota dan “dengan dampak negatif sekecil mungkin pada planet dan sumber daya alam kita”.

    Ganti kemasan plastik dengan rumput laut
    Salah satu solusi ilmiah paling signifikan untuk polusi plastik yang muncul dalam beberapa tahun terakhir adalah bioplastik. Alternatif plastik terdiri dari bahan yang dihasilkan dari sumber biomassa terbarukan.

    Perusahaan rintisan Indonesia Evoware telah meneliti cara mengubah rumput laut menjadi bioplastik. Mereka bekerja sama dengan petani rumput laut setempat untuk membuat berbagai jenis kemasan seperti sandwich wrap, burger wrap, sachet untuk rempah-rempah.

  • Serunya Pandawara dan Warga Bandar Lampung Bersihkan Salah Satu Pantai Terkotor di Indonesia

    Serunya Pandawara dan Warga Bandar Lampung Bersihkan Salah Satu Pantai Terkotor di Indonesia

    7cloud.asia – Aksi keren awak Pandawara membersihkan sampah plastik ternyata menginspirasi banyak warga Indonesia untuk membersihkan lingkungna mereka. 

    Hal ini antara lain dibuktikan dengan aksi bersih-bersih sampah plastik dari Pantai Sukaraja, Bandar Lampung yang disebut sebagai pantai terkotor nomor dua di Indonesia.

    Dengan dimotori awak Pandawara, ribuan warga Lampung turun bersama membersihkan lautan sampah plastik yang mengotori Pantai Sukaraja pada Senin (10/7/2023).

    Baca: Aksi keren Pandawara bersihkan sampah plastik

    Aksi bersih-bersih sampah plastik di Pantai Sukaraja ini berawal dari Tiktokers Pandawara mengajak masyarakat di Kota Bandar Lampung untuk bersih-bersih pantai.

    “Warga Lampung mohon maaf, tanpa mengurangi rasa hormat, pantai terkotor nomor dua ada di Kota Kalian. Dicari seribu orang warga Lampung untuk mengurangi sampah di daerah ini. Untuk warga Lampung Let’s Join In The Party. Untuk kegiatan bersih-bersih akan dilakukan pada Senin (10/7/2023) dimulai pukul 07.00,” tulis Pandawara di akun Tiktoknya

    Dari tiktok Pandawara inilah, kemudian ribuan warga Lampung tergerak untuk bersama-sama membersihkan Pantai Sukaraja.

    Baca: Pengembangan teknologi untuk megolah sampah plastik

    Sejak pukul 07.00 Wib, warga telah berdatangan. Hujan deras yang sempat mengguyur lokasi tersebut, tidak menyurutkan semangat warga untuk membersihkan sampah plastik yang menutupi pinggir pantai.

    Setelah menumpuk puluhan tahun lamanya, sampah plastik yang menutupi bibir Pantai Sukaraja, Bandar Lampung akhirnya dibersihkan.

    Terlihat, ribuan warga Kota yang berjuluk Tapis Berseri tumpah membersihkan pantai yang berlokasi di Jalan Ikan Selar, Sukaraja, Kecamatan Bumi Waras Bandar Lampung tersebut.

    Baca: KLHK ajak masyarakat boikot produk yang tak pedulikan sampah plastik mereka

    Sejumlah warga setempat mengungkapkan, dengan dilaksanakan kegiatan bersih-bersih oleh Pandawara ini bisa membantu para nelayan sekitar.

    Mereka para nelayan ini mengaku terbantu bantu bener untuk nelayan. Sampah plastik yang sudah menumpuk sejak tahun 2004 akhirnya dibersihkan.

    “Sampah ini dari mana-mana, dari sungai ke laut, terus ketarik payang dan numpuk di sini,” kata Bonge, salah seorang warga setempat sebagaimana dikutip Kompas TV. 

    Baca: Kolaborasi pemerintah-produsen dan warga untuk kurangi sampah plastik

    Payang adalah pukat kantong yang digunakan untuk menangkap gerombolan ikan permukaan. Karena sampah plastik maka tangkapan nelayan menurun.

    “Ini sangat berpengaruh bagi kami para nelayan, bukannya narik ikan malah narik sampah yang dapet,” sambung dia.

    Dalam kesempatan itu, awak Pandawara juga memberikan edukasi terkait bahaya sampah plastik untuk lingkungan. Pandawara mengajak warga untuk tidak membuang sampah sembarangan dan mengurangi sampah plastik.

    Baca: Robries memberi nilai lebih pada sampah plastik

    Imron, selaku Kepala Lingkungan RT 09. menyampaikan, di lokasi tersebut sebenarnya ada pengolahan sampah tetapi saat ini sudah tidak berfungsi.

    “(Pengolahan sampah) pernah ada, sekitar tahun 2010. Sempat berfungsi sebentar lalu enggak berfungsi lagi. Tapi kalau bersih-bersih memang kita selalu rutin bersih-bersih, tapi sampah selalu numpuk di sini,” pungkasnya.

    Ia berharap, warga di daerah hulu untuk tidak membuang sampah plastik yang kemudian mengotori pantai seperti ini. 

    Baca: Sampah styrofoam masih banjiri teluk Jakarta

  • Yuk! Kenali Jenis Sampah Plastik dan Nilai Ekonominya

    Yuk! Kenali Jenis Sampah Plastik dan Nilai Ekonominya

     
    7cloud.asia – Beberapa tahun belakangan ini pemerintah mulai menerapkan kebijakan yang membatasi penggunaan barang berbahan plastik guna mengurangi sampah plastik.
     
    Pembatasan penggunaan air mineral dalam botol plastik dan kantong belanja plastik sudah mulai berlaku secara merata guna mengurangi sampah plastik.
     
    Tidak hanya itu, untuk mengurangi sampah plastik Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) juga sudah menerapkan aturan pelarangan penggunaan botol plastik di dalam lingkungan kementrian.
     
    Dampak terbesar yang dipicu sampah plastik adalah mengganggu habitat dan kesehatan makhluk hidup. Ini karena hewan bisa secara tidak sengaja mengonsumsi sampah plastik dan keracunan dan mati.
     
    Sampah plastik yang tidak bisa didaur-ulang akan memicu berbagai masalah lingkungan, karena zat yang terkandung di dalamnya bisa mencemari tanah dan air. 
     
    Meski penggunaan plastik dibatasi, produksi sampah plastik di Indonesia masih tergolong tinggi. Indonesia merupakan salah satu produsen sampah plastik terbesar di dunia.
     
    Kondisi ini diperburuk oleh rendahnya kemampuan daur ulang sampah plastik di Indonesia.
    Di sisi lain, masih banyak yang tergantung pada sampah plastik. Diperkirakan ada 3,7 juta orang di 25 provinsi yang masih bergantung pada sampah plastik dan sampah daur ulang. 
    Sampah plastik memang masih memiliki nilai ekonomi. Sampah plastik dihargai Rp500/kg untuk plastik kresek dan mulai dari Rp5.000/kg untuk sampah botol.
     
    Karena nilainya yang masih tinggi maka sampah plastik didaur ulang kembali agar lebih
    bermanfaat dan bisa digunakan. Namun demikian, sampah plastik harus diolah dengan baik dan benar agar tidak mencemari lingkungan.
     
     
    Sampah plastik tidak hanya terdiri dari satu tipe saja. Ada beberapa jenis sampah plastik yang berbeda dan setiap sampah tersebut membutuhkan penanganan yang berbeda juga.
     
    Tidak semua sampah plastik bisa didaur ulang kembali karena ada beberapa jenis yang membutuhkan proses khusus agar bisa digunakan kembali. 
     
    Di bawah ini beberapa jenis sampah plastik yang bisa ditemui di sekitar kita: 
     
    Sedotan
    Sedotan merupakan salah satu sampah plastik yang tidak bisa didaurulang. Sedotan plastik juga sering membawa masalah bagi mamalia laut karena mereka menganggap plastik sedotan sebagai makanan.
     
    Kondisi ini sangatlah mengkhawatirkan karena plastik tidak akan bisa dicerna oleh hewan dan akan membuatnya tersedak bahkan meninggal. Plastik sedotan sangat berbahaya dan harus menjadi salah satu prioritas untuk di daur ulang.
     
     
    Sampah plastik kantong belanja
    Kantong belanja juga merupakan jenis sampah plastik yang paling mudah ditemukan. Sampah berjenis kantong plastik belanja biasanya berbahan dasar Low Density Polyethylene atau LDPE yang bisa terurai secara alami meskipun butuh waktu yang sangat lama.
     
    Hingga saat ini juga sudah mulai ada banyak alternatif kantong belanja lain yang bisa digunakan oleh Anda agar dapat mengurangi pengunaannya.

     
    Sampah botol plastik
    Botol plastik merupakan salah satu jenis sampah plastik yang banyak ditemui. Botol plastik biasanya berasal dari minuman kemasan.
     
    Botol plastik dibuat dengan berbahan dasar Polyethylene Terephtalate atau disebut juga sebagai plastik PET.
     
    Botol plastik berbahan dasar PET umumnya mempunyai warna bening dan tidak boleh untuk digunakan sebagai tempat penyimpanan minum lebih dari satu kali.
     
     
    Sampah botol plastik juga mempunyai kandungan yang berbahaya apabila terkena air panas oleh karena itu sampah plastik jenis ini butuh pengolahan yang ekstra hati – hati.
     
    Botol shampoo atau kosmetik.
    Sampah plastik yang satu ini  mempunyai bahan dasar High Density Polyethylene dengan sifatnya yang lebih tebal daripada LDPE.
     
    Plastik yang berbahan dasar HDPE membutuhkan proses yang lebih rumit dan panjang agar bisa diolah dan menjadi hancur.
     
    Tapi karena sifatnya yang cenderung lebih padat, membuat plastik HDPE menjadi cocok untuk didaur ulang kembali menjadi sesuatu yang lebih bernilai jual.
     
     
     
  • Menutup Bulan Juli, Koalisi Pawai Bebas Plastik Desak Transparansi Pengelolaan Sampah Plastik

    Menutup Bulan Juli, Koalisi Pawai Bebas Plastik Desak Transparansi Pengelolaan Sampah Plastik

    7cloud.asia – Setiap tahunnya, tanggal 3 Juli diperingati sebagai International Plastic Bag Free Day atau Hari Tanpa Kantong Plastik Sedunia untuk mengurangi polusi plastik. Di Indonesia, setiap bulan Juli diperingati sebagai bulan bebas plastik.

    Gerakan bebas plastik ini untuk mengingatkan betapa seriusnya dampak yang diakibatkan polusi plastik.

    Sekitar satu juta kantong plastik sekali pakai digunakan di seluruh dunia tiap menitnya, sementara kantong plastik sendiri memerlukan waktu hingga ratusan tahun untuk dapat terurai.

    Oleh sebab itu masyarakat diajak untuk secara bertahap mengurangi polusi plastik dengan menghindari pemakaian kantong plastik sekali pakai. 

    Namun organisasi lingkungan dunia Greenpeace mengingatkan, obrolan tentang polusi plastik seyogyanya tidak hanya ramai saat bulan bebas plastik atau di bulan Juli saja.

    Baca: Pawai Bebas Plastik 2023 usung tiga tuntutan

    Setiap saat, demikian Greenpeace menegaskan, bahaya polusi plastik harus digaungkan hingga perubahan dibuat.

    Di akun resminya, Greenpeace mengingatkan, Indonesia mempunyai target yang cukup ambisius terkait pengurangan sampah dan polusi plastik di laut. Yaitu 70 persen hingga tahun 2025.

    Menutup bulan Juli tahun lalu, Greenpeace mengajak masyarakat merekap bagaimana kondisi polusi plastik di sekitar kita dan apa tuntutan kita terhadap kondisi tersebut.

    Bagaimana kondisi polusi plastik di sekitar kita atau Indonesia saat ini?

    Hasil riset terbaru dari Waste4Change yang dirilis bulan Juli 2022, menunjukkan kalau 87,5% atau lebih dari 240 ton per hari sampah plastik fleksibel di DKI Jakarta tidak didaur-ulang, berdasarkan data tahun 2021.

    Baca: Kenali jenis sampah plastik dan nilai ekonominya

    Mengutip riset tersebut via Databoks, yang termasuk sampah plastik fleksibel adalah berbagai bentuk sampah yang lapisannya terdiri dari dari aluminium foil, film plastik, selopan, film plastik berlapis aluminium, dan lain-lain.

    Menurut World Economic Forum (2021), Indonesia menghasilkan 6,8 juta ton sampah plastik setiap tahunnya dan sebagian besar tidak dibuang dengan cara yang benar.

    Pembakaran sampah secara terbuka adalah praktek yang justru terus dilakukan oleh masyarakat, dan menjadi sumber polusi udara selain dari PLTU Batubara dan kendaraan bermotor.

    Laporan National Plastic Action Partnership (2020), menyebutkan kalau hanya 10% sampah plastik di Indonesia yang terdaur ulang, sedangkan persentase yang besar yaitu 61%-nya justru tidak terkelola.

    Proyek The Guardian, Seascape, merilis berbagai jenis plastik dan tempat ditemukannya di berbagai penjuru lautan.

    Baca: KLHK ajak warga ‘boikot’ produk yang tak peduli sampah plastik yang dihasilkannya

    Kantong plastik, botol plastik, dan kemasan plastik pembungkus ditemukan di hampir seluruh bagian lautan; di tepi pantai, perairan sekitar pantai, dasar laut dekat pantai, hingga dasar laut yang dalam.

    Dari berbagai fakta di atas, polusi plastik sudah mencapai titik yang kritis. Kita dapat memilih untuk hidup secara berbeda dan membangun cara yang lebih bijaksana serta lebih adil dalam memproduksi dan mengkonsumsi.

    Namun pengurangan polusi sampah ini tidak bisa hanya bergantung pada aksi-aksi individual. Perubahan perilaku yang dilakukan masyarakat belum terwadahi.

    “Harus ada sistem yang mewadahi perubahan positif ini. Harus ada aturan yang memaksa industri/perusahaan menghasilkan produk non plastik,” tandas Atha Rasyadi, Pengkampanye Urban Greenpeace Indonesia dalam jumpa pers terkait Pawai Bebas Plastik, Kamis (27/7/2023).

    Baca: Perlu tindakan kolektif untuk atasi polusi plastik

    Ia menambahkan, Lewat Peraturan Menteri Lingkungan Hidup & Kehutanan (LHK) P.75/2019, pemerintah sudah mewajibkan para produsen menyusun dan melaporkan rencana untuk mengurangi timbulan sampah berbentuk peta jalan selama 10 tahun ke depan.

    Namun, hingga 2022 sangat sedikit perusahaan yang sudah mengimplementasikan kebijakan ini. 

    dan, baru sekitar 30 produsen yang menyerahkan rencana peta jalan pengurangan sampahnya ke Kementerian LHK.

    “Maka, kami masih menanti aksi nyata dari para produsen untuk menyetorkan dan membuka peta jalan pengurangan sampahnya ke publik agar kami bisa ikut mengawal,” imbuh Atta.

    Mirisnya lagi, perusahaan yang sudah mengimplementasikan pengurangan polusi plastik lebih banyak di sektor hilir atau mengolah sampah plastik yang dihasilkan. Padahal menurutnya, yang lebih penting adalah mengurangi sampah plastik dari hulu.

    Baca: Beragam teknologi yang dikembangkan untuk atasi polusi plastik

    Karena itulah, Greenpeace Indonesia bersama Koalisi Pawai Bebas Plastik akan kembali turun ke jalan pada 30 Juli lalu dalam Pawai Bebas Plastik 2023. 

    Lewat pawai ini, Koalisi Pawai Bebas Plastik yang beranggotakan 47 organisasi dan komunitas juga menuntut para produsen untuk menghentikan penggunaan plastik sekali pakai seperti sachet untuk kemasannya dan beralih ke program guna ulang dan isi ulang (reuse & refill).

    “Karena kemasan sachet sulit didaur-ulang, mencemari lingkungan, dan akan semakin memperparah polusi plastik di sekitar kita,” ujar Tiza Mafira, Direktur Eksekutif Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik dalam kesempatan yang sama.

    Nah, buat kamu yang tertarik dan ingin terlibat dalam aksi mengurangi polusi plastik ini, kamu bisa mendukungnya dengan mulai melakukan gerakan bebas plastik sekarang juga. 

    Kamu juga bisa mendukung gerakan bebas plastik ini untuk bisa terus berkampanye dengan independen dan menuntut perubahan melalui donasi. Karena masa depan yang bebas plastik menjadi mungkin dengan dukungan individu yang peduli seperti kamu.

    Baca: Apakah bioplastik benar-benar tak memicu polusi plastik?

  • Perjalanan Pawai Bebas Plastik dari 2019-2023 dan Capaiannya

    Perjalanan Pawai Bebas Plastik dari 2019-2023 dan Capaiannya

    7cloud.asia – Pada Minggu (30/7/2023) besok akan digelar Pawai Bebas Plastik di sejumlah kota di Indonesia. Di Jakarta, Pawai Bebas Plastik akan dihelat di Jalan Jenderal Sudirman mulai dari Stasiun MRT Benhil hingga Bundaran HI.

    Pawai Bebas Plastik mulai digelar pada 2019 sebagai media kampanye mengurangi sampah plastik yang semakin menjadi ancaman nyata bagi lingkungan.

    Gerakan ini pertama kali diinisiasi oleh beberapa organisasi lingkungan seperti Divers Clean Action, EcoNusa, Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik, Greenpeace Indonesia, Indorelawan, Pandu Laut Nusantara, Pulau Plastik, dan WALHI pada tahun 2019.

    Baca: Tiga tuntutan Pawai Bebas Plastik 2023

    Memasuki kali kelima dilaksanakannya Pawai Bebas Plastik sejumlah capaian berarti berhasil ditorehkan koalisi yang kini beranggotakan 47 organisasi dan komunitas ini.

    Tiza Mafira, Direktur Eksekutif Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik yang menjadi salah satu motor Pawai Bebas Plastik mengatakan dalam beberapa tahun terakhir sejumlah kemajuan terkait penanganan sampah plastik.

    Pawai Bebas Plastik, menurut Tiza, berhasil membangun kesadaran masyarakat untuk lebih terlibat dalam upaya menanggulangi sampah plastik. 

    Baca: Pawai Bebas Plastik 2023 tuntut transparansi perusahaan tangani sampah plastik

    Organisasi yang terlibat dalam Pawai Bebas Plastik yang awalnya hanya 8 organisasi kini telah bertambah menjadi 47 organisasi dan komunitas,

    Pawai Bebas Plastik juga berhasil mendorong lahirnya kebijakan dalam penanganan sampah plastik.

    “Setelah Pawai Bebas Plastik pertama pada Juli 2019, di akhir tahun itu pemerintah provinsi DKI Jakarta merilis aturan yang melarang penggunaan kantung plastik sekali pakai,” terang Tiza  di sela jumpa pers terkait penyelenggaraan Pawai Bebas Plastik 2023, Kamis (27/7/2023) di Jakarta.

    Baca: Koalisi Pawai Bebas Plastik kampanyekan sistem guna ulang

    Ia menambahkan, saat ini setidaknya ada 100 kota/kabupaten yang telah memiliki aturan yang dinilai efektif mengurangi sampah plastik tersebut, Diharapkan, ke depan semakin banyak kota/kabupaten yang menerapkan kebijakan serupa.

    Pada 2020 Pawai Bebas Plastik harus dilakukan sedara daring karena pandemi Covid-19. namun kampanye untuk menurunkan sampah plastik terus dilakukan.

    Lalu pada 2021, Koalisi Pawai Bebas Plastik menyoroti meningkatnya volume sampah plastik yang dihasilkan dari packaging belanja online.  

    Baca: KLHK ajak warga boikot produk yang nggak peduli sampah plastik

    Saat itu, terang Tiza, Koalisi Pawai Bebas bersama-sama mendatangi kantor salah satu e-commerce menuntut disediakannya packaging yang lebih ramah lingkungan dan minimal menghasilkan sampah plastik.

    “Kami mendesak pelaku e-commerce untuk memberikan opsi bagi konsumen untuk memilih  packaging yang lebih ramah lingkungan meski untuk itu harus ada biaya lebih besar,” imbuh Tiza.

    Sayang sampai saat ini tanggapan belum seperti yang diharapkan, tapi lewat berbagai aksi ini, baik e-commerce dan masyarakat sudah lebih menyadari ada resistensi pada sampah plastik.

    Baca: Daftar produsen sampah plastik terbesar di dunia

    Pawai Bebas Plastik kembali dilanjutkan pada 2022 secara daring dengan mengusung empat tuntutan terkait pengelolaan sampah plastik.

    Tuntutan yang diusung dalam Pawai Bebas Plastik kala itu adalah kewajiban memilah sampah, pengelolaan sampah organik yang lebih baik sehingga tidka semua sampah diuang ke TPA, larangan kantung plastik sekali pakai dan daur ulang sampah anorganik. 

    Menggaris bawahi penjelasannya, Tiza menegaskan bahwa inisiatif individu dan organisasi masyakarat ini akan lebih efektif mengurangi sampah plastik ini jika didukung dengan kebijakan sehingga terbangun sistem yang lebih ramah lingkungan.  

    Baca: Solusi sampah plastik harus libatkan pemerintah-produsen dan konsumen

     

  • 5 Perusahaan Penghasil Sampah Plastik Terbesar Ini Mulai Memikirkan Daur Ulang

    5 Perusahaan Penghasil Sampah Plastik Terbesar Ini Mulai Memikirkan Daur Ulang

    7cloud.asia – Sampah plastik masih menjadi momok besar yang mengancam dunia. Produksi sampah plastik terus meningkat sementara kemampuan untuk mendaur ulang belum mencapai kemajuan berarti.

    Laporan Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) yang dirilis 22 Februari 2022 menyebut, jumlah sampah plastik yang dihasilkan pada 2021 meningkat lebih dari dua kali lipat dibanding sebelumnya menjadi 353 juta ton.

    Fortuneidn.com mengutip Japan Today mennulis Laporan OECD itu juga menggarisbawahi bahwa sampah plastik menyumbang 3,4 persen dari emisi rumah kaca global pada 2019.

    Data The Changing Markets Foundation pada 2020 memuat beberapa perusahaan yang berada di peringkat teratas produksi kemasan plastik yang kemudian menjadi sampah plastik terbanyak di dunia.

    Perusahaan-perusahaan itu turut menyumbang peningkatan sampah plastik secara global termasuk di Indonesia.

    Kabar baiknya, perusahaan-perusahaan penghasil sampah plastik terbesar itu kini mulai mendaur-ulang sampah plastik yang dihasilkannya.

    Baca: Kampanye konsep guna ulang untuk kurangi sampah plastik

    Berikut ini lima perusahaan dengan produksi kemasan plastik terbanyak di dunia sebagaimana dilansir fortuneidn.com: 

    1. The Coca-Cola Company

    Didirikan pada 1982 di Georgia, Amerika Serikat, The Coca-Cola Company  produk mereka mendunia. Bahkan Coca Cola memiliki restoran dan mesin penjualan yang tersebar di lebih dari 200 negara. 

    Diperkirakan, The Coca-Cola Company memproduksi kemasan plastik sebanyak 2.900.000 ton untuk produk mereka. Meskipun begitu, perusahaan ini sudah memiliki beberapa rencana untuk mengurangi sampah plastik yang diproduksi. 

    Salah satunya, mulai 1 Agustus 2022 Coca Cola akan mengubah kemasan soda lemon-lime Sprite dari hijau menjadi plastik bening.

    Pasalnya, plastik botol hijau Sprite disebut mengandung green polietilena tereftalat hijau (PET). Meskipun dapat didaur ulang, zat aditif tersebut tidak dapat secara khusus didaur ulang menjadi botol baru.

    Pada 2025, Coca Cola akan mengurangi penggunaan sedotan plastik. Khusus di Australia, penggunaan sedotan plastik akan digantikan dengan sedotan yang berbahan dasar kertas. 

    Adapun target lain yang hendak dicapai Coca Cola adalah, pada 2030, perusahaan ini menargetkan mampu mendaur ulang 50 persen dari kemasan botol ataupun plastik yang mereka produksi.

    Baca: KLHK ajak warga boikot produk yang tak peduli sampah plastik

    2. PepsiCo

    PepsiCo didirikan pada 1965 melalui penggabungan Pepsi-Cola dan Frito-Lay. Kompetitor The Coca-Cola Company ini menempati posisi kedua sebagai perusahaan yang memproduksi kemasan plastik terbanyak. 

    PepsiCo diperkirakan memproduksi kemasan plastik sebanyak 2.300.000 ton untuk kemasan produk makanan dan minuman ringan mereka.

    Namun, perusahaan menargetkan 25 persen kemasan plastik dapat mereka daur ulang pada 2025. Pihak PepsiCo mengatakan telah menetapkan tujuan pengurangan plastik termasuk mengurangi plastik murni sebesar 35 persen pada 2025 mendatang.

    Selain itu, PepsiCo juga megembangkan isi ulang dan penggunaan kembali melalui bisnis seperti SodaStream dan SodaStream Professional.

    “Program ini kami perkirakan akan menghindari 67 miliar botol plastik sekali pakai hingga 2025,” kata seorang juru bicara PepsiCo, dilansir dari The Guardian, Jumat (16/9/2022).

    Baca: Koalisi Bebas Plastik desak transparansi soal pengelolaan sampah plastik 

    3. Nestlé

    Nestlé dibentuk pada tahun 1905 melalui penggabungan antara Anglo-Swiss Milk Company dan Farine Lactée Henri Nestlé. Perusahaan multinasional yang berkantor pusat di Swiss ini memproduksi berbagai jenis produk mulai dari makanan hingga minuman. 

    Dalam pengemasan, Nestle menggunakan 1.700.000 ton kemasan plastik. Hingga kini Nestlé masih menggunakan kemasan satu kali pakai. Meskipun demikian, Nestlé sedang mencari kemasan alternatif lain selain plastik, yang dapat digunakan satu kali pakai dan inovasi lainnya.

    Misalnya, pada 2019 Nestlé Indonesia meluncurkan inovasi berupa sedotan kertas untuk minuman kemasan produk mereka. Terobosan itu didasari oleh dukungan terhadap target pemerintah mengurangi sampah plastik hingga 70 persen pada 2025.

    Executive Vice President Nestlé SA untuk Zona Asia, Oceania dan Afrika Sub-Sahara (AOA) Chris Johnson menjelaskan, inisiatif ini merupakan kontribusi terkini pihaknya untuk mewujudkan komitmen Nestlé untuk mendaur ulang dan menggunakan kembali 100 persen kemasan pada tahun 2025.

    Selain itu, perusahaan juga memiliki rencana mengenai penggunaan kemasan yang dapat digunakan kembali dengan sistem refill. Kini, rencana tersebut sedang diproses dan berada dalam tahap uji coba.

    Baca: Tiga tuntutan koalisi bebas plastik

    4. Danone

    Danone merupakan produsen makanan dan minuman terbesar di dunia yang berpusat di Prancis.
     
    Di Indonesia, Danone mengembangkan 4 kategori utama dalam bisnisnya, yaitu produk susu segar, nutrisi awal kehidupan, air, dan gizi medis. 

    Beberapa produk tersebut dikemas dengan menggunakan kemasan plastik. Adapun jumlah kemasan plastik yang diproduksi perusahaan ini adalah 820.000 ton. 

    Dalam upaya mengurangi sampah plastik, Danone telah menargetkan 25 persen pendaurulangan untuk semua kemasan plastik di tahun 2025. Adapun di 2050, Danone menargetkan 50 persen daur ulang untuk kemasan botol.

    Baca: Cara asyik kurangi sampah plastik

    5. P&G

    Procter & Gamble Co. (P&G) didirikan pada 1837 dan berkantor pusat di Cincinnati, Ohio, Amerika Serikat (AS).
     
    Perusahaan multinasional ini memiliki beberapa produk, seperti produk untuk perawatan bayi, perawatan tubuh, perawatan rambut, perawatan rumah, perawatan mulut, dan lainnya.
     
    Produk-produk tersebut banyak dikemas dengan menggunakan kemasan plastik yang kemudian menjadi sampah plastik.

    Jumlah kemasan plastik yang kemudian menjadi sampah plastik yang diproduksi P&G diperkirakan  mencapai 714.000 ton.

    P&G pada 2025 menargetkan untuk melakukan daur ulang terhadap 8 persen kemasan plastik yang mereka produksi. 

    Baca: apakah bioplastik benar-benar aman untuk lingkungan

     

     
  • Susi Pudjiastuti dan Aurellie Moeremans Ikut Ramaikan Pawai Bebas Plastik 2023

    Susi Pudjiastuti dan Aurellie Moeremans Ikut Ramaikan Pawai Bebas Plastik 2023

    7cloud.asia – Mantan Menteri KKP Susi Pudjiastuti dan aktris Aurellie Moeremans mengikuti Pawai Bebas Plastik 2023 yang dihelat sejumlah organisasi lingkungan pada Minggu (30/7/2023) pagi.

    Pawai Bebas Plastik 2023 ini merupakan kali kelima diselenggarakan dan bertujuan untuk mengurangi sampah plastik dengan melarang penggunaan plastik sekali pakai.

    Di pawai bebas plastik 2023 ini, Susi Pudjiastuti membawa poster bertuliskan “tolak sekali pakai” yang dibuat dari kardus bekas.  

    Baca Juga: Digelar pada Minggu 30 Juli, Pawai Bebas Plastik 2023 Usung Tiga Tuntutan Tuk Atasi Polusi Plastik

    Pawai Bebas Plastik 2023 yang diikuti berbagai organisasi dan komunitas itu mengusung tiga tuntutan utama yakni:

    Pertama, Pawai Bebas Plastik menyerukan pemerintah untuk mengambil langkah-langkah tegas dalam melarang penggunaan plastik sekali pakai.

    Larangan ini bertujuan untuk mengurangi konsumsi plastik sekali pakai yang berkontribusi pada peningkatan volume sampah plastik.

    Dengan melarang penggunaan plastik sekali pakai, diharapkan masyarakat akan beralih ke alternatif yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

    Baca Juga: 5 Perusahaan Penghasil Sampah Plastik Terbesar Ini Mulai Memikirkan Daur Ulang

    Pawai Bebas Plastik juga menyerukan pemerintah untuk memperbaiki sistem tata kelola sampah yang ada.

    Ini mencakup langkah-langkah seperti peningkatan infrastruktur pengelolaan sampah plastik, pengembangan program daur ulang yang efektif, peningkatan ketersediaan tempat pembuangan sampah yang sesuai.

    Pawai Bebas Plastik 2023 juga meminta pemerintah untuk meningkatkan edukasi masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah yang baik, terutam auntuk sampah plastik yang sangat merusak lingkungan.

    Dengan sistem tata kelola sampah yang lebih baik, diharapkan sampah, termasuk sampah plastik, dapat ditangani secara lebih efisien dan berkelanjutan.

    Baca Juga: Menutup Bulan Juli, Koalisi Pawai Bebas Plastik Desak Transparansi Pengelolaan Sampah Plastik

    Terakhir, Pawai Bebas Plastik mendorong produsen dan pelaku usaha untuk bertanggung jawab atas sampah plastik pasca konsumsi.

    Salah satu aspek penting dalam penanganan sampah plastik adalah tanggung jawab produsen terhadap sampah yang dihasilkan oleh produk dan kemasannya.

    Pawai Bebas Plastik mendorong produsen dan pelaku usaha untuk bertanggung jawab secara penuh atas sampah pasca konsumsi.

    Ini melibatkan pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, penggunaan kemasan yang ramah lingkungan, dan pelaksanaan program tanggung jawab produsen, seperti daur ulang atau pengelolaan sampah produk mereka.

    Baca Juga: Yuk! Kenali Jenis Sampah Plastik dan Nilai Ekonominya

    Dengan melibatkan produsen dalam tanggung jawab penuh atas sampah yang dihasilkan, diharapkan dapat tercipta siklus produksi yang lebih berkelanjutan dan mengurangi dampak negatif sampah plastik terhadap lingkungan.

    Dengan menyerukan tiga tuntutan ini, Pawai Bebas Plastik berharap dapat mendorong perubahan kebijakan, kesadaran masyarakat, dan tanggung jawab produsen dalam menghadapi masalah sampah plastik.

    “Semua pihak, termasuk pemerintah, produsen, dan masyarakat, harus bekerja sama untuk mencapai pengurangan dan penanganan sampah plastik,” demikian seruan koalisi pawai bebas plastik.

    Baca Juga: Perjalanan Pawai Bebas Plastik dari 2019-2023 dan Capaiannya