Menutup Bulan Juli, Koalisi Pawai Bebas Plastik Desak Transparansi Pengelolaan Sampah Plastik

Written by

in

7cloud.asia – Setiap tahunnya, tanggal 3 Juli diperingati sebagai International Plastic Bag Free Day atau Hari Tanpa Kantong Plastik Sedunia untuk mengurangi polusi plastik. Di Indonesia, setiap bulan Juli diperingati sebagai bulan bebas plastik.

Gerakan bebas plastik ini untuk mengingatkan betapa seriusnya dampak yang diakibatkan polusi plastik.

Sekitar satu juta kantong plastik sekali pakai digunakan di seluruh dunia tiap menitnya, sementara kantong plastik sendiri memerlukan waktu hingga ratusan tahun untuk dapat terurai.

Oleh sebab itu masyarakat diajak untuk secara bertahap mengurangi polusi plastik dengan menghindari pemakaian kantong plastik sekali pakai. 

Namun organisasi lingkungan dunia Greenpeace mengingatkan, obrolan tentang polusi plastik seyogyanya tidak hanya ramai saat bulan bebas plastik atau di bulan Juli saja.

Baca: Pawai Bebas Plastik 2023 usung tiga tuntutan

Setiap saat, demikian Greenpeace menegaskan, bahaya polusi plastik harus digaungkan hingga perubahan dibuat.

Di akun resminya, Greenpeace mengingatkan, Indonesia mempunyai target yang cukup ambisius terkait pengurangan sampah dan polusi plastik di laut. Yaitu 70 persen hingga tahun 2025.

Menutup bulan Juli tahun lalu, Greenpeace mengajak masyarakat merekap bagaimana kondisi polusi plastik di sekitar kita dan apa tuntutan kita terhadap kondisi tersebut.

Bagaimana kondisi polusi plastik di sekitar kita atau Indonesia saat ini?

Hasil riset terbaru dari Waste4Change yang dirilis bulan Juli 2022, menunjukkan kalau 87,5% atau lebih dari 240 ton per hari sampah plastik fleksibel di DKI Jakarta tidak didaur-ulang, berdasarkan data tahun 2021.

Baca: Kenali jenis sampah plastik dan nilai ekonominya

Mengutip riset tersebut via Databoks, yang termasuk sampah plastik fleksibel adalah berbagai bentuk sampah yang lapisannya terdiri dari dari aluminium foil, film plastik, selopan, film plastik berlapis aluminium, dan lain-lain.

Menurut World Economic Forum (2021), Indonesia menghasilkan 6,8 juta ton sampah plastik setiap tahunnya dan sebagian besar tidak dibuang dengan cara yang benar.

Pembakaran sampah secara terbuka adalah praktek yang justru terus dilakukan oleh masyarakat, dan menjadi sumber polusi udara selain dari PLTU Batubara dan kendaraan bermotor.

Laporan National Plastic Action Partnership (2020), menyebutkan kalau hanya 10% sampah plastik di Indonesia yang terdaur ulang, sedangkan persentase yang besar yaitu 61%-nya justru tidak terkelola.

Proyek The Guardian, Seascape, merilis berbagai jenis plastik dan tempat ditemukannya di berbagai penjuru lautan.

Baca: KLHK ajak warga ‘boikot’ produk yang tak peduli sampah plastik yang dihasilkannya

Kantong plastik, botol plastik, dan kemasan plastik pembungkus ditemukan di hampir seluruh bagian lautan; di tepi pantai, perairan sekitar pantai, dasar laut dekat pantai, hingga dasar laut yang dalam.

Dari berbagai fakta di atas, polusi plastik sudah mencapai titik yang kritis. Kita dapat memilih untuk hidup secara berbeda dan membangun cara yang lebih bijaksana serta lebih adil dalam memproduksi dan mengkonsumsi.

Namun pengurangan polusi sampah ini tidak bisa hanya bergantung pada aksi-aksi individual. Perubahan perilaku yang dilakukan masyarakat belum terwadahi.

“Harus ada sistem yang mewadahi perubahan positif ini. Harus ada aturan yang memaksa industri/perusahaan menghasilkan produk non plastik,” tandas Atha Rasyadi, Pengkampanye Urban Greenpeace Indonesia dalam jumpa pers terkait Pawai Bebas Plastik, Kamis (27/7/2023).

Baca: Perlu tindakan kolektif untuk atasi polusi plastik

Ia menambahkan, Lewat Peraturan Menteri Lingkungan Hidup & Kehutanan (LHK) P.75/2019, pemerintah sudah mewajibkan para produsen menyusun dan melaporkan rencana untuk mengurangi timbulan sampah berbentuk peta jalan selama 10 tahun ke depan.

Namun, hingga 2022 sangat sedikit perusahaan yang sudah mengimplementasikan kebijakan ini. 

dan, baru sekitar 30 produsen yang menyerahkan rencana peta jalan pengurangan sampahnya ke Kementerian LHK.

“Maka, kami masih menanti aksi nyata dari para produsen untuk menyetorkan dan membuka peta jalan pengurangan sampahnya ke publik agar kami bisa ikut mengawal,” imbuh Atta.

Mirisnya lagi, perusahaan yang sudah mengimplementasikan pengurangan polusi plastik lebih banyak di sektor hilir atau mengolah sampah plastik yang dihasilkan. Padahal menurutnya, yang lebih penting adalah mengurangi sampah plastik dari hulu.

Baca: Beragam teknologi yang dikembangkan untuk atasi polusi plastik

Karena itulah, Greenpeace Indonesia bersama Koalisi Pawai Bebas Plastik akan kembali turun ke jalan pada 30 Juli lalu dalam Pawai Bebas Plastik 2023. 

Lewat pawai ini, Koalisi Pawai Bebas Plastik yang beranggotakan 47 organisasi dan komunitas juga menuntut para produsen untuk menghentikan penggunaan plastik sekali pakai seperti sachet untuk kemasannya dan beralih ke program guna ulang dan isi ulang (reuse & refill).

“Karena kemasan sachet sulit didaur-ulang, mencemari lingkungan, dan akan semakin memperparah polusi plastik di sekitar kita,” ujar Tiza Mafira, Direktur Eksekutif Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik dalam kesempatan yang sama.

Nah, buat kamu yang tertarik dan ingin terlibat dalam aksi mengurangi polusi plastik ini, kamu bisa mendukungnya dengan mulai melakukan gerakan bebas plastik sekarang juga. 

Kamu juga bisa mendukung gerakan bebas plastik ini untuk bisa terus berkampanye dengan independen dan menuntut perubahan melalui donasi. Karena masa depan yang bebas plastik menjadi mungkin dengan dukungan individu yang peduli seperti kamu.

Baca: Apakah bioplastik benar-benar tak memicu polusi plastik?

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *