Tag: sirkular

  • Perbuatan Manusia Mengakibatkan Siklus Air Terganggu: Upaya Menerapkan Sirkularitas Air

    Perbuatan Manusia Mengakibatkan Siklus Air Terganggu: Upaya Menerapkan Sirkularitas Air

    7cloud.asia – Ekonomi sirkular adalah sistem ekonomi yang dirancang untuk berkelanjutan dengan menjaga bahan dan produk tetap digunakan selama mungkin, sehingga menghilangkan limbah dan mengurangi polusi.

    Berbeda dengan ekonomi linier konvensional yang mengikuti pola “ambil, buat, buang” di mana sumber daya diekstraksi, diubah menjadi produk, dan akhirnya dibuang sebagai limbah, ekonomi sirkular bertujuan menciptakan sistem siklus tertutup.

    Dalam siklus tertutup, sumber daya terus mengalir melalui penggunaan kembali, perbaikan, pembaruan, dan daur ulang.

    Menariknya, aliran air juga membentuk proses melingkar, yang lebih dikenal sebagai siklus air atau siklus hidrologi: seiring meningkatnya suhu, air menguap dari badan air permukaan dan lautan membentuk uap air.

    Dalam proses yang disebut transpirasi, uap air juga dilepaskan dari dedaunan tanaman dan pepohonan. Ketika uap air naik ke suhu yang lebih dingin dan volumenya meningkat, awan, dan akhirnya presipitasi dalam bentuk hujan, salju, atau hujan es.

    Curah hujan yang jatuh di lautan dan daratan mengisi kembali kadar air badan air permukaan serta tanah.

    Baca: Perubahan iklim menuntut perombakan tata kelola air

    Curah hujan yang tidak mengalir atau mengisi ulang air tanah tetapi tersimpan di dalam tanah disebut air hijau – dan tidak tersedia untuk digunakan.

    Sementara itu, air biru mengacu pada air permukaan dan air tanah yang tersimpan di sungai, danau, akuifer, dan bendungan yang dapat diambil untuk konsumsi manusia.

    Tumbuhan dan pepohonan berkontribusi pada siklus air ini dengan menyerap kelembapan tanah dari akarnya dan melepaskan uap air dari daunnya.

    Akar dan dedaunannya memainkan peran penting dalam siklus air dengan mempertahankan kelembapan tanah dan memperlambat laju limpasan saat hujan.

    Aktivitas manusia dan perubahan iklim telah mengganggu siklus air secara signifikan, yang menyebabkan terlampauinya batas planet untuk air tawar. Bagaimana tepatnya tindakan manusia memengaruhi siklus hidrologi masih menjadi pertanyaan kritis.

    Urbanisasi telah mengubah bentang alam yang dulunya murni, menggantikan permukaan alami yang permeabel (dapat menyerap air) dengan beton yang kedap air.

    Baca: Masih banyak orang mengabaikan tata kelola air

    Pergeseran ini telah menyebabkan penurunan muka air tanah, yang pada akhirnya mengurangi pasokan air yang tersedia bagi penduduk perkotaan.

    Penurunan laju infiltrasi memiliki dampak lebih lanjut, seperti peningkatan risiko banjir bandang akibat meningkatnya limpasan permukaan ke badan air. 

    Selain itu, pencemaran yang dihasilkan dari wilayah perkotaan terbawa oleh limpasan dan mengendap di ekosistem perairan.

    Proses urbanisasi juga mengakibatkan penebangan pohon dan vegetasi, yang mengakibatkan penurunan transpirasi.

    Biasanya, pohon dan vegetasi menahan air dalam strukturnya, memfasilitasi pengisian ulang air tanah dengan membantu penyerapan dan retensi tanah.

    Baca: Polusi dan pengelolaan yang buruk memicu krisis air global

    Deforestasi menyebabkan erosi tanah, mengurangi kapasitasnya dalam menahan air, dan berdampak buruk pada pengisian ulang air tanah.

    Danau dan waduk air semakin banyak diserbu oleh perluasan pembangunan perkotaan, menggusur badan air alami dengan bangunan-bangunan.

    Perambahan ini mengurangi ketersediaan air minum, mengganggu laju penguapan dari sumber-sumber air ini, dan menghambat potensi pengisian ulang air tanah.

    Bahkan jika danau dibiarkan begitu saja, danau tersebut seringkali digunakan sebagai tempat pembuangan limbah dan limbah industri, yang mengakibatkan pencemaran air.

    Kontaminasi ini tidak hanya memengaruhi danau itu sendiri tetapi juga masuk ke dalam reservoir air tanah, sehingga airnya tidak layak untuk dikonsumsi.

    Semua kondisi ini mendorong lahirnya gagasan untuk kembali menerapkan sirkularitas dalam pengelolaan air. Bagaimana caranya,vakan diulas dalam artikel selanjutnya

    Artikel ini diterjemahkan dari Earth.com, baca artikel aslinya di sini.

     

  • Korea Selatan Terus Mendorong Sirkularitas di Sektor Garmen

    Korea Selatan Terus Mendorong Sirkularitas di Sektor Garmen

    7cloud.asia – Pemerintah Korea Selatan telah mengambil sejumlah langkah serius untuk menjadikan industri mode dan tekstil di negerinya lebih sirkular dan ramah lingkungan.

    Salah satunya, pemerintah Korea Selatan mengumumkan investasi sebesar 24,7 juta dolar untuk mendukung industri tekstil setempat dalam memajukan teknologi daur ulang serat komposit poliester.

    Menurut Kementerian Perdagangan, Industri, dan Energi Korea Selatan, serat komposit poliester merupakan bagian terbesar dari limbah tekstil dan pakaian bekas.

    “Kita harus menangani limbah kita sendiri,” ujar founder sekaligus CEO Wear Again Lab, Juyeon Jung seperti dikutip Earth.Org.

    Baru-baru ini, Jung mengusulkan rencana untuk menciptakan sistem sirkular penuh untuk pakaian bekas kepada pemerintah daerah ibu kota Korea Selatan, Seoul.

    Di tingkat nasional, Wear Again Lab telah mengadvokasi undang-undang yang melarang pembuangan stok yang tidak terjual oleh pengecer dan merek fesyen sejak tahun 2023.

    Secara global, menurut Jung, sekitar 30 persen pakaian yang diproduksi tidak pernah terjual kemudian dimusnahkan.

    Baca: Uni Eropa larang pemusnahan produk garmen yang tak laku dijual

    Pertukaran Pakaian
    Selain mengadvokasi lebih banyak regulasi dan undang-undang, Jung dan timnya menyelenggarakan pertukaran pakaian dan kelas perbaikan untuk meningkatkan kesadaran tentang dampak negatif industri mode.

    Jung mengatakan, dia dan timnya memulai pekerjaan mereka untuk lingkungan dan itulah pesan yang mereka sampaikan sejak awal.

    ”Saya hanya mencoba memasukkan unsur kesenangan dan kegembiraan ke dalam kampanye kami untuk memecah suasana sosial yang berat seputar diskusi lingkungan. Lagipula, itu harus menyenangkan agar praktik jangka panjang dapat berkelanjutan,” kata Jung.

    Dengan lebih dari 50 acara tukar pakaian dan perbaikan pakaian yang diselenggarakan setiap tahun di seluruh Korea Selatan, strategi ini tampaknya berhasil.

    “Awalnya, orang-orang yang tertarik pada lingkungan bergabung dengan acara kami, sekarang kami juga melihat semakin banyak orang yang menyukai mode bergabung. Jadi kami menjangkau kelompok orang yang lebih besar,” jelasnya.

    Baca: Industri fast fashion didesak lebih ramah lingkungan

    Pertumbuhan pasar pakaian bekas
    Belanja pakaian bekas semakin populer di Korea Selatan. Di daerah-daerah trendi di Seoul, toko-toko “retro” yang dipenuhi pakaian bekas, seringkali merek-merek mahal, bermunculan di setiap sudut.

    Penjualan online mendorong pasar penjualan kembali di negara ini ke tingkat yang lebih tinggi. Diperkirakan pasar akan mencapai 30 miliar dolar tahun ini, yang berarti menggandakan pangsa pasarnya dibandingkan tahun 2021.

    Riset pasar menunjukkan bahwa kenaikan harga dan meningkatnya preferensi terhadap konsumsi berkelanjutan adalah pendorong utama tren ini.

    Jung melihat meningkatnya popularitas pakaian bekas sebagai perkembangan positif, tetapi tetap berhati-hati: “Banyak orang membeli barang mahal dan kemudian menjualnya kembali dengan keuntungan. Itu adalah cara untuk menghasilkan uang.”

    Ia memperingatkan bahwa pada akhirnya, barang bekas bukanlah solusi untuk industri mode yang lebih berkelanjutan.

    “Kita sebagai konsumen harus membeli lebih sedikit dan menyimpan pakaian kita lebih lama. Dan kita membutuhkan sistem sirkular yang lebih teratur di mana ada tanggung jawab hingga akhir,” pungkasnya.

    Artikel ini diterjemahkan dari Earth.org, baca artikel asli di sini