7cloud.asia – Pemerintah Korea Selatan telah mengambil sejumlah langkah serius untuk menjadikan industri mode dan tekstil di negerinya lebih sirkular dan ramah lingkungan.
Salah satunya, pemerintah Korea Selatan mengumumkan investasi sebesar 24,7 juta dolar untuk mendukung industri tekstil setempat dalam memajukan teknologi daur ulang serat komposit poliester.
Menurut Kementerian Perdagangan, Industri, dan Energi Korea Selatan, serat komposit poliester merupakan bagian terbesar dari limbah tekstil dan pakaian bekas.
“Kita harus menangani limbah kita sendiri,” ujar founder sekaligus CEO Wear Again Lab, Juyeon Jung seperti dikutip Earth.Org.
Baru-baru ini, Jung mengusulkan rencana untuk menciptakan sistem sirkular penuh untuk pakaian bekas kepada pemerintah daerah ibu kota Korea Selatan, Seoul.
Di tingkat nasional, Wear Again Lab telah mengadvokasi undang-undang yang melarang pembuangan stok yang tidak terjual oleh pengecer dan merek fesyen sejak tahun 2023.
Secara global, menurut Jung, sekitar 30 persen pakaian yang diproduksi tidak pernah terjual kemudian dimusnahkan.
Baca: Uni Eropa larang pemusnahan produk garmen yang tak laku dijual
Pertukaran Pakaian
Selain mengadvokasi lebih banyak regulasi dan undang-undang, Jung dan timnya menyelenggarakan pertukaran pakaian dan kelas perbaikan untuk meningkatkan kesadaran tentang dampak negatif industri mode.
Jung mengatakan, dia dan timnya memulai pekerjaan mereka untuk lingkungan dan itulah pesan yang mereka sampaikan sejak awal.
”Saya hanya mencoba memasukkan unsur kesenangan dan kegembiraan ke dalam kampanye kami untuk memecah suasana sosial yang berat seputar diskusi lingkungan. Lagipula, itu harus menyenangkan agar praktik jangka panjang dapat berkelanjutan,” kata Jung.
Dengan lebih dari 50 acara tukar pakaian dan perbaikan pakaian yang diselenggarakan setiap tahun di seluruh Korea Selatan, strategi ini tampaknya berhasil.
“Awalnya, orang-orang yang tertarik pada lingkungan bergabung dengan acara kami, sekarang kami juga melihat semakin banyak orang yang menyukai mode bergabung. Jadi kami menjangkau kelompok orang yang lebih besar,” jelasnya.
Baca: Industri fast fashion didesak lebih ramah lingkungan
Pertumbuhan pasar pakaian bekas
Belanja pakaian bekas semakin populer di Korea Selatan. Di daerah-daerah trendi di Seoul, toko-toko “retro” yang dipenuhi pakaian bekas, seringkali merek-merek mahal, bermunculan di setiap sudut.
Penjualan online mendorong pasar penjualan kembali di negara ini ke tingkat yang lebih tinggi. Diperkirakan pasar akan mencapai 30 miliar dolar tahun ini, yang berarti menggandakan pangsa pasarnya dibandingkan tahun 2021.
Riset pasar menunjukkan bahwa kenaikan harga dan meningkatnya preferensi terhadap konsumsi berkelanjutan adalah pendorong utama tren ini.
Jung melihat meningkatnya popularitas pakaian bekas sebagai perkembangan positif, tetapi tetap berhati-hati: “Banyak orang membeli barang mahal dan kemudian menjualnya kembali dengan keuntungan. Itu adalah cara untuk menghasilkan uang.”
Ia memperingatkan bahwa pada akhirnya, barang bekas bukanlah solusi untuk industri mode yang lebih berkelanjutan.
“Kita sebagai konsumen harus membeli lebih sedikit dan menyimpan pakaian kita lebih lama. Dan kita membutuhkan sistem sirkular yang lebih teratur di mana ada tanggung jawab hingga akhir,” pungkasnya.
Artikel ini diterjemahkan dari Earth.org, baca artikel asli di sini

Leave a Reply