Tag: sirkularitas

  • Sirkularitas Membuat Teknologi Bersih Jadi Lebih Bersih

    Sirkularitas Membuat Teknologi Bersih Jadi Lebih Bersih

    7cloud.asia – Sektor energi bersih dibangun atas dasar keberlanjutan, tetapi ironisnya, infrastrukturnya tidak selalu ramah lingkungan dan tidak menerapkan prinsip sirkularitas.

    Panel surya dan bilah turbin angin misalnya, menimbulkan tantangan limbah besar-besaran di akhir masa pakainya sehingga mengancam kelestarian lingkungan.

    Panel surya tradisional sulit didaur ulang karena lapisan kaca, silikon, dan logamnya yang rumit.

    Pun demikian dengan limbah baterai mobil listrik yang hingga kini masih menjadi ancaman serius bagi lingkungan.

    Kabar baiknya, sejumlah perusahaan mulai mengembangkan teknologi yang mampu mendaurulang limbah yang dihasilkan dari proyek energi bersih ini.

    Baca: Pembangkit listrik mikro terbukti lebih berkelanjutan

    Dilansir earth.org, perusahaan seperti First Solar memelopori daur ulang loop tertutup, memulihkan hingga 90 persen material (seperti kadmium dan telurium) untuk membuat panel baru.

    Sementara itu, dalam sistem loop terbuka, kaca dari panel yang dinonaktifkan digunakan kembali menjadi insulasi wol kaca, dan rangka digunakan kembali dalam konstruksi, memperpanjang umur material di sektor-sektor baru.

    Bilah turbin angin terbuat dari material komposit yang sulit dipecah. Namun, solusinya mulai bermunculan.

    Siemens Gamesa telah menciptakan RecyclableBlades, yang menggunakan sistem resin yang dapat dilarutkan dan dipulihkan di akhir masa pakainya.

    Dengan sirkularitas loop terbuka, bilah lama telah digunakan kembali menjadi jembatan pejalan kaki, taman skate, dan bahkan elemen arsitektur.

    Baca: Peran ekonomi sirkular dalam menurunkan emisi

    Beberapa perusahaan menggilingnya menjadi bahan pengisi untuk produksi semen, memberikan fungsi baru pada apa yang dulunya merupakan limbah.

    Meskipun ekonomi sirkular telah membuat langkah-langkah yang menginspirasi, adopsi global yang sesungguhnya menuntut perubahan pada tingkat sistem.

    Perubahan ini, harus dimulai dari cara industri mendesain produk hingga cara mereka mendefinisikan nilai.

    Produk harus dirancang untuk sirkularitas, bukan hanya keberlanjutan. Ini berarti memprioritaskan modularitas dengan menggunakan bahan yang mudah dipisahkan.

    Juga pelabelan yang jelas untuk memungkinkan perbaikan, penggunaan kembali, dan daur ulang sejak awal.

    Tanpa prinsip desain yang mengedepankan sirkularitas seperti itu, daur ulang menjadi mahal, tidak efisien, atau bahkan mustahil.

    Baca: Lapangan kerja yang tercipta dari transisi ke energi bersih

  • Butuh Perubahan Sistem Agar Ekonomi Sirkular Dapat Diadopsi Secara Global

    Butuh Perubahan Sistem Agar Ekonomi Sirkular Dapat Diadopsi Secara Global

    7cloud.asia – Meskipun ekonomi sirkular atau sirkularitas telah membuat langkah-langkah yang menginspirasi, adopsi global yang sesungguhnya menuntut perubahan pada tingkat sistem.

    Perubahan ini, mulai dari cara industri mendesain produk hingga cara mereka mendefinisikan nilai.

    Seiring dengan pergerakan material secara global, industri juga memerlukan rantai pasokan yang transparan dan standar internasional untuk konten daur ulang, kemampuan daur ulang, dan kinerja lingkungan untuk mengukur kemajuan secara konsisten.

    Sirkularitas bukan hanya teknis, tetapi juga masalah kultural. Konsumen harus diberdayakan dengan pendidikan untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya sirkularitas

    Baca: Peran ekonomi sirkular dalam menurunkan emisi

    Layanan seperti penyewaan dan perbaikan, serta perubahan pola pikir dari menghargai “yang baru” menjadi menghargai “yang awet.”

    Hanya ketika semua pilar ini selaras, sirkularitas dapat benar-benar mendunia. Berikut hal mendasar yang perlu ditekankan agar sirkularitas bisa benar-benar diterapkan.

    1. Prinsip sirkularitas
    Produk harus dirancang untuk sirkularitas, bukan hanya keberlanjutan. Ini berarti memprioritaskan modularitas dengan menggunakan bahan yang mudah dipisahkan.

    Juga pelabelan yang jelas untuk memungkinkan perbaikan, penggunaan kembali, dan daur ulang sejak awal.

    Tanpa prinsip desain yang mengedepankan sirkularitas seperti itu, daur ulang menjadi mahal, tidak efisien, atau bahkan mustahil.

    Baca: Mengapa ekonomi sirkular makin digaungkan

    2. Kebijakan
    Kebijakan harus membuat limbah menjadi mahal dan sirkularitas menguntungkan melalui mekanisme seperti EPR, insentif untuk model bisnis loop tertutup, dan hukuman untuk penimbunan bahan berharga.

    3. Sektor pembiayaan
    keuangan dan investasi sangat penting untuk meningkatkan skala infrastruktur ekonomi sirkular secara sglobal.

    Ini termasuk pendanaan teknologi pemulihan material, sistem logistik terbalik, dan kemitraan publik-swasta untuk mendukung pusat penggunaan kembali, terutama di negara-negara berkembang atau Global South.

     

  • Bumi Dibanjiri Polusi Plastik: Pengetahuan tentang Sirkularitas Sangat Dibutuhkan

    Bumi Dibanjiri Polusi Plastik: Pengetahuan tentang Sirkularitas Sangat Dibutuhkan

    7cloud.asia – Direktur dan Perwakilan Kantor Regional untuk Amerika Latin dan Karibia Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP), Juan Bello mengatakan kurikulum akademis sering kali tertinggal dengan krisis lingkungan, termasuk polusi plastik.

    Padahal, penyebarluasan pengetahuan tentang bagaimana memperpanjang umur produk plastik dan menjauhkan polusi plastik dari lingkungan memegang peran pnting dalam menahan gelombang polusi plastik.

    Karena itu, UNEP menjalin kemitraan dengan jaringan universitas regional untuk membekali siswa dengan sejumlah keterampilan hijau, termasuk yang terkait dengan sirkularitas.

    Bagaimana perubahan kurikulum dilakukan untuk membangun pengetahuan sirkularitas, berikut petikan wawancara dengan Juan Bello sebagaimana dilansir di unep.org.

    Mengapa penting untuk membangun ekonomi yang lebih sirkular untuk plastik?

    Juan Bello (JB): Jawaban singkatnya adalah Bumi sedang dibanjiri oleh polusi plastik. Menurut salah satu perkiraan terkemuka, manusia menghasilkan 400 juta ton sampah plastik pada tahun 2024.

    Baca: Butuh perubahan sistem agar ekonomi sirkular dapat diadopsi secara global

    Sebagian besar plastik itu berakhir di lingkungan – dari ladang petani hingga sungai. Plastik ini merusak ekosistem dan berada di tubuh kita, dengan dampak pada kesejahteraan kita yang belum sepenuhnya kita pahami.

    Model yang lebih sirkular akan membantu produk plastik bertahan lebih lama, dan membuatnya lebih mudah didaur ulang dan digunakan kembali, sehingga mencegahnya berakhir sebagai polusi.

    Apakah lulusan universitas dan perguruan tinggi teknik saat ini tahu banyak tentang sirkularitas?

    JB: Kaum muda lebih sadar dari sebelumnya tentang tekanan lingkungan yang dihadapi planet ini dan potensi bahaya polusi plastik.

    Namun, di Amerika Latin dan Karibia – dan saya menduga wilayah lain – banyak yang tidak mendapatkan instruksi akademis yang mereka butuhkan untuk membantu mengatasi masalah tersebut, setidaknya secara sistemik.

    Mengubah kurikulum inti universitas dan perguruan tinggi merupakan proses yang panjang – sesuatu yang dapat memakan waktu bertahun-tahun jika tidak puluhan tahun. Jadi, bagaimana Anda akan mengatasi masalah itu?

    JB: Tujuan jangka panjangnya adalah membantu universitas dan perguruan tinggi teknik mengembangkan kurikulum yang membahas keberlanjutan secara sistemik.

    Baca: Ekonomi sirkular punya peran penting atasi polusi plastik

    Namun, Anda benar – itu membutuhkan waktu yang lama. Jadi, dalam waktu dekat, kami berfokus pada kursus singkat berbasis keterampilan yang dikembangkan oleh lembaga pendidikan, idealnya bekerja sama dengan sektor swasta.

    Beberapa dari mikro-kredensial ini juga dapat dilakukan setelah lulus. Tujuannya adalah untuk segera membekali siswa dengan keterampilan dunia nyata yang diinginkan oleh para pemberi kerja.

    Bidang apa saja yang akan menjadi fokus Anda?

    JB: Jawaban singkatnya: banyak. Sirkularitas memerlukan keterampilan teknis, ya, tetapi juga perubahan pola pikir – dan dalam banyak kasus, kebijakan.
    Itulah sebabnya kami mengambil pendekatan interdisipliner, bekerja dengan mahasiswa di berbagai bidang.

    Beberapa di antaranya mungkin Anda harapkan, seperti teknik dan desain produk, dan beberapa di antaranya mungkin tidak, seperti komunikasi dan hukum.

    Kami juga akan menekankan pemikiran sistem. Misalnya, bagaimana Anda merancang produk plastik agar lebih tahan lama, dapat diperbaiki, dan, di akhir masa pakainya, dapat didaur ulang?

    Baca: Bagaimana ekonomi sirkular atasi polusi plastik

    Dapatkah pelatihan semacam ini membantu mengatasi pengangguran kaum muda? Di Amerika Latin dan Karibia, pengangguran kaum muda sekitar 14 persen, tiga kali lipat dari tingkat pengangguran orang dewasa.

    JB: Ya. Ini adalah elemen penting lainnya dari persamaan tersebut. Selain menanggulangi polusi plastik, kami juga ingin membantu kaum muda menemukan pekerjaan yang stabil dan layak, yang sangat kurang di banyak bagian wilayah ini, dan di seluruh dunia.

    Pada tahun 2030, diperkirakan akan terjadi kekurangan 20 persen karyawan dengan keterampilan ramah lingkungan di seluruh dunia, menurut laporan terbaru LinkedIn.

    Jadi, mahasiswa dengan pelatihan dalam sirkularitas akan memiliki keunggulan di pasar kerja.

    Mengapa polusi plastik menjadi masalah yang perlu kita atasi sekarang?

    JB: Karena polusi plastik meroket. Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi memperkirakan bahwa pada tahun 2060, sampah plastik akan meningkat hampir tiga kali lipat

    Baca: Mengapa sampah plastik sangat membahayakan lingkungan

  • Apa yang Bisa Kita Lakukan untuk Mendorong Sirkularitas

    Apa yang Bisa Kita Lakukan untuk Mendorong Sirkularitas

    7cloud.asia – Penerapan ekonomi sirkuler atau sirkularitas makin dilirik dan dibutuhkan demi mengurangi timbunan sampah sekaligus melestarikan lingkungan.

    Dalam ekonomi sirkuler yang menekankan sirkularitas, model “ambil, buang, buat” dibuang dan warga didorong untuk mencoba menggunakan material selama mungkin atau bahkan tanpa batas.

    Banyak hal yang menjadi dasar ekonomi sirkuler bergantung pada material apa yang dimasukkan ke dalam siklus sirkularitas.

    Meskipun sirkularitas juga telah membuat kemajuan nyata dan memberikan inspirasi bagi warga dunia, adopsi sirkularitas secara global yang sesungguhnya membutuhkan pergeseran tingkat sistem dan pola pikir.

    Demi terwujudnya ekonomi sirkuler dan sirkularitas, para pelaku usaha harus merombak pola pikirnya ke satu tahap yakni bagaimana mendesain produk hingga bagaimana mereka mendefinisikan nilai.

    Baca: Mengenal Lebih Dekat Ekonomi Sirkuler

    Pertama, proses produksi harus dirancang untuk sirkularitas bahkan jika memungkinkan harus dirancang untuk sirkuler tertutup (limbah diolah kembali menjadi produk awal), bukan hanya keberlanjutan.

    Ini berarti memprioritaskan modularitas dengan menggunakan material yang mudah dipisahkan. Di mana, material yang dapat diolah kembali dapat dipisahkan dengan mudah mudah dari bagian lainnya.

    Selain itu harus ada pelabelan yang jelas untuk memungkinkan perbaikan, penggunaan kembali, dan daur ulang sejak awal. Tanpa prinsip desain tersebut, daur ulang menjadi mahal, tidak efisien, atau bahkan tidak mungkin.

    Kedua, kebijakan harus membuat limbah menjadi mahal dan sirkularitas menguntungkan melalui mekanisme seperti EPR (Extended Producer Responsibility).

    Pemerintah di negara-negara di dunia harus memberikan insentif untuk model bisnis yang menerapkan ekonomi sirkuler tertutup, dan sanksi untuk pembuangan material berharga ke tempat pembuangan sampah.

    Baca: Tiga Hal yang Membuat Sirkularitas Makin Mungkin Diwujudkan

    Ketiga, dukungan finansial dan investasi sangat penting untuk meningkatkan infrastruktur ekonomi sirkuler. Pasalnya, penerapan sirkularitas membutuhkan anggaran besar di awalnya.

    Ini termasuk pendanaan teknologi pemulihan material, sistem logistik terbalik, dan kemitraan publik-swasta untuk mendukung pusat penggunaan kembali, terutama di negara-negara Selatan.

    Karena material bergerak secara global, kita juga membutuhkan rantai pasokan yang transparan dan standar internasional untuk kandungan daur ulang, kemampuan daur ulang, dan kinerja lingkungan untuk mengukur kemajuan secara konsisten.

    Terakhir, sirkularitas bukan hanya soal teknis, tetapi juga soal budaya dan pola pikir yang dibangun lewat sistem dan kebijakan.

    Konsumen harus diberdayakan melalui edukasi, layanan seperti penyewaan dan perbaikan, serta pergeseran pola pikir dari menghargai “barang baru” menjadi menghargai “barang yang tahan lama”.

    Hanya ketika semua pilar –pelaku usaha, pengambil kebijakan dan konsumen– berjalan selaras, sirkularitas dapat benar-benar mendunia.